بــسم اللّه الرّحمـٰن الرّحيم..

titsay
ojovivo
$LAYYYTER
Today's Document
Alisa U Zemlji Chuda
sheepfilms

Product Placement
h
todays bird
we're not kids anymore.
hello vonnie
I'd rather be in outer space 🛸
Peter Solarz
NASA
will byers stan first human second

roma★
Sweet Seals For You, Always

izzy's playlists!
Keni
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
seen from United States
seen from Sweden
seen from Netherlands
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from India
seen from United States

seen from France

seen from Belgium

seen from United States

seen from Indonesia

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Germany

seen from China

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
@fthhz13
بــسم اللّه الرّحمـٰن الرّحيم..
Sebuah Perjalanan:
Memahami arti sebuah "Kegagalan" (Bag 3)
Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu kesempatan di tahun depan sambil menguatkan apa yang sudah didapat di pondok pesantren, utamanya hafalan al Qur'an.
Aku mulai mencari informasi tentang Karantina al Qur'an. Dan Alhamdulillah tak lama setelah itu, aku mendapat informasi bahwa telah dibuka pendaftaran karantina tahfidz al Qur'an selama 6 bulan. "Wah cocok nih sambil menunggu seleksi ke Mesir di tahun depan." Pikirku begitu.
Tak panjang berfikir, aku langsung menghubungi kontak yang ada di pamflet, dan langsung mendaftar.
Waktu bergulir, hari seleksi pun tiba. Aku dan kawanku yang juga mendaftar, siap-siap berangkat menuju tempat seleksi.
***
Bandung, kota yang indah bagiku, dan nanti akan menjadi tempat yang mungkin paling berkesan didalam kehidupan ku.
Sore hari, aku dan kawanku sudah sampai di tempat seleksi. Ternyata tidak sedikit yang akan mengikuti seleksi esok pagi, yang membuat aku jadi agak sedikit kurang percaya diri waktu itu. Ditambah lagi jumlah yang akan diambil hanyalah 6 orang Ikhwan dan 6 orang akhwat. "Ya Allah, aku memohon keputusan Mu yang terbaik." Pintaku dalam hati.
Hari pun berganti. Waktu shubuh masih sekitar 1 jam lagi. Sudah banyak yg bangun dan melaksanakan shalat tahajjud, memanjatkan doa demi kelancaran pagi hari nanti. Maasya Allah, doa mereka nampak sangat khusyuk. Entah siapa yang esok hari akan terpilih. Semoga Allah berikan yang terbaik.
Bersambung..
Bus 80. Darrasah - Hay 'Asyir.
Sebuah Perjalanan: Memahami arti sebuah “Kegagalan” (Bag 2)
Pagi itu aku bersiap-siap berangkat ke tempat seleksi itu diadakan. Tidak jauh dari rumah, karena malamnya aku menginap di kos-an saudaraku yang juga kuliah di sekitar situ.
Sepagi itu, ibukota sudah ramai. Ada yang berangkat sekolah, kuliah, kerja, atau mencari kerja, dll.
Aku sudah sampai tempat seleksi. Disana sudah ramai dipenuhi orang-orang yang juga memiliki tujuan yang sama, ingin kuliah di timur tengah. Tinggal menunggu menit, waktu seleksi akan segera dimulai.
Seleksipun dimulai, aku mengerjakan soal dan menjawab wancara sebisa dan semampuku.
Hari seleksi pun selesai. Segala usaha sudah dikerjakan, sisanya hanya tinggal tawakkal.
Tahap selanjutnya aku menunggu hasil seleksi yang berselang tidak lama dari waktu seleksi.
Hari bergulir sambil terus berdoa, berharap cemas agar diberikan hasil yang terbaik. Hingga pada waktunya, hasil seleksi pun keluar.
Satu persatu aku lihat nama yang lolos seleksi dan bisa berangkat melanjutkan studi ke Mesir. Aku lihat pertama kali, namaku tidak ada. Aku lihat lagi, barangkali mataku tidak teliti, ternyata tidak ada juga, sampai kesekian kalinya aku baca hasil pengumuman itu, ternyata hasilnya sama. Namaku tidak ada.
Aku menarik nafas panjang sambil memejamkan mata. Ada rasa kecewa disitu. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa aku memang kurang dari segi persiapan. Jadi wajar saja kalau hasilnya aku tidak lolos seleksi.
Namun muncul persoalan baru. Setelah itu, akupun tak tahu mau kemana, karena aku cuma ingin kuliah di Mesir, hanya mendaftar kesitu.
Hingga pada akhirnya…
Bersambung..
Sebuah Deklarasi
Manusia berkembang dan berubah sesuai dengan apa yang ia lihat dan ia baca. Jika yang ia lihat dan baca adalah hal yang baik, maka perubahan itu akan menjadi baik, dan sebaliknya, jika yang ia lihat dan ia baca adalah hal yang tidak baik, maka perubahan itu juga akan menuju ke arah yang tidak baik.
Maka untuk mengawal kebaikan itu agar terus bertahan dan bertumbuh. Salah satu caranya adalah dengan menulis hal-hal yang baik lagi bermanfaat. Bisa dengan menulis cerpen, penggalan hikmah, sejarah, dll.
Tentu saja untuk bisa menulis secara istiqomah, dibutuhkan latihan dan terus latihan. Dan salah satu cara juga untuk bisa istiqomah, adalah mempunyai program, lingkungan yang baik dan mendukung.
Alhamdulillah, dengan hadirnya program 30 Days Writing Chalenge ini, menjadi salah satu solusi bagi mereka yang ingin bisa bermanfaat lewat tulisan dan juga untuk melatih keistiqomahan dalam menulis. dengan bimbingan dari mentor yang berpengalaman dan lingkungan yang mendukung.
Dan bagiku, ini adalah kedua kalinya mengikuti program 30DWC ini. dengan penuh harap dan usaha, semoga pada 30DWC julid 33 ini, aku bisa husnul khatimah sampai akhir. Bismillah.
Sebuah perjalanan:
Memahami arti sebuah “Kegagalan” (Bag 1)
“Barangkali kegagalanmu hari ini, akan menjadi kesyukuranmu di masa yang mendatang.”
Setelah lulus SMP tahun 2013, aku melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren yang fokus di bidang Tahfidz al Qur’an.
2016, adalah tahun terakhir aku belajar di pondok itu. Dan ditahun yang sama, aku juga mengikuti ujian penyetaraan di tingkat SMA/sederajat dengan maksud ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Berbagai macam informasi aku cari tentang perkuliahan, meminta saran dari orang tua dan guru, sekiranya perkuliahan apa yang cocok dengan orang seperti aku. Hingga pada akhirnya, atas saran dan keinginan pribadi, aku memutuskan untuk memilih satu tujuan, aku ingin kuliah di Universitas al Azhar, Mesir, Negeri Para Nabi. Negeri Para Qurra’.
Berbagai informasi aku cari tentang pendaftaran dan seleksi untuk bisa kuliah disana. Dan Alhamdulillah, Informasi itu sudah terkumpul. Dengan penuh harap dan doa, aku mendaftar untuk bisa mengikuti seleksi untuk kuliah di Mesir yang diadakan oleh Kemenag.
Berjalan waktu, jadwal seleksi sudah diumumkan oleh Kemenag. Aku sempat kaget, ternyata aku tidak punya waktu banyak. Waktu aku mendaftar dan jadwal seleksi, bagiku hanya sedikit.
Hari-hari setelah itu aku jalani dengan persiapan, tumpukan contoh soal berbahasa arab sudah penuh memenuhi meja belajarku. Aku baca satu persatu soal yang ada, terkadang aku merasa bimbang. Bukan karena aku ragu ingin kuliah di Mesir, tapi aku sadar, pemahaman Bahasa Arab aku sangatlah minim, sedangkan waktu seleksi hanya tinggal beberapa hari lagi. Berbekal do’a dan usaha, aku mencoba bangkit dengan menjalani hari-hari persiapan itu dengan perasaan optimis.
Waktu terasa begitu cepat. Hari seleksi itupun tiba.
Besambung..
Bahasa Cinta (1)
Shalat shubuh tadi, Sang Imam membacakan kisah Nabi Syuaib; ketika Beliau mengajak kaumnya untuk menyembah Allah Ta’ala dan berbuat adil dalam bermuamalah.
“Waila Madyana akhaayum Syu’aiba…” Kata perkata dibacakan Sang Imam. Shadaqallahul ‘adzim, shadaqallahul ‘adzim. begitu indah setiap diksi dari Firman Nya; menggambarkan betapa cintanya Nabi Syu’aib kepada kaumnya, Kaum Madyan.
Sampai ketika Nabi Syu’aib mengatakan, setelah mengajak kaumnya untuk menyembah Allah dan berbuat adil, “Dan sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan.” Kemudian, di 4 ayat setelahnya, “..Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup..”
Masyaa Allah. Bahasa cinta yang tulus. Bahasa cinta yang tidak hanya menjanjikan kesenangan duniawi, melainkan juga keselamatan ukhrawi. Bahasa cinta yang sesungguhnya.
Namun sangat disayangkan, bahasa cinta yang disampaikan Nabi Syu’aib. Bukan hanya tak terbalaskan, tapi bahkan didustakan. Kecintaan kaumnya kepada dunia, telah membukan hati mereka dari menerima kebenaran.
--------------
Memang selalu begini jalan dakwah. Bahasa cinta yang disampaiakan, tak melulu menerima balasan yang sama. Bahkan tak jarang dibalas dengan cercaan dan hinaan, bahkan sampai disakiti, dan tidak sedikit sampai dibunuh.
Jalan dakwah; adalah jalan yang sunyi dari sorak sorai penghargaan dan ucapan terimakasih; jalan para pecinta yang belum tentu dibalas cinta. Jalan dakwah, adalah jalan cinta para pejuang.
“Kualitas seseorang diukur dari kebaikan atau keburukan yang dilakukannya, bukan kebaikan atau keburukan yng diterimanya.” Pesan seorang ustadz tempo hari.
Cairo, 16 Rajab 1442.
Bekal daripada tujuan
Setiap apa yang kita sebut sebagai tujuan, disitu ada langkah-langkah yang perlu difahami dan dijalani. Dua hal yang semestinya berjalan beriringan satu sama lain. Karena jika faham saja tanpa dijalani, mana mungkin akan sampai?. Dan juga jika jalan saja tanpa terlebih dulu memahami, maka ia ibarat berjalan dengan menutup mata, di tengah malam yang gelap gulita, sambil berjalan kearah jurang yang nestapa.
Mustahil tujuan itu akan sampai, jika sebelumnya tidak mempersiapkan langkah yang kelak dilewati.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, Ketika kita membeli suatu barang. Maka tentu sebelum memakai suatu barang tersebut, kita terlebih dahulu perlu memahami cara pemakaian barang tersebut. Dengan mengikuti segala petunjuk cara pemakaiannya, maka barang tersebut akan bermanfaat sesuai kegunaannya. Dan sebaliknya, kalau sampai kita tidak memahami cara pemakain barang tersebut, maka mustahil akan mendapat manfaat dari barang tersebut.
Kehidupan ini bukanlah undian. Bukan juga tergantung dari dadu yang kita lemparkan lalu hasilnya dipilih sebagai jalan. Kehidupan ini adalah bagaimana kita memahami pedoman, agar setiap langkah dalam berjalan, ia sesuai dengan tuntunan.
Manusia tidak diciptakan begitu saja tanpa diberikan petunjuk. Maka dari itu, daripada tugas kita adalah mencari, memahami dan melangkah sesuai petunjuk tersebut. Agar dengan petunjuk itulah, kita tertuntun menuju jalan keselamatan.
Dan ada kenikmatan yang besar didepan sana. Ada istirahat yang panjang lagi menyenangkan. Segala kenikmatan ada didalamnya. Dan ditujukan kepada siapa saja yang memahami kemudian menjalani fase kehidupan sekarang ini sesuai dengan pedoman yang ditetapkan.
Memahami tujuan
Kehidupan kita didunia, terbatas oleh waktu. Manusia, datang dan pergi silih berganti. Datang dengan suka cita, dan pergi menyisakan duka cita. Semua itu diperlihatkan, agar siapa saja yang menyaksikan faham, bahwa hidup ini memiliki batas akhir. Kematian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap insan. Siapaun ia, Semuanya pasti akan pulang.
Dan setelah pulang, ada pertanggungjawaban atas segala perbuatan selama didunia. Balasan yang baik dan bertambah bagi siapa yang mengambil jalan yang benar, kemudian berbuat baik. Dan balasan yang yang setimpal, bagi siapa yang tidak mengambil jalan yang benar, dan memilih jalan yang lain.
Oleh karenanya, kita yang semakin layu dan kehabisan waktu. Ada saatnya perlu mengambil jeda, untuk sekali lagi merenungi dan menguliti kembali segala perbuatan selama ini. memperbaharui lagi niat yang mungkin sedang tidak lurus, agar segala tindakan kedepan, bernilai dan berarti.
Bersyukur atas segala kebaikan, dengan menjaganya, dan menambah lagi dengan kebaikan yang lainnya. Memperbaiki lagi segala yang kurang baik, dan mengurangi segala yang sia-sia.
Bersabar dan tegarlah. Ketika merasa lemah dan tidak berarti, ingatlah kembali, bahwa kita diciptakan tidak dengan sia-sia. Ada maksud dan tujuan yang perlu dicari dan diimani.
----------------------------------------------------
Merenungi firman-Nya:
أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?.” (Al-Mu'minun: 115)
Cairo, 13-12-2020
Dunia berkembang begitu pesat, berbagai macam ilmu kian hari kian berkembang. Dan salah satu cara untuk mendapatkan ilmu itu sendiri adalah dengan membaca.
Manusia berubah salah satunya karena apa yang ia baca, kalau apa yang dibaca adalah baik, maik baik pula perubahan itu, dan sebaliknya, kalau apa yang dibaca adalah hal yang kurang baik, maka perubahan itu biasanya tidak jauh dari apa yang dibaca. Oleh sebabnya, mengapa perlu menulis? Karena untuk berbagi tulisan-tulisan yang baik untuk orang sekitar dan generasi selanjutnya, agar perubahan disekitar dan generasi selanjutnya, adalah perubahan yang baik.
Dan menulis hal yang baik adalah salah satu investasi terbaik, yang keuntungannya juga akan didapatkan si penulis ketika ia sudah meninggalkan dunia. Ilmu yang bermanfaat, adalah manfaat tiada putus.
Maka dengan mengikuti 30DWC ini, adalah salah satu usaha agar dapat berketerusan belajar menulis hal yang baik, yang manfaatnya bagi diri sendiri, kemudian bagi orang lain. Dan juga untuk belajar mengolah kata dengan baik, yang mana tidak ada cara lain kecuali latihan, latihan, dan latihan. Dan yang special di 30DWC ini, saya tidak melakukannya sendiri, tapi disitu ada kawan-kawan yang semangat dan menyemangati satu sama lain, yang juga mempunyai satu jalan yang sama. Ingin menulis.
Semoga senantiasa dimudahkan, dibimbing agar hati dan akal dapat menghasilkan tulisan yang baik dan dengan cara yang baik.
#Day1
#30DWC
#30dwcjilid27
#deklarasi30dwc27
"Takdir pertemuan itu unik dan ajaib, seringnya ia datang dari arah yang kamu tidak pernah tahu. Bahkan mereka yang sudah bersama-sama mempersiapkan justru harus terpisah oleh takdir. Ada yang dipertemukan lewat teman atau hanya berpapasan di jalan. Kedekatanmu dengan manusia bukanlah jaminan bersama, tapi kedekatanmu dengan Allah akan menjadikanmu mudah menerima ia yang datang, meski ia asing untukmu."
Shubuh kali ini bersahutan antara adzan dan gerimis, antara mereka yang masih tertidur dan mereka yang bangun dan bergegas menuju Tuhannya.
Mereka yakin bahwa ada yang musti diperjuangkan lewat doa dan ibadah. Meyakini bahwa pertemuan itu sudah ada yang mengatur, bagaimana pun jalan dan caranya.
Seperti shubuh dan gerimis, pertemuan keduanya menjadikan doa tiada halang dan mudah untuk dikabulkan.
Untukmu yang sedang menanti, semoga Allah segera memberi.
@jndmmsyhd
“Tidak ada waktu yang paling menenangkan daripada waktu berdua dengan-Mu, tidak malu untuk meneteskan air mata kesedihan dan tidak ada ragu untuk mengungkapkan rasa yang selama ini tertahan.”
—
Waktu yang semua orang terlelap tidur, ada yang dengan mudahnya bangun dan menghamparkan sajadahnya. Ia memaksakan dirinya untuk mengadu disaat hati dan jiwanya sedang berperang, ia sadar bahwa harus ada yang menenangkannya.
Kepada seseorang yang ia sedang berusaha menjemputnya, sudah cukup baginya untuk sekedar berusaha bertemu denganmu dari untaian doa, ia tidak terlalu berharap diterima dan juga tidak akan kecewa jika tertolak. Baginya sudah bisa mengungkapkan pada langit saja adalah hal perjuangan yang paling berarti.
Malam adalah waktu yang paling ia tunggu, secepat ia tertidur dan secepat itu pula ia terbangun untuk berbicara pada Tuhannya, menceritakan bagaimana beratnya hari ini dan bagaimana harapannya selama ini. Bermuara pada doa semoga segala kebaikan akan selalu bersamanya.
@jndmmsyhd
“Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah robekan yang tidak mungkin dapat dijahit kecuali dengan mengadap penuh kepada Allah.
Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah
Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang yang tidak akan mampu diseka kecuali dengan kebahagian yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya.
Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun kepada Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah.
Di dalam hati juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya.”
-Ibnul Qayyim Rahimahullah-
Biasakan untuk biasa saja.
Yang terberat itu bukan bagaimana mendapatkan sesuatu, tapi yang terberat itu melepas sesuatu yang bukan milik kita tapi kita merasa memiliki seutuhnya, seperti barang, jabatan, pekerjaan dan apapun yang sekarang sedang ada padamu. Gampang kok bagi Allah buat bikin semua tadi hilang. Gunain buat kebaikan, mumpung masih Allah titipi.
Jangan mencintai terlalu dalam, karena saat ia hilang kamu pasti akan sangat sakit hati. Tanamkan dalam jiwa bahwa semuanya ini akan ada masa pisahnya, tanpa pemberitahuan atau permisi. Mereka yang berat melepas, adalah mereka yang terlalu menggenggam cintanya, padahal soal hati itu tidak ada yang pasti, yang pasti hati itu selalu bergejolak dan berubah-ubah rasanya. Dan semua yang berlebihan, sudah pasti tidak baik.
Biasakan untuk biasa saja, biasakan merasa bahwa semuanya titipan, biasakan untuk menerima.
@jndmmsyhd
Tenanglah, terangnya fajar shubuh akan datang saat pekatnya malam terlewati. Bahwa kesabaran melewati perjuangan hidup akan berujung pada kemenangan. Tidak semua orang bisa mengesampingkan ego, tidak semua orang juga bisa menahan marahnya. Semoga aku, kamu, dan kita mendapat predikat sabar hingga kemenangan menghampiri. Sebab ada sebuah kebaikan dibalik sabar dan diam.
Ukhuwah
.
"Ukhuwah itu satu janji dalam hati. Tidak dapat Ditulis, tidak dapat Dibaca. Tidak Seorangpun yang tahu. Juga, tidak Berubah oleh masa. Sekejap Dimata, selamanya Dijiwa."
.
3 Agustus 2016 - 3 Agustus 2020
.
#KTQ1 #IAC
Mentadabburi kisah nabi Ibrahim (2/3)
.
Kecintaan Allah ta’ala selalu berbanding lurus dengan ujian yang diberikan.
.
Pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika ia mendapati pertentangan nabi Ibrahim dengan ayahnya sendiri, bukan hanya seseorang yang berlawanan keimanan dengan Ibrahim, tapi justru ayahnyalah yang menjadi produsen dari sebuah produk yang diingkari oleh nabi Ibrahim. Ayahnya lah yang membuat patung-patung untuk kemudian disembah oleh masyarakat babilonia saat itu.
Disinilah kita mendapati, bahwa orang yang beriman itu pasti mendapatkan ujian. Bahkan kadang, ujian itu datang dari cirlce terdekatnya. Ujian itu datang dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Kita dapati, bahwa beberapa nabi, rasul dan orang-orang shaleh, yang harusnya mereka adalah keluarga yang ideal dalam beragama, tapi justru mereka mendapati ujian dari keluarganya sendiri. Ada nabi nuh yang diuji dengan anak-anknya. Ada nabi luth yang diuji dengan istrinya. Ada nabi yusuf yang diuji dengan saudara seayahnya. Ada asiyah binti muzahim yang diuji dengan suaminya. Ada nabi Ibrahim yang diuji dengan ayahnya. Dan ada nabi Muhammad shallahu ‘alaii wasallam, yang diuji dengan pamannya, diuji dengan kerabat dekatnya.
Pada kisah nabi Ibrahim, yang diuji dengan ayahnya, kita melihat bagaimana cara nabi Ibrahim berdakwah kepada ayahnya.
Allah abadikan dalam surat maryam, bagaimana komunikasi nabi Ibrahim kepada ayahnya. Perkataan yang dibimbing oleh wahyu. Perkataan yang berkualitas. Bahasa yang dipilih nabi Ibahim, begitu lembut kepada ayahnya. “Wahai ayahku.. kenapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar dan melihat, dan tidak juga dapat menolongmu sedikitpun.” Lalu kemudian nabi Ibrahim mengajak ayahnya kepada jalan kebenaran “Wahai ayahku… telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, maka aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” Ketika nabi Ibrahim mengingatkan kembali kepada ayahnya “Wahai ayahku.. janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.” Lalu kemudian ketika ayahnya sudah mulai sempit dari nasihat yang disampaikan ayahnya. Nabi Ibrahim kebali mengingatkan “Wahai ayahku.. sesungguhnya aku takut engkau tertimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.”
.
Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dengan tuturkata yang lembut dan penuh cinta kepada ayahnya, namun tidaklah nabi Ibrahim mendapati perbaikan diri dari ayahnya. Bahkan justru nabi Ibrahim diusir oleh ayahnya. Tetapi kemudian, tidaklah nabi Ibrahim kemudian mencela ayahnya, tapi justru berkata kepada ayahnya, ketika nabi Ibrahim diancam dan diusir oleh ayahnya “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, ayah. Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku..” Allahuakbar Walillahilhamd. Lihatlah, bagaimana akhlak nabi Ibrahim kepada ayahnya.
.
Dari episode kisah nabi Ibrahim dengan bapaknya, kita bisa mengambil pelajaran. Bahwa ujian dalam menyampaikan kebenaran, itu bisa saja datang dari keluarga terdekat kita. Dan disini kita faham, bahwa ujian setiap manusia itu berbeda, dan bahwa keimanan, tak bisa kita beri kepada orang yang kita cintai. Keimanan, pun tak bisa diwarisi.
Pelajaran selanjutnya, dari kisah nabi Ibrahim dengan ayahnya. Bahwa siapa saja yang hari ini sedang berada pada panggung kebenaran, sudah selayaknya memperlihatkan akhlak yang baik. Tidak gampang mencela saudaranya sendiri. Tidak mudah membid’ahkan saudaranya sendiri. Bahkan tidak mudah mengkafirkan saudara seimannya sendiri, dengan alasan berbeda manhaj atapun berbeda guru. Karena kebenaran tidak harus memperlihatkan mahirnya kita menyampaikan kebenaran tersebut, tidak harus menunjukkan dalil-dalil mahirnya kita berdalil. Kebenaran itu akan sampaikan akan sampai, ketika kita memperlihatkan akhlak yang baik. Walaupun terkadang, kebenaran itu ditolak karena kesombongan.
Pelajaran selanjutnya dari kisah nabi Ibrahim dengan ayahnya. Bahwa berdakwah, mengajak kepada kebenaran, tidaklah harus kita langsung memetik hasilnya dengan cepat. Ada yang berdakwah hari ini, esoknya ia sudah memetik hasil. Ada yang berdakwah hari ini, ia baru dapat memanen hasil setelah bertahun lamanya. Dan ada yang berdakwah hari ini, ia sama sekali tidak mendapat respon yang baik dari kebenaran yang ia sampaikan. Dan itupun, kita dapati dari kisah para nabi dan rasul yang Allah utus, sebelum masa nabi Ibrahim, ataupun setelah masa nabi Ibrahim.
Alhamdulillahirabbil ‘Aalamiin
Wallahu a’lam
.
13 Dzulhijjah 1441
Nasr City
Sang guru sepanjang masa
.
"Antumuu Antum. Kalian semua, ya Kalian semua! Jagalah Al-Qur'an selalu bersama kalian. Jika kalian meninggalkan Al-Qur'an justru kalian sendiri yg akan merasa ditinggalkan. Jika kalian meninggalkan Al-Qur'an akan ada golongan yg menggantikan posisi kalian dan kalian akan menjadi orang yg merugi." Nasihat beliau, رحمه الله تعالى pada malam wisuda KTQ1, 26 Februari 2017.
Tidak banyak momentum kebersamaan kami denganmu. Namun, nasihat dan pesan yang engkau sampaikan, seolah selalu membersamai langkah kehidupan kami.
Engkau juga, seseorang yang menguatkan tekad kami, untuk belajar di negeri para qurra' ini.
.
Dihari kami mendengar kepulanganmu menghadap Allah ta'ala, kami beduka. tekad itu sempat memudar. Namun kami sadar, bahwa cara kami mencintaimu, tidak harus bertemu denganmu kembali, didunia. Tapi, cara kami mencintaimu, adalah dengan menjalankan nasehat dan pesan yang engkau sampaikan kepada kami. Baik melalui lisan ataupun perbuatan.
.
Alhamdulillah, Allah ta'ala memberikan kesempatan kepada kami untuk belajar dinegeri kelahiranmu.
Dan hari kemarin, kami mengunjungimu. Memelukmu kembali, meski hanya lewat do'a.
.
Semoga Allah ta'ala merahmatimu. Mempertemukan kami dan engkau disurga Nya kelak. Mempertemukan kita, dengan para nabi, orang-orang shalih, orang-orang jujur, dan para syuhada.
.
Ismailiyyah, Egypt.
10 Dzulhijjah 1441