Karena merenda rindu lebih indah dengan doa. Sebab tatkala rindu menggunung, doa akan melaut
NASA
dirt enthusiast
will byers stan first human second
Mike Driver
DEAR READER
taylor price

Andulka
Not today Justin

Discoholic 🪩

⁂
Three Goblin Art

tannertan36
Sade Olutola
No title available
ojovivo
trying on a metaphor

PR's Tumblrdome

★
Peter Solarz
KIROKAZE
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Poland
@fidyatsa
Karena merenda rindu lebih indah dengan doa. Sebab tatkala rindu menggunung, doa akan melaut
Sebab hatiku adalah; Sebab hatiku bukan kayu, melainkan langit yang maha luas. Namun kau harus tahu. Langit pun pernah menangis
Panji Ramdana dalam buku "Menuju Baik Itu Baik"
Dan Tuhan-pun perankan kebaikannya untuk berkata tidak. Lalu kun! Fayakuun!
Jangan pernah biarkan dirimu luluh lantak-carut marut. Ia-lah yang paling tahu kamu; terbaik untukmu Ia-lah yang tak akan pernah menyiakan hidupmu; barang sedetikpun
ketika kau bertemu dengan orang yang mendahului perkaramu di atas perkaranya, sungguh jangan pernah lepaskan ia barang satu detik. ialah yang selama ini kau cari. dekat dan tak kau sadari
kelapa dua, 00.10
Aku memutuskan untuk melepaskanmu, membebaskan hatiku yang telah lama diam-diam menyebutmu dalam setiap doa panjangku. Aku takut fitrah yang kuperoleh menjadi fitnah untukku, dan kamu. Terima kasih untuk setiap hal yang tanpa kau sadari membuatku tegar, bahagia. Selamat tinggal. Telah kutinggalkan sebagian hatiku di sana. Semoga dia baik-baik saja 😊
Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian
Gus Dur
Andai bergunjing itu layak, 'aib ibukulah yang akan kugunjing. Sebab dialah yang paling berhak mengambil pahala 'amalku
Asy Syafi'i
Perempuan (tidak) selalu benar
Ada yang bilang kalau ada aturan kalau perempuan selalu benar. Awalnya aku sepakat. Aku membenarkan itu karena realita. Jika perempuan salah, pasti penyebabnya laki-laki sehingga aturan perempuan selalu benar menjadi benar adanya. Bukan sekedar kebetulan.
Tapi hari ini, aku tergelitik sama curcol (curhat colongan, red) seorang ibu muda yang bekerja di sebuah warteg di bilangan barel, depok. Ia single parent. Sebenarnya tak ada niatan menguping. Hanya saja, ketika lewat habis beli nasi goreng di warung langganan, ada gerombolan pekerja sebuah warteg tengah asyik mengobrol. Saat itu, dengan kencang tapi tak menghapus kepedihan, si ibu muda bilang kalau semua laki-laki sama saja. Bisanya gombal, manis di depan. Setelah berhasil mendapatkan hati perempuan, dibuang gitu aja. Dicampakkan. Ya, si ibu muda bercerita kalau mantan suaminya tega meninggalkannya dengan seorang anak. Mantan suaminya brengsek, katanya. Meninggalkannya begitu saja dengan beban hidup yang cukup berat, di Jakarta pula. Ditambah lagi dengan pernyataan /lagi-lagi perempuan yang disalahin/.
Dari situ aku nyadar, sebenarnya tidak semua perempuan merasa selalu benar atau dibilang selalu menyalahkan laki-laki. Yang benar dari pernyataan itu adalah sesuai sudut pandang masing-masing. Sangat tidak adil jika menyatakan perempuan suka pengen menang sendiri karena tidak sedikit laki-laki yang demikian. Ya. Penilaian yang subjektif dan terlalu men-generalisasi-kan. Dari hal itu aku sadar, bahwa jika melihat lebih dekat suatu hal, maka akan lebih mengerti kalau ada hal yang seharusnya dibenarkan agar tidak sesat pikir berjama'ah
Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan
Salim A. Fillah
Berbahagialah jika akhirnya kamu berjodoh dengan orang yang menyebut namamu dalam doanya. Itu berarti, untuk dapatkanmu ia libatkan Allah. Adakah yang lebih romantis dari itu?
@SenyumSyukur
/Jika dan Karena/
Aku mencintai hujan; Jika ia tak datang sesukanya, kemudian pergi tanpa bicara
Aku mencintai hujan; Jika ia datang bukan sekedar menyapa, lalu hilang tiada berita. Meninggalkan luka yang nganga
Aku mencintai hujan; Jika ia tak menjadikan pelangi sebagai tanda perpisahanku dengannya. Indah. Tapi menyakitkan
Aku mencintai hujan; Jika ia tak hanya memberiku ruang untuk mengenang entah siapa, tapi memilikinya jua
Aku mencintai hujan; Karena ia mampu menghadirkan petrikor yang membuatku sulit tak jatuh cinta
Aku mencintai hujan; Karena jika telah hilang -entah ke mana- bersama dengan hadirnya karena
"Jika air mata yang membasahi sujudmu saja adalah air mata pinjaman dari-Nya, lalu apa yang bisa kau banggakan wahai diri"
Qotrun Shubuh
Kayak kata orang, mie instant aja harus direbus dulu biar bisa dimakan. Masak mau sukses pakai jalan pintas?
aku mati, hanya karena kau dan aku tak bisa jadi puisi
(via dhaeagus)
Dan aku mati dua kali karena aku dan kamu tak pernah menjelma kita :"
/Still/
Aku suka bercerita. Cerita yang mengalir begitu saja. Murni. Dan kali ini, izinkan aku bercerita. Tentang malam ini. Tentang mereka, yang sudah dengan tidak sopan mencuri secuil hatiku. Ah tidak, ternyata mengambil separuh aku. Sungguh menyebalkan. Tapi aku suka.
4 Desember 2015
08.00
Aku masih tertidur pulas. Bermimpi indah, barangkali. Ya, aku memang baru tertidur kurang lebih pukul 06.30 pagi. Aku tidak bisa tidur. Bukan sengaja, karena segala upaya untuk tidur sudah dilakukan, tapi mau dikata apa, kebiasaan bersama para sahabat /Sarjana Kebon/ memaksaku untuk lebih lama bercengkrama dengan malam.
09.30
Tiba-tiba terbangun. Segera bergegas bersiap ke Kampus karena tersadar hari ini hari terakhir e-vote. Sebenarnya malas. Tapi apalah daya, cinta berkata lain.
09.55
Sampai di kampus bersama-sama dengan Maghfi. Tidak sengaja bertemu sebelum berangkat tadi. Kemudian antri untuk mengambil token e-vote. Menyumbangkan suara lalu bingung mau apa. Lalu, kuputuskan untuk pulang.
12.00
Tertidur menanti sesuatu. Yang tak pasti, tentunya. Aku ingat sekali mimpinya. Tapi tak ingin kuceritakan. Tragis. Menyedihkan.
15.00
Masih tertidur
17.00
Terbangun karena lagu Wiz Khalifa yang When I See You Again mengalun indah. Bukan, bukan alarm. Itu sebuah telepon masuk dari seseorang yang kutunggu sejak pukul 11.00. Ya, akhirnya kumengaku. Aku menunggu telepon darinya, menanti kabarnya. Kami berbicara seperlunya. Setelah telepon ditutup, aku memutuskan untuk bersiap-siap. Aku ingat malam ini ada hal yang kutunggu. Bukan pengumuman hasil suara Pemilihan Raya. Aku muak dengan itu. Aku sejenak ingin melepas penat dengan hal lain. Lebih kepada cerita suka-suka.
17.57
Tok tok tok. Sebuah pesan masuk. Ya, bunyinya seperti ketukan pintu. Menurutku, pesan masuk sama seperti bertamu. Akan kubuka jika kuberkenan. Ah, tak usah peduli dengan nada pesan masukku. Lebih penting isinya. Intinya menanyakan apakah aku bisa datang dalam perjamuan rutin dua minggu sekali, dan tentu kujawab dengan insyaAlloh. Tak lupa kuberi emoticon, kalau tidak salah.
19.00 Aku sampai di tempat biasa. McM cafe lantai 1 di pinggiran Jalan Margonda Depok. Hanya ada dua dari mereka. Laki-laki semua. Miqdad dan satu lagi aku tak tahu siapa namanya, tapi aku merasa sudah sedekat nadi. Sambil menunggu yang lain, terutama perempuan agar aku tak sendirian, kami berbagi banyak hal dengan lepas.
19.50 Maghfi datang. Sebelumnya sedikit kupaksa lewat pesan di aplikasi whatsapp. Dia bersedia. Disusul dengan pamit dari si laki-laki entah siapa namanya, yang ternyata Dwika. Dia ada agenda
20.20 Kurang lebih, yang dinanti-nanti datang juga. Menurut kami, wajah baru seperti mangsa baru. Banyak hal untuk ditanya, diinterogasi. Namanya Ulfah. Anak tunggal asal Medan. Dia unik. Dia berbeda. Tapi aku suka. Dia begitu tak memikirkan masa depan, karena baginya semua harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Hasil tak akan menghianati proses. Ulfah, kamu setuju pasti, kan? Kalau tidak, iyain saja. Oke?
21.00 Telah sampai pada saat di mana harus mengakhiri kebersamaan kita malam ini. Cerita masih menggantung. Banyak yang belum tersampaikan. Banyak yang masih belum bisa terungkapkan. Entah disimpan atau lupa untuk disampaikan.Tapi aku senang, akan ada malam seperti malam ini nanti. Dengan cerita yang lebih segar. Dan semoga dengan wajah baru yang bukan hanya menyempatkan, tapi memprioritaskan.
5 Desember 2015
Dan sekarang hari telah berganti. 01.59 pada lima. Dan aku masih berdegup dengan pertemuan kita hari ini. Penuh gelak. Penuh tawa. Penuh canda. Renyah. Aku suka. Ceritaku semakin lengkap saja. Depok tak lagi suram sejak kalian ada. Terima kasih, Depok. Karenamu, aku bisa berjumpa dengan mereka.
Terima kasih untuk jumat yang selalu kunanti tiap harinya
Aku mencintaimu selalu, saudaraku
Salam hangat penuh cinta, Fidya
Cinta terdengar lebih aman dalam do'a
Kurniawan Gunadi
/Kita/
"Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing, ingatlah hari ini"
Di setiap perjumpaan, selalu menyisakan rasa Malam ini, aku dibuat jatuh cinta lagi, lagi dan lagi
Jatuh cinta pada setiap cerita Jatuh cinta pada setiap gelak tawa Jatuh cinta pada setiap pertemuan yang berujung tawa Jatuh cinta pada setiap mereka yang ada, wajah baru, pun lama Jatuh cinta yang berhasil membuatku sadar bahwa separuh aku ada pada mereka
Terima kasih untuk setiap jumat malamku yang bermakna Terima kasih untuk setiap cinta yang tak tanpa kata Terima kasih untuk cerita yang selalu berhasil membuatku tertawa Terima kasih untuk penerimaan penuh cinta dan bahagia Terima kasih untuk dekapan hangat penghapus luka Terima kasih membuatku selalu jatuh cinta
Aku yang selalu jatuh cinta pada kita, Fidya