Hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Pada umumnya anak-anak akan bersemangat karena awal masuk sekolah, tapi tidak dengan Rendi, baginya sekolah adalah hal yang sangat membosankan. Namun ia akan tetap masuk karena jika tidak, dia tidak mendapatkan uang saku oleh ibunya.
Seperti biasa Rendi selalu datang terlambat, ia sangat pandai membuat berbagai macam alasan agar dapat masuk ke kelas. Tetapi kali ini Ia harus membuat laporan tertulis di ruang BK untuk mendapatkan surat izin masuk kelas.
“Kamu lagi, Kamu lagi... haduh sampai bosen Bapak lihat Kamu Ren, semua laporan tertulis penuh dengan nama Kamu. kapan Kamu berubahnya!!” ucap Guru BK dengan kesal
“Maaf Pak, Saya tidak ingat kalau hari ini masuk sekolah. Saya kira masih minggu depan” jawabnya
“Memangnya dirumah Kamu tidak ada tanggalan? Hah!! Kamu ini sudah kelas 11 Ren!! Sudah sana masuk kelas!!” Tegas Guru BK
“Terima kasih pak. memang bapak ini guru terbaik. hehe” Rendi sambil mencium tangan Guru BK
Meskipun Rendi siswa yang nakal disekolah, ia menjadi idola para murid Perempuan. Rendi secara fisik memang terlihat menarik, memiliki paras yang tampan, putih, tinggi dan pandai bermain futsal. Sosok seperti Rendi merupakan menjadi incara para kaum hawa. Namun dibalik ketampanannnya, Rendi belum pernah berpacaran, bahkan dia belum tertarik pada perempuan. Baginya pacaran hanya menghabiskan waktu dan membuatnya pusing. Ia lebih mementingkan bermain bola dan bermain game dari pada bermain tidak jelas. Sampai-sampai Aji sebagai sahabatnya sangat heran dengan sikap Rendi yang tidak tertarik untuk pacaran.
“Ren, kamu normal kan?” tanya Aji kepada Rendi
“yang bener aja sih Ji kalok ngomong!!” bantah Rendi
“(tertawa terbahak-bahak).. Aku perhatiin kamu tuh aneh Ren, Kamu menolak untuk didekati perempuan, termasuk Aini, Ayu, Zahra, Putri, Melly dan masih banyak lagi. Padahal kalok dilihat mereka kategori murid paling cantik disekolah ini. Kalok aku jadi kamu, pasti sudah aku pacari semua” jelasnya Aji
“Hah kamu bilang mereka cantik? (sambil menepuk lengan Rendi) Aku sama sekali tidak tertarik untuk mendekati mereka, mungkin belum saatnya aku menemukan yang sesuai dengan kriteriaku Ji, sudahlah berhenti membicarakan hal yang tidak penting”.
Sudah memasuki hari ke-3, Rendi berniat ingin membolos jam pelajaran Matematika. Ia beralasan sakit kepala dan meminta izin tidur diruang UKS. Ketika Rendi menuju ruang UKS, langkah kakinya terhenti karena Ia melihat seorang murid yang cantik berada di ruang kelas 11 IPA 1. Murid itu sedang memperkenalkan diri didepan teman-temannya. Rendi menyimak dari luar jendela apa yang sedang disampaikannya. Namanya Widia, murid pindahan dari sekolah lain, alasan Widia pindah karena urusan pekerjaan orang tuanya.
Banyak Siswa yang mengejar-ngejar Widia, mereka ingin Widia menjadi pacarnya. Salah satu diantaranya adalah Rendi. Rendi merasa bahwa Widia adalah cinta pertamanya. Ia berniat untuk mengajak berkenalan dan bisa menjadi lebih dari teman. Saat sepulang sekolah Ia menghampiri Widia diparkiran Motor yang sedang memakai Helm.
“Hai Widia, kenalin Aku Rendi 11 IPA 2” sapa Rendi dengan mengajaknya bersalaman
“Iya.” Jawab Widia sambil menjabat tangan Rendi.
Tiba-tiba Aji dan teman yang lain menghampirinya.
“Wahhh.. apa Aku tidak salah liat? Seorang kapten futsal sedang mengajak kenalan murid pindahan?” Ledek Aji dengan temannya.
Rendi mengurung niatnya untuk berkenalan lebih jauh dengan Widia. Ia tak mau teman-temannya mengganggu rencananya.
“Ah.. Aku hanya menyapanya saja, ayok pergi” ajak Rendi kepada teman-temannya.
Setelah sekian lama, akhirnya Rendi bisa kenal lebih dekat dengan Widia. Bahkan disekolah mereka selalu bersama hingga akhirnya mereka mumutuskan untuk berpacaran. Widia membuat hari-hari Rendi menjadi lebih berwarna, Rendi semakin rajin bersekolah. Dia tidak pernah telat dan bolos pelajaran lagi. Guru BK pun berterima kasih kepada Widia, karena membawa dampak positif kepada Rendi.
Rendi dan Widia berencana untuk melanjutkan kuliah bersama. Namun sayang niat mereka gagal. Disaat kenaikan kelas 3, Widia harus pindah sekolah dikarenakan kedua orang tuanya bercerai. Widia memberi tahu Rendi bahwa dirinya akan pindah, tetapi Widia tidak mengatakan ia pindah dikarenakan orang tuanya bercerai.
“Halo Ren?” sapa widia melalui telepon
“Hei Widia.. ada apa? Kangen ya? apa bertemu disekolah masih belum cukup, sampai-sampai dirumah Kamu masih menelponku?” Rendi meledek Widia.
“Aku mau ngomong sama Kamu, tapi jangan marah ya?’’ jelas Widia kepada Rendi
“Maaf Aku harus pindah sekolah, Kamu tetap rajin ya sekolahnya dan satu lagi tolong kamu jangan cari aku” Widia sambil menangis dan mengakhiri telponnya.
“Wid.. Hallo wid... Widia....” Rendi semakin bingung mengapa tiba-tiba Widia berbicara seperti itu.
Pagi hari, Rendi mencari Widia di kelas tetapi tidak ada. Teman-teman sekelasnya pun mengatakan bahwa ia pindah sekolah. Rendi mencoba mencari informasi kepada pihak sekolah atas keluarnya Widia. Pihak sekolah pun tidak ada yang tau kemana Widia pindah.
Singkat cerita, Hari kelulusan sekolah telah tiba, semua Murid dinyatakan lulus. Aji mengajak Rendi untuk melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi, tepatnya di Universitas Malang. Namun Rendi menolak ajakan Aji, Ia lebih memilih untuk membantu orang tuanya berbisnis kue.
Dua tahun telah berlalu tanpa adanya Widia, tetapi Rendi belum juga melupakan cinta pertamanya itu. Ia selalu berdoa agar dapat dipertemukan kembali. Tiba-tiba ada kabar tak terduga dari Aji, Aji mengatakan bahwa Widia kuliah dikampus yang sama dengannya. Aji baru saja melihat Widia di Seminar, setelah satu semester kuliah disana. Mendengar kabar tersebut, Rendi bergegas menuju Malang untuk menemui Widia dan berniat mendaftar menjadi mahasiswa baru di kampus mereka.
Sesampainya Rendi di Malang, Ia segera menemui Aji di asramanya. Keesokan harinya Rendi berencana untuk ikut Aji ke kampus. Alhasil, Rendi bertemu dengan cinta pertamanya yaitu Widia. Rendi sangat bahagia dan gugup ketika melihat gadis pujaannya itu.
“Widia...” dari kejauhan Rendi berteriak memanggilnya
“Rendi.....” Widia berlari menghampiri Rendi
“Kamu ngapain Ren disini? Kenapa Kamu bisa tau kalok Aku kuliah disini? Widia terheran
Ketika Rendi hendak menjawab, tiba-tiba seseorang menghampiri Widia, yang ternyata adalah pacarnya bernama Riyan. Mereka berpacaran ketika awal masuk kuliah.
“Hai Wid. sudah menunggu lama ya? maaf tadi Aku balikin buku dulu di perpus. Oh.. siapa dia?” tanya Riyan kepada Widia dan melihat ke arah Rendi.
“Ini Rendi, teman SMA ku dulu di Jakarta” jelasnya kepada Riyan
“Ren, ini Riyan” Lanjutnya kepada Rendi
“Hai. Aku Riyan, pacar Widia” Riyan mengajak berjabat tangan dengan Rendi.
“Oh iya. Senang berkenalan denganmu” Jawab Rendi sambil menjabat tangan Riyan.
Riyan mengajak Widia pergi. Rendi merasa sangat terpukul, melihat Widia kini sudah memiliki pacar. Melihat sahabatnya bersedih, Aji menghibur Rendi. Ia mengajak Rendi untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru.
Waktu telah berjalan. Rendi kini sudah menyandang status sebagai mahasiswa baru. Rendi tak lagi menyapa gadis pujaannya itu, Ia berusaha untuk melupakannya. Namun sebenarnya, Widia masih memiliki perasaan dengan Rendi. Widia berniat untuk memutuskan Riyan dan kembali lagi bersama Rendi.
Sebelum Widia memutuskan Riyan, Ia melihat bahwa Riyan telah berkhianat. Hal tersebut membuat Widia tidak susah payah utuk membuat alasan dirinya ingin putus dengannya. Widia menjelaskan kepada Rendi bahwa Ia ingin bersama kembali. Alih-alih Rendi untuk melupakan Widia pun hilang, ketika mendengar pengakuan Widia ingin kembali dengannya.
Akhirnya Widia dan Rendi menjalin kisah kembali. Masa-masa kuliahnya sangat menyenangkan dan tak terasa akhirnya Widia telah menjadi lulus duluan. Ia meminta izin kepada Rendi untuk melanjutkan S2nya di Jerman. Rendi sangat berat utuk berpisah dengan Widia, namun ini adalah cita-cita Widia dari dulu sehingga dengan berat hati Rendi mengizinkannya pergi.
2 tahun sudah Widia menyelesaikan S2nya di Jerman dan Rendi pun juga sudah menyelesaikan studinya di Malang. Kini Rendi telah bekerja di sebuah perusahaan ternama di Indonesia. Widia berencana untuk kembali lagi Ke Indonesia. Mendengar kabar tersebut, Rendi sangat bahagia, Ia telah mempersiapkan cincin untuk melamar Widia. Mereka berdua akhirnya bertemu setelah sekian lama menjalin kisah Indonesia – Jerman.
“Hai Widia, kamu masih sama seperti dulu, sangat terlihat cantik ?” sapa Rendi
“Kamu masih saja terus memujiku Ren” Widia tersipu malu
“Aku langsung ngomong aja ya” lanjutnya Widia
“ngomong apa Wid?” Tanya Rendi
“Ren, Aku mau nikah Bulan depan. Kamu dateng ya, ini undangannya” Jelas Widia kepada Rendi
“(tertawa terbahak-bahak), Kamu dateng-dateng udah bikin Aku ketawa aja sih Wid” Rendi mengira jika Widia becanda.
“Ren, Aku serius. Kamu buka dulu undangannya” Perintah Widia kepada Rendi.
Rendi pun membuka undangannya. Didalamnya terdapat nama Widia yang akan menikah dengan Jordi Alqous, Pria asal Jerman. Melihat undangan tersebut, Rendi terdiam dan berfikir mengapa hal ini terjadi dalam hidupnya. Gadis yang begitu Ia cintai ternyata akan menjadi Istri orang lain. Rencana untuk melamar Widia pun gagal, Ia langsung meninggalkan Widia sendirian tanpa mengucap kata satu pun. Widia berlari menghampiri Rendi dan meminta maaf. Ia sangat menyadari bahwa ini sangat menyakitkan namun Rendi tetap diam.
Pernikahan Widia dengan pria asal Jerman pun turut mengundang Aji. Aji tak menyangka Pacar sahabatnya akan menikah dengan orang lain. Aji pun langsung mendatangi Rendi.
“Ren, kenapa Kamu tidak tahu kalau selama ini Widia...?” belum sempat Aji menyelesaikan pertanyaannya sudah di potong oleh Rendi.
“Entahlah Ji, Aku tidak akan menghadiri pernikahannya. Ini sangat menyakitkan Ji.” Jawab Rendi.
Melihat sahabatnya sedang patah hati, Aji memberikan saran untuk melupakan Widia.
“Sudahlah Ren, ikhasin saja. Jodohkan sudah ada yang mengatur. Datang saja kepernikahan Widia. Biar dia tahu kalok Kamu mengikhlaskan Dia bahagia dengan orang lain” ucap Aji.
Rendi terdiam, usai Aji memberinya saran. Ia berfikir ada benarnya juga, jika dia harus mengikhlaskan perempuan yang amat dicintainya bahagia dengan orang lain. Akhirnya Ia memutuskan untuk menghadiri pernikahan mantannya.
Pernikahan Widia telah tiba, Widia berjalan beriringan dengan mempelai Pria. Ia sangat terlihat anggun mengenakan gaun pengantin. Aura kebahagian terpancar melalui senyum manis dibibirnya. Melihat itu, Rendi sebenarnya tak kuat menahan air mata. Namun, Ia harus tetap ikhlas dan menerima kenyataan yang ada. Saat bersalaman dengan Widia, Rendi mengucapkan selamat kepadannya.
“Widia, selamat ya. Aku turut bahagia atas pernikahan Kalian. Aku sangat berterima kasih, 10 tahun aku mengenal sosok wanita yang mampu merubahku menjadi lebih baik. Wid, semoga kamu bahagia selalu ya” Rendi sambil menjabat tangan Widia.
“Terima kasih Ren. Semoga Kamu segera dipertemukan jodoh ya” Widia sambil menepuk pundak Rendi.
Rendi pun lega telah mengucapkan Terima kasih nya kepada Widia. Kini Ia akan fokus dalam pekerjaannya. Mencari pengganti Widiapun belum Ia pikirkan, Ia yakin bahwa suatu saat ada sosok wanita yang baik yang akan mendampingi hidupnya.