Jaman sekarang, jangan iri sama postingan orang di sosial media. itu cuma bagian bahagianya doang. sedihnya disimpan sendirian.

Janaina Medeiros
dirt enthusiast
art blog(derogatory)

JVL

No title available
Keni
Not today Justin
Show & Tell
Lint Roller? I Barely Know Her
wallacepolsom
RMH

Origami Around
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Peter Solarz
I'd rather be in outer space 🛸
TVSTRANGERTHINGS

Love Begins
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
AnasAbdin
will byers stan first human second
seen from Dominican Republic
seen from United States

seen from United States
seen from Dominican Republic

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Portugal
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from France

seen from Tunisia
seen from Malaysia
seen from Malaysia
@dmoonandrabbit
Jaman sekarang, jangan iri sama postingan orang di sosial media. itu cuma bagian bahagianya doang. sedihnya disimpan sendirian.
Terbentur, Terbentur, Terbentuk
Dalam hidup, terutama dalam pekerjaan. Seringkali kita temui banyak hal sulit. Sulit sekali hingga rasanya, ingin kita lewatkan begitu saja.
Masalah juga datang bergantian seolah menunggu giliran untuk menyerang. Begitu waktunya tiba, langsung saja mengamuk mengacaukan.
Seringkali juga kita mungkin berpikir, 'Bisa gak ya kita ngelewatin semuanya?', 'Sampai kapan ya ujiannya?'.
Tapi ternyata, disinilah kita sekarang. Bersiap menghadapi masalah lainnya yang jauh lebih pelik.
Masalah-masalah itu mengamuk dan membentuk kita sedemikian rupa hingga menjadi diri kita yang sekarang.
'Eh bisa juga ternyata ya', 'Eh sampai juga ternyata ya'.
Ya begitulah semesta bekerja. Kadang masalah datang, ya datang aja. Kadang, kita cuma perlu menghadapinya saja. Hanya perlu bangun, setiap hari. Lalu kemudian semesta membawa solusinya sendiri.
Pelajaran dari Susu Coklat
Pagi itu sibuk sekali, mengurus ini dan itu. Kebiasaan mengerjakan semuanya diakhir memang sangat menguras energi. Didetik terakhir semuanya serba buru-buru. Saking buru-burunya, tidak sempat menyiapkan sarapan untukku dan suami. Kita biasa membeli nasi kuning didekat kantorku. Waktu hampir menunjukan pukul 08.45 WIB. Jam sarapan yang mepet masuk kerja. Alhasil, semua orang juga sibuk. Ada yang bergegas mengambil nasi untuk sarapan ada juga yang sibuk menghitung pesanan untuk membayar. Aku sendiri sibuk memilih nasi, gorengan dan satu susu coklat untuk nanti sarapan dikantor. Selsai memilih dan membayar, kami melanjutkan perjalanan menuju kantor yang hanya berjarak kurang dari 1 menit. Ya sedekat itu. Sampai dikantor, sarapan kemudian agak bingung ya. Kayanya ada yang kurang. Tapi apa ya. AHHHHH, ingat aku. Susu coklatnya ketinggalan. Meskipun agak kesal, tapi yaudahlah ya. Bukan rejekinya. Biarkanlah itu menjadi teman sarapan bagi siapapun yang menemukan, bagi yang meminumnya. Aktivitas biasa dikantor berjalan sebagai mana mestinya. Meeting, deadline dan semua hal biasa lainnya. Jam 10.00 WIB, 2 jam setelahnya. Bapak security masuk ruangan dan menyerahkan susu coklat yang sudah berkeringat. Sudah lama sekali rupanya susu coklat dingin itu didiamkan. "Bu Putri, ini susu coklatnya. Katanya ketinggalan ya". Katanya sungguh sopan.
"oh iya betul Pak.. Terimakasih banyak". Aku terkejut, begitu luar biasa hidup berjalan. Apa yang sudah aku ikhlaskan kembali disaat yang tak terduga. Rupanya susu coklat itu memang dituliskan untukku. Dan dia menemukan jalannya kembali kepadaku. Dari susu coklat dingin, aku belajar sesuatu yang sangat berharga. Kadang sesuatu yang sangat kita inginkan tak bisa kita gapai, meskipun sudah didepan mata. Sedekat itu, seingin itu kita menggapainya. Tapi kalau bukan untuk kita. Tidak akan pernah kita berhasil menggapainya. Kemudian ada hal lain yang hilang dari hidup kita, meski sangat berharga. Mungkin akan sulit untuk kita melupakannya, mengikhlaskannya. Namun satu hal yang pasti. Jika memang itu ditakdirkan untukmu, maka semuanya hanya masalah waktu. hal tersebut akan kembali padamu. Seperti kacamata yang hilang ataupun susu coklat yang ketinggalan. Hal baik tersebut sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali padamu.
Kesabaran Sepanjang Jalan
Seorang teman yang aku kenal sejak belia. Namanya Nina, anak seorang Ustadz ternama di desa. Namun demikian, popularitasnya tidak sejalan dengan kondisi perekonomian keluarga. Seringkali Nina harus menahan rasa ingin jajan seperti anak lainnya. Karena uang saku yang terbatas. Seringkali juga Nina harus menikmati kemewahan sebatas makan dengan Cilok atau martabak telur. Nina hidup sedikit lebih keras dari anak lainnya. Harus berjuang menghemar uang dan dengan mengeluarkan tenaga lebih banyak. Hidupnya terus berjalan dengan keras sampai usianya menginjak 20-an. Kemudian ayahnya mendapatkan promosi menjadi Kepala Sekolah, sedangkan ibunya diamanahkan untuk mengurus Sekolah Pendidikan Usia Dini didesa. Lambat laun semuanya membaik. Rumahnya kemudian direnovasi sedikit demi sedikit, kendaraannya kemudian di pensiunkan untuk diganti dengan kendaraan yang lebih anyar. Tak cuma Nina. Seorang teman dari Sulawesi sana juga menjalani hidup yang keras, Nadia. Terlahir menjadi anak ke-empat dari enam bersaudara. Saking susah hidupnya, pernah mereka hanya menyantap kuah opor saat lebaran. Iya, kuah opor dan juga lontong saja. Seringkali menyantap mie instan satu untuk bersama. Jauh-jauh merantau ke Jawa, anak ke-empat itu mendadak berubah menjadi tulang punggung keluarga. Kini ia terbang ke Sumatra menjadi karyawan BUMN. Hidupnya membaik perlahan. Dari dua teman itu, aku belajar makna besar hidup. Kesabaran itu ternyata panjang sekali jalannya. Terjal, sulit dilalui dan entah sampai kapan berakhirnya. Namun pastinya akan berakhir. Kabar baik akan datang dihari kemudian. Kemudian apa yang kita harus lakukan? Terus bersabar, terus berjalan, terus bernafas, terus berdoa. TERUS. Iya, sabarnnya jangan berhenti. Hingga nanti kita nafas kita lebih lega. Hingga nanti keadaan tak sesulit yang sudah-sudah. Sampai nanti kita bilang sama diri sendiri "ternyata aku pernah ya ada disana. Dan ternyata sampai juga aku sekarang disini"
Ulang Tahun
Aku masih ingat bagaimana ibuku tersenyum, "Selamat ulang tahun, Selamat ulang tahun", suaranya nyaring sambil bertepuk tangan riang. Hari itu, ia memastikan hatiku penuh kebahagiaan
Ditiupnya lilin bersama, doa terbaik terpanjat Tangannya membimbing tanganku untuk memotong kue yang sengaja ia siapkan
Pergantian usia memang seharusnya dirayakan, katanya
Sebagai tanda syukur dan penyambutan barunya usia Aku ingin, kamu juga merasakannya.. Setiap pergantian usiamu akan senantiasa ku rayakan Memastikan dihari ini hatimu hanya penuh dengan bahagia Membuat mu percaya bahwa eksitensimu bermakna
Adalah cukup bagiku, melihatmu bertahan dan berjuang
Adalah doaku yang terbaik selalu menyertai setiap langkah Semoga senantiasa dimudahkan Selamat bertambah usia
SEPADAN
Butuh waktu bertahun-tahun hingga kau datang. Rasanya lelah dan menyakitkan, bertarung dengan kesepian. Berulang kali aku kalah dibuatnya, berulang kali aku hampir menyerah tak mau lagi melawan. Tapi, jika waktu dapat diulang. Pilihan akan tetap sama. Kamu. Karena bagiku, semua waktu dan penantian yang aku habiskan, terasa sepadan.
Katanya amanah tidak akan salah memilih pundak. Semoga saja, ia benar kali ini. Memilihku yang aku saja merasa tak pantas memilikinya. Semoga bisa belajar banyak atas semua kepercayaan yang diberikan. Semoga bisa berlayar jauh melampaui batas. Semoga tumbuh kian tinggi menyandang awan.
Biti, Cinta Pertamaku
Halo Biti sayang, kucing lelakiku, cinta pertamaku. Aku masih ingat betul sore itu Ibu Parmi membawamu dari jauh setelah kepergian Kana. Kamu masih kecil sekali Biti, umurnya 4 bualn. Bayi kucing yang gak tahu apa itu takut. Ku besarkan dengan sepenuh hatiku dan seperempat gajiku. Sakit sedikit langsung aku bawa ke vet. Karena waktu itu aku belum begitu mahir mengurus kucing. Tapi Biti, cinta pertamaku suka sekali bermain petak umpet. Anak pintar itu seperti mengerti cara bermain kalau aku bilang "Biti cari aku ya". Dia akan langsung mengendap-endap dan kaget saat tiba-tiba aku muncul.
Biti si anak kucing tampan kesayangan semua orang. Kakak seneng banget banyak orang yang sayang sama Biti. Temen-temen kosan dulu, suka pengen Biti nemenin mereka dikamarnya. Waktu kehujanan dan Biti kejebak dijalan, ada temen yang mau gendong diantar sampe depan kamar. Biti si pemberani yang penah bikin Kakaknya panik waktu naik tangga dan gak bisa turun. Juga waktu diatap tapi takut turun. Damkar Kabupaten Bantul saksinya. Biti sayang, Kakak juga panik sekali waktu Biti sakit. Biti gak bisa ngomong tapi cuma sembunyi. Apalagi kalau udah jadi korban buli sesama. Biti memang anak mami. beraninya ngeong kenceng doang. Anak pintar kesayangan ibu kos laili juga. Biti, udah beberapa bulan gak keliatan lagi. Dimanapun kamu sekarang, sehat terus ya nak. Kakak pengen Biti balik lagi, main lagi, jaga warung bareng kakak disini. Jangan takut ngelawan kucing yang lebih besar. Biti boleh pulang kapanpun Biti mau. Kakak tunggu ya.
Dulu sempet mikir, ‘ah gapapa lah beli yang murah. Buat diri sendiri ini. Gapapa. Beli yang biasa aja, buat diri sendiri ini’.
Kemudian seorang teman mengingatkan, justru karena buat diri sendiri makanya harus dibuat istimewa. Dibuat special.
Lalu semalem tidur nyenyak sekali, bahagia sekali. Karena bisa tidur dengan pakaian rapi nan wangi bersih.
Betul ternyata, seringkali aku sibuk mendahulukan orang lain ketimbang dirisendiri.
‘Nanti mereka suka gak ya? Mereka ngerasa nyaman gak ya?’ Tapi lupa nanyain ke diri sendiri hal yang sama. Padahal kalau ada masalah, tempat pulang paling akhir ya diri sendiri.
Selama ini sering lupa. Semua yang kita lakukan harusnya buat diri kita sendiri dulu. Sesimpel pakai baju rapih dan wangi. Itu aja mesti diingetin. Bahwa aku pakai baju rapih dan wangi ya buat diri aku sendiri. Bukan buat nyenengin orang lain.
Menemukan kembali
Mungkin, yang kamu cari tidak benar-benar pergi. Jungkir balik kamu mencari. Ia mungkin sedang menunggu waktu yang tepat untuk kamu temui. Hingga tiba waktunya saling menemukan kembali.
Orangnya sudah lama hilang, tapi rindunya masih saja tertinggal
Doa Malam Rabu
Hari ini hujan, lagi. Aku pulang kantor kebasahan. Tiba-tiba saja ingat kamu. Maaf, pasti bosan. Karena duniaku memang selalu berkutat disekitarmu. Kamu adalah duniaku lebih tepatnya. Lirih dalam hati aku panjatkan doa tentangmu. Semoga kamu sehat, semoga kamu bahagia, semoga kamu baik-baik saja, semoga selalu lancar semua urusan hidupmu, semoga orang lain yang nantinya bersamamu lebih mencintaimu dibanding aku.. Aku melihat sebuah jam cantik pagi ini, jam berwarna kuning ceria seperti senyummu. Aku memutuskan untuk membelinya. Mengingat sebentar lagi kamu merayakan bertambahnya usia. Sebuah jam yang dibuat dengan rangkaian doa dari adik-adik yang hidupnya penuh perjuangan. Semoga doa yang baik juga memenuhi hidupmu jika nanti engkau memakainya. Masih rintik, tidak deras tapi merata. Gigih sekali rupanya ia membasahi seluruh wilayah Yogyakarta malam ini. Pada setiap rintiknya aku menyebutkan namamu. Pelan-pelan ku eja namamu dalam lariknya. "Tuhan, bisa dia saja tidak orangnya?" rayuku pada Tuhan. Sungguh, ingin sekali aku bersauh pada pelukmu saja. Mengulang masa indah dan menyosong masa depan bersama. Semoga, kataku setelah memutuskan untuk menerjang hujan yang tak juga reda. Doa terakhir di malam ini, semoga kamu tidak kedinginan, semoga kamu tidak kehujanan, semoga kamu tidak kesepian.
Arena Juang Utama
Kau tahu, tempat tidur selalu menjadi arena juang pertama dan uama ku setiap harinya.
Tentu saja ada asalasan kenapa 'Tidur jam 9' dan 'Bangun Pagi' menjadi dua hal yang selalu ada dalam draft target setiap bulan. Karena susah sekaliiiiiiii. Inginnya tidur jam 9 malamn dan bangun jam 4 pagi, lanjut olahraga, siapin sarapan dan beribadah. Tapi sejauh ini, kurang lebih selama setahun belakangan ini dua hal tersebut men jadi sebatas target sahaja. Sedih ya. Tempat tidur selalu memiliki magnet tersendiri untuk membuat penghuninya tetap tinggal. Padahal, kau meninggalkannya selama seminggu pun dia tak akan kemana mana. Bentuknya tidak berkurang atau membesar. Hanya saja, kita yang terlalu sulit melepaskan. Maaf bukan kita, aku saja mungkin ya. Pertarungan dan perjuangan ku masih dangkal. Dangkal sekali. Hanya sebatas berjuang pagi setiap hari. Berjuang membangun kebiasaan baik
Semakin lama, semakin aku menyadari. Mungkin memang, bukan aku orangnya.
Mungkin, dia yang seharusnya disini sekarang.
Mungkin, yang setengah mati ia coba yakinkan adalah dirinya sendiri
Bagaimana mungkin aku menang melawan semua kenangan dan masa lalu yang setengah mati kau perjuangkan
Selalu ada hal baru untuk kita pejari. Semoga tak pernah bosan untuk terus mencoba memahami