Sejenak lalu sempat terpikir olehku akan seberapa lama kita mampu berperan dalam satu episode yang kita sebut sebagai kehidupan. Pernah sekali aku mencoba untuk menakar seberapa lama kita mampu hidup di dunia ini, dan hasilnya tidak lebih dari 1,5 jam saja pun jika kita benar-benar memiliki umur 65 tahun.
Jika saja esok adalah hari kematianku, maka artinya waktu kita bersama hanya sepersekian detik saja. Atau jika mungkin kematianku adalah dibeberapa tahun yang akan datang, artinya kematian yang sejati hanya berjarak sekian menit saja dari detik yang sedang kujalani bersamamu saat ini.
Istriku, kematian adalah satu hal yang pasti, bagiku, bagimu juga keluarga kecil kita. Setahun sudah kita bersama dan apakah kau tahu, sudah setahun belakangan ini pula aku teramat sering merenungi tentang kematian, yang sebenarnya hanya berjarak satu detakan jantung saja dari nafas kita.
Tak jarang, saat kembali terjaga dari tidurku. Aku menelusuri makna dari raut wajahmu. Tak jarang aku menemukan seberkas cahaya dari pelupuk matamu, dari celah jemarimu atau diantara helaian rambutmu.Cahaya-cahaya itu berpendar saat aku mengusapnya dan semakin berpendar saat aku mengecupmu, tepat dikeningmu.
Istriku, beberapa hari lalu mendapatimu sedang bermimpi, entah tentang apa, tetapi sesuatu tentang mimpi membuatku kembali berpikir tentang kematianku.
Anggap saja kehidupanku akan berakhir dalam 30 menit, dan di 30 menit terakhir dalam kehidupan ini ternyata aku sedang bermimpi lalu bertemu denganmu, maka tak mengapa bagiku. Sebab mimpi yang kita jalani saat ini sungguh indah, tapi bukan berarti kita harus terus bermimpi. Jadi, bangunkanku dari tidur ini agar bisa menggenggam tanganmu yang sejati.
Anggap saja kehidupanku akan berakhir dalam 30 menit ini, maka katakanlah semua mimpi-mimpi yang mungkin saja bisa kita nyatakan, meski waktu yang ada hanya 30 menit atau hanya sepersekian detik saja dari jatah waktu hidup kita masing-masing. Sebab dengan mimpi-mimpimulah aku mampu untuk terus belajar tentang makna sejati dari kehidupan ini.
Istriku, dengan segala kekurangan yang ada padamu, kau adalah sosok istri yang sempurna dimataku, terlebih lagi dihatiku.
Istriku, atas waktu yang telah kita jalani bersama aku meminta maaf untuk semua kesalahanku; yang mungkin saja tak cukup banyak waktu untuk memaafkanku, dan semoga disisa waktu yang ada kita mampu tersadar, terjaga dan melangkah; untuk kemudian saling menguatkan.
Istriku, kau sempurna. :)