Aku suka bercerita. Cerita yang mengalir begitu saja. Murni. Dan kali ini, izinkan aku bercerita. Tentang malam ini. Tentang mereka, yang sudah dengan tidak sopan mencuri secuil hatiku. Ah tidak, ternyata mengambil separuh aku. Sungguh menyebalkan. Tapi aku suka.
Aku masih tertidur pulas. Bermimpi indah, barangkali. Ya, aku memang baru tertidur kurang lebih pukul 06.30 pagi. Aku tidak bisa tidur. Bukan sengaja, karena segala upaya untuk tidur sudah dilakukan, tapi mau dikata apa, kebiasaan bersama para sahabat /Sarjana Kebon/ memaksaku untuk lebih lama bercengkrama dengan malam.
Tiba-tiba terbangun. Segera bergegas bersiap ke Kampus karena tersadar hari ini hari terakhir e-vote. Sebenarnya malas. Tapi apalah daya, cinta berkata lain.
Sampai di kampus bersama-sama dengan Maghfi. Tidak sengaja bertemu sebelum berangkat tadi. Kemudian antri untuk mengambil token e-vote. Menyumbangkan suara lalu bingung mau apa. Lalu, kuputuskan untuk pulang.
Tertidur menanti sesuatu. Yang tak pasti, tentunya. Aku ingat sekali mimpinya. Tapi tak ingin kuceritakan. Tragis. Menyedihkan.
Terbangun karena lagu Wiz Khalifa yang When I See You Again mengalun indah. Bukan, bukan alarm. Itu sebuah telepon masuk dari seseorang yang kutunggu sejak pukul 11.00. Ya, akhirnya kumengaku. Aku menunggu telepon darinya, menanti kabarnya. Kami berbicara seperlunya. Setelah telepon ditutup, aku memutuskan untuk bersiap-siap. Aku ingat malam ini ada hal yang kutunggu. Bukan pengumuman hasil suara Pemilihan Raya. Aku muak dengan itu. Aku sejenak ingin melepas penat dengan hal lain. Lebih kepada cerita suka-suka.
Tok tok tok. Sebuah pesan masuk. Ya, bunyinya seperti ketukan pintu. Menurutku, pesan masuk sama seperti bertamu. Akan kubuka jika kuberkenan. Ah, tak usah peduli dengan nada pesan masukku. Lebih penting isinya. Intinya menanyakan apakah aku bisa datang dalam perjamuan rutin dua minggu sekali, dan tentu kujawab dengan insyaAlloh. Tak lupa kuberi emoticon, kalau tidak salah.
19.00
Aku sampai di tempat biasa. McM cafe lantai 1 di pinggiran Jalan Margonda Depok. Hanya ada dua dari mereka. Laki-laki semua. Miqdad dan satu lagi aku tak tahu siapa namanya, tapi aku merasa sudah sedekat nadi. Sambil menunggu yang lain, terutama perempuan agar aku tak sendirian, kami berbagi banyak hal dengan lepas.
19.50
Maghfi datang. Sebelumnya sedikit kupaksa lewat pesan di aplikasi whatsapp. Dia bersedia. Disusul dengan pamit dari si laki-laki entah siapa namanya, yang ternyata Dwika. Dia ada agenda
20.20
Kurang lebih, yang dinanti-nanti datang juga. Menurut kami, wajah baru seperti mangsa baru. Banyak hal untuk ditanya, diinterogasi. Namanya Ulfah. Anak tunggal asal Medan. Dia unik. Dia berbeda. Tapi aku suka. Dia begitu tak memikirkan masa depan, karena baginya semua harus dijalani dengan sebaik-baiknya. Hasil tak akan menghianati proses. Ulfah, kamu setuju pasti, kan? Kalau tidak, iyain saja. Oke?
21.00
Telah sampai pada saat di mana harus mengakhiri kebersamaan kita malam ini. Cerita masih menggantung. Banyak yang belum tersampaikan. Banyak yang masih belum bisa terungkapkan. Entah disimpan atau lupa untuk disampaikan.Tapi aku senang, akan ada malam seperti malam ini nanti. Dengan cerita yang lebih segar. Dan semoga dengan wajah baru yang bukan hanya menyempatkan, tapi memprioritaskan.
Dan sekarang hari telah berganti. 01.59 pada lima. Dan aku masih berdegup dengan pertemuan kita hari ini. Penuh gelak. Penuh tawa. Penuh canda. Renyah. Aku suka. Ceritaku semakin lengkap saja. Depok tak lagi suram sejak kalian ada. Terima kasih, Depok. Karenamu, aku bisa berjumpa dengan mereka.
Terima kasih untuk jumat yang selalu kunanti tiap harinya
Aku mencintaimu selalu, saudaraku
Salam hangat penuh cinta, Fidya