Besar di lingkungan yang lebih banyak perempuan dibanding laki-laki, membuatku terbiasa membangun zona nyaman tertentu yang kadangkala terbentur dengan keadaan yang semestinya dihadapi. Salah satunya adalah kejadian di tahun 2014 lalu.
Saat itu, aku adalah mahasiswi tingkat 2 yang bersemangat mencoba hal-hal baru, termasuk kepanitiaan sebagai kakak mentor di kegiatan orientasi mahasiswa baru (maba). Lumrahnya, kalau mau menjadi kakak mentor, kita perlu mencari pasangan mentor terlebih dulu, lalu daftar bersama. Meskipun tidak ada jaminan akan lolos berdua dan ditempatkan di kelompok yang sama, setidaknya sudah ada gambaran karakteristik partner mentor yang diharapkan untuk bersama-sama menjalani peran sebagai 'malaikat' bagi maba-maba yang innocent.
Aku terbuka dengan segala kemungkinan dan seperti biasa menganggap segala hal sederhana saja. Jadilah, aku daftar seorang diri saat itu.
Kombinasi kemungkinan lolos berbeda-beda: ada yang daftar berdua lalu lolos dan dipasangkan dalam satu kelompok yang sama. Ada yang daftar berdua, lolos keduanya tapi tidak berpasangan. Ada yang daftar berdua satu lolos satu tidak, bahkan ada yang tidak lolos keduanya.
Bagaimana jika daftar sendirian? Kalau memang sesuai dengan karakter yang dicari, maka akan tetap diterima. Soal siapa pasangan mentornya, itu urusan nanti.
Singkat cerita, aku daftar dan diterima. Pasangannya siapa? Ternyata senior selisih setahun, namanya Gi.
Aku tidak pernah bertemu Gi di kampus sebelumnya, entah karena aku tidak gaul atau memang beda dunia. Layaknya kampus yang berisi ratusan mahasiswa, ada beberapa kluster yang mewarnai masing-masing individunya. Contohnya, karena mahasiswa A suka nongkrong di kafe (Kantin FE) maka si A dinamai anak kafe. Lain cerita mahasiswa B yang sering ke mushola saat istirahat, biasanya disebut anak mufe (Mushola FE). Dan begitulah kami, sepasang mentor gabungan anak kafe dan mufe.
Aku sempat bertanya ke salah satu koordinator mentor masa itu, sebut saja Di, salah satu teman nongkrong-nya Gi. Konsep gabungan kafe-mufe ternyata sengaja dipilih karena tahun lalu pasangan dengan tipe ini menjadi best mentor. Harapannya, tahun ini pasangan dengan konsep tersebut berhasil lagi, bahkan Di-lah yang langsung memasangkan aku dan Gi.
Secara peta kelompok yang terdiri dari 40 kelompok, kluster kelompok 31-40 itu memang didominasi dengan mentor anak-anak nongkrong, Gi salah satunya. Mungkin bisa dibilang, hanya aku yang 'terlempar' dari zona nyamanku biasanya.
Awalnya, semuanya berjalan cukup baik, sampai akhirnya Gi kesal karena perbedaan pendapat soal pola komunikasi kami ke para mentee. Tidak hanya itu, respon Gi dari setiap perbedaan yang terjadi adalah menghindar, bicara sedikit, menghilang, dan lain sebagainya. Sebagai reaksi dari sikapnya tersebut, alih-alih mendekat dan mencoba memperbaiki lewat komunikasi yang baik, aku lebih memilih fokus pada para mentee yang memang perlu diberikan perhatian lebih dan menganggap semuanya baik-baik saja.
Padahal, tanpa aku sadari, alam bawah sadarku aktif menyimpan memori ini sebagai luka yang harus dihindari di kemudian hari.
Aku menyadari bahwa banyak hal di luar kontrol yang tidak bisa dipaksa untuk dapat sesuai dengan ekspektasi, termasuk orang lain dengan segala sifat dan karakternya.
Aku pun akhirnya menyadari bahwa zona nyamanku yang sebenarnya adalah aku dengan diriku sendiri. Apapun yang bisa aku kerjakan sendiri, selama aku mampu, akan aku hadapi tanpa perlu bantuan maupun persetujuan orang lain.
Sedih sih memang, mengingat para mentee di kelompokku yang sangat manis, keren, dan prestatif, yang mungkin bisa jauh lebih baik jika mentornya bukan kami. Terlebih lagi, satu hal yang aku kira aku mampu menutupinya, ternyata terbaca jelas di mata mereka bahwa energiku lebih banyak terpakai untuk berdamai dengan Gi, si partner mentor.
Puncaknya, di acara penutup yaitu homestay di desa selama 4 hari 3 malam, Gi menolak ikut. Dan tahukah kamu apa alasannya untuk tidak ikut? Karena dia malas jika tidak ada orang yang memaksa dan mendorongnya untuk ikut.
Lagi-lagi aku angkat tangan dan egoku saat itu bekerja dengan sangat keras.
"Untuk apa memaksa dia ikut? Kalau bukan karena keinginannya sendiri, nanti bukannya membantu malah menambah pekerjaan. Kalau dia bisa bilang malas ikut, aku juga bisa bilang dong kalau aku malas memaksanya ikut," begitu kata saya ke Di dan nampak jelas di wajahnya bahwa dia sedikit kecewa. Mungkin awalnya dia berharap aku akan melunak dan menurunkan ego, walau sedikit.
Benarlah, Gi menjadi satu-satunya dari total 80 orang mentor yang tidak ikut acara penutupan. Itu berarti, aku satu-satunya mentor yang berangkat mendampingi para mentee seorang diri. Kabar konflik antara aku dan Gi pun sudah menjadi konsumsi publik yang lagi-lagi harus aku yang menanggapinya.
Sebelum berangkat ke desa, seorang teman seangkatanku datang menghampiri dan bertanya, "Bid, lo yakin berangkat sendirian?"
"Ya mau gimana lagi, partner mentor gue gak mau ikut," jawabku enteng.
"Tahun lalu gue juga sendirian jadi mentor karena partner gue gabut (re: gaji buta, kabur)," tambah temanku itu.
"Pulang acara, gue langsung tipes, Bid."
Aku cuma bisa merespon empati padanya sekaligus tersenyum miris untuk diriku sendiri saat itu. "Dia saja yang laki-laki bisa tipes, bagaimana denganku nanti," begitu kataku dalam hati.
Sejak itu, aku sedikit banyak menyimpan asosiasi pada pertemanan maupun kerjasama antara laki-laki dan perempuan sebagai hal yang tidak akan mudah. Terlepas dari karakter kami (aku dan Gi) yang sangat jauh berbeda, hubungan kerjasama personal maupun profesional bersama orang lain, terutama laki-laki, tetap tidak akan lebih mudah dibanding hidup dan bekerja sendirian.
Itulah memori di 2014 silam -yang secara sengaja maupun tidak- tertanam dalam benak dan bertahan selama sekian tahun ke depan.
Note: Alhamdulillah, sepulang kegiatan homestay, kabarku dan para mentee baik-baik saja, tidak kurang suatu apapun.