Hari yang tidak biasa untukku.
Hujan rintik mulai membasahi teras rumah ketika aku sedang bersantai di kursi teras tempatku biasa merenung.
"Wah hujan.." Ujarku dalam kesendirian.
Aku mulai merogoh telefonku dan seketika..
Teleponku mendering dan tertera ‘no number’ di layarku.
Ada yang tidak biasa. Suara hujan terdengar sayu dibalik telepon. Tapi tidak ada suara balasan.
Terdengar suara yang sudah lama tidak kudengar selama 3 tahun. Aku teranjak dari kursi dan membalasnya
Aku terkejut lalu menjawab dengan penuh semangat.
“Aku gak mungkin lupain suara kamu yang iseng ini.”
Aku bisa mendengarkan tawanya. Aku rindu akan tawa itu. Aku lalu bertanya pada dirinya.
"Ayo kita ketemuan, mau?"
"Tentu saja! Sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu."
Kembali aku teringat pada saat itu, dimana diriku selalu bersama dengannya. Pergi bersama, bersenda gurau.
Dan aku juga teringat kembali akan suasana, dimana kita berdua berteduh di taman. Hujan yang mirip, tidak terlalu deras...
Ah.. Perasaanku sudah tercampur aduk.
Pipiku mulai memerah dan sudah tidak bisa ditahan.
Dibalik telefon dia bertanya "Kamu tidak apa-apa?"
"Ah, iya.. Aku teringat kamu.. Aku kangen.."
Dia membalasnya dengan suara yang lembut dan selalu membuatku merinding: "Ah, aku juga kangen sama kamu"
"Kamu ada dimana saat ini?"
"Aku sebentar lagi akan sampai rumahmu, tunggulah aku."
"Baiklah!! Aku akan bersiap-siap."
Aku mematikan telefon, lalu bergegas untuk kembali ke dalam rumah lalu bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya. Namun...
Aku terbangun dari tidurku, ternyata aku tertidur di bangku teras dan.. Hujan.
"Sayang, ayo masuk. Makanan udah siap nih. Yuk kita makan."
"Ah, iya.. Sebentar lagi aku masuk"
Mendadak aku termenung kembali.
Mengingat apa yang terjadi barusan.
Ternyata aku memimpikan dirinya.
Dirinya yang sudah tidak pernah kutemui lagi.
Kuharap kamu akan baik-baik saja disana.. Ditempat yang tidak mungkin kucapai.