Jangan Dipakai
Katanya, tak semua melulu harus pakai hati.
Karena, pasti kecewa dikemudian hari.
.
Katanya, lebih baik pakai logika.
Biar tak harus bertemu luka.
.
Bersama seseorang yang tak ingin bagi perasaan. Mungkinkah?

Love Begins

Kiana Khansmith
Claire Keane

❣ Chile in a Photography ❣
ojovivo

No title available
DEAR READER

titsay

@theartofmadeline
Sade Olutola

No title available
Stranger Things

Andulka

izzy's playlists!
TVSTRANGERTHINGS
Keni
sheepfilms

Product Placement
AnasAbdin
hello vonnie

seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Germany
seen from Netherlands

seen from Maldives
seen from South Korea

seen from Pakistan

seen from France

seen from United Kingdom

seen from Jamaica

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from South Korea
@ermanurs
Jangan Dipakai
Katanya, tak semua melulu harus pakai hati.
Karena, pasti kecewa dikemudian hari.
.
Katanya, lebih baik pakai logika.
Biar tak harus bertemu luka.
.
Bersama seseorang yang tak ingin bagi perasaan. Mungkinkah?
Sebuah Evaluasi #2
Nyatanya, meminta seseorang untuk tinggal memang butuh keberanian yang sungguh-sungguh. Seperti menawarkan diri untuk diporak-porandakan--jika tak berhasil. Tapi, saya akan menerima ini sebagai kewajaran. Rumus simetris.
Jika sudah berlabuh. Saya akan sampaikan, saya akan berusaha untuk meyakinkan ia agar tetap tinggal. Bahwa saya tidak mau kesepian. Saya tidak ingin menyesal.
Saya ingin lebih banyak mendengar ceritanya. Dunianya. Kesukaannya. Keraguannya. Tidak sebagai saya yang selalu ingin dipahami dan didengarkan.
Semoga bisa punya mimpi bersama.
Sebuah Evaluasi #1
Saya selalu takut untuk meminta seseorang untuk tinggal. Dulu, saya selalu berpikir tentu saja mereka akan tinggal jika ingin. Saya tidak ingin memaksakan kehendak dan keinginan saya. Mereka berhak menentukan sendiri pilihannya.
Tapi, mungkin saya salah. Mungkin saya terlalu takut untuk berjuang. Terlalu takut untuk merendah lalu dihempas. Kepergian mungkin terjadi karena saya memang tidak berusaha meyakinkan mereka untuk tinggal. Setelahnya, saya akan merasa sepi dan tidak diinginkan. Tapi, terus berkata bahwa saya akan baik-baik saja biarpun sendirian. Seperti kebanyakan waktu.
Belakangan ini, saya sering mengecewakan orang lain (tanpa sengaja) tapi juga dikecewakan (tentu saja). Biasanya, saya akan menyalahkan diri saya atas apa yang tidak bisa saya tawarkan atau saya terima. Tapi, akhirnya saya memilih berdamai dengan hal ini. Karena, memang kita tidak selalu bisa memenuhi keinginan orang lain--juga sebaliknya.
Ini bukan perihal siapa yang cukup layak atau tidak. Hanya saja kita sama-sama tidak bisa saling mencukupi dan menggenapkan. Selama lekuk-lekuk takdir tak tepat di tempatnya, maka bentuknya tak akan simetris.
Apa “Serius” Hilang Makna?
Apa ketika keinginan sudah naik, maka logika, doa dan rasa tak perlu digunakan lagi? Sehingga, bisa begitu saja memilih atau mencari pengalihan dari sebuah penolakan atau kegagalan sebelumnya? Lalu, dengan mudah bicara tentang keseriusan?
Apa makna keseriusan jika dalam memilih saja kita tidak serius? Berpasrah bukan berarti tanpa usaha, bukan berarti main-main, bukan berarti seadanya dan semaunya. Bukan berarti asal-asalan.
Tak bisa merasa senang karena bukan terpilih karena kepribadian, kesamaan tujuan, kesepahaman, kenyamanan, ketertarikan alamiah atau alasan-alasan baik lainnya. Begitu banyak alasan baik--sebenarnya.
Lebih baik berpasangan dengan keinginan sendiri jika memang tak serius dalam berkata serius. Atau jika hanya menyirami keraguan-keraguan orang lain akan nilai atas dirinya.
Boleh, Tuan?
Boleh aku pinjam jiwamu, Tuan?
Untuk jadi ruh sajak-ku?
Tuan
Tuan ini suka hilir mudik
Tapi hanya sesekali
Di cuaca-cuaca yang ia mau
Lalu hilang lagi
.
Datangnya biasa saja
Tak bawa gula-gula
Atau badut ulang tahun
Tapi, buat kebun bunga sesaat
Jantera Bianglala - Buku Ketiga Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
Bahwa seburuk-buruknya masa lalu, selalu ada kesempatan untuk mejadi baru.
Lagipula, bukankah semakin lama hidup akhirnya kita sadar bahwa tiap hal punya sebab?
Tiap hal selalu punya alasan untuk keberadaannya, termasuk kelakuan baik-buruk manusia.
Perlakuan raga bisa jadi baik, tapi alasannya bisa jadi buruk. Juga sebaliknya.
Masalahnya, manusia lebih senang larut dalam keakuan diri atas persepsinya dan penilaiannya.
.
Ia lupa bahwa raga dan nyawa hanya pembungkus jiwa dan rasa.
Maka penilaian yang kita buat atas raga tak akan melukai raga itu sendiri.
Kita lupa, mati bukan hanya hilangnya nyawa tapi juga jiwa dan rasa.
Tanpa jiwa dan rasa, kita tak punya lagi rona dan ruh kehidupan.
Lalu, atas dasar apa lalu kita berhak menilai segala sesuatu dengan ukuran kita saja?
Lintang Kemuskus Dini Hari - Buku Kedua Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
Bisa jadi, keluguan tak selalu jadi jalan aman dan tanda kebersahajaan atas kehidupan.
Karena, sayangnya banyak manusia yang senang memanfaatkan keluguan orang lain untuk kepentingan sendiri.
Keluguan memberi celah agar diri mudah ditipu, dimanipulasi, diatur pola pikir dan digerakkan semaunya.
Ada sebab Sang Maha Agung membuat akal-budi dan nurani jadi pembeda antar manusia dengan mahkluk lainnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab diri, membersamai raga dan nyawa yang ia titipkan mada tiap manusia.
Maka, menjadi penting untuk terus belajar dan mencari tahu, tak lain untuk pertahankan harkat diri.
.
Bahwa selalu saja ada manusia yang terlampau serakah di dunia ini, seakan hidupnya begitu penting.
Begitu penting untuk diisi dengan kesenangan, karenanya ia bebas merenggut hak manusia lain.
Maka, sebenarnya serendah-rendahnya harkat manusia ada pada mereka yang memanfaatkan keluguan.
Seakan lupa bahwa tak satupun di dunia ini yang berdiri sendiri, tiap upaya tak bebas dari akibatnya.
Upaya baik akan menghasilkan sesuatu yang baik, upaya buruk akan menghasilkan sesuatu yang buruk.
Catatan Buat Emak - Buku Pertama Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
- Tiap buku, pasti buat bekas dalam hati pembacanya. Ini tentang apa yang saya hayati sebagai seorang pemula -
.
Saat satu nilai terlampau dalam melekat pada seseorang maka ia akan jadi satu patokan baku dalam memandang kehidupan.
Patokan dalam menilai benar-salah, baik-buruk, patut-tak patut.
Nilai tersebut akan jadi pintu yang cuma bisa dibuka dari dalam atas kesadaran pemiliknya.
Dari jendelanya, dunia dalam dan luar saling melihat dan menuding keasingan dan keanehan satu sama lain.
Kenyamanan, ketidakmautahuan atau kemasabodohan biasanya buat pintu itu lekat pada posisinya.
.
Ada beda yang mencolok antara dunia dalam dan dunia luar, biarpun mereka punya keakuannya masing-masing.
Mereka sama-sama punya nilai yang dianut, yang dianggap sebagai penuntun hidup itu.
Yang satu penurut cukup puas dengan nilai yang ada dan bertahan. Mengganggap nilai yang dianutnya adalah satu-satunya yang hakiki.
Yang satu lagi pengembara, maka kaya akan pandangan. Dengan sendirinya akan ada seleksi nilai dalam alam pikirnya.
Dalam pengembaraan, nilai yang ditolak akan mengukuhkan nilai yang dipercaya sebelumya sedang nilai yang diselaraskan akan memperkaya.
.
Sang Penurut akan hidup dengan satu pandangan. Menolak dan menghalau pandangan lain, ia tak punya pembanding.
Sang Pengembara juga harus pandai-pandai memilah karena tak semua pandangan selaras dengan selera Sang Maha Agung.
Tapi, Sang Pengembara akan menerima banyak nilai yang sama baiknya biarpun jalannya tak mesti sama-termasuk pandangan Sang Penurut.
Percaya, tiap manusia yang sudah berusaha sebaik mungkin menyelaraskan kehidupan dengan selera Sang Maha Agung punya kesempatan sang sama.
Mana yang lebih baik? Jadi penurut atau pengembara? Ah, akal-budi manusia terlalu kecil untuk jadi penentu.
.
- ghozydes
Be careful~
You may lose
- ghozydes
Absolutely.
Manusia Lilin
“Jadi manusia yang kaya lilin, Kak”
”Maksudnya, Dek?”
”Iya, rela habis, demi terang. Hehehehe”
Kalimat singkat, sebelum solat ashar.
Buat diri sadar, bahwa kedalaman pikiran dan perasaan itu tidak pernah punya ukuran. Apalagi dengan urutan angka yang disebut usia. Karena, setiap orang punya kemampuan menghayati yang berbeda-beda.
Dalam rangka perbaikan diri satu tahun terakhir ini, banyak orang yang jadi guru. Mengajari, tanpa titel, tanpa bayaran, tanpa pamrih bahkan tanpa sadar.
Dia salah satunya.
Bagaimana kita belajar keteduhan dalam usahanya untuk belajar dan berserah, dalam kesederhanaan, kerendah-dirian, kecerdasan, ketaatan, kepekaan hati dan kedalaman pikiran.
Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa merahmati dan memberikan pahala atas setiap kebaikan mereka, terutama untuk yang tidak disadari.
Karena, seringkali, tidak sadar artinya tulus❤
Pada Akhirnya
Pada akhirnya, kita akan lelah-menyakiti diri
Pada akhirnya, kita akan lelah-mengasihani diri
Pada akhirnya, kita akan lelah-mengingat
Pada akhirnya... melangkah dan berserah yang jadi obat lelah~
Tuhan itu Maha Baik
Termasuk, saat satu-satunya orang yang buat kita belajar percaya adalah dia yang beri kecewa dalam-dalam.
Tuhan mau kita belajar tentang sewajarnya dan membagi. Karena, ‘Satu-satunya' itu cuma milik-Nya.
Memahami Ego~
Jangan sampai menahan ego pada manusia tapi tak menahannya pada diri sendiri.
Pernah. Bertahan pada ego yang begitu tinggi. Merasa tak ada yang cukup dipercaya untuk digenggam.
Merasa--kukuh di kaki sendiri adalah satunya jalan agar bertahan.
Merasa--tak butuh siapa-siapa, pakai dalih takut menyusahkan.
Merasa--tangis adalah bentuk kelemahan yang tak boleh ada.
Memang, bersandar akan buat jatuh. Tapi, genggaman yang akan tahan kita dari jatuh.
Hati punya ruang yang harus diisi. Jiwa punya kebutuhan untuk dimengerti. Jangan jadi manusia sepi.
Maaf. Jadi, layak itu seperti apa, Tuan?
Barangkali
Barangkali, ini soal siapa yang pandai simpan rahasia dalam-dalam.
Barangkali, ini soal siapa yang terlalu percaya dalam-dalam.