Menelisik Sufisme Para Penebang Tebu
Beberapa hari ini, warung emak saya mengalami peningkatan profit yang cukup menjanjikan berkat kehadiran rombongan penebang tebu. Sependek yang saya tahu, rombongan ini berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Purwodadi dan Blora. Kebanyakan dari mereka menginap di rumah-rumah kosong di sekitar warung emak saya. Tentu saja, ini membawa keberkahan luar biasa bagi hasil penjualan warung.
Terlepas dari itu semua, tiap kali ada lelaki tua yang lewat sambil memanggul sebilah kapak, sabit, atau membawa logistik seperti galon air, saya selalu merenung dan merasa malu. Bagaimana tidak? Di usianya yang tak lagi muda, beliau masih bersemangat bekerja, bahkan dengan pekerjaan yang menurut saya dan sebagian besar orang lainnya tergolong berat. Beliau masih kuat, mampu memanggul dan menaikkan tebu yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram, meskipun harus berhadapan dengan teriknya matahari.
Maka, kepada lelaki tua itu, muncul perasaan iba. Perasaan yang konon batasnya sangat tipis dengan kesombongan, sebab saya merasa lebih mampu dan lebih makmur ketimbang beliau. Tapi, bodo amat dengan itu. Yang saya tahu, saya cukup termotivasi oleh semangatnya.
Pada suatu kesempatan, saya mengamati bagaimana mereka melepas penat—atau dalam bahasa milenialnya, self-healing—dengan cara yang begitu sederhana. Mereka berhasil membuat saya memahami makna dari ungkapan "bahagia itu sederhana." Memesan segelas kopi, ditemani sebatang rokok, lalu bercengkrama dan bersenda gurau, sudah cukup menjadi self-reward atas kerja keras mereka seharian. Di sisi lain, melihat mereka melakukan video call dengan sanak keluarga atau sekadar menelepon orang terkasih membuat saya senyum-senyum sendiri.
Terbesit dalam benak saya, betapa sufisme telah merasuk ke dalam jiwa-jiwa para penebang tebu itu. Memahami bahwa hidup memang tak pernah mudah, dan kita, mau tak mau, harus selalu siap menghadapinya.
"Sek tak leren dilit, maghriban!" ucap seorang penebang tebu sambil mematikan rokoknya, tanda bahwa ia hendak mengakhiri obrolan hangat sore itu.
Pemandangan yang entah mengapa, terasa begitu menyenangkan untuk dilihat. Keberagamaan yang hangat, menimbulkan senyum, dan sesekali menghadirkan tawa. Ah, begitulah kehidupan. Selalu ada makna dalam setiap pertemuan dan persinggahan.
Terima kasih telah singgah, Pak.
















