Let your aura speaks for itself.
One Nice Bug Per Day
Misplaced Lens Cap
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
todays bird
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sweet Seals For You, Always

Discoholic 🪩
KIROKAZE
Keni

★
Monterey Bay Aquarium

❣ Chile in a Photography ❣
NASA

tannertan36

PR's Tumblrdome
Stranger Things
official daine visual archive
art blog(derogatory)
Xuebing Du

JVL

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
@fatimacikal
Let your aura speaks for itself.
O Allah you know everything, everyyy thingsss. Gusti Allah mboten sare, right?
Happy Ramadhan 🤎
O Allah please guide me into the right path. Aamiin.
Ya Allah, aku berlindung dari rasa harap kepada makhlukMu.
Ketemu perkataan salah seorang Ustadzah yang dalam perkenalan diri nya menyinggung masalah depresi. Secara singkat Beliau mengatakan jika depresi tidak berkaitan dengan kurangnya iman. Namun setidaknya dengan iman kita menjadi tahu kemana arah hidup, kepada siapa tempat bergantung, kepada siapa kita memohon kesembuhan. Sebuah kalimat singkat yang bijak dan mengena.
Tempat ternyaman untuk 'kembali' adalah diri sendiri yang bersandar kepadaNya.
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 30)
Dari ayat ini aku jadi termenung, mustahil selama manusia hidup tidak berbuat dosa, entah apa dan sekecil apa. Dari renungan itu aku seringkali menyalahkan diri sendiri, membuatku semakin jatuh dan tertekan. Hingga Alhamdulillah Allah memberikanku hikmah, setiap perbuatan dosa itu ada konsekuansinya, muaranya neraka. Allah cicil konsekuensi itu di dunia sebagai penghapus dosa. Dan ini bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-hambaNya. Dihukum di dunia di hukum selagi masih hidup.
Dengan menyadari dan memahami ini, Alhamdulillah bisa bikin diri sendiri lebih legowo.
rumah tua yang sederhana banyak kenangan bersama orang orang tercinta
Bagaimana bisa engkau seputus asa ini padahal engkau punya Allah yang memegang urusan bumi dan langit? Sabar, sayang. Ujianmu pasti ada usainya. Allah hanya ingin melihat keyakinanmu kepada Allah di setiap keadaan. Sebab orang yang betul-betul mencintai Allah, ia tau betul kalau Allah pasti akan menyelesaikan persoalan yang sedang ia hadapi. Sabar. Allah jua ingin menaikkan derajatmu melalui ujian ini. Sabar. Jaga prasangka baikmu kepada Allah. Jaga sabarnya. Jua jangan pernah putus berdoa dengan penuh keyakinan kepada Allah. Serumit apapun persoalanmu pasti akan usai atas izin Allah. Sabar.
@terusberanjak
Memang, seorang ibu tidak ada yang sempurna. Namun jika kita tahu pengorbanannya, kita tidak bisa berkata apa-apa dan tidak akan bisa melakukan pengorbanan yang sama untuknya.
Batasi hal-hal mana saja yang menjadi urusanmu dan mana yang menjadi urusan Tuhanmu.
#lifewell
Aku percaya atas segala hal yang sudah terjadi, Allah sudah takdirkan yang terbaik. Pada hal-hal yang tak bisa ku ubah, itulah takdir Allah yang terbaik. Ada alasan mengapa kita diciptakan. Ada alasan mengapa KekasihMu begitu mencintai umatnya :)
irisan
Tulisan : Tolonglah Dirimu Sendiri
Kadang kita berusaha untuk selalu menolak apa yang sedang kita rasakan. Alih-alih mengakuinya jika kita memang sedang bermasalah, sedang perlu bantuan, sedang merasa lemah. Kita terus menerus berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa semuanya tidak apa-apa.
Sementara di saat yang sama, tanpa kita sadari, kita tengah memupuk rasa bersalah, rasa penyesalan, rasa lelah, semua perasaan yang membuat hati kita terpuruk tapi dibungkus seolah tidak terjadi apa-apa karena kita tidak ingin membuat sedih dan kecewa orang-orang yang kita sayangi, tapi mereka tak bersedia menerima keluh kesah kita.
Dan disaat yang sama, kita menyakiti orang-orang di sekitar kita tanpa kita sadari. Tanpa kita sadar, perasaan itu telah muncul melalui perkataan kita, sikap kita, dan semua hal yang yang terjadi sehari-hari.
Mungkin banyak orang yang sebenarnya ingin menolong, tapi kita sendiri tak mau ditolong. Tak mau mendengar nasihat. Tak mau menerima kenyataan bahwa keadaan kita memang tidak baik-baik saja, dan kita harus membuat keputusan yang konsekuensinya begitu besar.
Sering kali, kita tak mau membagi beban. Seolah-olah kuat menanggungnya sendirian. Beban itu mungkin tak seberapa bagi kita saat ini, tapi kalau kita menggenggamnya seumur hidup. Apa kita sanggup? Ibarat memegang sebuah gelas, semenit dua menit mungkin kita bisa. Tapi sehari, sebulan, setahun, atau seumur hidup? Tangan kita mungkin takkan sanggup. Suatu saat gelas itu akan jatuh, pecah, berserakan. Karena kita tak lagi kuat menahannya.
Ini bukan tentang seberapa besar beban yang sedang kita hadapi, melainkan seberapa lama kita telah membawanya dalam kehidupan kita. Dan tak pernah kita selesaikan, tapi justru bertambah setiap waktu. ©kurniawangunadi
sweet escape
Merapihkan hari. Merapihkan hidup 🧘♀️