Kenapa tolak reklamasi teluk benoa
Oke diera internet seperti ini, siapapun bisa berpendapat, tentunya saya juga kan?, haha
3 tahun lamanya setelah bali dibangunkan dengan kabar pemerintah merencanakan proyek reklamasi di teluk benoa, sejak saat itu juga penolakan-penolakan terhadap rencana ini mulai bermunculan, dari cuma beberapa orang/kelompok menjadi suatu gerakan yang masif, yang tentunya kalau dilihat dari akal sehat tidak mungkin pemerintah tidak melihat pergerakan ini (dimana demokrasi yang katanya mendengar rakyat)
Saya disini bukanlah ahli hukum atau lingkungan, saya cuma menyampaikan sedikit opini (bukan fakta) yang saya mengerti tentang reklamasi ini.
Saya tentunya ikut juga bersikap terhadap reklamasi ini (yang katanya revitalisasi) kalau secara bebelogan (logika sederhana?) alasan untuk menolaknya lebih masuk akal dari rencana (janji-janji) yang didengungkan dari pihak perencana.
Beberapa poin pernyataan yang disampaikan oleh Gubernur bali (dari wawancara program Insight di CNN indonesia) yang masih saya ingat, tentang penolakan ini:
-Kalau direklamasi tentunya banyak tenaga kerja.
Di bali setiap tahunnya banyak lulusan S1 dari universitas yang ada di Bali, ini kan khususnya buat lulusan pariwisata, karena nantinya yang di ciptakan adalah objek wisata baru, lah kalau yang lulusan lain? Arsitek misalnya? Jadinya dimananya pak? Arsiteknya kn udah orang luar negeri, mau ditaruh dimana pak lulusan ini?
-Para penolak takutnya kan bali nanti tenggelam, makanya kampanyenya lawan atau tenggelam.
Sepertinya ini cuma frasa dari menyeramkannya rencana ini, lah logika aja lah, gak mungkin kan Bali (gak disebutin khususnya bali selatan) sampai tenggelam beneran, ya kali ada alien yang nyedot bali dari dasar laut, haha
-Takutnya mereka nanti banyak pendatang, kemudian mulai mendirikan masjid, gereja, dll.
Ga gini-gini juga kali, haha segitu parnonya kah orang bali dengan pendatang? Harusnya sekarang kita lebih berkompetisi (dalam hal positif) dengan mereka.
-Nanti reklamasi ini merusak kawasan suci, Ada,nanti di salah satu pulau (reklamasi) nanti dijadikan tempat suci, dan kawasan spiritual.
Bapak orang bali atau hindu khususnya? Ya kan ga bisa sesederhana ini kan pak, kawasan suci dan tempat suci itu kan beda harusnya ya? Pak mau bangun tempat dugem di sema/setra?
-Tanah reklamasi itu bukan milik investor, karena cuma HGB (hak guna bukan hak milik) 700 ha itu milik orang bali.
Kalau memang punya orang bali, kalau kita gak mau direklamasi gimana pak?
-Nanti dana dari pajak hotel dan restaurant bisa dijadikan dana untuk pembangunan, tapi dana ini bukan milik provinsi, tapi milik kab.badung
Segitu maruknya kah kabupatenku tercinta? Haha ya,kalau cuma punya salah satu kabupaten gak bisa dipakai untuk pembangunan daerah-daerah lain dong harusnya? Mau nraktir gitu?
Kurang lebih poin yang saya ingat seperti itu, satu pernyataan yang paling buat saya kecewa yaitu
“saya ini bukan ada di kubu menolak atau mendukung”
Bapak itu pemimpin pak, masak pemimpin tidak bisa tegas menyatakan sikap, dimana latihan ketegasan yang bapak dapat dulu di kepolisian?
Saya mungkin tidak berwibawa, tapi tentu saya bisa menentukan sikap.
Sekali lagi ini merupakan opini saya semata