PERMEN KAPAS & LAYAR KAPAL.
Beberapa waktu yang lalu saya berulang tahun yang ke 28. Setiap momen ulang tahun, saya tidak pernah merayakannya dengan hingar - bingar. Hanya beberapa teman dekat dan keluarga yang memberi ucapan melalui telepon atau pesan singkat. Tidak masalah— tidak ada kue, lilin, balon, hadiah atau kejutan lainnya. Sejak kecil saya tidak pernah benar - benar menyukai hal itu. Apalagi setelah melewati usia 25 tahun. Ulang tahun sepertinya malah menjadi hari yang ingin saya lewatkan.
Mengapa usia 20an begitu cepat berlalu?? Ini tidak adil. Usia 20an adalah masa kebebasan, masa seorang manusia belajar terjatuh, berlari, berjalan, tertatih, belajar untuk bisa tersenyum tertawa dan menangis tanpa aba - aba. Masa dimana kita mempersiapkan diri ini menuju kematangan, secara fisik, emosi dan materi. Semua orang pernah terluka di usia ini. Pernah putus asa hingga ingin menyerah. Masa dimana semua hal menjadi sangat sulit, tetapi juga begitu mudah untuk dilalui. Masa dimana semua cita - cita yang kita impikan sejak kecil hancur lebur ditampar oleh realitas yang tak henti - hentinya mendera.
“Menjadi dewasa itu tidak mudah”
Mungkin itulah kalimat yang paling sering di ucapkan oleh para penumpang kehidupan 20an. Walaupun begitu sulit jalan yang di lalui. Tetapi kita tidak mau terlalu cepat mencapai ujungnya. Ujung usia 20an. Ada begitu banyak ketakutan apabila telah berada di ujung namun masih belum menemukan apa - apa. Bagaimana selanjutnya? Apakah cukup bekal yang kubawa saat ini? Apakah skill dan kemampuan ini bisa membuatku bertahan untuk bisa bertarung di level selanjutnya? Pertanyaan - pertanyaan seperti itu memenuhi kepala hingga terkadang tak ada ruang untuk teman yang dinamakan bahagia.
Selalu terbersit pikiran dan pertanyaan. Apakah hanya saya yang melalui ini? Kenapa tampak begitu mudah bagi orang lain? Kenapa orang - orang gemar ber-marathon? Sedangkan diri ini hanya bisa berjalan pelan berusaha menyeret kaki melewati jalanan yang tak pernah jelas alurnya.
“Oh, semesta. Begitu besarnya engkau, dan betapa kecilnya diri ini. Bolehkah aku mengeluh lelah?”
Ketika saya menulis ini, lewat didepan saya seorang lelaki tua yang sedang menggendong anak perempuan kecil di pundaknya. Mereka berjalan menuju penjual permen kapas yang berada di ujung jalan. Sang penjual permen kapas yang nampak masih muda itu dengan cekatan memutar karton yang telah di gulung panjang diatas mesin pembuat permen kapas. Tak lama terbentuklah gumpalan pink merekah yang terlihat lembut dan begitu manis. Semakin lama gumpalan itu semakin membesar hingga nampak seperti gumpalan awan yang di petik dari langit. Anak kecil itu tertawa girang dan bertepuk tangan melihat fenomena itu. Sang lelaki tua ikut tertawa dan dengan semangat mengakat kedua tangan mungil si perempuan kecil sambil menggoyangkannya. Sang ahli pembuat awan manis pun tersenyum bahagia. Begitu juga saya yang melihat semuanya dari kejauhan. Angin lembut menerpa wajah ini. Entah kenapa saya bisa mencium aroma manis gula - gula dari seberang sana. Ya, inilah aroma kehidupan. Anak kecil itu, penjual permen kapas, dan si lelaki tua.
Semua orang lahir sebagai manusia kecil, tumbuh menjadi muda, kemudian menua. Itulah kehidupan. Semua yang tua pernah muda, dan semua yang muda akan menjadi tua. Semua ini adalah fase linear. Tidak ada jalan berbalik. Tidak ada yang di tunggu dan tidak pernah tau apa yang menunggu didepan. Lantas kenapa kita harus berebut dan berlomba untuk sampai paling cepat? Hingga kaki ini kebingungan dan tak tau arah lagi. Bukankah semua tujuan kita sama? Yaitu Untuk hidup. Hidup dengan diri ini adalah hidup dengan cara kita sendiri. Tak perlu mencontek cara orang lain, tak perlu mewarnai diatas canvas mereka, tak perlu risau dengan perbedaan. Karna kita adalah nahkoda untuk kapal kita sendiri. Dan lautan adalah kehidupan. Semua orang tengah berlayar. Peganglah kompas dan pelajari arah angin. Bila tersesat cobalah lagi. Karna arah angin terkadang tak beraturan namun mereka selalu menuju ke daratan.
Pada akhirnya saya pun berjalan ke arah mereka dan membeli permen kapas. Sore ini saya akan di temani oleh dinginnya angin dan manisnya permen kapas. Dan cukuplah bahagia saya dihari ini. Bahagia sederhananya seorang manusia di usia 28 yang sedang belajar membaca arah angin. ☺️🍭🚢💨