Jaman sekarang anak muda dijejali dengan mindset persaingan yang tinggi. Persaingan dalam meraih prestasi untuk meraih suatu pengakuan. Manusia dituntut menunjukkan kebanggaan dirinya kepada publik, karena capaian yang mereka peroleh. Berbagai alasan diumbarnya capaian mereka, seperti untuk memotivasi orang lain, mencari perhatian agar diakui sampai dikagumi, menonjolkan sosoknya lebih dihargai, terparahnya ada hasrat untuk jumawa dan riya.
Kejadian seperti ini memang susah untuk disangkal, apalagi penggunaan media sosial yang makin merebak. "Ora umuk, ora terkenal" mungkin secara negatif saya istilahkan seperti itu. Publik figur lah yang mengajarkan hal ini kepada rakyat dan masyarakat terhadap budaya narsisme. Banyak tulisan, foto, video yang diunggah pada berbagai media sosial untuk mendapatkan like, subscriber, follower, adsense sebanyak mungkin. Sajian di media sosial juga sangat variatif, mulai dari yang inspiratif, informatif, hiburan elegan, konten sampah, porno, receh, dan masih banyak lagi keabsurdannya. Masyarakat seperti berlomba-lomba menjadi sosok yang sangat berambisi dalam kenarsisan.
Akhir-akhir ini anak muda sering digemborkan, dikompori dengan kata "ambisius". Kata tersebut menjadi mantra ajaib yang mendorong pada budaya narsisme. Mereka sering dituntut agar menjadi sosok berambisi dalam apa yang mereka ingin capai. Banyak artikel motivasi yang menggunakan kata ini untuk mengompori kaum milenial agar tergerak, seperti kalimat "Jadilah ambisius biar tercapai apa tujuanmu"; "Perlunya jadi orang ambis agar mendapatkan keinginanmu". Tidak ada salahnya penggunaan kata itu untuk menyulut semangat anak muda dalam mencapai prestasi tertinggi mereka.
Sering terngiang dibenak saya, kata "ambis" atau "ambisius" selalu mengandung konotasi negatif. Kata ini terdengar, terbaca kurang bijak. Seolah-olah menjadi hal yang harus dipaksakan. Padahal belum tentu hal yang dipaksakan akan baik hasilnya. Kata "ambisius" seperti sudah mempengaruhi mindset dalam mencapai sesuatu yang diinginkan.
Dalam KBBI, ambisius berarti keinginan keras mencapai sesuatu (harapan, cita-cita); penuh ambisi, tetapi dalam contoh kalimatnya "Ia sangat -- untuk menduduki jabatan itu". Nah, inilah yang membuat saya berpikir negatif tentang penggunaan kata "ambisius" dalam suatu kalimat. Seakan kalimat itu bermakna untuk menduduki jabatan harus berambisi besar dengan menghalalkan segala cara.
Pada film, novel, drama, kartun, dan anime luar negeri, penggunaan kata "ambisius" ini biasanya terkesan negatif. Kata tersebut seperti mewakili hasrat jahat dalam mencapai ataupun merebut sesuatu yang diinginkan. Mungkin itu yang mempengaruhi pola pikir saya terhadap kata "ambisius" bermakna bengis dan tidak bijak sama sekali. Sangat berkebalikan dengan para motivator di Indonesia yang mengumbar kata "ambisius" menjadi pamungkas dalam menumbuhkan hasrat bersaing untuk mencapai kesuksesan.
Kaitannya dengan narsisme, dengan magic word "ambisius" tersebut, manusia menjadi tidak segan-segan lagi untuk menunjukkan persaingannya di muka umum. Tiap individu seperti diharuskan menjadi sosok yang mampu berdampak bagi orang lain. Dampak baik bermanfaat maupun yang buruk pun kadang menjadi harus ditampilkan sebagai wujud ambisi yang narsis ini. Mereka tidak segan untuk menunjukkan yang tidak seharusnya ditampilkan. Sikap pamer fisik, harta, kekuasaan, dan kehidupan menjadi lumrah untuk diumbar pada media sosial yang terkadang tujuannya tidak jelas. Sejatinya manusia ingin diperhatikan oleh keluarga, kerabat, teman, sampai orang tak dikenal sebagai wujud pengakuan.
Kebijaksanaan mulai luntur akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Semua berlomba-lomba untuk kenarsisan diatas ketulusan dalam berbuat kebajikan. Seperti ada hal yang kurang jika setiap kebaikan kita tidak terpublish. Padahal ada beberapa hal yang seharusnya bersifat sebagai privacy tidak selayaknya diumbar kepada khalayak umum, karena bisa saja mencederai diri sendiri maupun orang lain. Unggah-ungguh tetap dijaga sebagai perwujudan kewibawaan sebagai manusia yang berbudi luhur.
Era digital dan modern saat ini dan kedepannya memang sangat mengubah gaya hidup tiap orang. Manusia menjadi makin berambisi dalam hal apapun yang mereka ingin capai. Kenarsisan merajalela dengan menimbulkan berbagai persepsi. Kebiasaan itu secara tidak langsung menjadi tuntutan yang harus dilakukan di jaman sekarang. Jadi silakan, tidak masalah jika anda menjadi orang yang ambisius sekaligus narsis asalkan memang berdampak baik, membawa manfaat, memotivasi ke arah yang benar, dan lebih bijak dalam bertindak.-