Tentang Memutuskan Untuk Berkomitmen
Some people say, life’s begin at 20. I am not actually believe that, sampai suatu hari saya sadar memang sudah bukan waktunya bermain-main dengan waktu.
Banyak yang bertanya, bagaimana saya, I mean, kami, bisa sebegitu yakin dan percaya diri untuk memutuskan berkomitmen dalam kurun waktu yang ya bisa dibilang cukup dini. Ketika ditanya saya cuman bisa tersenyum, dan biasanya saya akan bilang “Yaa kamu bakal ngerasain sendiri deh nanti, ketika orang yang tepat itu hadir, kamu bakal yakin aja, tanpa perlu mempertanyakan apa-apa.” Bagian menemukan orang tepatnya benar, walaupun nggak sesimpel itu.
Memutuskan berkomitmen dengan seseorang berarti juga harus siap mengkomunikasikan hal-hal sulit satu sama lain, berbagi hidup dan berjuang dibawah tujuan yang sama, dan yang paling berat, memutuskan masa depan bersama, jalan mana yang akan ditempuh dan yang tidak, resiko-resiko apa yang akan diambil atau justru dihindari, belajar berkompromi untuk sesuatu yang mungkin lebih mudah jika diputuskan sendiri.
Tentang menemukan dan ditemukan, menurut saya adalah suatu hal yang komperhensif sih. Kadang, kita bertemu seseorang yang tepat di waktu yang salah, atau lain waktu justru bertemu orang yang salah disaat yang tepat. Dan untuk menemukan orang yang tepat di waktu yang tepat itu.. once in a lifetime sih, bukan sesuatu yang bisa dibiarkan lewat begitu saja. Butuh lebih dari kebetulan dan konspirasi semesta untuk bisa saling menemukan sesuatu yang kita sebut cinta sejati.
Kalau diingat-ingat kami berdua pun masih sering amazed dan ketawa-ketawa sendiri, bahwa saya dan mas Wisnu pertama kenal hanya dari sebuah aplikasi sosial media yang identik dengan “jomblo kronik yang nggak laku banget” bernama tinder. Awalnya saya download aplikasi itu karena disarankan oleh teman yang kebetulan udah bosen banget melihat saya galau dan mendengarkan curhatan saya tentang mantan. Begitu juga mas Wisnu, yang download aplikasi itu karena nganggur aja. Intinya kami berdua sebenarnya nggak berniat untuk benar-benar mencari jodoh dan cuman berlandaskan iseng. Setelah kenal lewat chat pun, saya yang saat itu kebetulan sedang sibuk-sibuknya di organisasi karena baru terpilih, agak sedikit mengabaikan chat dari mas Wisnu dan I don’t take it seriously. Tapi karena memang mungkin yaa sudah jalannya, akhirnya kami ketemuan dan it was so so. Singkat cerita semenjak itu kami makin dekat dan meresmikan status pacaran. Disana saya masih merasa bahwa hubungan ini adalah hubungan yang yaa having fun sekedar karena nyaman sama nyaman dan kebetulan kami memang sangat cocok dalam beberapa hal. Ya mungkin dilatarbelakangi oleh riwayat sejarah percintaan saya di masa lalu yang agak pedih sehingga saya jadi takut untuk berhubungan serius lagi dengan orang baru, saya bahkan ketika itu saya bilang “Mas, kita jalani aja yang sekarang ya, nggak usah terlalu mikirin yang jauh kedepan, yaa kita having fun aja lah pokonya.”, dan saya ingat betul beliau hanya diam sambil manggut-manggut tanpa berkomentar apapun.
Singkat cerita hubungan kami berjalan mulus-mulus saja sampai suatu hari saya harus menempuh ujian skripsi yang ketika itu sangat hectic dan sangat banyak cobaannya lah intinya, dan disitu saya sebagai sosok yang biasanya ceria dan bersemangat berubah jadi monster yang sangat tempramen, dikit-dikit marah, dikit-dikit nangis, dikit-dikit tersinggung. Disitu saya baru sadar bahwa beliau benar-benar “berbeda”. Sosok seseorang yang bisa menghandle attitude buruk saya disaat panik dan tertekan, seseorang yang bisa menghadapi emosi meledak-ledak saya dengan tenang, seseorang yang bisa menyeka air mata kekanak-kanakan saya dengan kesabaran. At that point, saya benar-benar merasa menemukan seseorang yang bisa melengkapi saya, ya secara fisik, pemikiran dan perasaan.
Pertamakali mas Wisnu saya ajak kerumah untuk dikenalkan kepada Ibu dan kakak saya, dengan penampilan yang sangat biasa dan nggak terlalu banyak bicara, anehnya setelah itu Ibu saya untuk pertamakalinya langsung meng-acc dan bilang “Yo ngene iki baru cocok dadi mantuku.” (ya inideh baru cocok jadi mantu Ibu)
Dan masih banyak lagi hal-hal amazing yang beliau bawa pada kehidupan saya yang dulunya galau gundah gulana susah moveon, menjadi lupa gimana caranya galau. Beberapa waktu setelah saya menyelesaikan ujian kompre di bulan januari, saya ingat betul beliau bertanya, “Sayang kamu pengen aku yudisium kapan, februari atau maret?” dan waktu itu saya jawab “Lho ya februari aja toh ngapain lama-lama?”. Sebenernya waktu itu saya cuman asal jawab dan saya nggak menyangka keinginan saya itu, alhamdulillah, benar-benar diwujudkan. Kali lainnya ketika iseng bilang “Eh, kalo bisa kamu wisudanya sebelum aku yah. Jadi ntar pendamping wisudaku udah STP gitu hehehe”, dan waktu itu beliau cuman bilang “Ya, insya Allah yaa..”, daaaaaan alhamdulillah keturutan lagi beliau wisuda satu bulan sebelum saya. Satu poin pentingnya adalah, real man always kept their promises. Laki-laki yang baik akan selalu berusaha menepati apa yang dia bilang. Nggak ada bukti cinta yang lebih nyata daripada seseorang yang akan bangun lebih pagi dan tidur lebih larut, bekerja lebih keras demi mempercepat langkahnya untuk menghalalkan kamu. Jadi ketika beliau berjanji akan menyegerakan, nggak ada alasan bagi saya untuk tidak percaya.
Kalau saya bilang, yang terpenting adalah menghebatkan diri, bukan sekedar memantaskan. Kalau memantaskan, mungkin ala kadarnya pun bisa pantas-bagi yang ala kadarnya juga. Tapi menghebatkan berarti kesiapan untuk menempa diri sedemikian keras supaya pantas mendampingi orang yang hebat juga.
Dan pesan saya adalah, bersiaplah. Karena cinta nggak melulu seindah taman bunga, cinta juga berarti amanah, dan tidak pernah ada amanah yang mudah. Karena cinta tidak akan sesimpel drama korea yang bisa ditebak endingnya dan selalu berakhir bahagia. Karena harus ada zona comfort-zona comfort yang harus dengan ikhlas ditinggalkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena, akan ada hal-hal yang harus dikorbankan.
Tapi intinya, what I am saying is, jangan takut berkomitmen. Komitmen itu bukan penjara, komitmen itu ibarat marka jalan, yang menjaga kita tetap di jalur yang benar.
18 Maret 2017, H+seminggu, dengan penuh syukur dan terimakasih.