hari ini tanda cinta Allah itu datang lagi, dan do'anya masih sama :)
suami : "aku yakin sama Allah, itu udh cukup"
Cosmic Funnies

JVL
AnasAbdin

❣ Chile in a Photography ❣

Kiana Khansmith
NASA

Janaina Medeiros
🪼
No title available
Today's Document
ojovivo
will byers stan first human second

Discoholic 🪩

⁂
No title available
Claire Keane

titsay
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
Game of Thrones Daily
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from Canada
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from United States

seen from Taiwan
@el-navis
hari ini tanda cinta Allah itu datang lagi, dan do'anya masih sama :)
suami : "aku yakin sama Allah, itu udh cukup"
"yang halal akan dihisab, yang haram akan diazab"
#amalan
🌻 kok gituuu??
🦁 buat orang yg taat aturan aja, yg begitu ga usah ditiru!! yg didapet itu ada pertanggung jawabannya, fahimtum?
🌻 iya ya.. fahimna...
Merasa Berjasa
Dari membaca peran sahabat nabi, aku merasa bahwa perjuangan tidak hanya dipikul oleh sahabat-sahabat pentolan. Ada banyak yang namanya tidak disebutkan dalam sejarah namun tanpa mereka, perjuangan akan pincang jalannya.
Pun sama di sejarah sebelum Nabi Muhammad. Kita tidak pernah tahu nama 3 rasul dalam surat Yasin dan nama pemuda dari ujung kota yang membenarkan ketiga rasul itu. Kita tidak pernah tahu nama pembesar Fir'aun yang menolong Nabi Musa. Dan banyak penolong-penolong agama Allah yang "tersembunyi" dari sanjungan penduduk bumi.
Kita mudah tertipu dengan "ukuran" besar kecilnya amanah dan dampaknya. Kuantitas dan ukuran materialis jadi tolok ukur kesuksesan. Kita berpikir engagement dan dampak yang besar adalah akibat dari perbuatan kita.
Lalu sampai batas mana quote "amanah itu tidak ada besar dan kecil" berlaku?
Besar-Kecil vs Berat-Ringan
Amanah itu ada lingkupnya. Mulai dari:
Diri
Keluarga
Umat
Negara
Dan tergantung bentuk atau jenis amanahnya apa. Terus taruhannya nyawa atau bukan. Urgensinya apa sehingga harus dilakukan, atau seberapa fatal jika tidak dilakukan.
Simpleness itu bicara tentang framework. Ada orang yang sepanjang hidupnya sudah terinternalisasi dengan kebenaran, sehingga amanah level negara pun mudah baginya. Tapi kemudahan dan kesulitan dalam menjalankannya itu tidak mengubah fakta bahwa amanah tersebut memang sudah 'besar' atau 'kecil' pertaruhannya sejak awal.
Tapi easyness itu bicara tentang algoritma. Nggak semua orang mudah untuk "running" algoritma tertentu, sekalipun dia punya library, rules, dan tools-nya.
Makanya mulia di hadapan manusia tidak menjamin mulia di hadapan Allah. Bukankah banyak sahabat-sahabat nabi dengan jobdesk yang keliatannya sepele, jauh dari apresiasi dan tepuk tangan, namun di akhirat kelak Allah hargai mastatho'tum-nya mereka? Kita bahkan tidak pernah tahu lagi jobdesk Arqam bin Abil Arqam setelah fase hijrah. Tapi yang jelas, beliau pasti punya amanah tertentu yang umat tidak perlu tahu.
Itu juga yang bikin sahabat sekaliber Khalid bin Walid dan Amr bin Ash nggak sepede itu merasa bisa sejajar dengan assabiqunal awwalun sekalipun keduanya memegang urusan level negara dan pemerintahan. Boro-boro merasa berjasa, mereka justru merasa diri mereka selalu kurang beramal dan tidak terjamin surganya/syahidnya.
Ada hal menarik juga dari salah satu temenku di SMA dulu. Dengan bodohnya aku simpati kepada dia saat dia ditempatkan di divisi logistik sementara teman-temannya di jabatan yang 'terpandang'. Saat aku utarakan, dia menginvalidasi perasaan simpatiku dan di titik itu aku sadar betapa kerennya dia di usia itu.
"Pahalamu sesuai dengan kadar kepayahan yang engkau rasakan."
Begitulah sabda Nabi kepada Aisyah. Ini bicara tentang effort yang dikeluarkan. Beda kan, kalau mau mindahin 100 liter air pakai ember 4 liter dengan pakai ember 10 liter? Yang kapasitasnya lebih kecil, effort-nya harus sekian kali lipat lebih besar. Effort itulah yang dinilai pahala.
"Amanah tak pernah salah pundak."
Benar. Tapi sebagai "pundak" juga jangan sombong dan merasa berjasa. Tapi juga jangan mendramatisir seolah-olah gak mampu. Kalau udah tau amanahnya berat, ber-isti'ablah, tingkatkan kapasitas diri. Supaya effort-nya bisa lebih efisien dan energinya bisa dialokasikan ke ladang-ladang amal lainnya. Masih banyak yang perlu kita kerjakan.
Terakhir, ada satu hikmah menarik tentang merasa berjasa. Dikisahkan dalam buku Ibnu Athaillah, Mengapa Harus Berserah bahwa para sahabat sangat memerhatikan keadaan hati mereka, mengikhlaskan amal mereka, dan takut kalau berbuat bukan karena ridha Allah.
Kata Syekh Abu Muhammad al-Marjani, ketika Allah menurunkan surat At-Taubah (9) : 111 yang berbunyi:
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung."
Ada beberapa orang yang mendengar ayat tersebut dan mereka merasa senang dengan transaksi itu. Mereka senang karena Allah telah membeli dari mereka, memuliakan kedudukan mereka, ridha bertransaksi dengan mereka, mereka senang karena dibayar dengan harga yang tinggi dan pahala yang besar.
Di sisi lain, ada segolongan orang yang berwajah muram dan memerah karena malu kepada Allah. Sebab Allah membeli dari mereka sesuatu yang sesungguhnya merupakan milik-Nya. Andaikata mereka tidak menyembunyikan rasa memiliki terhadap milik Allah itu, tentu Allah tidak akan berkata, “Allah telah membeli dari orang yang beriman.”
Karena itu, golongan yang senang dan gembira akan mendapatkan dua surga yang wadah dan isinya berasal dari perak. Sementara, kelompok yang berwajah muram akan mendapatkan dua surga yang wadah dan isinya berasal dari emas.
Seandainya orang beriman tidak merasa memilikinya, tentu Allah tidak perlu melakukan akad jual beli dengan mereka. Karena itu, Allah mengatakan, “Allah telah membeli dari orang yang beriman,” bukan, “dari para nabi dan rasul.”
Syekh Abu al-Hasan berkata, “Jiwa manusia terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu jiwa yang tidak dibeli karena tidak berharga, jiwa yang dibeli karena kemuliaannya, dan jiwa yang tidak diperjualbelikan karena kemerdekaannya. Kelompok pertama adalah jiwa orang kafir. Mereka tidak dibeli karena hina dan tak berharga. Kelompok kedua adalah jiwa orang yang beriman. Mereka dibeli karena kemuliaannya. Kelompok ketiga adalah jiwa para nabi dan rasul. Mereka tak diperjualbelikan karena mereka adalah jiwa-jiwa yang merdeka.”
Orang yang akan dihisab hanyalah yang merasa beramal.
Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki apa-apa akan dihisab? Dan bagaimana mungkin orang yang merasa tidak melakukan apa-apa akan dipertanyakan amalnya? Orang yang akan ditanya hanyalah orang yang lalai dan merasa diri mereka memiliki atau ikut berbuat bersama Allah.
Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, "Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar"
Al-Hujurat (49) : 17
Akhir kata, selalu, untuk diri sendiri yang kedatangan amanah-amanah baru yang memang tidak besar. Mudah-mudahan selalu mengasah sense of urgency sehingga tidak menyepelekan penunaian amanah sekecil dan semudah apapun. Terima kasih kepada Allah yang selalu mengingatkanku agar tidak silau terhadap jabatan, kedudukan, dan amanah-amanah yang tampak 'besar' dan 'luas' cakupannya. Yang terpenting bukan besar-kecilnya, melainkan kesiapan ditempatkan di besar-kecilnya, berat-ringannya, dengan level mastatho'tum yang sama.
— Giza, tahu kok bisikan setan bisa masuk lewat membandingkan amanah demi amanah dan perasaan berjasa
Pesan untuk diri sendiri 💕
Jika dalam perjalanan ada kesulitan/kesedihan, yang pertama harus tahu adalah Allah, biarkan pembicaraan itu ada PERTAMA KALI hanya denganNya.
Ketika memutuskan menikah, berarti memutuskan bahwa saatnya berhenti memberi makan ego :)-
Fokus pada apa yang menjadi tujuan dan mensyukuri apa yang dipunya.
Ketenangan hati adalah hal yang mahal, jangan merusak ketenangan itu dengan membandingkan diri dengan orang lain
Keluarga adalah prioritas, kita termasuk di dalamnya. Jadi jangan sampai melupakan kenyamanan dan kesehatan diri sendiri.
Anak-anak belajar paling banyak dari melihat orang tuanya, jadi versi terbaikmu, biar mereka bisa meneladaninya.
Takar kapasitas diri dan keluarga, supaya seimbang dan maksimal dalam menjalani peran
Berumah tangga adalah berbagi peran, jika sudah mulai merasa berjuang sendiri maka ada yang perlu didiskusikan kembali
Fokus ke solusi, berhenti menyalahkan, meminta/menerima maaf = saving energy.
Membantu orang lain = membantu jiwa kita. Tidak akan habis harta dibagi.
Ridho suami penting, karena bagaimanapun beliau nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya termasuk kita di dalamnya.
Nuruti dunia engga ada habisnya, sesuaikan gaya hidup! orang yang kaya itu sesungguhnya yang tahu di batas mana dia merasa cukup.
Keberkahan harta itu penting, hidup secukupnya dengan sumber harta jelas. Ingat halal lebih baik daripada hidup mewah tapi sumber harta abu-abu.
Lucunya suamiku
Istrinya udah potong rambut dapet semingguan lebih, eh baru sadar barusan. Dengan polosnya bilang :
"Loh kamu potong rambut yang? Kapan?"
Udah lama kok
"Ya Allah..maafin aku yah 😘 bener² ga ngeh kalo rambutmu dipotong"
Knpa aneh yah?
"Engga kok bagussss 😘"
"Jika terdapat dua pilihan yang sama baiknya" begitu pesan Imam Asy Syafii "pilihlah yang paling menyelisihi nafsumu"
Mungkin secara makna, pesan ini bisa digunakan dalam berbagai peristiwa dalam hidup yang mengharuskan kita menentukan pilihan
Tapi, aku sendiri membaca pesan itu dalam buku Ustadz Salim A Fillah, Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita.
Yaps, buku tema pernikahan. Dan ini yang kedua, setelah buku Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah. Dari sekian banyak buku beliau, tema ini (re: pernikahan) adalah yang baru-baru masuk ke dalam daftar bacaan, alasanku, ya menunggu timing yang pas, dan disesuaikan dengan kebutuhan.
Kembali ke pesan Imam Asy Syafii. Pesan tersebut padat tapi tegas, "pilihlah yang paling menyelisihi hawa nafsumu"
Ah betapa berat rasanya hari ini.
Segala hal yang berkaitan dengan pernikahan berseliweran di media sosial. Apakah salah? Tidak, cuma agak miris ketika sunnah nabi yang begitu agung ini, bahkan dikatakan sebagai mitsaqan ghaliza, janji yang amat agung, 'dibumbui' tanpa ilmu dan adab, yang hanya merangsang keinginan untuk bersegera tanpa didasari dengan niat yang agung juga
Normalisasi hubungan sebelum ikatan terjadi, keuwuan rumah tangga yang tidak edukatif, sampai sebagai ajang 'mencari', mungkin harus kita periksa lagi, apakah sudah coba diamalkan pesan Imam Asy Syafii
"yang menyelisihi nafsumu"
Ya, ini sekadar kegalauan yang semoga menyadarkan, terutama buat yang nulis, bahwa pernikahan bukan seremeh temeh konten yang ada, tapi ia adalah janji yang amat agung. Perjalanan belajar seumur hidup, ibadah terpanjang, dan harusnya jadi satu langkah untuk memperbaiki peradaban
Semoga juga, tulisan ini tidak disertai dengan hawa nafsu, yang menunjukkan untuk kebelet nikah.
Tapi pemicu untuk terus belajar, agar saat memulai ibadah ini, dimulai dari niat yang bersih, sehingga prosesnya pun 'bersih' dan bahkan saat Allah mencukupkan, Allah panggil kita dalam kondisi yang bersih
Nanya ke Ibu: Gimana sih mengenalkan anak tentang Allah?
“Menjaga anak itu sampai batas seperti apa ya? Kadang timbul kekhawatiran nggak? Aku khawatir, kalau anak sangat dibatasi, dia nanti kaget melihat kenyataan di luar sana (karena kondisi masyarakat semakin ngga ideal).
Kalau misal, (karena sangat dibatasi itu) si anak jd diem-diem melakukan sesuatu? Alasannya rebel dari lingkungan rumah yang dijaga banget..
Apa yang salah? Berarti konsep Ma'rifatullah (mengenal Allah) nya belum masuk ya?”
Haha. Bertubi-tubi pertanyaan aku kirim ke Whatsapp Ibu setelah sedih sendiri baca habis baca 2 buku parenting: Remaja, Antara Hijaz dan Amerika disusul buku Dari Benih ke Pohon Cedar.
Penasaran insight ibu, yang dulu membesarkan dan mendidik aku dan mas-ku dulu seorang diri. Lalu kini membesarkan adik 7 tahunku yang kini hobinya – atas izin Allah – baca kitab sirah, yang sudah mandiri tilawah Quran-nya dengan tahsin yang baik, yang berbahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. MasyaaAllah Tabarakallah (mohon doa untuk beliau yaa). Dan ingin ‘ngorek’ sisi pendidik ibu, setelah 15 tahun pada bahtera TK islamic montessori-nya. Hehe.
Berikut jawabannya…
“Bekal agama yang pertama dan utama. Bahwa Allah Maha Melihat. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah Maha Pengampun. Maha Adil. Dll.
Anak susah dikasih konsep yang abstrak. Kadang hal ghaib itu dibilang terlalu abstrak buat anak.. Kalau di montessori ada istilah, berikan yg concrete dulu sebelum yang abstract.. Terutama dalam hal math dan logika matematika.
Maka dikenalkan konsep jumlah dulu sebelum konsep bilangan: Ini jumlahnya satu. Ini sembilan. Sembilan lebih banyak dari satu. Setelah paham. Baru dikenalkan ini angka 1 dan ini angka 9.”
Wow. Baru tau.
“Dalam Alquran banyak iming-iming yang bersifat concrete seperti bentuk surga seperti apa: taman yg banyak buah-buahnya, ada pasangan yang selalu suci, ada sofa-sofa, sungai-sungai, seperti sungai susu, sungai madu, sungai khamr yang tidak memabukkan..
Dan ada juga iming-iming yang bersifat abstract, seperti jumlah pahala yang banyak, 1 kebaikan dibalas dengan 700x lipat.. Dll.”
Aku nanya,
“Dalam buku ini dibilang, hal abstrak itu diturunkan ke keseharian.. jangan hanya cerita Allah menciptakan bintang, bulan, pohon tapi sampai pada dikaitkan dengan ‘makan malam kita dari Allah lho’ supaya ngga abstrak. Gitu bu?”
“Iya. Kurang lebih seperti itu. Sesuaikan bahasa dengan usia anak.. Misal, ‘Allah baik banget ya dek, kasih ibu dan ayah ke ade.. Ada loh anak yang saat lahir sudah ga ada ayah karena ayahnya sudah meninggal..’
Atau hal-hal yg bersifat fisik, seperti tubuh yang sehat, makanan yang ade suka, dirasa enak karena kita dikasih lidah dan penciuman.. Dll.”
MasyaAllah. Haha berhubung belum punya anak, insyaAllah disimpan catatannya dulu di sini, supaya kelak bisa direka ulang.
Syawal 1441 H, Jogja
- Dari aku yang rindu sekali obrolan-obrolan meja makan dengan Ibu. Semoga Allah menjaganya. Aamiin.
"Oh kamu wanita karir?
"Ngapain cuma jadi ibu rumah tangga?"
" Suami dan anak, masih sempat keurus?
"Kuliah S2? Gak takut nanti cowo-cowo gak ada yang berani deketin kamu?"
So, taukah mereka bahwa selalu ada tumpahan air mata yang dijatuhkan, dan mimpi besar yang harus dikorbankan, di balik setiap keputusan perempuan. 🌻
Versi siapa?
Seringkali didapati pesan-pesan untuk menyayangi diri sendiri. Untuk lebih memperhatikan diri. Untuk lebih bisa mengkomposisikan diri. Untuk lebih menyesuaikan ukuran diri sendiri.
Sebab datangnya arus deras yang membawa tolak ukur yang datangnya dari layar maya lagi fana.
"Jadi versi terbaik dari dirimu sendiri"
Pesan yang rasanya sudah tak asing lagi rasanya. Karena banyak pribadi yang hilang arah karena ingin menyerupai yang dipuja, atau memakai ukuran orang lain agar bisa diterima sekitarnya dengan standar yang 'ia anggap' itu lah ukurannya.
Semua kepalsuan kepribadian itu muasalnya dari keinginan diterima.
Tapi sayangnya, apa yang sebenarnya menjadi permata dari dirinya ditutupi kemilau nya dengan kulit dengan ukuran orang lainnya.
Maka saat banyak yang merasa tak terarah pribadinya, kalimat "jadi versi terbaik dari dirimu sendiri" rasanya melegakan dahaga kepura-puraan. Ia membawa seranum kebebasan dari pengekangan anggapan. Ia membawa diri untuk lebih menyayangi apa yang sudah dimiliki sendiri. Ia lah ungkapan yang akhirnya membuka diri untuk memakai ukurannya sendiri.
Tapi, akal kita terbatas.
Persepsi menjadi diri sendiri dengan kotak anggapan yang dilahirkan akal kadang kala abstrak. Bahkan bisa membawa ambisi pada keterlampauan batasan.
Sebab itu. Indah termaktub tujuan penciptaan. Yang menjadi arah bagi segala yang ada.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (QS. Adz-Zariyat : 56)
Maka mengabdi pada Allah lah tujuan penciptaan makhluk-Nya.
Lahirlah dari penyadaran ini bahwa tak perlu bersusah payah lagi kita mengarahkan diri menentukan ukuran diri. Sebab tujuannya sudah Allah ilhami.
Menjadi pribadi dengan versi terbaik yang Allah mau adalah sebaik-baik arah versi selama di bumi, guna meraih perjumpaan dengan Illahi di syurga nanti.
Kadang kala, kita menuntut orang lain untuk mencintai kita dengan cara kita. Padahal sejatinya, cara mencintai yang akan melahirkan tenang didalamnya adalah dengan menyesuaikan bagaimana yang kita cinta, ingin dicintai.
Perjumpaan dengan Allah adalah titik ingin yang tinggi. Juga, tak sembarang pribadi bisa menjumpai. Hanya orang-orang yang di ridhoi-Nya yang akan menjumpai. Orang-orang yang mengerti serta senantiasa mengaplikasikan cara nya bagaimana membuat Allah merasa dicintai, hingga Allah mencintainya dengan kecintaan yang tiada tara.
Adanya, 10 karakter ini bisa menjadi arah dasar yang bisa diaplikasikan sebagai ikhtiar menata diri untuk senantiasa tumbuh dengan versi terbaik sebagaimana mau nya Allah.
1. Bersih, lurus akidahnya (Salimul aqidah)
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan salah satu karakter menjadi muslim sejati yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, maka seorang muslim tersebut memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT dan juga tidak akan pernah menyimpang dari apa yang telah ditentukan. Sebagaimana Allah SWT berfirman “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan mati ku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam.(QS 6:162). Karena pada dasarnya memiliki aqidah yang bersih itu sangatlah penting.
2. Benar ibadahnya (Shahihul ibadah)
Ibadah yang benar merupakan salah satu perintah Rasulullah yang penting. Dan ibadah yang sebagai tolak ukur amal yang pertama atau salah satu ibadah yang utama dinilai adalah shalatnya. Hingga Rasulullah SAW menyatakan “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.” Dari ungkapan Rasulullah SAW itu sudah cukup jelas bahwa dari segala macam perbuatan atau setiap beribadatan haruslah merujuk kepada sunah Rasul SAW.
3. Kokoh akhlaknya (Matinul khuluq)
Akhlak yang kokoh atau akhlak yang mulia merupakan salah satu bagian terpenting juga bagi setiap muslim. Baik dalam hubungannya kepada Allah SWT. maupun dengan makhluk-nya. Karena memiliki akhlak yang mulia manusia akan hidup bahagia dunia dan akhirat. Maka Rasulullah SAW. diutus ke bumi untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak para hambanya dan Rasulullah SAW. pun telah mencontohkan nya kepada kita. Sesuai firman Allah SWT. “dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS 68:4).
4. Kuat jasmaninya (Qowiyyul jismi)
Kuat jasmaninya juga point penting yang harus ada pada setiap muslim. Karena untuk menjalankan ibadah-ibadah yang Allah SWT. perintahkan seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, ataupun segala sesuatu amalan yang harus dikerjakan dengan fisik, kita harus memiliki fisik yang kuat dan sehat. Apalagi jihad dijalan Allah SWT. Oleh karena itu, kesehatan jasmaninya harus sangat di perhatikan bagi setiap seorang muslim. Maka Rasulullah SAW. bersabda: “mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah" (HR. Muslim)
5. Berwawasan luas (Mutsaqqoful Fikri)
Intelek dalam berpikir atau memiliki wawasan yang luas adalah salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena salah satu sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. adalah Fatonah (cerdas) dan di Al-Quran juga banyak menerangkan ayat-ayat yang merangsang kita untuk berpikir. Karena didalam Islam sendiri tidak ada satupun perbuatan yang kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan yang luas dan keilmuan yang luas.
6. Kuat melawan hawa nafsu ( Mujahadatun lihawahu)
Berjuang dalam melawan hawa nafsu merupakan kepribadian yang harus dimiliki di setiap muslim. Karena semua manusia pasti pasti memiliki kecenderungan hati pada yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan untuk tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW. bersabda: “tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)." (HR hakim).
7. Sungguh-sungguh menjaga waktunya (Haritsun ‘ala waqtihi)
Pandai menjaga waktu adalah faktor penting bagi manusia. Karena banyak sebagian manusia yang lalai akan waktu, tidak disiplin dengan waktu yang diberikan. Padahal Allah SWT banyak bersumpah didalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu, seperti : waktu Dhuha, waktu ashar,waktu fajar, waktu malam, dll. Maka dari itu kita harus pandai-pandai dalam memanage waktu agar waktu yang telah kita lalui tidak sia-sia begitu saja. Maka diantara yang disinggung oleh nabi SAW. adalah memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, kaya sebelum miskin.
8. Teratur dalam setiap urusan (Manazhzhamun fi syu’nihi)
Teratur dalam segala urusan salah satu kepribadian yang harus ditekankan pada setiap manusia. Didalam hukum Islam sudah tertata rapih dalam menyelesaikan segala urusan atau masalah baik itu terkait Ubudiyah maupun muamalahnya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinuitas dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Mampu berusaha sendiri; mandiri (Qodirun ‘ala kasbi)
Mampu berusaha sendiri atau bisa kita sebut harus mandiri merupakan suatu yang amat diperlukan. Tidak sedikit banyak orang, masalah yang sering dihadapi adalah masalah ekonomi. Oleh karena itu perintah mencari nafkah sangatlah banyak didalam Al Qur’an maupun hadist dan itu memiliki keutamaan yang penting.
10. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoiri)
Bermanfaat bagi orang lain adalah suatu tuntunan bagi setiap muslim. Dengan hal ini berarti seorang muslim harus selalu berpikir bagaimana cara agar setiap pribadi ini bermanfaat bagi orang sekitar. Jangan sampai kita sebagai muslim Tidak ada kontribusi atau berperan penting di masyarakat. Dalam kaitan inilah Rasulullah Saw bersabda: “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Bukhori).
Itulah 10 karakteristik untuk menjadi muslim sejati sebagaimana bisa menjadi beberapa tuntunan untuk mengarahkan diri kita menjadi sosok terbaik sebagaimana yang Allah SWT. mau sesuai yang telah diajarkan Rasulullah SAW. kepada kita. Karena kita sebagai muslim harus kembali merujuk apa yang telah sudah ditetapkan yakni Al-Qur’an dan Hadits.
Mari senantiasa berupaya tumbuh dengan versi yang Allah mau🌟
Sudut perpustakaan, 11 Jan 2022 || 15.25
"Suatu saat akan ada yang menepis keraguanmu. Akan ada yang mampu meredam kekhawatiranmu. Mengajakmu meraih mimpi-mimpi yang semulanya kamu berpikir begitu sulit untuk mencapainya. Mengajakmu untuk sama-sama belajar bersabar terhadap apa-apa yang meresahkanmu. Menanamkan keyakinan baik terhadap Allah. Ia tidak takut jatuh bersamamu. Sebab, ia yakin ada Allah yang senantiasa begitu setia menemani perjalanan kalian. Lantas untuk apa khawatir?"
@terusberanjak
“Kelembutan dan sopan santun itu adalah bahasa yang dapat didengar oleh orang tuli dan dapat dibaca oleh orang buta. Mereka berdua jatuh cinta padamu bukan karena apa yang terlihat darimu, bukan juga dari kepemilikanmu. Tapi dari hati bersihmu yang tertuang dalam sikap dan etika.”
—
Jagalah sikapmu sebagaimana kamu juga menjaga lisan. Bukankah banyak gelas yang akhirnya pecah itu bermula karena salahnya sikap dan ucap? Meski akhirnya kamu kembali merekatkan tapi ia tetap tidak akan sesempurna seperti awal. Seringlah berbicara pada diri sendiri tentang akhlakmu. Itu saja.
@jndmmsyhd
#7 — Validasi Eksistensi Seorang Anak
"Manusia berangkat dari family values. Lu punya values yang bener di rumah, insyaaAllah lu di luar rumah juga benar." — Bang Junot
Entah kenapa semakin sering membicarakan soal keluarga, rasanya pengen segera membentuk keluarga #eh. Kayak tertantang untuk menerapkan cara-cara berkeluarga yang (dianggap) baik, padahal diri sendiri juga paham bahwa membentuk keluarga bukan hal yang main-main apalagi sekedar percobaan.
Tetapi makin ke sini, makin suka baca buku parenting, kajian parenting, bahkan keranjang shopee serta isi markah twitter penuh dengan dekorasi rumah, desain rumah, dan lain-lain. Padahal belom tentu setelah nikah tinggal duduk manis di dalam rumah yang sudah disediakan oleh pak suami. Pokoknya mah jangan pernah berekspektasi apa-apa dengan kehidupan setelah menikah (kata mereka yang sudah menikah), apalagi sebagai perempuan yang notabene akan mengikuti gimana pun arahan pak suami. Tentunya arahan yang baik-baik.
Tulisannya jadi ngelantur kemana-mana, tapi emang lagi pengen ngomong bebas aja sih soal keluarga.
"Masa paling krusial dalam tumbuh kembang adalah sense of approval. Lu akan melakukan apapun untuk bisa diterima. Validasi eksistensi, kalau lu salah kaprah, bisa bahaya!" — Bang Junot
Jadi menurut gue, anak perlu dididik untuk bisa punya passion sejak kecil. Setidaknya berusaha menemukan passion dia sejak kecil, walau seiring bertambah usia kadang-kadang bisa berubah. Tapi gini, gue menyadari sesuatu, kenapa hal itu bisa berubah? Karena mungkin kita tidak mengasahnya. Contohnya, waktu kecil sampai SMP, gue suka melukis dan sering jadi perwakilan sekolah untuk lomba. Menanjak ke SMA, di rumah udah mulai jarang, mentok-mentok cuma perlombaan melukis kaligrafi di sekolah. Waktu kuliah boro-boro. Sekarang, megang kuas, tangan udah bergetar dan gue udah terlanjur nggak update dengan jenis kuas dan cat air masa kini yang sudah semakin bagus dan bervariasi.
Setiap lihat orang-orang memamerkan hasil lukisannya atau aktifitas dia lagi melukis, rasanya kayak ada hasrat passion lama yang membuncah #cielah. Tapi, passion melukis itu pakai modal ya hahahahaha dan lumayan. Akhirnya mencoba untuk fokus menulis aja. Ya moga-moga tahun ini bisa menerbitkan buku lagi. Aamiin.
Balik lagi ke soal anak perlu dididik untuk menemukan passionnya sejak kecil adalah agar dengan passion itu (semoga) ia bisa diterima dan dihargai dengan kelebihannya itu, walaupun ketika seseorang menerima orang lainnya, berarti sudah sepaket menerima kelebihan dan kekurangannya. Tapi gini ya, balik lagi ke diskusi sebelumnya, bahwa hubungan antarmanusia itu layaknya sebuah bisnis. Dengan passion kita yng berkembang itulah (semoga) orang bisa memvalidasi eksistensi kita. Passion ini kan artinya positif yaaaa. Ketika seorang anak tahu passionnya apa, hal/hobi bermanfaat apa yang sering dilakukannya, maka ia akan tahu arah eksistensinya jelas untuk apa, landasannya apa, bermanfaat atau tidak. Saat perkembangan inilah, peran orang tua masuk, dan memberi pemahaman bagaimana eksistensi yang bermanfaat ini bukan sekedar bermanfaat tapi juga diridhoi dan diberkahi Allah.
Yk, 5 Maret 2021 | 16.49 | @wedangrondehangat
Parenting : Minum
Aku dan suami punya kebiasaan kecil (yang lucu) untuk mengekspresikan perhatian dan rasa sayang. Kami sering mengambilkan minum satu sama lain tanpa diminta. Jadi kalau makan, kadang kejadiannya aku nggak ambil minum untuk diriku tapi untuk suami, dia juga sebaliknya hahaha.
Itu nggak hanya di waktu makan, waktu suami kerja, waktu aku kelihatan lelah, atau waktu-waktu random pengen merhatiin satu sama lain. Pagi hari kami juga bergantian membuatkan teh.
Ternyata kebiasaan kecil itu dilihat oleh anak pertama kami, Shabira. Shabira akhir-akhir ini sering sekali mengambilkan minum untuk kami berdua. Ketika melihat itu, aku langsung ngeh, ini dia mulai meniru kebiasaan kami! Haha. Ternyata bener yaa kita nggak bisa seenaknya aja di depan anak. Karena mereka benar-benar belajar dari orangtuanya, peniru ulung.
Biasakan yang baik, contohkan yang baik. Ingin anak shaleh, dimulai dari orangtuanya. Ingin anak senang belajar, apa bisa kalau orangtuanya mageran? Ingin anak mandiri, tapi orangtuanya manja. Ingin anak bisa bijak, tapi orangtuanya tidak konsisten. Ingin anak-anak rajin, tapi orangtuanya pemalas. Apa bisa?
Tentu orangtua bukan faktor penentu. Ada banyak, tapi peran orangtua besar untuk bisa membentuk kepribadian anak.
Shabira pernah di fase sukaa banget marah-marah. Selain belum bisa mengungkapkan perasaannya, aku yakin karena di saat itu aku juga sedang mudah uring-uringan :")
Ketika aku instropeksi dan berusahaaa sekali untuk lebih sabar, beberapa minggu setelahnya anakku mulai melunak. MaasyaAllaah huhuhu
Kejadian ini membuat aku kembali refleksi, sudah benarkah aku mencontohkan? Sudah cukup bijakkah sehari-harinya di rumah? Semoga sisi negatifku bisa diambil hikmahnya oleh anak-anakku kelak. Dan sisi positifku bisa diserap sebanyak-banyaknya. Huhu bismillaah untuk perjalanan parenting yang masih panjang ini!
Laa haula wa laa quwwata illa billaaah..
Baca ini baru kepikiran, ternyata selama ini tanpa sadar kujuga punya kebiasaan ini sejak dahulu kala; sampe menganggap itu hal yg biasa.
Dari jaman sekolah dulu, kalo makan bareng temen², hal pertama yg dilakukan begitu sampe di meja adalah; ngambilin minum buat semua orang. Sampe sekarang, makan sama siapapun, udah jadi kegemaran sendiri ngambil gelas terus ngisiin sebanyak orangnya.
Saking terbiasanya, sampe ngga mikir, "oh, itu sesuatu yg spesial ya?"
Dan kalo dipikir² lebih jauh, sepertinya kebiasaan itu memang berawal dari mengamati orangtua saat kecil. 😌
Adapun hal demikian juga dialami oleh laki-laki, dikutip dari buku Dosa-Dosa yang Sering Tidak Disadari Kaum Wanita berkenaan dengan kesalahan dalam rumah tangga dan hubungan suami istri, di mana istri tidak taat kepada suami, membantah dengan kasar, mengangkat suara (berteriak) di hadapan suami, mengingkari kebaikannya dan selalu mengeluhkan suami baik dengan sebab atau tanpa sebab.
Diriwayatkan dari bibinya Hushain bin Muhshan, "Aku pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk beberapa kepentingan, lalu beliau bertanya, 'Ada apakah ini, apakah kamu memiliki suami?' Aku menjawab, 'Ya.' Beliau bertanya, 'Bagaimana (sikap) kamu kepadanya?' Dia menjawab, 'Aku tidak melalaikannya (aku memberikan haknya), kecuali apa yang tidak mampu aku penuhi.' Beliau bersabda, Di mana posisimu darinya (dekat dan penuh cinta atau jauh lagi ingkar)?' Karena suami itu adalah surga atau nerakamu'." (HR. An-Nasa'i dan disahihkan oleh al-Albani dalam Adab az-Zifaf, 213)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda, "Sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu sudah aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad, disahihkan oleh al-Albani)
Hal ini sebagai wujud penghargaan serta penghormatan atas haknya. Sebab tidak diperbolehkannya sujud kepada sesama manusia maka wajib bagi seorang istri untuk berterima kasih atas segala bimbingan dan kebaikan suaminya sehingga hendaknya dia menaatinya kecuali dalam perkara maksiat.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Allah Subhanahu Wata'ala tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal dia selalu merasa butuh kepadanya." (HR. An-Nasa'i)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, "Ada tiga orang yang salat mereka tidak (terangkat kepada Allah) melebihi telinga mereka: (pertama), seorang sahaya yang melarikan diri dari tuannya hingga dia kembali. (Kedua), seorang perempuan yang tidur di malam hari sementara suaminya marah kepadanya. Dan (ketiga), seorang imam bagi suatu kaum sementara mereka tidak suka kepadanya." (HR. At-Tirmidzi, no. 360 dan dihasankan oleh al-Albani)
Sebaliknya, Allah Subhanahu Wata'ala telah menyiapkan balasan pahala yang besar bagi seorang perempuan yang berusaha sekuat tenaga agar dia tidur dalam keadaan suaminya rida kepadanya, hingga sekalipun dia dizalimi dan suaminya yang keliru dalam haknya.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Maukah aku kabarkan kepada kalian istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga? Yaitu perempuan yang banyak anak, penuh cinta dan kembali (meminta maaf, apabila merasa bersalah) yang apabila melakukan suatu kezaliman atau dia yang dizalimi (oleh suaminya) dia berkata (kepada suaminya), 'Ini tanganku di tanganmu, aku tidak akan bisa tidur sekejap mata pun hingga engkau rida (kepadaku)'." (Dihasankan oleh al-Albani dalam sahih al-Jami', no. 2604)
Dan sungguh telah datang suri teladan bagi seorang suami, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau adalah orang yang paling bagus dalam memperlakukan keluarganya, sebagaimana dalam sabdanya, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, sahih)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik terhadap wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau telah mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Maka saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik terhadap wanita." (HR. Al-Bukhari)
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda, "Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah, sebab jika ia membenci salah satu perangainya, maka ia akan rela dengan perangainya yang lain." (HR. Muslim)
Hal ini merupakan bentuk kebaikan dalam hubungan suami istri, sebab sikap toleran terhadap sebagian kesalahan dan kekurangan yang dilakukan oleh istri dan mengingat kebaikannya akan menjamin langgengnya dalam kehidupan berumah tangga.
Sebagaimana dalam QS. An-Nisa': 19, "Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), karena bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
Dikutip pula dari buku Risalah Nikah bahwa Islam tidak rela salah satu dari suami dan istri bahagia di atas penderitaan atau kehinaan yang lain, karena kedua mempelai tidak menyambung tali pernikahan kecuali untuk saling membantu dalam membentuk kehidupan yang sukses.
Oleh sebab itu, hak dan kewajiban rumah tangga ditetapkan oleh Islam terhadap suami istri, ada hak-hak yang harus ditegakkan oleh suami dan hak-hak yang harus ditegakkan oleh istri lalu ada pula hak-hak yang harus ditegakkan secara bersama-sama.
Di antaranya: suami dan istri harus bekerja sama secara baik dalam rangka mewujudkan suasana tenang dan gembira serta berusaha semaksimal mungkin menjauhkan perkara-perkara yang mendatangkan keburukan dan kesedihan.
Sebagaimana yang dikatakan Abu ad-Darda radhiyallahu 'anhu ketika berkata kepada istrinya, "Jika kamu sedang melihatku dalam keadaan marah, maka carilah sesuatu yang bisa menyenangkanku, dan jika aku melihatmu sedang marah, maka aku akan mencari sesuatu yang bisa menyenangkanmu, dan bila tidak seperti itu, maka kita tidak usah berkumpul saja."
Hal demikian dilakukan demi memberi ruang bagi satu sama lain untuk meredakan emosi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti berkata kasar atau hingga memukul.
Untuk itu keduanya harus bekerja sama dalam mewujudkan suasana yang kondusif dan damai agar tercipta kehidupan bahagia bersama.
Demikian perlu diketahui bahwa,
"Akhlak vital dalam berumah tangga adalah kelemah lembutan." - Ust. Aris M hafidzahullah
Semoga dimampukan dalam menjalaninya :)
Di antara Lebih dan Kurang ada yang namanya Cukup. Lebih disertai dengan Syukur, kurang disertai dengan Sabar. Lalu Cukup disertai dengan apa? Ya, Syukur. Semoga ketika kita bersyukur apa yang kita punya dilebihkan. Semoga ketika kita bersabar apa yang kita punya dicukupkan.
Aamiin. (via didilaras)
Persalinan Maryam “Memetik Hikmah Kisah Maryam, Melahirkan Keshalehan”
Narasumber : Bidan Mugi Rahayu, Amd.Keb., S.Fil., MPH
Tanggal Workshop : 6 Januari 2018
Tempat : Hotel Malaka Bandung
Waktu : 09.00-11.00 WIB
Latar belakang Bidan Mugi menjadi seorang Bidan.
Bidan Mugi adalah seorang founder Persalinan Maryam, beliau adalah Bidan yang dulunya menempuh pendidikan Kebidanan di Stikes Aisyiyah Yogyakarta saat usianya 27 tahun. Sebelumnya beliau menempuh pendidikan kebidanan, ternyata beliau sempat menganyam pendidikan S1 Filsafat di UGM. Setelah lulus dari UGM beliau melanjutkan kuliah di Kebidanan. Hal ini berangkat dari keinginan ibunya yang sangat ingin memiliki anak perempuan yang bisa menjadi seorang penolong perempuan ( hal ini karena pengalaman 2 kehamilan sebelumnya, Ibunya Bidan Mugi harus mengalami keguguran, barulah saat kehamilan ke-3 yaitu saat mengandung Bidan Mugi Ibunya bisa memiliki anak dan berharap jika anaknya perempuan untuk bisa menjadi penolong perempuan karena merasakan rasanya banyak kesulitan saat proses hamil dan melahirkan waktu itu) + suami juga yang saya nikahi saat semester 5 kuliah di mana beliau kebetulan bekerja di Rumah Sakit memiliki keinginan untuk memiliki istri Bidan maka cocoklah keinginan ibu dan suaminya tsb sehingga Bidan Mugi pun mencoba untuk berkuliah di Kebidanan dan bergelut di dunia kebidanan selama 7 tahun.
Doa ibu hamil itu sangat diijabah oleh Allah SWT, maka mintalah yang baik-baik jika sedang hamil. Ibunya Bidan Mugi pun begitu.
Latar Belakang Persalinan Maryam dilakukan ada 3, yaitu:
(1) Panduannya adalah Al-Qur’an yang sempurna, terjaga, dan lengkap.
“Yakin ga dia terjaga? Yakin”.
“Lengkap ga? Lengkap”.
“Sempurna? Ya”.
“Sudah digunakan belum oleh kita? Belum”.
Nah hal ini yang jadi tantangan Bidan Mugi sebagai Bidan masa kini untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam melakukan tindakan-tindakan menolong persalinan. Harusnya jika Al-Qur’an sempurna maka jadikanlah sumber dan kembalikan kepada Al-Qur’an jika ada masalah apapun. Manusiapun jika ada masalah apapun cobalah buka secara acak Al-Qur’an, pasti nanti akan menemukan sesuatu yang merupakan petunjuk bagi kita.
(2) Indonesia Muslim Terbesar
Ini adalah ladang dakwah dan ladang amal terbesar, muslim terbesar adalah modal terbesar kita dan seharusnya jika semuanya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah mungkin akan tenang dan rahmatan lil alamin nanti akan terjadi. Jika Allah sudah menetapkan suatu kodrat maka terimalah. Kodrat perempuan spt: hamil, melahirkan, menyusui., dll Dikatakan jika ada laki2/ perempuan yg menolak kodratnya maka di dunia ini bisa terjadi kerusakan.
Kerusakan tsb terjadi karena ulah tangan manusia sendiri. Contohnya seperti menolak melahirkan normal. Apakah ada perempuan seperti ini? Adaaa!! seperti takut sakit, takut mati, takut tidak ditemani suami saat melahirkan, dan takut lainnya. Hal ini boleh ga? Tidak boleeh karena seharusnya ada ikhtiar terlebih dahulu untuk bisa bersalin normal.
Contoh lainnya lagi adalah wanita takut untuk menyusui karena takut sakit, takut kendor, dsb. Hal ini tentunya tidak boleh karena termasuk menolak kodrat sebagai perempuan yang seharusnya menyusui sang anak.
(3) Persalinan itu fisiologis
Persalinan Maryam adalah dasar persalinan fisiologis/ alami. Maryam tidak di epis (gunting), tidak di induksi, tidak di sesar bahkan melahirkan sendiri. Intervensi medis boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat. Manusia boleh merencanakan birth plannya, namun tetap harus punya adab dalam menyampaikan rencana persalinannya. Kita harus percaya bahwa dokter/ tenaga medis memiliki ilmu yang memumpuni dalam memberikan saran saat kita menyampaikan rencana persalinan kita.
Belajar dari Maryam, tujuan kita dari kehamilan & persalinan yaitu:
(1) Selamat di dunia & akhirat
Ini yg harus kita perhatikan. Di dunia menjadi orang shalih dan shalihah untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Ibu yang shalihah maka akan menjadikan keluarga yang shalih shalihah juga. Menjadikan anak yangshalih dan shalihah itu tidak mudah, harus berasal dari orang tuanya terlebih dahulu. Usahakan suami ikut dalam proses kehamilan dan melahirkan karena akan berpengaruh terhadap bonding Ayah terhadap anaknya kelak.
Ada cerita saat Bidan Mugi membantu persalinan, kemudian sang Ayah langsung sujud syukur kemudian menangis. Hal ini membuat Bidan Mugi merinding. Saat bayinya lahir kemudian IMD (inisiasi menyusui dini), ayahnya sangat meriah menyambut anaknya. Hal ini dikarenakan sejak kehamilan, sang Ayah selalu mengajak mengobrol sang bayi di perut dan merasa sudah berkomunikasi sejak lama dan saat sudah muncul ke dunia sang Ayah sangat terharu. Proses kehamilan sampai persalinan selain ruang belajar untuk sang ibu juga tentunya adalah ruang belajar bagi sang Ayah.
(2) Tentang hijrah dan menjaga diri dan janin
Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (QS. Maryam 19 : 22)
Dalam (QS. Maryam 19 : 22) menceritakan bahwa Maryam Hijrah untuk menjaga diri dan janinnya. Hal ini harus Maryam lakukan karena jika tidak hijrah maka akan membahayakan diri dan janinnya, masyarakat saat itu menghujat Maryam karena beliau hamil tanpa ada laki-laki yang diketahui siapa Ayah dari sang Bayi. Maryam pun tidak bisa menjawabnya karena kehamilan tersebut merupakan pemberian Allah SWT langsung.
Hal ini menggambarkan bahwa dalam kondisi saat ini ibu hamil harus mendapatkan dukungan yang cukup kondusif seperti: keluarganya, masyarakatnya, dan juga tenaga kesehatannya. Ibu hamil perlu mengusahakan lingkungan yang baik untuk calon anaknya kelak yang merupakan calon seorang pemimpin masa depan, dan hal ini juga adalah tugas sang Ayah dalam mengusahakan lingkungan tersebut. Lingkungan yang mendukung juga pada zaman sekarang bisa dengan mencari ilmu sebagai bekal, olahraga dan berkumpul dengan orang-orang shaleh/shalehah sehingga dapat menjadi syari’at untuk membantu kepercayaan diri calon ibu.
(3) Tentang sakit, syukur, dan posisi.
Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS. Maryam 19: 23)
Tentang rasa sakit. Apakah Maryam merasakan rasa sakit? YA tentu, Maryam merasakan rasa sakit yang membuatnya hampir putus asa, bahkan sudah mengatakan lebih baik mati daripada merasakan rasa sakitnya ini. Padahal Maryam adalah salah satu dari empat perempuan yg dijamin Allah masuk surga, namun beliau juga ternyata merasakan sakit saat melahirkan layaknya perempuan. Lalu kita yang perempuan bukan siapa-siapa, kalo menolak rasa sakit itu padahal dibalik rasa sakit itu Allah menurunkan ampunan. Kalo kita menolak, betapa meruginya kita menolak rasa sakit tersebut, justru kita harus beryukur, kita harus terima, karena ada nikmat didalamnya. Ya walaupun sulit menahan rasa sakit namun harus ingat dengan adanya ampunan dari Allah SWT ini.
Rasa sakit akan membuat perubahan momen pada seorang perempuan, pada saat hamil dan melahirkan inilah momen yang paling banyak diijabah doanya oleh Allah SWT. Kalo dari sisi Allah meninggal saat melahirkan itu ya mati syahid. Jadi jangan takut kita menghadapi rasa sakit! proses hamil ini hanya sebentar, tapi melahirkan itu sampe 9 bulan, dan proses membesarkannya itu seumur hidup dan seumur hidup pula ladang amal seorang perempuan untuk menggapai Surga Nya.
Siapa kita dibandingkan Maryam? Bukan siapa-siapa!. Maka syukurilah rasa sakit yang ada karena adanya ampunan tadi dari Allah swt. Kehamilan, persalinan, menyusui, semuanya serahkan kepada Allah swt karena beliau lah yang akan menolong kita kelak.
Posisi Maryam saat melahirkan yaitu bersandar ke pohon kurma dan setengah duduk. Berdirikah? Tidak. Bidan Mugi menganjurkan tidak memilih posisi berdiri saat melahirkan karena lebih banyak mudorotnya daripada manfaatnya. Mudorotnya gimana? Saat melahirkan itu posisinya jangan harus enak di pasien saja tapi juga harus sama-sama enak dari segi posisi tenaga kesehatan yang menolong. Jika dalam posisi berdiri, maka cara untuk tenaga kesehatan observasi akan menjadi sulit dan jika air ketubannya pecah ya bisa langsung habis mrebes ke bawah. Jadi dianjurkan untuk posisi setengah duduk, bisa sambil bersandar/ sambil istirahat.
(4) Tempat yang rendah, kabar baik
Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS. Maryam 19: 24)
Ini tentang pendamping persalinan yaitu Bidan/ dokter/ suami. Terutama untuk VBAC (melahirkan normal setelah riwayat sebelumnya operasi sesar) Bidan Mugi menekankan bahwa sang istri harus mendapatkan izin dari sang suami. Saat melahirkan, ibu yang sedang berproses fokus melahirkan tentunya tidak akan bisa memutuskan keputusan, maka suamilah yg nantinya akan memberikan keputusan jika ada apa-apa. Sang tenaga kesehatan pun harus membantu proses melahirkan dengan tetap mengembalikan segalanya kepada Allah SWT tetap rendah diri.
Bidan Mugi pernah mendapatkan kasus istri yang sangat-sangat manut terhadap suami, padahal pembukannya sangat lamaaa sekali prosesnya. Ibunya sudah lemas, tapi dia malah semakin manut sama suaminya. BIdan Mugi pun menganjurkan untuk dirujuk karena pembukaan lambat. Namun suaminya tetap yakin untuk tetap di sini lalu memberikan motivasi kepada istrinya, dan istrinya malah semakin manut. Ketaatan pada suami ini ternyata membantu sang istri untuk bisa bertahan dan memudahkan persalinannya. Ini adalah contoh ketaatan kepada suami yang akhirnya Allah SWT ijabah dalam bentuk kemudahan.
Ketaatan kepada ibu. Seorang perempuan saat melahirkan akan menjadi ibu. Doa ibu adalah doa yang sangat mujarab. Bidan Mugi juga pernah ada kasus di mana seorang perempuan akan melahirkan di usia 35 minggu, sudah kontraksi luar biasa namun karena prematur jadi beliau merujuk ke RS. Ternyata saat 36 minggu beliau datang lagi dengan sakit yang sama, jadi saat dirujuk ke RS ternyata hanya kontraksi luar biasa yang berlangsung selama empat hari namun tiba2 hilang. Sehingga beliau bilang saat usia kehamilan 37 minggu silahkan datang lagi dan diperiksa pembukaan ternyata baru membuka sangat sedikit sekali.
Ternyata saat proses melahirkan tersebut, terlihat sang anak sangat berprilaku tidak sopan kepada ibunya. Akhirnya Bidan Mugi menyuruh anak tsb meminta maaf kepada ibunya, karena jika tidak mau minta maaf otomatis Bidan Mugi akan merujuknya ke RS karena hal simple tsb. Akhirnya si ibu anak tersebut malah yang memberikan maaf terlebih dahulu dan meminta Bidan Mugi untuk tetap menolongnya. Setelah hal ini dilakukan maka proses melahirkan pun bisa lancar dan lebih tenang.
Hal ini perlu menjadi pelajaran bahwa kita harus tetap patuh dan sayang terhadap orang tua kita, ada baiknya justru sebelum melahirkan kita meminta maaf terhadap orang tua kandung atau mertua kita, minta doa dan restu kepada mereka supaya persalinan ini dilancarkan.
Terkait kabar baik dan buruk maksudnya adalah jika tenaga kesehatan akan menyampaikan suatu kabar kepada pasien maka bagusnya tidak secara blak-blakan, namun akan lebih baik jika kabar baik ataupun kabar buruk itu disampaikan dengan cara yang baik kepada pasien ataupun keluarganya.
(5) Keyakinan sempurna, kurma
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS. Maryam 19: 25)
Tanpa keyakinan sempurna ibu tidak bisa melahirkan. Yakinlah! Harus yakin kepada Allah swt, bukan yakin kepada bidan, dokter, tatau kepada siapapun tapi kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa Allah SWT bisa memberikan kita ketrampilan untuk melahirkan nanti dengan dibarengi ikhtiar dan usaha yang kita lakukan.
Tentang kurma, kurma adalah multivitamin alami, dalam satu butir kurma mengandung 19 kandungan kebaikan. Penelitian tahun 2011, menunjukkan bahwa kurma dapat membantu mempercepat dilatasi serviks (pembukaan), mempersedikit jumlah perdarahan, mempermudah persalinan. Selain karena penelitian pun, kurma, minyak zaitun, madu, semuanya ada dalam Al-Qur’an sehingga kita harus meyakininya. Ini adalah makanan alami yang proses pengolahannya sedikit sekali campur tangan manusia.
Selain kurma, ibu hamil bisa jugaminumlah air campur madu saat bangun tidur, kemudian disertai 7 butir kurma selama waktu dhuha berlangsung, kemudian mengkonsumsi minyak zaitun juga akan membantu memperlancar persalinan. Namun untuk takaran/ dosis minyak zaitun ini masih butuh diteliti lagi (fyi kalo informasi dari Bidan Farida dari Amani Birth 2 sendok pagi hari dan 2 sendok sore hari).
(6) Makan dan minum, sedikit berbicara
Maka makan, minum, dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” (QS. Maryam 19: 26)
Pada saat bersalin sang ibu harus disertai dengan makan dan minum supaya fisik ibu kuat. Lalu saat bersalin biasanya ibu bawaannya ingin berbicara terus, atau bahkan berteriak nah seharusnya sedikit berbicara saja seperti yang dilakukan Maryam yang sedikit berbicara. Selain untuk mengurangi tenaga untuk berbicara, maka alangkah baiknya juga ibu berbicara yang baik-baik saja. Contohnya pada saat IMD kuping bayi tentunya akan dekat sekali dengan mulut sang ibu. Jika bisa murojaah lakukanlah, atau sampaikanlah kalimat dan doa-doa yang baik dan bagus kepada bayi.
Selain makanan dan minuman, beberapa anjuran sunnah Rasulullah yang baik untuk ibu hamil, ada juga gerakan sholat yang menurut Bidan Mugi sujud yang tuma’ninah bermanfaat juga untuk maksimalisasi posisi janin terutama bagi yang berposisi sungsang (bokong janin berada di bagian bawah jalan lahir). Jadi ibu hamil tidak ada alasan untuk tidak sholat.
Selain itu gerakan ruku sangat membantu meredakan nyeri pinggang yang biasa dirasakan oleh ibu hamil terutama menjelang persalinan. Hal ini biasanya diakibatkan oleh posisi bayi yang mulai turun masuk ke panggul sehingga menyebabkan kekakuan otot pinggang dan ruas tulang belakang. Sehingga sholat menjadi jawaban yang sederhana untuk dapat membantu kelancarakan proses hamil dan bersalin. Juga menjadi jalan bagi kita untuk memohon pertolongan Yang Maha Pencipta agar memudahkan segalanya.
Kemudian disarankan ibu hamil untuk membuat form mutabaah harian yang bisa dilakukan oleh ibu hamil sehari-hari. Maksudnya adalah list aktivitas disertai kegiatan spitirualsupaya tetap mengingat Allah SWT, contohnya seperti di bawah ini:
(Dokumentasi Cek List Harian Kelas Bumil Cerdas, yang merupakan modifikasi dari Program Mutabaah Persalinan Maryam dan telah mendapatkan izin untuk diubah)
Kesimpulan,
“Jadi pada hakikatnya kehamilan dan persalinan adalah tugas mulia yang Allah SWT berikan kepada seorang ibu. Sehingga di dalamnya sebaiknya diisi dengan amalan-amalan sunnah dan keshalehan bukan hanya bagi sang ibu namun juga penolong persalinan. Segalanya dikembalikan sesuai apa yang Allah syariatkan. Mengambil dari kisah persalinan Maryam r.a , salah satu sunnah yang dapat diambil adalah konsumsi kurma selama hamil dan di dalam proses persalinan, minimal 7 butir/ hari. Selain itu Maryam r.a juga dikisahkan menjauhkan diri dari kaumnya menjelang proses persalinan yang dapat diartikan bahwa ibu sebaiknya mencari lingkungan yang mendukung secara psikis untuk kelancaran persalinannya. Untuk zaman sekarang, mencari ilmu sebagai bekal, olahraga, dan berkumpul dengan orang-orang shaleh dapat menjadi syariat untuk membantu kepercayaan diri calon ibu.” - kesimpulan dikutip dari IG @harkel_bandung
Bandung, 10 Januari 2018
Notulensi Workshop oleh @yulialatifah