Setelah menikah nanti, pikirkan dan antusiaslah setiap hari tentang: kebaikan apa yang hari ini akan kuberikan untuk pasanganku? Lebih tepatnya, sama-sama antusias dan saling memikirkan.
—Taufik Aulia
Today's Document

Game Changer & Make Some Noise

Kiana Khansmith

bliss lane

PR's Tumblrdome
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
taylor price
todays bird

tannertan36

pixel skylines
🩵 avery cochrane 🩵
No title available
Xuebing Du

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
I'd rather be in outer space 🛸

Jar Jar Binks Fan Club
YOU ARE THE REASON
Game of Thrones Daily
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Singapore

seen from Sweden

seen from Malaysia

seen from Russia
seen from Türkiye

seen from Germany
seen from Brazil

seen from Zambia

seen from Azerbaijan

seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Mexico

seen from Pakistan

seen from Colombia
seen from Australia
seen from Ireland
seen from India
seen from United States
@endahretnonw
Setelah menikah nanti, pikirkan dan antusiaslah setiap hari tentang: kebaikan apa yang hari ini akan kuberikan untuk pasanganku? Lebih tepatnya, sama-sama antusias dan saling memikirkan.
—Taufik Aulia
Memilih Pasangan Hidup
Setiap orang jelas memiliki valuenya masing-masing. Dan ketika kita bicara value, ini bisa bertentangan satu sama lain. Hanya saja, tulisan ini tidak ingin mempertentangkan itu. Penulis akan menggunakan sudut pandang orang pertama yang bersumber pada pengamatan, karena ini hal yang dirasa berlaku secara universal. Ada tiga hal yang mau kutulis, di luar soal bagaimana hubungan ia dengan Tuhannya. Aku mau nambahin beberapa aspek yang menurutku sangat krusial untuk dipertimbangkan secara mendalam.
Pertama, cara bicara dan apa yang dibicarakan. Karena dua hal tersebut mencerminkan isi kepalanya. Kalau kamu mendapati orang yang suka bergunjing, sindir menyindir, memfitnah, berkeluh kesah, berkata kasar, dan berbagai macam pembicaraan buruk. Pikirkan ulang untuk memilihnya sebagai pasangan hidup. Mungkin ia bisa jadi fit sama kamu, tapi apakah itu yang kamu harapkan saat kalian menjadi orang tua dan mendidik anak? Sampai sekarang, dalam berbagai kesempatan dan pengamatan. Kenapa anak-anak yang kutemui bisa sekasar itu, bisa senegatif itu, salah satunya dampak dari bagaimana bahasa dan cara bicara sehari-hari orang tuanya. Apalagi saat di level orang tua menganggap pembicaraan itu sebagai hal yang biasa, bukan hal buruk.
Bagiku, lebih penting mengajarkan anak bisa berbahasa yang baik alih-alih bisa banyak bahasa. Karena kalau ia bisa menggunakan bahasa yang baik, tahu tata bahasa, tahu kapan penggunaan dan cara menggunakannya dalam beragam situasi. Itu jauh lebih penting daripada ngajarin dia bisa bahasa macem-macem. Nanti kalau sudah besar, ia bisa belajar bahasa-bahasa yang lain. Kedua, hubungannya sama harta. Ini sebuah hal yang mungkin tidak bisa secara kasat mata dilihat, tapi bisa diamati jika sudah mengenal. Bagaimana cara pandangnya terhadap uang. Apakah segala sesuatu diukur dari uangnya. Apakah uang jadi tujuan hidupnya. Apakah pengambilan keputusannya sangat bergantung dengan ada tidaknya uang. Dan berbagai percakapan yang bisa kamu simpulkan sendiri, ini orang dikit-dikit nyingung duit. Mulai pertimbangkan lagi. Uang (harta) penting, tapi bukan segalanya. Tidak semua hal didunia ini diukur dengan uang. Nanti kita lupa untuk bisa belajar ikhlas, bisa belajar tulus. Mengira semua hal pasti ada maksud dan tujuannya. Melakukan sesuatu karena ada maunya. Karena nanti anak-anak pun akan belajar cara hidup dan cara berpikir kita sebagai orang tuanya. Dan saat itu, saat kita mulai berhitung. Semuanya akan jadi transaksional. Ketiga, bagaimana ia ngehargai dirinya sendiri dan ngenal dirinya sendiri. Orang-orang yang pandai menghargai dirinya sendiri akan mudah respect sama orang lain. Bisa membuat keputusan-keputusan penting untuk dirinya dengan lebih mudah. Nanti, saat kita jadi orang tua. Ada banyak sekali keputusan yang bakal diambil, aku nemu banyak sekali orang tua yang membuat keputusan yang bagiku aneh, bahkan cenderung tidak masuk akal untuk hal-hal yang amat sederhana. Penilaian ini memang subjetif, tapi jika mau dilihat secara objektif pun tetap aneh.
Kemampuan untuk membuat keputusan yang baik adalah bekal yang krusial saat jadi orang tua. Karena waktu anak-anak kita masih kecil, kitalah yang akan membuatkan keputusan untuk mereka. Menemukan orang yang mengenal dirinya dan menghargai dirinya sendiri jadi sesuatu yang menurutku perlu untuk diupayakan. Selain kita juga berusaha untuk jadi seperti itu. Seseorang yang tak bisa membuat keputusan justru akan merugikan dan merepotkan orang lain, entah anaknya sendiri, pasangannya, atau bahkan orang-orang di sekitarnya. Semoga membantu :) (c)kurniawangunadi
Wejangan
Waktu lagi sering-seringnya main quora, aku pernah nemu quorawan yang me-repost ini. (Source: instagram (at)raguellewi)
Catchy banget judulnya! Posisinya saat itu aku sama temenku juga lagi menempa diri dengan hard convo bertubi-tubi, jadi menurutku postingan ini nggak cuma berlaku buat pasangan doang, tapi keluarga dan pertemanan juga.
Nah hari ini aku mempraktekkan hard convo dengan seseorang dan rasanya tuh challenging. Ada banyak pertanyaan yang bahkan meskipun udah disusun sejak merencanakan pertemuan, tetep aja amburadul di hari-H karena saking hard-nya yang mau dibicarakan. Dari malam aku udah lumayan keringet dingin bahkan mules ngebayangin seberapa bisa aku menyampaikan itu tanpa bikin salah paham dan seberapa siap aku terhadap respon beliau.
Selama dialog berlangsung, aku juga sering bilang, "aduh aku nggak tega ngomongnya," karena aku tau yang bakal diomongin sangat berpotensi melukai ego beliau, huhu gomen (〒﹏〒). Kita juga banyak canggung di awal karena pikiran satu sama lain udah penuh duluan sama asumsi yang nggak dikomunikasikan. Sampai bingung ngawalin dari mana jadi aku ngarang dulu, tapi emang gak jago ngarang jadi ya udahlah jelek.
But terima kasih sangat banyak untuk kamu yang ternyata bisa menangani percakapan yang hard tadi dengan tetap tenang dan clear. Aku nggak nyangka bisa semelegakan ini akhirnya. Semoga kamu juga ikutan lega, karena kan tujuannya dari awal emang mau bikin kamu lega atas pertanyaan-pertanyaan kamu. Kalau belum lega juga feel free to ask karena kayanya masih banyak aja yang mau diomongin meski nggak tau apa.
Terus ya.. aku bilang juga ke dia bahwa yang aku sampaikan tadi sebenarnya sudah terkonversi menjadi versi yang sangatlah ringan, kind honesty lah ya istilahnya. Jauh beda dengan apa yang aku prepare di notes sebelum ngobrol; benar-benar menusuk, brutal honesty.
Tapi ya.. mungkin kami belum sedekat itu juga untuk bisa brutal honesty. Masih terlalu rentan soalnya wkwk. Belum seperti aku kepada "teman-teman melukai egoku" yang lain (si ENFP, ISTJ, INTJ, ENTP, INTP) yang sudah dapat dipastikan nggak akan saling jauh hanya karena satu-dua kejujuran yang brutal, juga nggak akan drama maupun overthinking berasumsi setelah hard convo.
Kalau dari segi ketepatan, kayanya tadi pesanku (yang dengan kind honesty) juga nggak 100% tersampaikan. Tapi gak masalah karena aku juga berusaha memahami posisi lawan bicara, yang mungkin akan kelimpungan juga kalau dibanjiri brutal honesty di satu waktu bertubi-tubi.
It's very fine. Problem solving hari ini mungkin belum sepenuhnya clear tapi sudah sebagian melepaskan beban hati dan pikiran. Kalau kata STAYC di lagu Teddy Bear mah, "No need to rush, no hurries. Anyway, we're all living life for the first time. There isn't one right answer, one hunnit. Stop expecting one, you'll get disappointed."
Ya, berhentilah berekspektasi. Ini hidup pertama untuk kita semua. Masalah yang tadi juga mungkin masalah pertama untuk kita. Eh enggak sih. Kalau masalah yang kaya tadi, aku dulu udah pernah cuma problem solvingnya berantakan. Tapi pasti ada sudut pandang baru yang aku peroleh dari masalah yang sama di waktu yang berbeda dengan manusia yang berbeda.
Akhir kata, untuk orang-orang yang bersamaku hari ini, aku ingin memandang setiap dari mereka adalah manusia. Yang berhati, berjiwa, dan bermasa depan. Seperti kata Kak Iwan Santosa, "ketika aku ingin marah pada orang lain, aku ingat kalau dia cuma manusia yang sedang belajar tentang kehidupan. Dan kebetulan aku adalah bagian dari pelajaran itu. Kalau gak parah banget, ya udah lah."
— Giza dan kehidupannya menjadi manusia bersama manusia lainnya. Besok-besok mau nulis tentang filosofi landak kalau mood.
Setahun!
Postingan ini ditulis saat malam hari, dimana kakang sudah tertidur pulas karena lelah seharian bekerja, lalu aku duduk di kursi sambil mengetik di atas meja milik kontrakan :)
Selamat setahun, wahai aku dan kakang, wahai pernikahan kita. Jika dihitung hijriah, sudah lewat dari setahun lah kita :D
Katamu, waktu ini cepat berlalu. Bagiku, tak ku sangka banyaaak sekali yang berubah dari hidupku setahun ini.
Aku mencoba mengingat bagaimana hari pertama aku benar-benar menatap wajahmu, wajah seseorang yang telah sah menjadi suamiku. Yang kini menjadi teman hidupku, yang haknya lebih utama melebihi orangtua yang melahirkanku atau saudara yang memiliki ikatan darah denganku.
Aku tak menyangka, bahwa perubahan peran itu nyata adanya. Lamat-lamat ku perhatikan perangaimu, semakin dalam aku sadari begitu berat amanah disana. Dan aku disini mencoba belajar juga beradaptasi tentang kewajiban baru.
Suatu waktu, kau ajak aku bersilaturahmi ke rumah saudaramu yang suaminya baru beberapa tahun berpulang. Masih ku ingat betul nada penyesalan dari suaranya, penuh sesal karena merasa tidak maksimal dalam menemani dan melayani, juga agak terlambat menyadari bahwa kebaikan suaminya amatlah banyak dan belum sempat ia balas dengan bakti yang utuh.
Aku pun pernah mendengar perkataan serupa dari orang lain, sebelum menikah. Akan tetapi, mendengar ini setelah aku membersamaimu, rasanya sangat membuat aku merenung dan berulang kali memikirkan betapa tingginya derajat bakti seorang istri kepada suaminya, hingga sampai Allah sisipkan rasa "butuh" untuk senantiasa melayani. Fitrah, rasa butuh ini fitrah.
Sekecil apa pun bakti dari seorang istri untuk suaminya, sejatinya bukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan suaminya, melainkan bentuk pemenuhan jiwa bagi sang istri. Semakin ia berlembut perangai, semakin halus pula jiwanya, lagi-lagi ini adalah fitrah.
Hingga pada bulan ke sembilan, terlepas dari semua kejadian yang mendatangiku, apabila menghalangi prioritasku untuk membersamaimu, maka tak berhak banyak berkutiklah aku. Hingga keputusan besar kedua patut ku ambil sesegera. Semoga dengannya engkau ridha.
"Masa orientasi suami istri selama enam bulan", katamu. Aku, dengan segala melankolia khas perempuan. Sementara engkau, laki-laki plegmatis yang menyenangkan. Bukan hal yang sulit rupanya untukmu mengerti sisi melankolisku, namun, agak sulit bagiku menyeimbangkan hingga seringkali aku melontarkan prasangka. Akan tetapi, untuk hal yang satu ini untunglah kita sudah mulai menemukan rute yang tepat untuk mencari jalan keluarnya.
Benar kata orang kebanyakan, bahwa pernikahan tidak akan mengubah watak asli dari seseorang. Akan tetapi, memulai proses untuk menuju pernikahan dengan ilmu dan habits yang benar setidaknya menjadikan seseorang lebih terbuka terhadap masukan, memiliki keinginan untuk belajar dan memperbaiki diri, serta yang paling penting: pandai mengutarakan maksud dengan cara yang tepat.
Tanpa ilmu, selesailah hidup. Karena ia akan terkekang dengan penjara bernama pola fikir tertutup.
Banyak yang terjadi dalam satu tahun ini. Aku menjejaki banyak kali pertama dalam hidup. Terima kasih untuk setahun yang penuh kesan ini, kakang! Petualangan akan semakin seru dan mengesankan di depan, ayo kita gandengan :))
Tadinya kukira komunikasi adalah kunci bagi setiap hubungan.
Tapi ternyata enggak. Kalau masih inget, dulu aku pernah nulis tentang hard convo, nah sekarang mau review hal-hal yang penting selain komunikasi.
Aku suka menganalogikan komunikasi sebagai jembatan yang berfungsi sebagai penghubung antara dua daratan. Kira-kira ada beberapa kunci agar keterhubungan tersebut dapat bekerja dengan baik:
Kedua daratan sama tingginya. Jika tidak sama, jembatannya harus effort lebih dalam pembangunannya (sekufu).
Kesediaan mengambil bagian untuk membangun jembatan dari ujung masing-masing agar bertemu di tengah (willingness).
Tidak membebani tugas "membangun jembatan" dari satu daratan saja (self awareness, respect, empathy)
Paham bahwa membangun jembatan adalah tugas bersama. Tidak merasa si paling lelah/paling berjasa. (pemahaman hak dan kewajiban).
Keselarasan tujuan, hal yang diperlukan, hal yang tidak relevan dengan tujuan tersebut (alignment, sense of urgency and severity).
Akhirnya aku rangkum sebagai alur seperti ini:
Trust → Respect → Willingness → Listening → Understanding → Empathy → Communication → Sense of Urgency and Severity → Alignment of Vision → Implementation and Feedback (Compassion)
*masih mentahan, kayanya akan direvisi seiring waktu, urutannya juga mungkin ada yang kurang tepat, step-nya mungkin ada yang perlu ditambah
Trust akan mudah diperoleh jika "kedua daratan punya tinggi yang sama" dalam arti sekufu (compatible).
Banyak tafsiran tentang kesekufuan tapi aku senang mengartikannya sebagai "sekufu resource-nya dan kemampuan memberdayakannya, serta sekufu framework".
Bahasan tentang framework akan panjang, tapi framework mengandung 3 hal: library, tools, rules. Ketiganya barulah diperoleh dari banyak hal: default sebagai manusia, parenting, pendidikan formal, kondisi finansial, pengalaman hidup, perjalanan spiritual, pertemanan, lingkungan, tontonan/bacaan, dsb.
Kenapa sekufu framework? Karena akan mempengaruhi bagaimana algoritma kehidupan seseorang berjalan. Kemana dia akan merujuk? Apa kerangka referensi/acuan yang akan dia gunakan berulang dalam setiap problem solving dan decision making?
Respect berawal dari pemahaman tentang identitas, nilai, dan posisi diri serta orang lain (self awareness). Dari respect akan melahirkan kesediaan (willingness) untuk memahami perannya dan melakukan job desk-nya. Dia nggak akan menuntut orang lain karena sadar hak dan kewajibannya.
Empati pernah kubahas di sini. Intinya, "feel deeply, think accurately, act wisely." Dari empati, kita akan bisa membaca peta realita tentang "apa yang penting dan apa yang fatal bagi orang lain?" dengan kata lain sense of urgency and severity. Outcome-nya, kita nggak akan menyepelekan hal yang penting, dan kita nggak akan terus menerus melakukan hal fatal.
Komunikasi bukan sekedar menyampaikan melainkan bagaimana pesan dapat tersampaikan dengan baik. Kemudian implementasi merupakan bentuk menghargai semua proses membangun jembatan itu. Perlu compassion untuk melakukan implementasi terhadap "pesan" yang dikomunikasikan.
Tapi kadang, ada orang yang memelihara kemalasan emosional maupun intelektual untuk sekedar memahami apa perannya, apa posisi dirinya dan orang lain, mana yang penting, mana yang fatal, dsb. Makanya kadang-kadang hubungan nggak berjalan mulus. Bahkan sejak tahap willingness, listening, dan understanding aja orang masih banyak yang remed.
Orang juga sering "mengkambinghitamkan" ego karena kurangnya kosakata tentang hubungan antar manusia. Nope, bagi orang yang sudah tuntas hal-hal tadi, ego juga tetap diperlukan untuk menghormati diri mereka sendiri.
Tapi ada orang yang belum numbuhin willingness, belum coba understanding, belum listening comprehensive, eh malah nuntut egonya dikasih makan. Kan ngelunjak ya?
Default manusia adalah makhluk pembelajar. Jadi aneh kalo ada manusia yang enggan menumbuhkan kesediaan untuk "iqra" terhadap diri dan orang lain. Mending jadi congcorang aja. Intinya, komunikasi itu penting, tapi banyak hal penting lainnya yang perlu dipenuhi agar komunikasi berjalan dengan baik.
— Giza, nabung ilmu untuk kehidupan hari ini bersama orang-orang tersayang
Aku mulai ngerti, kenapa Rasulullah nggak over-reacting saat orang-orang yang menyebabkan traumanya terus menerus melakukan hal-hal yang men-trigger "alarm" emosi itu. Jawabannya, kata Ust. Nouman Ali Khan, adalah tahajjud.
Ada banyak emosi yang terus menerus diarahkan kepada Rasulullah. Makian, kemarahan, perendahan harga diri, pembunuhan orang tersayang, tuduhan tidak benar, pemboikotan satu kaum, penganiayaan verbal dan fisik, serta perilaku biadab lainnya, nggak mungkin hal-hal kaya gitu nggak meninggalkan bekas trauma.
Aku, kalau jadi Rasulullah, kayanya nggak tahan untuk tetap diam. Kita sama-sama tahu, Rasulullah juga manusia, punya hati dan emosi untuk merasakan. Tapi kenapa, hal-hal traumatis itu nggak jadi penyakit hati? Nggak jadi bikin pengen balas dendam?
Rasulullah rutin me-release semua rasa sedih, rasa nggak terima, rasa pengen membalas, dan kemarahan itu dengan tahajjud. Beliau juga rutin membersihkan dirinya dari penyakit hati dengan istighfar. Beliau mampu menahan diri dari ledakan emosionalnya. "Alarmnya" nggak sesenggol bacok itu sebab ditahan oleh pemahaman yang baik tentang Allah dan manusia, dan hatinya tidak sempit karena ucapan-ucapan manusia.
"Tahajjud itu ibadahnya da'i dan orang-orang shalih."
Kenapa? Shalih artinya lurus, konsisten. Benar pikirannya, benar ucapannya, benar tindakannya. Ketiganya selaras dan sinkron, dan da'i memang seharusnya begitu. Mereka tidak akan mengucapkan apa yang tidak mereka perbuat.
Dan itu dimulai dengan tahajjud, yakni ibadah yang dilakukan di saat sendiri. Saat kita memang hanya ingin dilihat oleh Allah saja. Kalau udah jujur kepada Allah, artinya akan punya integritas untuk kemudian jujur dalam tindakan-tindakan yang akan dilihat manusia, sehingga meskipun tindakannya dilihat manusia, mereka tidak melakukannya untuk mengesankan manusia.
Maka diam itu benar-benar emas ketika hati ingin menjelaskan berlebihan hanya untuk membersihkan nama baik kita. Ketika kita mungkin ingin mengeluarkan muntahan emosional yang justru kadang malah merugikan martabat kita. Hanya orang-orang yang bertahajjud yang mampu tetap menahan diri dan memelihara kehormatannya saat satu dunia menyalahpahami dan mendzoliminya.
Diamlah, biarkan kekuasaan Allah yang bicara untuk meluruskan pemikiran dan ucapan orang lain yang bengkok. Diamlah, yang terpenting adalah kedudukanmu di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Diamlah, manusia tidak menginginkan penjelasan darimu, tetapi Allah senantiasa menginginkan perbaikan darimu. Manusia mencemarkan nama baikmu sedangkan Allah selalu menjaga aib-aibmu.
— Giza, kali ini tolong lanjutkan perjalanan sambil hanya ingin dilihat Allah
Secuil tips untuk para calon pengantin yang mau mengadakan acara pernikahan sebentar lagi;
Shalat Istikharah Ada sebuah nasihat dari guruku tentang penjagaan maksimal sebelum pernikahan, tidaklah berharap apa-apa dari ikatan yang belum terucap sah. Jalani saja langkah-langkah tertatihmu untuk mencapainya, dengan terus melibatkan Allah sebagai penentunya. Jangan terlalu memaksakan ingin bersamanya, namun juga tidak serta merta acuh dan membiarkan salah seorang berjuang sendirian. Pertengahan. Dalam istikharahmu itu kelak ada banyak jalan yang terbuka bertebaran, apakah calonmu itu benar sesuai kriteriamu atau pun tidak. Kelak, ragumu bisa terungkap dan keyakinanmu pun bisa saja meluap. Bagian terburuknya, kamu tidak jadi menikah dengannya. Bagian terbaiknya, kamu jadi tidak masalah dengan hasil apapun, tak peduli apa kata orang dan tetap menjadi pribadi yang biasa saja. Status jadi menikah bukanlah hasil yang digadang-gadang menjadi prioritas.
Orangtua, lebih didahulukan “Bakti terakhir”. Sebagai anak perempuan yang kelak pengabdiannya akan berganti arah kepada suami, maka pada nomor ini, aku titik beratkan bagimu. Bila saat ini orangtuamu mengambil banyak peran untuk mengatur, turutilah saja inginnya, terima beres dan duduk manis. Jika inginmu lebih kuat dan bertabrakan dengan ingin orangtuamu, carilah jalan tengah dengan mendahulukan inginnya mereka sebagai pilihan, selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dalam mengatur pesta walimah.
Merapihkan hal yang harus dikerjakan dan berbagi tugas Salah satu hal yang paling banyak diresahkan oleh para bride to be adalah merasa melakukan apa-apa sendirian. Padahal boleh jadi ternyata pasanganmu yang tidak kau komunikasikan. Sementara, pengetahuan akan mengurus ina itu terletak pada dirimu. Jadilah inisiatif tanpa harus meminta balas budi, susun hal-hal yang perlu dikerjakan. Lalu, bagi-bagilah tugas.
Sederhanakan keinginan, utamakan syariat Bila kondisimu keterbalikan dari poin penjelasan nomor 2, dimana dirimu lah yang menjadi pacuan dan penentu segalanya, mulailah melangkah dari hal yang paling krusial. Jika nafsu untuk ujubmu muncul, redam ia dengan sederhana yang mengandung ketenangan. Jika hasrat ingin menunjukkan sesuatumu itu terlintas dalam fikiran, jagalah dengan mengalihkannya kepada niat yang baik dan sesuai syariat saja. Saat itu, aku sedang bingung sekali memilih pakaian dan aksesoris pernikahan, namun setelah mengulik lebih dalam, rasanya ingin ku pakai yang esensial saja, tanpa harus mengabaikan inginnya orangtuaku. Karena semuanya hanya ingin kau lakukan agar berbuah ketenangan, bukan?.
Bersabar Lebih dari pada itu, atas semua list yang ku jadikan tips di atas, bersabarlah atas proses ini. Aku tahu, sangat lelah mengakomodasi pendapat banyak orang dan keinginan akan banyak hal yang juga berganti-ganti. Murnikanlah jiwamu, jagalah informasi yang masuk melalui telinga dan mata mu. Bersabarlah, sebentar lagi ketenangan itu akan kau dapatkan. Sebuah ketenangan yang tiada satu pun bisa menjelaskan bagaimana hadirnya bisa meluruhkan langkah gontai yang melelahkan.
Apa hal yang ingin sekali kamu jalani, tapi kamu juga takut menjalaninya?
Kurniawan Gunadi - Tumbuh Dewasa dengan Segenap Tanya
berkali-kali yakin, berkali-kali juga ragu
adalah resign, karena mau memutuskan self employee kembali, alias berkarya tapi mau darimana aja.
selain daripada itu, karena saat ini punya klien utama yaitu suami, aku mau jadi istri penuh waktu, yang bisa fully incharge dalam keadaan waktu yang sama dengan hari liburnya suami. karena pekerjaanku menuntut aku bekerja saat pada umumnya orang-orang libur. jadi, dua alasan ini adalah hal yang bikin aku berkali-kali yakin.
ragu, karena aku ekstrovert banget, takut kalo aktivitas di rumah aja jadi gak ada temen ngobrol dan diskusi pas jam kerja. walaupun aku udah punya banyak plan untuk tetep bisa berkomunal, ketakutan dalam bentuk ragu itu dateng terus.
sekarang, ketakutan ini sedang aku coba atasi dengan sosial media detoks dan fokus baca satu buku. belum begitu keliatan hasilnya, karena takutnya masih ilang muncul. semoga beberapa pekan ke depan aku sudah bisa beradaptasi dan berdamai :)
Cinta yang Lebih Matang
Setelah menjelang 8 tahun usia pernikahan, menjalani naik turunnya. Jadi merasa lebih bisa memahami kenapa pernikahan itu bisa mematangkan rasa cinta, dan kematangan itu menjadi rasa-rasa yang lainnya seperti kepercayaan, ketergantungan, rasa aman, dan berbagai bentuk rasa yang lain.
Mungkin bagi teman-teman yang masih sendiri, kemudian pikiran sudah berpikir sangat jauh : Apakah ini? Apakah itu? Bagaimana jika? dan berbagai pertanyaan yang menciptakan rasa takut yang mendominasi. Tidak mudah bagi teman-teman untuk seketika menerima konsep bahwa pernikahan itu bisa menentramkan jiwa. Bahkan kalimat sebelum ini pun mungkin sudah memiliki sanggahan di kepala : Ya itu kalau ketemu pasangan yang tepat! Kalau nggak, gimana? Nah, apakah jadi takut? Bahkan untuk kita bisa mengimani bahwa pernikahan itu akan membuka pintu rezeki pun, sulit. Karena dari masa sendiri, kita sudah kepikiran dengan harga rumah, biaya pendidikan, dan sebagainya. Serta semua hal itu dijadikan standar umum keberhasilan pernikahan. Tapi, apakah pernah belajar sebenarnya pernikahan yang berhasil itu yang seperti apa? Kalau membaca bagaimana overthinkingnya orang lain terkait pernikahan, sulit untuk memberikan nasihat yang bisa diterima serta-merta. Rasanya sulit sekali menjelaskan bahwa beberapa aspek dalam hidup ini tidak berjalan dengan logika dan cara manusia. Semua itu sepertinya akan tetap menjadi perjalanan spiritual individu hingga seseorang itu benar siap untuk masuk ke fase pernikahan. Fase yang mungkin bagi sebagian besar umat manusia, jika rata-rata usia nya 75 tahun,1/2 atau 2/3 nya akan ada di dalam pernikahan. Usia pun tidak menjadi patokan kematangan dalam kesiapan diri. (c)kurniawangunadi
Dari Ketakutan, ke Ketakutan yang Lain
Aku ngerasa bahwa hidup itu adalah menjalani satu ketakutan ke ketakutan yang lain. Iya, paham, ini adalah pendangan yang sangat negatif. Tapi kalau kita liat lagi ke belakang, ketika kita kecil, kita takut ngga naik kelas. Takut ngga lulus SD, SMP atau jenjang pendidikan yang lain. Dulu kita takut ngga punya teman. Ketika kita masuk usia dua puluhan, kita takut belum berjodoh dengan seseorang padahal usia terus bertambah tak bisa dijeda. Ada yang relate?
Hidup itu lari dari satu ketakutan ke ketakutan yang lain. Bahkan ketika seseorang telah menikah, ada juga bayang bayang takut tidak mempunyai keturunan. Ketika mempunyai anak, kita takut anak itu terlahir “tidak sempurna”. Belum lagi tentang biaya membangun rumah yang sudah melampung tinggi, yang nggak dibarengi dengan kenaikan gajji yang sepadan. Gimana caranya orang punya rumah senilai 400jt kalau gaji bulanannya 4jt. Gaji itupun belum dipotong biaya bensin dan makan sehari-hari.
Jika hidup adalah lari dari ketakutan ke ketakutan yang lain, bagaimana kita bisa menjalani hidup ini dengan tenang? Padahal Allah sendiri mengatakan bahwa hidup itu adalah keajaiban. Ketika kita bisa bangun lagi di pagi hari, it means that Allah gives you chance to revert back, than enjoy what you want, anything.
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” - (QS Al Jumuah 9-10)
Yang guru ya berati mengajar dengan baik. Yang pebisnis ya berati semangat buat ketemu client. Yang dokter ya berati mendedikasikan dirinya buat kesehatan pasien.
Menyebarkan manfaat. Membangun legacy. Karena pada akhirnya kita akan meninggal.
Dan harapannya, ketika kita bertemu dengan Allah nanti, kita bisa mengatakan “Ya Rabb, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menaatimu dan menebarkan manfaat ke manusia, sebisa yang aku bisa. Dan aku bersyukur dengan kehidupan dunia yang dulu pernah Engkau berikan. Dan hari ini, aku memohon doa dan rahmat kepadaMu agar aku bisa berkumpul lagi dengan keluargaku lagi di surga yang Engkau janjikan bagi orang-orang yang beriman.”
riuh, ramai, dan berantakan.
isi kepala kali ini mendikte hidupnya. mengobrak-abrik rencana besar seperti menjadi tidak berdaya.
pilihan itu seolah menjadi tidak ada, gamang. seseorang yang sedang ia prioritaskan, justru ternyata tidak terlalu butuh akan ide kepalanya. nuansanya memecahbelah asumsi seperti menjadi tidak berguna.
mari akhiri :)
Mengupayakan sesuatu yang memang tepat untuk diupayakan saja:)
02'06'24
dan fokuskan tenaga untuk yang jelas-jelas ada pahalanya saja :)
Refleksi Tujuh Bulan
Jika dihitung sebagai usia janin, sedang mencoba mematangkan dirilah ia. Semua organnya hampir sempurna tumbuh.
Jika dihitung sebagai usia manusia, sedang berusaha menuju berjalan lah ia. Pandangannya telah jelas paripurna, sudah tidak hitam putih dan berbayang, meski tetap masih pada dunia kecilnya.
Dan sampailah kami pada tahapan ini. Sebuah usia pernikahan dimana pandanganku sering melakukan reka ulang adegan kali pertama yang terjadi dalam pernikahan kami.
Kali pertama aku berbicara berdua dengannya, kali pertama aku diajak ke rumahnya, kali pertama kami berkencan, kali pertama dibonceng, kali pertama ia mengirim pesan sebagai suami, kali pertama kami rapat program rumah tangga, kali pertama ia dan aku berkisah hikmah, kali pertama kami antusias berdiskusi tentang buku, kali pertama olahraga bersama dan kali pertama-kali pertama pada banyak hal yang baru beberapa kali kami lewati.
Sebagaimana usia janin dan manusia, ternyata bagi kami usia ini masih memerlukan waktu untuk fokus pada perkenalan satu sama lain dan terus kian adaptasi juga bertoleransi. Meski demikian, batasan dan kondisi ideal tetaplah jadi patokan. Tentu tidak sempurna, namun setiap langkahnya teriring doa dan harapan, yang semoga pada bulan dan tahun-tahun berikutnya… segera tumbuh subur yang kebermanfaatannya dirasakan manusia sekitar..
4 hari menuju 7 bulan
🪴
Refleksi 4 Bulan
Di bulan ketiga menuju empat perasaanku mulai masuk dalam tanda bahaya! Bahaya karena kerakusanku menginginkan ia untuk senantiasa berada di sekitarku
Amigdala dalam isi kepalaku mulai meminta lebih, ia menginginkan gerak geriknya sesuai dengan standar hidupku, padahal sedari awal sudah aku tekankan dengan satuan bernama 'referensi', bahwa responnya tak perlu masuk dalam kendali ekspektasiku
Romansa hanya milik isi kepala, yang tak perlu diekspektasikan pada ruang geraknya oranglain. Kamulah penginginnya, gerak dan lakukan!
Refleksi kali ini bertema: ayo balik lagi ingat-ingat isi tujuan menikah, “ingin dekatnya cukup ke Allah aja yang udah jelas gak akan pergi jauh.”
yang tak semestinya ada
ketidakpeduliannya pada hal kecil tak berarti mengecilkan inginmu, tak semestinya khawatirmu ada
kurang perhatiannya pada hal detail tak berarti ia abai selama yang prinsip masih ia genggam, tak semestinya risaumu ada
keinginan selalu dekat yang amat amat bukanlah sesuatu yang hangat, beri ia ruang gerak, tak semestinya kebergantunganmu ada
tetaplah beri jeda, beri jarak, sebagaimana sebelumnya dua makhluk yang kelak akan bertanggungjawab pada hidup masing-masing
berhentilah menginginkan menjadi pemeran utama pada kehidupannya, tak baik diteruskan, buih keinginan itu hanyalah pengganggu yang tak semestinya ada
hidupilah cinta dengan caramu, taburilah penyedap harmoni ketenangan sebagaimana yang ingin kau tuju, namun... tak perlu berharap balas dengan cara yang serupa, kembalilah pada misi pribadi dan teruslah pelajari bagaimana seluk beluk menghadapi lika liku perjalananya, bersabarlah membersamai langkahnya, karena dengan menikah artinya kau siap untuk berkata kerja
yaa Allah, bantu aku agar mudah menjalani peranku sebagai istri yang dapat menentramkan jiwa, menyejukan hati dan penyenang bagi matanya, mudahkanlah aku untuk berprasangka baik pada takdir Mu
on counting 4 months marriage, still learning, trying to understanding, couldnt wait for more and more journey, biidznillah, i love you 🍅 dear my kakang «3
Tidak ada seorang pun yang bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan, jadi jangan repot-repot mengungkapkannya pada orang lain. Sembunyikan dan adukan pada Tuhan, sebab masalah yang diumbar itu ujungnya membesar.
Jangan pernah bosan untuk memperbaiki hatimu, sebanyak apapun kesalahan yang kamu perbuat.