49/366
Adakalanya, merasa aman. Merasa sudah cukup atas bekal-bekal yang selama ini ditata, hingga tidak begitu mengkhawatirkan atas apa yang ada di masa depan.
Adakalanya juga, merasa berada di zona nyaman. Nyaman dengan orang-orang sekitar, hingga nyaman dengan segala tantangan yang tak lagi terasa menantang.
Adakalanya lagi, tiba-tiba linglung. Ke mana afirmasi yang selama ini tersusun. Ke mana larinya, tak tampak ujung.
Adakalanya tangis jadi saksi atas takut dan ragu. Namun takdir memaksa tetap melangkah.
Apa boleh buat, meratapi ketidaksesuaian ekspektasi dengan takdir bukanlah sebuah kebijaksanaan. Alih-alih menyalahkan, lebih baik merenda syukur. Biarlah Tuhan yang atur. Sejauh masih bisa didoakan pasti ada harapan. Sejauh masih bisa diusahakan pasti akan ada jalan.


















