Helianthus Annus L atau yang dikenal dengan nama Bunga Matahari.
Bunga ini dikenal tumbuh ke arah matahari. Perilaku ini dikenal juga dengan istilah "Heliotropik". Sebaliknya, pada malam hari, bunga ini akan tertunduk ke bawah.
Bunga ini merupakan tanaman introduksi yang berasal dari daerah Amerika. Bunga Matahari mampu hidup di daerah subtropis maupun tropis bahkan pada ketinggian hingga 1.500 mdpl (di atas permukaan laut).
Tanaman ini akan maksimal pertumbuhannya pada pH 6.5 – 7.5, suhu pertumbuhan yang optimal berkisar antara 22°C – 30°C, dan cahaya matahari penuh.
Penyerbukan bunga ini memanfaatkan polinator lebah madu untuk terjadinya proses pembuahan putik (bunga betina) oleh benangsari (bunga jantan) dan mengahasilkan biji/benih berkualitas.
Varietasnya sangat beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. Sebanyak 67 spesies tanaman Bunga Matahari telah diketahui, dan hanya 417 jenis spesies yang dikembangkan sebagai tanaman hias.
Minyak pada biji bunga matahari memiliki kualitas yang hampir setara dengan minyak zaitun karana kadar kolestrolnya yang rendah, sering juga digunakan sebagai minyak sayur untuk bumbu salad, juga sebagai bahan baku industeri kosmetik dan pelumas.
Instead of going linear, it’s looping. Yes, action could come from motivation that was triggered by inspiration. But, once it’s happening and finally you take action, remember that the action would spur another inspiration for your next motivation and action. Now, remember what do you want to happen in your loop: positive or negative reinforcing loop? It’s important to always remember your WHY (by doing constructive journaling) and take action with mindfulness, so you’ll get a positive reinforcing loop.
Okay, but what if you don’t feel inspired nor motivated?
Since it’s not linear sequence but endless loop, what you have to do is still take action no matter what happens. Do small action that doesn’t require you to have some sort of inspirational epiphany, like example: taking shower, or cleaning up the room. Those example are the very action you should be using as momentum to take further action.
#anothershortnotes: Journaling with Constructive Questions
Write the answers, in only takes roughly 5 minutes every morning before you start your morning rituals:
1. What do you want to accomplish today? Write main 2-3 items is enough.
2. Why do you want to accomplish that? Write the reason below each number 1 answers. You don’t have to write much, just one conscience sentence and you’re ready for next question.
3. How would you feel if you accomplish this? It’s under the same rules as number 2.
Lastly, how would you feel if you accomplish ALL those items written above? Accomplished? Filled with gratitude? How would this feeling effect your life?
#takingshortnotessuperquick: Digital Minimalism by Cal Newport
DIGITAL CLEANUP, check the apps in our phone and ask these questions:
#1 WHAT ARE THE BENEFITS OF USING THE APPLICATION?
#2 IS IT THE BEST WAY TO ACHIEVE THOSE BENEFITS?
Dopamine hits from social media such as Instagram can be redirected to, example: exercising or doing yoga.
OPTIMIZATION
Even if we think it’s beneficial, sometimes the assumption only exists in our head. It’s the “potential”, the “probability” we see, not as it is in our real life.
A Checklist: Rituals That Keep My Depression at Bay.
This is my intension, written today, as a quick reminder.
I choose to be the best version of myself, TODAY.
- The mantra, words from Adriene Mishler
I already did (and still do) the majority of these points I mentioned below, experience the wonderful and balancing effect, but sometimes I lack the consistency. Here, I wrote some rituals that has gave me the ripple effect, the more holistic way I’ve tried to befriend the likelihood of getting depressed by troubleshooting the physical foundation first and foremost.
Cold shower. It triggers the production and release of melatonin, helps to burn the excess fat, and increases immunity.
Up your magnesium intake by eating cruciferous greens, it gets you easier to be calmer and falling asleep faster. And don’t forget to mention a better quality of night sleep.
Put all the screens away, winding down, meditate, and release the anxiety through inhales and exhales.
Keep the body active. Stretch the body and do exercises to increase the adrenaline and endorphin level.
Sit down on the floor and be creative on how you sit, be it the squat, folded seated, lotus, etc.
No sugar. Low carbs. It enhances the effectivity of your digestive system, metabolism, keeps the brain fog and fatigue away.
Intermittent fasting. A 16-8 or 20-4 fast works well to let the body rest for awhile and kickstarts the autophagy. Don’t forget to eat a balance diet consists of greens-fats-protein. To break your fast, eat your protein or bone broth soup first, wait for 30-60 minutes, and then eat your full afternoon meal.
Take a real quick notes if you got ideas or red threads. I suggest you bring a small size notebook and pencil everywhere. Phone is okay but sometimes it could cause you to lose your kinesthetic magic while patiently tapping to avoid typos.
I’ll keep the list updated if I remembered/found new rituals to put here.
Other times, you will have compassion for yourself, realizing that given your circumstances, your burdens, your traumas, and your limitations, you are doing the best you can.
“Climate—a New Story” by Charles Eisenstein (2018)
To create objects with soul, objects for a rich and beautiful world, we must invest them with life, self, and humanity; in other words, we must invest them with something of ourselves.
Kemarin, di hari Kamis yang tenang, saya kehabisan stok jamu yang biasa saya konsumsi sebelum makan siang. Berhubung saya belum merasa lapar, saya sempatkan terlebih dahulu untuk membuat batch baru jamu segar. Bisa dipastikan seminggu ke depan rutinitas minum jamu aman!
“Ayurveda focuses on preventing disease and optimising vitality as much as on removing an illness. Thus it has a holistic approach to health that includes every aspect of life in a philosophy where mind, body and spirit are considered to be an integrated whole. Nothing in the world is considered to be separate from anything else. Everything is interconnected.”
- Pole, Ayurvedic Medicine
Secara sederhana, kurang-lebih Ayurveda percaya bahwa hal-hal yang dikonsumsi adalah obat: food is medicine. Jadi, dalam keseharian, di setiap keputusan yang diambil ketika menimbang-nimbang ingin mengkonsumsi apa, saya selalu ingat bahwa mereka akan berdampak untuk pikiran, tubuh, dan jiwa. Ingin konsumsi obat dan melakukan pencegahan, atau ingin menabung ketidaknyamanan dan penyakit?
Berlandaskan paradigma tersebut, saya termotivasi untuk lebih rajin mengkonsumsi rempah dan herbal setiap harinya secara rutin. Saya menjalankan intermittent fasting dan menemukan bahwa pencernaan saya bahagia jika diberi minuman jamu hangat sebelum makan.
Jamu yang saya konsumsi terdiri dari jahe, kunyit, bawang putih, nipis, dan cuka apel. Semua bahan tersebut saya blender sampai halus lalu saya simpan di dalam toples kecil berbahan kaca, lalu dimasukkan ke dalam kulkas. Serat yang sudah halus tidak saya buang karena bagi saya teksturnya tidak mengganggu ketika diminum. Setelah pasta jamu dilarutkan dengan air panas, saya suka menambahkan bubuk moringa (daun kelor), chia seeds, flax seeds, dan juga madu secukupnya pada larutan jamu.
Tidak banyak orang di sekitar saya yang menyukai rasa jamu tersebut. Katanya, rasa dan aroma bawang putih dalam jamu cukup kuat. Awalnya juga saya tidak terlalu menyenangi bawang putih jika dijadikan minuman. Namun, setelah mengetahui manfaatnya sebagai antifungal dan antioksidan, persoalan rasa maupun aroma bukanlah masalah.
Minuman jamu yang saya konsumsi secara garis besar juga memiliki kandungan vitamin C yang tinggi dari nipis dan moringa, lalu secara keseluruhan mampu mencegah dan meredakan inflamasi. Chia seeds dan flax seeds yang digunakan sebagai topping tambahan merupakan lemak sehat yang berdampak baik untuk kesehatan otak dan tubuh.
Masih ada beberapa jenis resep jamu yang ingin saya coba, misalkan dengan memanfaatkan lada hitam dan bunga telang. Mungkin ke depannya baru akan dicoba jika saya sudah bosan dengan pasta jamu yang ini.
“The essence of meditation practice is to let go of all your expectations about meditation.”
Yongey Mingyur Rinpoche
--
Saya melakukan meditasi di pagi hari ini selama kurang lebih 20 menit. Di tengah meditasi saya teringat oleh keberadaan kutipan di atas. Sempat menjadi sebuah refleksi ketika mata masih terpejam, apakah saya masih berekspektasi ketika bermeditasi?
Pola perilaku yang saya amati di dalam memori mental saya ternyata berujung pada kesimpulan bahwa sesekali saya melakukan meditasi untuk mencari ketenangan instan jika saya berada dalam kondisi yang sudah kepalang terpeleset dalam ketidaksadaran. Misalkan, ketika sedang mengejar deadline yang semakin dekat, atau juga dalam keadaan tubuh merespon panggilan emosi yang dijustifikasi kemelekatannya oleh pikiran.
Meditasi, dengan kilat dan nonsense saya harapkan bisa jadi obat yang manjur untuk meredakan kecemasan yang sedang menjadi-jadi. Dalam hal tersebut, ekspektasi saya terhadap meditasi tingginya sampai melewati langit-langit, dan wajar jika sepanjang meditasi dan hingga setelahnya saya masih saja tidak tenang. Bahkan tidak jarang saya malah menjadi kecewa karena tidak mendapatkan instant relief tersebut dan mood bertambah kacau.
Saya pikir, saat ini ketika saya tengah menuliskan ini semua, cara untuk memotong siklus perilaku seperti ini adalah dengan berhenti sejenak. Ubah dulu mindset bahwa meditasi mampu mengikuti serangkaian ekspektasi, seperti yang disebutkan pada kutipan Rinpoche. Diharapkan, ketika hendak bermeditasi dalam kondisi mental dan pikiran yang seperti apapun, saya secara sadar tidak menempatkan ekspektasi sama sekali. Lalu yang ke dua, jika sudah ada ekspektasi yang keburu melekat, sadari keberadaan kemelekatan itu. Terima kehadirannya, lalu lepaskan.
Setiap hal punya waktunya masing-masing, begitu pula dengan meditasi. Berkonsentrasi ketika meditasi sama dengan belajar fokus tanpa membiarkan diri dipenuhi bayangan tentang aktivitas lain yang dirasa lebih penting. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih penting atau tidak lebih penting, mereka adalah aktivitas yang jika dipenuhi esensinya akan membawa dampak untuk well-being. Menikmati setiap momen beraktivitas dengan be in the now, akan memampukan well-being mendapatkan pengalaman yang jauh lebih mendalam.
Meditasi, yang tanpa berekspektasi, membebaskan pikiran sejenak, memperluas ruang batin agar realita dapat menjadi welas asih bagi kebaikan diri.
Taking Notes: Jim Kwik x Dandapani, “How Do You Concentrate?”
"Technology itself is not ruining your life, your inability to exercise discipline around the use of your technology is ruining your life."
Dandapani, 2019
_ _
Di momen itu, pikiran ini lantas tersenyum sendiri lalu membuka aplikasi notes untuk mencatat quotes tersebut serta beberapa poin menarik lainnya.
Pagi ini, sebuah episode podcast yang dibawakan oleh Jim Kwik berkumandang dan memancing keinginan untuk membagikan isi materinya. “How to Concentrate with Dandapani” membahas tentang pentingnya memahami konsep “konsentrasi” sebelum mulai mempelajari hal baru maupun mengejar target hidup. Selain itu, Dandapani menjelaskan perbedaan antara konsentrasi dan awareness, serta kaitan di antara keduanya.
Apakah konsentrasi itu penting? Jika ya, mengapa?
Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan situasi ketika orang-orang harus fokus untuk mencapai suatu tujuan bersama maupun individu, mempelajari ilmu dan kemampuan baru. Sebagai contoh, fenomena semacam itu dapat dijumpai di sekolah dan sistem pendidikan yang hadir di dalamnya. Sistem pendidikan dalam sekolah yang praktiknya banyak berlangsung saat ini, mengajarkan siswa dan siswinya banyak hal: dari ilmu sosial hingga sains, lalu sastra dan budaya hingga kesenian—semuanya, kecuali cara untuk berkonsentrasi. Sekolah tidak secara terlebih dahulu mengawali proses belajar dengan mempelajari dan melatih fokus, sehingga tidak sedikit anak-anak yang merasa sulit berkonsentrasi.
Contoh yang lain adalah bayangkan jika seseorang harus memainkan piano tanpa sebelumnya pernah belajar cara bermain piano. Ketika orang tersebut bermain piano dengan kacau, ia malah dihardik untuk fokus dan coba terus. Situasi ini tentunya tidak masuk akal, namun inilah yang terjadi dengan “konsentrasi”. Orang-orang ingin dirinya mampu berkonsentrasi dan mencapai tujuan serta kesuksesan tanpa sebelumnya melatih fokus.
Jadi, apa itu konsentrasi?
Konsentrasi adalah kemampuan untuk menjaga awareness pada satu hal selama periode waktu tertentu.
Lalu, apa itu awareness? Apa kaitannya dengan pikiran dan konsentrasi?
Jika dibayangkan, awareness itu seperti sebuah bola yang menyala terang dan ia mampu berpindah-pindah. Sedangkan mind (pikiran) adalah sebuah tempat luas yang dengan banyak area di dalamnya, misalkan kemarahan, kebahagiaan, lapar, dan lain-lain.
Monkey mind, sebuah istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan kondisi diri yang kesulitan untuk fokus pada satu hal dalam jangka waktu yang panjang, seringkali mengindikasikan bahwa yang berpindah-pindah adalah pikiran dari individu tersebut.
Dandapani menegaskan bahwa awareness yang mampu berpindah-pindah, sedangkan pikiran sebenarnya dalam keadaan diam saja. Jadi, agar terbentuknya kemampuan berkonsentrasi, awareness harus dijaga berada di satu area dalam pikiran.
Awareness yang terus-menerus dilatih akan menghasilkan konsentrasi yang kuat. Individu yang mampu konsentrasi dalam kesehariannya akan menjadi diri yang lebih mindful terhadap lingkungan sekitarnya.
You can’t be mindful unless you concentrate. Mindfulness is the byproduct of concentration.
Apa dampak dari konsentrasi yang terus dilatih?
Diri yang mampu konsentrasi dan menjaga fokus, menjadikan dirinya sebagai individu yang lebih in the moment dan mampu mengingat situasi dengan lebih baik. Ia menjadi mampu untuk memimpin kehidupannya sendiri dengan being present, be in the moment, and be in the now.
Lalu, bagaimana cara menjaga fokus selama suatu jangka tertentu?
Jaga perhatian pada satu hal dalam satu jangka waktu. Jika awareness terbang menjauh, bawa ia kembali.
Bagaimana cara meningkatkan kualitas latihan konsentrasi?
Perhatian yang tidak dibagi-bagi and fokus pada satu hal di saat itu.
It’s like training muscle!
Manusia menjadi berhasil berdasarkan aspek yang ia latih. Bayangkan jika konsentrasi dilatih pada satu hal di satu waktu. Misalkan, satu hingga dua jam sehari dengan berolahraga, atau berkomunikasi dengan pasangan. Gunakan aktivitas atau individu tersebut sebagai kesempatan untuk melatih konsentrasi. Akumulasi dari latiihan dan kebiasaan akan meningkatkan kualitas konsentrasi.
Namun, kebalikannya juga benar. Orang-orang di jaman sekarang sangat lihai dalam mendistraksi dirinya sendiri karena kebiasaan itulah yang mereka latih setiap hari. Padahal, sebenarnya pikiran tidak mengetahui perilaku yang benar maupun yang salah. Hal yang dibiasakan dilakukan secara otomatis akan menjadi bagian dari diri.
Fondasi untuk perubahan: welas asih, empati, dan kesabaran.
Jika ada yang merasa kesulitan ketika harus berkonsentrasi, ia harus memiliki empati dan welas asih terhadap dirinya. Bayangkan jika ada seseorang yang menghabiskan 35 tahun hidupnya terdistraksi dan ia memutuskan untuk berhenti dan berubah. Hal ini akan terasa sulit dan kesabaran harus dimiliki selama berproses, dibarengi dengan welas asih yang terus dialirkan untuk diri sendiri.
Setiap welas asih, empati, dan kesabaran yang dicurahkan akan terasa nilai dan manfaatnya ketika diri tersebut mampu menikmati pengalaman kehidupan dengan senantiasa melatih konsentrasi untuk mencapainya.
Challenge time!
Tentukan aktivitas atau pekerjaan yang akan menjadi kesempatan untuk melatih konsentrasi. Refleksikan prosesnya dan amati mindful moment yang terjadi ketika berkonsentrasi.
Ingin tahu lebih lanjut tentang mereka? Click the names below!
“Time magnifies the margin between success and failure. It will multiply whatever you feed it. Good habits make time your ally. Bad habits make time your enemy.”
“Atomic Habits: Tiny Changes, Remarkable Results” by James Clear
Kejadian dan pengalaman yang dialami singgah sejenak lalu pergi. Kadang mereka mampu diingat walau tidak utuh, namun sayangnya lebih sering terlupakan pergi begitu saja.
Ada hal-hal yang kita ambil dan alami tanpa melantunkan syukur selama prosesnya. Tiba-tiba, ketika sudah sampai di sebuah tujuan (atau skenario terburuknya malah berbelok jauh) diri ini lupa sudah mengalami apa saja. Padahal, proses pembelajaran mahal betul harganya, terjadinya hanya sekali saat itu saja. Belum lagi, ketika pengalaman diendapkan melalui proses refleksi dan evaluasi, ia mampu menjadi kristal yang menakjubkan. Di momen seperti itulah, paradigma meluas dan transformasi mampu terjadi.
Harapannya, dengan rajin menyulam fragmen-fragmen yang masih melekat di momen ini—dikemas dalam bentuk apapun—rasa untuk bersyukur dapat terawat, dan kesadaran senantiasa mengalir untuk membimbing perjalanan menuju transformasi selanjutnya. Manusia secara biologis dirancang untuk melupakan, tetapi sayang sekali jika “lupa” perlahan tertukar dengan “abai”.