kutelan riya’ seperti pahit habbatussauda,
kutebas sum’ah di kiri-kanan,
kubelah nafsu dengan suluh taubat.
Kutembus gemuruh sepanjang jalan
atas hati-hati yang bersujud
atas tangan-tangan yang tak menadah dunia
Aku mencarimu, Qolbun Salim
barangkali kau bersembunyi di sepertiga malam
atau bersedekap di hati Bilal
saat ia lantunkan adzan yang gemetar
Atau kau menjelma air zamzam,
mengalir di dada para muttaqin?
Aku mencarimu di dada para fuqara’,
yang tidurnya ringan, jiwanya lapang,
yang tenggelam dalam sujud panjang
tetapi takut tak diterima
Akan kuseduh air matamu, Qolbun Salim
sebelum kupeluk bayangan hisab yang menggigil
sebelum kucuci sisa istidraj
jika hati masih berlumur wahn?
jika cinta hanya separuh reda?
Maka tuntun aku, ya Rabb,
menjadi hati yang lapang,
setenang Ibrahim saat api menyala,
sejernih Yusuf dalam sumur hina
hingga kutemui-Mu dengan dada seluas langit
tanpa berat sebutir debu dunia