tes
occasionally subtle
macklin celebrini has autism
sheepfilms

Product Placement

blake kathryn

Game Changer & Make Some Noise

Discoholic đȘ©

Jimmy Eat World
The Bowery Presents

Jar Jar Binks Fan Club

ellievsbear
EXPECTATIONS

@theartofmadeline
Phantogram Three

if i look back, i am lost
Interview Vampire Daily
đȘŒ
untitled
Lint Roller? I Barely Know Her
One Nice Bug Per Day

seen from Canada
seen from Bangladesh
seen from Singapore
seen from Singapore

seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from Philippines

seen from United States
seen from France

seen from Slovenia
seen from Australia

seen from Canada

seen from Australia
seen from Colombia
seen from Belarus
seen from Indonesia
seen from TĂŒrkiye
seen from Morocco
seen from Brazil
@fauzan-jundi
tes
Jika pasanganmu cinta karena fisik yang kau punya, kelak ia akan pergi dengan alasan fisik. Jika pasanganmu cinta karena materi yang kau miliki, kelak ia akan pergi dengan alasan materi. Jika pasanganmu cinta karena alasan hati, kelak ia akan pergi apabila ia tak melihat lagi namanya dalam hatimu.
Fauzan_
Beberapa orang tidak sadar sedang dicintai begitu hebat, hingga akhirnya tersadar ketika yang mencintainya telah lenyap.
Fauzan_
Aku, Kamu, dan Lara
Sinar pagi muncul dan menyapa dari ufuk timur. Orang mulai lalu lalang memulai pekerjaan. Saat mereka sibuk menikmati hangatnya mentari, kau terkapar dalam sedu. Bagimu fajar pagi itu tak terasa hangatnya. Dalam kesunyian pagi, lara datang merambat diam-diam. Laramu muncul kala kau tak siap menyambutnya. Denting lonceng berbunyi tanda kepergian telah datang menghampiri. Matahari kian meninggi, namun hati kian sunyi menyepi. Dalam setiap denting, selalu terselip bayang yang coba kau lupakan. Hati kecil berbisik, membisikkan seribu kesesalan yang tak ketara kala kau selalu memberinya dosa. Rasa sesal kian menjeru dan enggan pergi. Dalam diam, kau berdoa agar waktu yang terlewat dapat kembali. Angan masa lalu tak kuasa datang membanjiri. Denyut nadi berhenti lebih cepat dibanding lara yang telah mengalir. Bagai semuanya telah berakhir, seketika terasa dunia koma.
Fajar berganti siang, aku pun datang tuk melipur lara yang telah terurai. Setinggi langit aku terbangi. Sedalam palung aku layari. Tak peduli sulitnya mencari waktu datang, letihnya kaki berpergi. Dalam basuhan duka, laramu dapat terlupa meski sementara. Sesak tangis yang terngiang sedari tadi, hilang sejenak kala aku berpijak. Kala tangismu masih terisak, tanggung jawabku untuk mengembalikan secercah senyum yang lama tak menyeringai, sepucuk tawa yang lama sirna, sebait riang yang lama menghilang.
Setiap pertemuan selalu berakhir pada perpisahan. Mengikhlaskan menjadi cara kita untuk bisa terus berjalan kedepan. Tuhan menciptakan pertemuan agar kita belajar merelakan. Meski berat, jadikanlah ia penyemangat. Mengikhlaskan yang selalu ada memang tak pernah mudah. Tapi pada akhirnya, semua itu yang akan mendewasakan. Seiring waktu, biar laramu pudar dalam suksesmu.
Pulau ini terlalu besar untuk kau dukakan. Pergilah. Pergilah untuk mencari penghilang lara. Biar aku menjadi bagian kecil alasan dukamu menjadi sukmamu. Biarkan rindu itu menyatu menjadi penyemangat. Biarkan lara menjadi keteguhan kala ia teringat. Layaknya tinta yang menjadi makna sebuah pena, biar aku yang menjadi tinta dibalik kebangkitanmu. Kuaskan cerita barumu. Bangkit dan lengkapi segera kepingan mimpi yang belum terpenuhi. Tuliskan awal barumu. Biar aku yang menjadi alasan senyummu mengembang, meski kita tak berpandang.
Kini, tugasmu untuk melanjutkan mimpinya yang belum sampai. Sedang tugasku, berdoa dan menjaga agar kelak kau lebih kuat.
Karena cinta tidak selalu datang untuk bertahan, beberapanya hanya datang untuk mengajarkan. Begitu juga rindu, tak melulu soal keinginan bertemu, beberapanya justru diam-diam tersapu.
Fauzan_
Kala kantung matamu tak kuasa menahan air mata, pundakku akan tetap ada untuk menyekanya. Sebab aku pernah juga merasakan sakitnya, dahulu.
Fauzan_
âFatimahkan Dirimu, Adindaâ (Bagian 3)
Dan Ali pun menikahi Fatimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Keseriusan Ali dalam mencintai Fatimah membuat kebahagian menyelimuti Fatimah. Ia yakin pemuda yang ia pilih akan mampu bertanggung jawab dalam menghidupinya. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar, dan Fatimah. Dengan keberanian untuk menikah dengan Fatimah. Sekarang Ali mendapatkan semuanya. Semuanya bermula ketika keberaniannya mempersilahkan cinta yang ia punya kepada sahabat-sahabatnya sendiri.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti yang dilakukan Ali. Ia mempersilahkan, atau mengambil kesempatan. Semuanya merupakan pilihan. Hal yang pertama ia lakukan tentu saja pengorbanan. Selanjutnya barulah keberanian.
Hingga suatu hari setelah mereka menikah, Fatimah berkata kepada Ali, âMaafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemudaâ
Ali terkejut dan berkata, âKalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?â
Sambil tersenyum Fatimah berkata, âYa, karena pemuda itu adalah Dirimuâ
Kemudian Nabi saw bersabda: âSesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan kebaikan untuk semuanya.â (End)
âFatimahkan Dirimu, Adindaâ (Bagian 2)
Tetapi Allah lagi-lagi tetap menjaga api cinta dan harapan yang Ali miliki. Lamaran Umar kali ini pun ditolak! Lamaran Umar ditolak sama seperti Abu Bakar sebelumnya. Maka Ali pun bingung ketika kabar itu meruyak. Bagaimana mungkin lamaran Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Rasulullah? Mungkinkah yang seperti Utsman bin Affan sang miliarder yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Atau yang seperti Abul âAsh ibn Rabiâ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Diantara para Muhajirin, hanya ada Abdurrahman ibn Auf yang setara dengan mereka berdua. Atau bahkan justru Nabi ingin mengambil menantu dari kalangan Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Disana ada Saâd ibn Muâadz, sang pemimpin suku Aus yang tampan dan elegan itu. Atau mungkin Saâd ibn âUbaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
âMengapa bukan engkau yang mencoba kawan?â celetuk seorang sahabatnya. Kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan Ali. âMengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..â
âAku?â tanyanya tak yakin.
âYa. Engkau wahai saudaraku!â
âAku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?â
âKami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!â
âAli pun memberanikan diri menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikan keinginannya untuk menikahi Fatimah. Ya, menikahi gadis yang sejak kecil sudah ia kenal betul akhlak dan keperibadiannya yang membuat hatinya luluh oleh kelembutannya. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap menghindupi Fatimah? Itu sangat memalukan! Meminta Fatimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakkan! Usianya telah berkepala dua sekarang.
âEngkau pemuda sejati wahai Ali!â, begitu nuraninya berbicara. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya pun terjawab, âAhlan wa sahlan!â Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Rasulullah.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko dari pengungkapan. Itu bagian dari setiap ungkapan cinta yang kita lakukan. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu jauh lebih menyakitkan.
âBagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?â
âEntahlah..â
âApa maksudmu?â
âMenurut kalian apakah âAhlan wa Sahlanâ berarti sebuah jawaban?â
âDasar tolol! Tolol!â, kata mereka,
âEh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup, dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti iya!!â
Jika sudah puas main-mainnya, pulanglah. Di sini ada aku yang tak main-main menunggumu.
(via mbeeer)
Selembut kasihmu saat awal kita bertemu, aku pun akan menyambutmu sama seperti kau menyambutku diawal perkenalan kita, dahulu
Fauzan_
Menyapamu dibalik ketikan saja aku gugup, bagaimana aku bisa menegur sapa kala kita bertatap muka?
Aku pernah berharap akulah sosok di balik semua tulisanmu itu.
(via mbeeer)
Maukah kita bertukar peran sebentar? Agar kau merasakan sakitnya dilupakan oleh orang yang tak bisa kau lupakan.
(via mbeeer)
âFatimahkan Dirimu, Adindaâ (Bagian 1)
Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak pernah diceritakannya pada siapapun. Tentang Fatimah Azzahra. Karib kecilnya, putri tersayang dari Sang Nabi yang merupakan sepupunya itu, benar-benar memesonanya. Kesantunan dalam ibadah, kecekatan dalam kerja, pesona dalam paras, semuanya terlihat begitu sempurna. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan dengan hati-hati, ia seka dengan rasa penuh cinta. Ia bakar perca, kemudian ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya tersebut.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. âMuhammad ibn Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian rupa oleh kaumnya!â gumam Fatimah.
Maka gadis cilik itu pun bangkit. Gagah ia berjalan menuju Kaâbah. Disana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam oleh gadis cantik nan berani di hadapannya. Fatimah menghardik mereka seakan waktu berhenti hingga tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali ucapannya. Mengagumkan!
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta atau sekedar rasa iba. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fatimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Ayah. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq. âAllah mengujiku rupanyaâ, begitu batin Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah dirinya dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi pun Abu Bakar lebih utama. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah, sementara Ali hanya bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berdaâwah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Mekkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar. Hal yang tak mungkin dilakukan oleh seorang remaja kurang pergaulan seperti Ali.
Lihatlah juga berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar. Bandingkan dengan berapa banyak budak yang dia bebaskan? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insyaAllah lebih bisa membahagiakan Fatimah dalam rumah tangganya kelak.
Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. âInilah persaudaraan dan cinta.â gumam Ali.
âAku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku.â lirih Ali.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Cinta adalah keberanian, atau pengorbanan yang pasti akan kau pilih.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakar ditolak! Dan Ali pun terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fatimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa. Seorang lelaki yang sejak masuk Islam membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat setan manapun berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Dia Umar ibn Khattab. Ya, Umar yang ditakuti kaum kafir itu juga datang untuk melamar Fatimah. Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada Islam? Dan lebih dari itu, Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, âAku datang bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umarâ
Betapa tinggi kedudukannya disisi Rasul, disisi ayah Fatimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana Umar melakukannya. Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan Beliau Shallallaahu âAlaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Hanya dapat menanti dan bersembunyi.
Umar adalah lelaki pemberani. Ali sekali lagi sangat sadar, dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah dan kalah segalanya dari Sang Umar. Apalagi menikahi Fatimah binti Rasulillah! Tidak. Umar ibn Khattab jauh lebih layak, dan Ali ibn Abu Thalib telah ridha untuk mengikhlaskan Fatimah jatuh dalam pinangan Umar.
Cinta tak pernah meminta untuk dinanti, sebab ia hanya menunggu kita mengambil kesempatan, itulah Keberanian. Cinta juga tak pernah meminta untuk dilewati, sebab jika tidak kau ambil, persilahkan dia pergi, itulah Pengorbanan.
Fauzan_
Selalu dekat denganmu merupakan caraku menjaga perasaan yang aku punya. Meski tak diizinkan memiliki hatimu, setidaknya ragaku selalu didekatmu
Fauzan_
Ketika cinta tak bisa terungkapkan, rindu yang kuselipkan dalam doa akan selalu tersampaikan.
Fauzan_