#21 — Merawat Ketidakutuhan [2]
Ada saatnya, diri mulai beradaptasi untuk mengenal rasa rela,
Teringat ungkapan, "biarlah waktu yang mengobati"
Bukan sekedar menunggu, perlu upaya walau jengkal demi sejengkal. Perlahan ungkapan itu lekas menuju. Ketika diri siap dan berani melalui masa penuh pasang-surut. Sesekali pikiran munculkan dugaan yang tidak-tidak, sesekali perasaan berkecamuk tanpa arah, tak jarang memaksa kembali ke masa-masa penuh tekanan.
Amati saja, segala letupan yang bernada manja. Entah menguap jadi tangis, sedih, murung, gelisah, khawatir atau rasa yang sulit didefinisikan.
Pada ujungnya,
Kita masih perlu bersabar sekali lagi, ya, sekali lagi.
Perlahan mengenal rasa maaf,
Memaafkan gumpalan luka yang terlanjur membekas, memaafkan sesak dada yang terlanjur menyakitkan, memaafkan masa lalu yang terlanjur kelam dan tenggelam.
Fokuslah,
Pada diri yang mulai terbiasa, beraktivitas walau kadang masih teringat dan terasa perihnya.
Sadarilah! Mungkin, kesadaran kecil itu bagian dari upaya kerasmu selama ini. Beserta, doa yang terpanjat secara sengaja, tidak sengaja, keras, pelan atau nyaris tak sanggup bersuara.
Ingatlah, segala rintihan walau nyaris tak bersuara, Dia, Allah, Sang Maha Mendengar tetaplah setia menampungnya. Terus ditampung hingga waktu yang sungguh tepat. Tentu berupa kejutan yang selama ini dinantikan. Tanpa disangka-sangka.
Maka,
Terus berusaha percaya seserius dan sekhidmat mungkin.
Dengan begitu, ketika dorongan negatif datang dari berbagai sisi. Saat tersesat, kita masih ingat arah kembali. Bersimpuh lagi lalu tenggelam dalam doa dan ampunan meminta pertolonganNya, sekali lagi.
Tak perlu terburu-buru untuk segera menyudahi. Nikmati prosesnya, boleh jadi, itulah caraNya terjemahkan menjadi buah-buah pahala, ampunan, serta ridhoNya. Hingga, kita lupa "apa itu rasa sakit?"
Terpenting, seperih pun separah apapun lukanya. Diri masih bersedia untuk belajar memaafkan jiwamu sehingga bisa menguatkan bahwa segala yang dialami itu bukanlah salahmu. Lebih indah, semua tentang caraNya menyayangimu. Tanpa tapi...
Masih sanggupkah untuk terus percaya, sekali lagi?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
















