Selain Ketidaktahuan Manusia Juga Takut Akan Ketidakpastian
Kalau esok kita sudah pasti tahu mau makan apa, pulang kerja jam berapa, saldo rekening cukup tidak sampai akhir bulan, dan kepastian lainya, mungkin kita akan santai dan tenang dalam menjalani kehidupan esok hari.
Lantas kalau sebagai seorang beriman, mengapa kita masih takut akan perkara-perkara jangka panjang yang pasti yang sudah dijanjikan oleh Allah --jodoh, rezeki setelah menikah, karier pekerjaan, dan segala pertanyaan tentang materi di dunia ini.
Padahal Allah telah memberikan kepastian bagi kita, dengan catatan kita mau berikhtiar dan menyandarkan hasil kepadanya.
"Dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan" (An-Najm : 48)
Sebetulnya kita sudah sama-sama paham tentang konsep seperti ini sejak kecil (mungkin). Tapi entah mengapa rasanya tetap muncul rasa khawatir dalam beberapa momen mengenai kepastian yang sudah Allah berikan.
Setelah dewasa, saya menyadari kepastian --rezeki Allah yang tak pernah tahu kapan datangnya-- salah duanya hadir dari pengalaman ketika menghadapi musibah dan mempelajari kepastian-kepastian lain dari Allah --lewat firmaNya.
Menghadapi musibah memaksa untuk mengingat Allah lalu banyak beryukur dan lebih tahu tentang kepastian-kepastia membuat kita lebih semangat untuk berikhtiar.
Ketakutan wajar sekali datang apabila kita tidak tahu akan kepastian. Tapi kalau sudah tahu akan kepastian, harusnya lebih yakin. Kalau drop lagi di perjalanan --karena ragu dan takut-- ingatlah dua ayat ini :
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati selalu tenteram." (Ar-Ra'du :28) "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah : 216)
Kartasura, 21 Juli 2026.











