Seramnya bukan ketika KEPERCAYAAN jatuh ke tangan orang yang tidak tahu.
Seramnya ketika KEPERCAYAAN diberikan kepada seorang MUNAFIK.
AMANAH yang seharusnya dijaga, justru dijadikan SENJATA.
RAHASIA yang seharusnya ditutupi, justru dipakai untuk MENGHAKIMI.
Kedekatan yang seharusnya melahirkan kasih sayang, malah berubah menjadi bahan caci maki dan penghukuman.
Ia merasa dirinya PALING BENAR PALING SUCI. Paling berhak menentukan siapa yang layak dihormati dan siapa yang pantas direndahkan.
Padahal orang yang benar-benar baik tidak sibuk mengumumkan kebaikannya.
Orang yang benar-benar berilmu tidak gemar mempertontonkan ilmunya. Dan orang yang benar-benar berakhlak tidak menjadikan aib orang lain sebagai panggung untuk meninggikan dirinya sendiri.
Bukankah pohon yang berbuah lebat justru semakin merunduk? Bukankah wangi bunga tetap tercium meski ia tak pernah berteriak mengaku harum?
Jika akhlakmu benar-benar baik, sering kali diammu saja sudah membuat orang segan. Tidak perlu berkoar-koar bahwa dirimu paling lurus. Tidak perlu mengumumkan bahwa dirimu paling suci. Karena kemuliaan tidak lahir dari pengakuan diri, melainkan dari adab yang terlihat ketika tidak ada yang menyaksikan.
Yang menyeramkan adalah manusia yang gemar berbicara tentang kebenaran, tetapi kehilangan kasih sayang. Yang hafal banyak dalil, tetapi mudah merendahkan. Yang lantang menghakimi, tetapi lupa mengoreksi dirinya sendiri.
Sebab kesombongan yang dibungkus agama sering kali jauh lebih berbahaya daripada kesalahan yang disadari dan disesali.
Hati-hatilah pada manusia yang merasa dirinya PALING BENAR…!!!
Karena saat seseorang mulai yakin bahwa hanya dirinya yang suci, pada saat itulah ia sedang berjalan sangat dekat dengan kesombongan.
Ia tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran. Tidak lagi memperbaiki diri, melainkan sibuk mengadili orang lain.
Dan ironisnya, ia mengira itu adalah bentuk ketakwaan. Padahal bisa jadi itu hanya ego yang sedang mengenakan pakaian agama.










