Sesungguhnya istilah ini gw dapat dari seorang sahabat, Idin. Ceritanya minggu lalu gw maen ke rumahnya, terus dia nanya gimana rasanya menikah. Gw bingung menjawabnya, sesungguhnya gw juga gatau musti ngomong apa. Menikah itu, buat gw aneh. Ya pasti ada senengnya, ada ujiannya. Gw bukan tipe yang akan mengagung - agungkan keenakan menikah saja. Bukan, gw tipe yang realistis dan sering obyektif (walaupun pada banyak hal subyektif juga).
Kalo kata Ria Jamin, menikah itu membuka kesempatan beribadah makin banyak dan mudah. Itu sih yang bikin gw bersyukur. Pamit ke suami beli kerupuk depan gang aja, udah dapat pahala. Kedip - kedipin mata ke suami aja, kalo suami jadi hepi dan ridho, dapat pahala juga, kalo dia ga hepi paling mata lo dicolok. Senyum sambil ngomong dengan gayah mantjahh aja, kalo suami hepi, jadi pahala, suami gw sih senewen liat gw jadi kayak cacing dicubit gitu.
Kalo punya suami yang memahami dasar - dasar agama, jadi ada yang mengendalikan keliaran kita sebagai perempuan. Jadi punya partner untuk mewujudkan mimpi, atau mendampingi dia mewujudkan visi misi hidup berkeluarga, and it’s really nice. Banyaklah senengnya.
Makanya bodoh sih kita yang udah menikah terus gak meniatkan semua yang dilakukan dalam rumah tangga itu dalam rangka ibadah.
Susahnya, ya berat, jangan dikira. Itu kenapa, kalo niat menikahnya ga jelas, kayak gw ini, jadi gampang sambat (ngeluh), karena tekadnya kurang bulat (ga digoreng dadakan sih).
Balik lagi ke Idin. Secara global gw cerita susah - susahnya sih, ini secara global, bukan permasalahan rumah tangga. Misalnya, waktu masih single rasanya bebas mau ambil jalan yang mana aja. Atau ngeluh kalo dapat suami yang perjalanan ke rumahnya lebih susah daripada ke Zimbabwe. Sampe dia bilang, “kok Max (panggilan gw) mendemotivasi Idin sihhh?”
Karena gw tahu Idin belum punya calon suami tapi sudah didesak keluarga untuk menikah. Itu juga yang gw lakukan ke Nina, sahabat gw yang udah pingin punya pasangan tapi belum juga punya calon. Atau ke Zunanik, dia sampai bilang, “Kak, kok kamu jadi setan sih?”
Gw menghindari memberi nasihat klise, ‘mungkin lo belum siap,’ atau ‘mungkin lo banyak maksiat,’. Aduh Buuuk, yang kayak gini bikin hati orang pedih dan ngerasa dirinya rendah. Kita kan bukan ustadz yang berhak ngomong gitu. Gw udah nikah apakah berarti udah siap? Ga juga keleeeees. Temen gw, salihah masya Allah, aktivis di jalan Allah, pinter, pinter jaga kesehatan, dan ibu-able, belum nikah jugaaaaaa. Sesimple, belum rejeki aja, Allah pasti sedang siapin hikmah.
Sebenarnya ya bukan demotivasi, hanya mencoba memberikan sudut pandang realistis. Karena sudut pandang utopis tentang pernikahan sudah banyak diberikan oleh orang lain. Yang nikah itu enak lohhh, nikah itu ibadah lohhh, dan sederetan kenikmatan lain yang menurut gw kadang terlalu naif walaupun itu betul, tapi cara penyampaiannya itu loh. Apakah dengan menikah, lo sudah jadi orang yang lebih baik? Apakah dengan menikah lo udah pasti akan lebih bahagia dan imannya bertambah tebal? Ga juga kan, balik lagi ke niat.
Gw ga bicara tentang yang gamau menikah ya, gw berbicara tentang yang ingin menikah tapi takdirnya belum ada. Gw mencoba menghibur, bahwa jadi single juga bisa hepi kok, walaupun yang menikah juga bisa hepi. Menikah itu lebih baik, tentu. Ya tapi kalo calonnya belum ada terus mau apa Buuuuuk?
Yang menikah mudah mendapat jalan ibadah. Yang single butuh tenaga lebih besar untuk mencari jalan ibadah, sering sampai menangis mengiba karena perjuangannya berat (walaupun pada banyak pasangan, pernikahan jauh lebih berat). Belum lagi harus puasa untuk melindungi diri dari zina. Tapi bukannya Allah ga pernah sia - siakan usaha kita? Barangkali usaha para jomblo fisabilillah mencari jalan pahala itu sudah diitung pahala sama Allah karena niat dan upayanya. Bisa jadi kita yang menikah malah minim pahala karena tidak meniatkan semuanya untuk ibadah.
Menikah itu perintah agama, pasti banyak baiknya. Tapi kalau nasib belum mempertemukan dengan jodohnya, apa mau dikata? Pasti Allah sudah siapin hikmahnya.