Dalam hidup ini, ada perkara yang hanya mampu dikenang, tapi tidak mampu diulang. Seperti ramadan ini, yang bakal pergi dan kembali dirindui. :( *Semoga ibadah kita semua diterima-Nya. Insya-Allah.
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from Yemen
seen from United States
seen from Japan
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from Russia
seen from Russia
seen from Mexico

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Canada
seen from Malaysia
Dalam hidup ini, ada perkara yang hanya mampu dikenang, tapi tidak mampu diulang. Seperti ramadan ini, yang bakal pergi dan kembali dirindui. :( *Semoga ibadah kita semua diterima-Nya. Insya-Allah.
TIADA PERUBAHAN
"Bagaimana menurutmu, jika ada orang yang mandi tapi ia tetap tidak wangi?" "Berarti dia tidak mandi dengan benar. Mandi kan biar wangi" "ok. Lalu, bagaimana menurutmu, jika ada orang yang makan tapi ia tetap tidak kenyang?" "Berarti dia tidak makan dengan benar. Makan kan biar kenyang" "ok. Lalu, bagaimana menurutmu, jika ada orang yang masuk sekolah, tapi ia tetap tidak paham" "Berarti dia tidak sekolah dengan benar. Sekolah kan biar paham." "ok. Lalu, bagaimana menurutmu, jika ada orang yang menjalani ramadhan, tapi setelahnya, perilakunya tetap sama dengan sebelum ia ramadhan?" "Bukankah tanpa kujawab, kau sudah mengerti aku akan menjawab apa?" --- Semoga kita adalah manusia yang berubah, ke arah yang lebih baik. TIADA PERUBAHAN Bandung, 23 Mei 2017
Akan sampai pada masa dimana kamu tidak lagi peduli apa kata orang lain, bukan karena keras kepala, melainkan karena kamu mulai paham bahwa setiap orang punya hak untuk berpendapat dan tidak semua pendapat orang lain harus kamu setujui.
@merebahriuh - c’s
147 / 365.
19 Ramadhan: Yakin
Entah seremuk apa hati Ibrahim ketika Allah memberinya suatu perintah yang begitu berat untuk dilaksanakan. Ia diharuskan untuk menyembelih putranya tercinta yaitu Ismail. Memorinya berkelana ke hari dimana Ismail terlahir ke dunia. Kemudian teringatlah ia saat meninggalkan Ismail kecil beserta ibunya di padang batu yang tandus. Dan kini setelah ia bisa berkumpul kembali dengannya, Allah hendak memisahkan mereka sekali lagi. Bukan dengan mengasingkannya lagi di tempat terpencil, tapi dengan menyembelihnya menggunakan tangannya sendiri.
Entah logika macam apa yang tertalar pada Nuh ketika Allah mengabarkan suatu hal yang begitu mengejutkan. Tak lama lagi, banjir bandang akan segera datang dan tak ada satupun yang akan selamat. Tapi, Allah memerintahkan Nuh untuk membuat sebuah kapal yang nantinya dapat mengangkut kaumnya yang beriman juga berpasang-pasang hewan. Ingin sekali ia turut serta membawa istri dan anaknya. Namun, hidayah itu belum kunjung menyapa hati-hati mereka yang masih sekeras batu.
Entah datang dari mana keberanian Musa tatkala Allah menyuruhnya untuk menyampaikan kebenaran. Ia sadar betul atas banyak kekurangan yang dimiliki. Statusnya yang pernah menjadi buronan karena tidak sengaja pembunuh pengawal kerajaan Mesir. Lisannya yang gagu sehingga tidak lincah dalam bertutur. Lalu ia harus menghadapkan dirinya pada Fir'aun yang mengaku-mengaku menjadi Tuhan. Namun bagaimanapun Fir’aun juga adalah ayah angkat yang telah membesarkannya dulu.
Walaupun setan menghasutnya sepanjang jalan, Ibrahim membalas mereka dengan lemparan batu-batu kerikil. Walaupun air bah itu nampaknya tak kunjung datang, Nuh tetap tekun menyelesaikan pengerjaan kapal. Walaupun ia tak mempercayai kemampuan dirinya sendiri, Musa tetap bersikap lemah lembut terhadap Fir'aun.
Kita tahu apa akhir cerita dari masing-masing kisah tersebut. Ibrahim menyembelih seekor domba yang dipertukarkan posisinya dengan Ismail. Nuh beserta kaumnya yang beriman terselamatkan dari banjir berkat kapal yang mereka bangun. Musa dapat menyeberangi Laut merah sedangkan Fir'aun dibinasakan. Maka bergembiralah mereka yang yakin. Mereka kan memetik buah yang rasanya begitu manis. Tak akan pernah kecewa orang-orang yang berharap hanya pada Yang Maha Menepati Janji.
Benang merah dari ketiga cerita tersebut adalah keyakinan seorang hamba akan Rabbnya yang begitu besar. Keyakinan bahwa mereka tidak diperintahkan untuk melakukan suatu hal yang sia-sia. Keyakinan bahwa akan ada pertolongan dari Yang Maha Mengatur. Keyakinan ini akhirnya melahirkan kepasrahan menggantungkan diri pada Pemilik Segala Daya Upaya. Tentu ada beribu tanya yang menggelayuti kalbu. Tapi mereka tetap memilih untuk mempercayai apa yang Allah titahkan.
Cobaan yang menimpa kita pastilah hanya seujung kuku saja dari apa-apa yang harus para kekasih Allah hadapi. Tentu saja itu juga karena kapasitas iman kita yang hanya sepersekian jengkal saja dari iman di dada mereka yang bergolak-golak laksana api yang berkobar. Tapi kita dapat meneladani kuatnya iman mereka pada satu-satunya Illah yang pantas untuk disembah.
Adanya rasa takut, ragu ataupun cemas adalah hal yang sangat wajar. Tapi, jangan sampai perasaan itu membuat langkah kita surut untuk mentaati-Nya. Karena Allah tak pernah berniat untuk menyusahkan hamba-Nya. Kita hanya diharuskan untuk mengambil keputusan. Memilih cinta dari makhluk atau Pencipta Makhluk. Mengimani logika manusia atau Yang Maha Berilmu. Menakuti penguasa kerajaan atau Penguasa Langit dan Bumi.
Lagi-lagi, ketiga lelaki mulia ini memberikan contoh pada kita dalam menangkis kekalutan. Kita bisa seperti Ibrahim yang menutup mata ketika hendak menyembelih Ismail. Kita bisa seperti Nuh yang menulikan telinga dari cemoohan orang yang tidak beriman. Atau kita bisa seperti Musa yang menebalkan tekad untuk menghadapi sang tiran.
*gambar dari sini
Bandung, 19 Ramadhan 1438 H
Guten Morgen 🌤 Lompat indah di antara ke dalaman 8m / 10m dekat dengan pusaran air. Don't try this At home 🌊🏊 #iPhonevideography #selamatpagi #SloMo #iPhonesia #Lebaran #iMovie #idulfitri1438H #Ramadhan1438H #extreme #extremerules #travel #backpacker #mountain #jungle #forest #CariSinyal #gunungbunder #bogor #shootoniPhone5s #Bestoftheday #afterlight #bestofme #vsco #vscocam #instadaily #instagrammers #goodmorning #indonesia #shortmovie (at Curug Goa Lumut (curug Gentong))
Bagiku tweet di atas tidak hanya sindiran kepada teman yang muncul hanya pada saat ada perlu. Bagiku ada sindiran yang lebih mengena dari tweet di atas. Yaitu sindiran kepada orang-orang yang mengingat Allah hanya saat mereka butuh.
Orang-orang seperti itu, saat sedang senang, lupa bersyukur, lupa untuk beribadah. Namun jika sedang menghadapi kesulitan, seperti sedang ujian, hendak sidang skripsi, atau mendapatkan pekerjaan yang rumit, barulah kita kembali mengingat-Nya. Tidak perlu menunggu ada yang mengingatkan untuk salat dan berdoa, kaki mereka seakan ringan untuk berwudhu lalu bersujud. Ketika sedang menginginkan sesuatu dengan sangat, apakah itu pencapaian pribadi atau jodoh, tangan mereka dengan mudah terangkat lalu berdoa kepada-Nya. Apakah kita termasuk orang-orang seperti itu? Semoga tidak.
Di bulan Ramadhan ini, adalah kesempatan yang sangat tepat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Setiap salat yang dilakukan, serta setiap doa yang dilantunkan, jadikanlah ibarat makanan pokok dan air yang dikonsumsi sehari-hari untuk bertahan hidup, bukan malah menjadi obat yang hanya dikonsumsi saat sedang sakit.
Hasil akhir marble marmer cake resep teh Susiana Flo dari @kudiels. Alhamdulillah yaa bikin kue. Padahal hobi saya mah eating bukan baking 😁. Ngomongin soal hobi atau kesukaan yang jadi kebiasaan. Ada satu kisah dimana seorang ibu bertanya kepada seorang ustadz, "wahai ustadz, kenapa ada orang yang sukanya nyinyir terus, kadang omongannya membuat sakit hati." lalu ustadz itu bertanya. "Ibu suka sambal?" si ibu mengangguk "apa sambal selalu tersedia tiap kali ibu menghidangkan makanan?." tanya sang ustadz lagi. Ibu itu mengangguk sambil heran memikirkan apa hubungannya sambal dengan pertanyaannya. " bisa jadi ibu selalu menghidangkan sambal karena mungkin hanya itu yang ada dan sudah jadi kebiasaan di keluarga ibu untuk menyediakan sambal" ibu itu mengangguk lagi. "Ibu, inilah pentingnya kita membiasakan diri dengan kebiasaan yang baik. Jika seseorang selalu nyinyir dan berbicara tanpa sadar menyakiti orang lain bisa jadi memang yang ada dalam dirinya hanya itu, sambal. Padahal masih banyak kan makanan lain yang bisa disajikan" ucap sang ustadz sambil tersenyum. Ibu itu mulai mengerti, manusia nanti akan diwafatkan dengan kebiasaannya. Amat sangat rugi jika kebiasaan manusia tersebut adalah melakukan kemaksiatan-kemaksiatan kecil yang mengikis pahala. Hampir sama dengan adonan kue jika kurang takaran bisa jadi hasil kuenya ga enak. Kita pun demikian jika kita kurang takaran dalam bersyukur bisa jadi hidup kita tak pernah bersyukur yang dilihat hanya kesedihan dan kemalangan. Orang yang banyak nyinyir juga bisa jadi adalah orang yang gak bersyukur. #30daysramadhanwriting #ramadhan1438H #ramadhanku
'Mata' kita harus seimbang. Melihat ke atas dan ke bawah jangan berat sebelah. Biar merasa cukup. Biar bersyukur kan?
@merebahriuh - c’s
158 / 365.