Kenyamanan itu diciptakan lalu dibiasakan
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Alisa U Zemlji Chuda
taylor price
Sade Olutola

pixel skylines

titsay
No title available
ojovivo

Discoholic 🪩

JVL
almost home

祝日 / Permanent Vacation
Show & Tell

#extradirty
occasionally subtle
todays bird

Janaina Medeiros

@theartofmadeline
dirt enthusiast
Stranger Things
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Romania

seen from Mexico
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Brunei
seen from United States
seen from Germany
seen from Ireland

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Singapore
@dunia-manusia
Kenyamanan itu diciptakan lalu dibiasakan
Matanya tenang tapi tidak dengan hatinya
Mulutnya tenang tapi tidak dengan pikirannya
Memilih untuk bahagia adalah balas dendam terbaik terhadap masa lalu entah itu seseorang ataupun kenangan
Mungkin melihatmu bahagia dengan yang lain adalah caraku untuk sembuh, harus terbiasa dengan rasa sakit yang sesekali singgah.
190 of 365
Tidak perlu bertahan jika pada akhirnya kebersamaan ini hanya melahirkan bertumpuk-tumpuk kesedihan.
Bukankah aku pun juga kamu sama-sama tahu sudah terlalu banyak luka yang bersarang di hati oleh sebab perbuatan tuannya sendiri?
Maka, biarlah kata kita teruai kembali menjadi aku dan kamu sebagaimana semula. Sebelum lebam semakin membiru, sebelum luka semakin menganga. Sebelum semakin sulit menemukan penawar sakitnya.
Barangkali, perpisahan adalah langkah pembuka untukmu juga untukku menemukan kebahagiaan.
Kadang tu ngerasa pengen banget ngobrol lagi, bertukar kabar, berbagi cerita, tapi aku juga tau kita udah selesai dan nggak minta balik kamu lagi. Tapi aku juga sadar kalo udah kita seasing ini atau bahkan bukan lagi berteman
Memaafkan Diri Sendiri
Aku tidak tahu siapa yang akan membaca ini, siapa yang membutuhkan tulisan ini, dan siapa yang akan merasakannya. Aku akan tetap menulisnya, tidak peduli jika ini akan sampai mata orang baik, para pecundang, yang berbahagia, atau siapapun yang sedang berselimut duka.
Aku menuliskannya setelah aku selesai dengan satu kebencian, kepada diriku sendiri. Aku menuliskan ini, setelah aku memaafkan diriku, menyadari bahwa melebihi dendam kepada seseorang, kebencian kepada suatu sifat, atau apapun yang melibatkan siapapun, bagian terpenting dari kedamaian dan ketenangan hidup ada pada diriku sendiri.
Aku pernah percaya kepada seseorang, lalu dikhianati tanpa sisa. Aku pernah meletakkan harapan dengan janji seseorang, lalu diingkari hingga akarnya. Aku pernah peduli kepada seseorang, lalu diabaikan sebegitunya. Aku pernah berjuang untuk seseorang, lalu ditinggalkan tanpa kata-kata. Aku pernah selalu ada untuk seseorang, hanya dimanfaatkan demi kesenangannya. Aku juga pernah mencintai seseorang, lalu dihancurkan tanpa sisa.
Lalu, aku mulai membunuh setiap kepercayaan seseorang. Mulai mengingkari semua janji yang aku buat. Mulai berhenti peduli dan membiarkan setiap orang sekarat dengan pilihan masing-masing. Mulai berhenti berusaha untuk hubungan apapun. Mulai berhenti menjadi pendengar ataupun yang memberikan pelukan. Dan, mulai tak lagi mencintai.
Hingga berakhir, aku menghabisi diri sendiri, dengan menyakiti orang-orang. Aku menghancurkan diriku sendiri, dengan menghancurkan orang-orang. Tak peduli ia bersalah kepadaku atau bukan, tak peduli ia menyakitiku atau tidak, aku mulai terlatih menjadi brengsek untuk banyak orang.
Barangkali, hanya pembunuh yang bisa membunuh pembunuh.
Aku terbunuh suatu malam, dengan pisau yang aku serahkan sendiri dengan sadar. Aku mati, kebajingan itu turut serta hilang dalam diriku. Akal sehatku turut mati dan hatiku akhirnya menjerit karena lelah dipaksa mati, di titik itu aku melihat, seberapa banyak nyawa yang aku biarkan terkapar demi keegoisanku sendiri.
Aku porak-poranda namun menolak menjadi salah, aku hancur namun menunjuk banyak kambing hitam, kehidupan menjadi korban yang paling sering aku tunjuk sebagai terdakwa atas hilangnya semua kebaikan dalam diriku. Padahal, akulah yang memilih menjadi biadab.
Kau tahu apa yang paling sulit diakui semua orang, mengakui ke dirinya sendiri bahwa dialah yang bersalah. Setelah perdebatan panjang, aku mengakuinya, bahwa akulah yang telah menghancurkan diriku sendiri.
Aku tertawa saat mengakuinya pertama kali, mengingat seberapa sering aku mengatakan kepada orang-orang bahwa bagian paling sulit di negara ini adalah mengakui bahwa banyak hal dalam tatanan hidup kita salah. Kita akan selalu berakhir dengan pembenaran dan pembelaan. Hal yang ternyata aku lakukan berkali-kali.
Aku tidak tahu di hari keberapa aku menangis lalu tertawa, merasa kosong lalu riuh, merasa sepi lalu ramai, hingga di satu titik atas semua kesalahanku, perihal Tuhan, perihal agama, perihal negara, perihal keluarga, perihal adat, perihal sosial, perihal patriarki, perihal cita, perihal teman, perihal cinta dan semua aspek yang telah membongkar pasang kehidupanku, aku terima bahwa aku bersalah dan aku telah hidup dengan semua kesalahan itu.
Aku mulai belajar meminta maaf, kepada diri sendiri. Entah berapa banyak kesalahan, terkadang masih melakukan pengingkaran, lalu kembali menerima. Pernah aku menghukum diri sendiri, ingin melarikan diri sekali lagi. Lalu kembali bertanggungjawab, membiarkan ingatanku penuh oleh pemikiran jahanam. Mengurai satu-satu, memeluknya satu-satu, melepaskannya satu-satu.
Hingga hari ini saat aku menulisnya, aku telah memaafkan diriku sendiri. Jangan tanya aku butuh waktu berapa lama, yang pasti tak pernah sebentar. Mengalami pasang surut yang membuatku terbentuk menjadi apa.
Maka, aku tuliskan ini kepada kau, siapapun.
Barangkali, ada kebencian dalam dirimu yang membuat kau mengkambinghitamkan banyak hal, menuduh banyak kehidupan, mencari pembenaran, tidak apa, kita bertahan dengan itu. Tapi hari ini, aku harap kau juga melihat, bahwa akan selalu ada kesempatan untuk mengakui bahwa kita adalah manusia, yang bersalah. Hingga kau akan temukan jalan untuk kedamaian dirimu sendiri.
Aku mengatakan ini setelah perjalanan panjang, bertahun-tahun. Bahwa bagian paling penting yang kita butuhkan untuk diri sendiri bukanlah membunuh benci, meniadakan dendam, tapi memaafkan diri sendiri.
Sudah kau memaafkan dirimu?
Masih adakah rindu? Atau sudah habiskah rasa rindu itu?, tentu saja masih ada, bagaimanapun rindu akan selalu ada, tapi sudah tidak dengan rasa penyesalan
Tau dan sadar, harus tau dan sadar mana yang memang menganggap ada dan mana yang hanya sekedar basa basi, ketika lu merasa sudah tidak lagi dianggap, jangan diambil pusing. Karena setiap orang itu ada masanya dan setiap masa itu ada orangnya.
Hiduplah dimana kamu dianggap ada dan kamu menganggap mereka ada. Hiduplah dimana kamu dihargai dan kamu bisa menghargai mereka.
Ketika hati sudah bilang "udahan yok", seolah menjadi jawaban atas sebuah ketakutan yang bulat yang selama ini muncul. Kini giliran kita yang membulatkan tekatnya.
“Jangan memaksakan sesuatu yang memang tak ditujukan untukmu. Apalagi jika kamu memang sudah menyadarinya sejak awal. Ada beberapa hal yang mungkin harus dicukupkan saja. Karena yang harus kau pahami, tak semua yang kau inginkan akan berpihak kepadamu. Ada campur tangan Tuhan disetiap keputusan yang tak bisa kau langkahi sama sekali.”
— -Cakrawala
Berasa tersesat dalam labirin sendiri. Pengen menciptakan bahagianya sendiri, tapi terus berputar pada ketidaknyamanan
D E W A S A
Dewasa itu sikap bukan sifat. Lebih sering mana dengar "sikapnya sudah dewasa" atau "sifatnya sudah dewasa" ?. Di telingaku lebih mudah menerima kata "sikapnya sudah dewasa", karena sikap itu menunjukkan cara dia memahami/menanggapi/memperlakukan sebuah permasalahan. Sedangkan sifat itu lebih karena apa yang sudah melekat atau menjadi bagian dari kehidupannya.
Dewasa itu sikap bukan sifat. Setiap orang akan punya cara tersendiri dalam memperlakukan sebuah permasalahan yang dihadapi, bahkan dalam permasalahan yang samapun tiap orang akan punya caranya masing-masing, yang terkadang sulit untuk ditiru atau diikuti.
Seringkali kita masih merasa masih seperti anak kecil yang identik dengan belum dewasa, masih merasa belum bisa menyelesaikan permasalahan yang jelas ada didepan mata. Menurutku itu hal yang wajar, kita hanya perlu waktu untuk membawa kedewasaan itu agar bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.
Setiap orang punya porsi masing-masing dalam hal pendewasaan diri. Jadi, merasa belun dewasa terhadap sebuah permasalahan bukan berarti diri kita ikut belum dewasa, bisa jadi kita dianggap lebih dewasa dalam permasalahan yang lain. Sekalipun kita membandingkan diri kita dengan orang lain, tidak selamanya kita merasa belum dewasa, bisa jadi kita punya hal yang menurut kita lebih dewasa dibandingkan orang tersebut.
Dan dewasa atau tidaknya kita itu tergantung penilaian kita terhadap diri kita sendiri. Terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain hanya akan membuat kita semakin ragu akan diri kita sendiri, apa lagi membandingkan dengan mereka yang lebih dulu merasakan aroma kehidupan.
Berdewasalah..
Rasanya susah bisa berdamai dengan diri sendiri. Mencoba melakukan apa yang orang katakan tentang berdamai dengan diri sendiri. Sudah mencoba rasanaya sama saja, biasa saja, bahkan merasa semakun memburuk. Ataukah aku belum tau makna sebenarnya dari "BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI" ?
Ketika kita bercerita tentang keluh kesah dalam hidup, lalu ada yang menanggapi "ahh, itu mah belum seberapa mas, dulu jaman saya bla bla bla...", percayalah bahwa sebenarnya ada yang seharusnya kita syukuri dari kondisi kita saat ini.