What do you do when you don’t have a seat. cr. xiuneol
I just think people should talk more about Baekhyun sitting on Jongdae’s lap while Dae hugs his waist
hngg
One Nice Bug Per Day
Misplaced Lens Cap

❣ Chile in a Photography ❣

No title available

shark vs the universe
tumblr dot com
trying on a metaphor
almost home

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
TVSTRANGERTHINGS

JVL

Kiana Khansmith

titsay

izzy's playlists!
sheepfilms
Xuebing Du
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
𓃗
Keni
seen from Georgia
seen from United States

seen from Poland
seen from Japan
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Russia

seen from Australia
seen from United States
seen from China
seen from Uruguay
seen from United States
@gadisimajiner
What do you do when you don’t have a seat. cr. xiuneol
I just think people should talk more about Baekhyun sitting on Jongdae’s lap while Dae hugs his waist
hngg
Jalan Pintas (bagian tiga)
Gama hendak membuka pintu ketika seekor Ashera sudah sibuk menggali jendela dari arah dalam. Kucing itu seolah tahu tuannya sudah tiba dan sangat tidak sabar untuk menemuinya.
"Xena selalu tahu bahkan sebelum aku membuka pintu. Tapi dia punya respon beragam dengan orang asing. Berhati-hatilah, aku tak tahu kau ternasuk yang mana."
Gama dan Jo memasuki rumah lalu Gama mempersilakan Jo untuk duduk di ruang tamu. Rumah Gama tidak begitu luas dan mewah, namun suasananya begitu nyaman. Tatanan perabot yang sederhana membuatnya tidak begitu berat untuk dipandang, apalagi ditinggali. Beberapa langkah dari ruang tamu dapat ditemui dapur kecil yang cukup lengkap peralatannya, dengan meja bar dan kursi-kursinya. Di belakang ruang tamu ada kebun kecil, mungkin tempat Xena bermain, pikir Jo.
"Kamarku ada di atas,' ujar Gama bak pemandu wisata, 'kamar bawah diperuntukkan bagi tamu yang berkunjung. Di sebelah kamarku ada perpustakaan kecil, kalau kau tertarik dengan buku-buku akan kuantar ke sana."
"Aneh tiba-tiba kau bercerita soal isi rumahmu."
"Entah. Semuanya spontan keluar dari mulutku. Tak masalah kan'?"
"Tidak. Tidak sama sekali."
"Aku akan pergi ke kamarku dulu. Semoga kalian akrab!" Ucap Gama merujuk pada Jo dan Xena.
Jo masih sibuk mengamati isi rumah ketika Xena melangkah perlahan menuju Jo. Untuk beberapa saat Xena terhenti ketika Jo menunjukkan gelagat untuk mendekatinya. Ketika Jo diam dan mengabaikan Xena, baru ia melangkah lagi. Xena memang bukan kucing yang mudah akrab dengan orang selain tuannya, karena itulah saat Xena sudah melompat naik ke sofa ia tak serta merta meminta Jo untuk mengelusnya. Beberapa kali ia berkeliaran melewati Jo, sesekali turun dari sofa lalu naik kembali. Sekian endusan kemudian, Xena baru yakin bahwa makhluk asing ini bukan sebuah ancaman dan memutuskan untuk duduk tenang di pangkuan Jo.
“Wah, selamat! Kau salah satu orang yang terpilih,” ujar Gama menyadari bahwa peliharaan kesayangannya tidak menyakiti tamunya kali ini.
“Aku tersanjung. Kukira Xena akan membenciku mengingat aku punya aroma kucing asing.”
Pertemuan dan percakapan Gama dengan Jo mengalir begitu alami dan lancar. Mereka perlahan mengenal satu sama lain. Jo bercerita soal pengalamannya bekerja dalam sesi pemotretan pra-pernikahan dengan klien yang sedang hamil tua, tentang kebiasaan buruk Cimo kabur dari rumah dan membawa kucing liar ke rumah saat petang serta keresahannya soal betapa kolot orang tuanya yang terlalu konservatif dari sudut pandangnya. Gama juga antusias berkisah tentang detail kecelakaan yang membuatnya harus hiatus dari karir renangnya, soal adik perempuannya yang lebih sibuk berkencan ketimbang melanjutkan studinya serta perihal rasa rindu pada ayahnya yang telah berpulang 7 tahun yang lalu.
Percakapan mereka semakin terasa santai ditemani dengan anggur koleksi terbatas milik Gama. Atmosfer yang nyaman ini membuat keduanya menjadi lebih dekat satu sama lain. Obrolan-obrolan mulai berubah menjadi kesunyian, kemudian mereka memandangi satu sama lain. Seperti komputer yang sedang memindai data dalam sebuah folder, mereka memperhatikan satu sama lain. Gaya rambut, warna bola mata, bentuk hidung, lengkungan senyum dan banyak lagi. Anggur memberikan perasaan rileks satu sama lain dan perlahan membuat mereka menjadi setengah tak sadar. Pandangan-pandangan itu lalu berubah menjadi sentuhan. Awalnya hanya tangan, lalu beranjak pada pipi kemudian bibir.
Gama memperhatikan Jo lekat-lekat. Pipi Jo memerah akibat anggur yang ia minum, ia jadi lebih banyak diam dan tersenyum. Gama menyukai senyumnya. Begitu polos dan hangat. Begitu berbeda dengan saat pertama menemuinya di kafe sore tadi. Tangan Gama perlahan meraih pipi Jo, mengelusnya beberapa kali dan perlahan mendekatkan bibirnya dengan bibir Jo. Awalnya Jo agak terkejut dengan tindakan Gama yang begitu tiba-tiba, namun ciuman itu terasa lembut dan anehnya menyenangkan. Selama beberapa detik Jo mengindahkan inisiatif Gama untuk bertindak pada bibirnya. Sudah lama ia tak merasakan kesenangan ini, bahkan sejak kekasihnya yang terakhir beberapa tahun lalu.
Ciuman itu tak berakhir lama dan mulus, ketika ingatan Jo akan Dito secara tiba-tiba menyambar kepalanya. Perasaannya kini berubah drastis, ia kembali teringat Dito. Tentang apa yang ia perbuat semalam dan perasaan apa saja yang menyelimuti kejadian itu. Suasana hatinya langsung memburuk, membuatnya tak ingin lagi melanjutkan ciumannya dengan Gama. Jo refleks mendorong tubuh Gama untuk mengehentikan ciuman mereka.
“Maafkan aku, aku kira kau...”
“Tidak,’ potong Jo, ‘ini salahku. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melakukan ini.” Jo lalu beranjak dari rumah Gama dan buru-buru memasuki mobil untuk pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan pikirannya kosong dan tanpa sadar ia mengeluarkan air mata. Ia tidak tahu kenapa ia menangis. Ia merasa begitu bersalah dan tidak nyaman pada Gama karena sudah bertindak tidak sopan padanya. Ia merasa dirinya begitu buruk. Ia lagi-lagi ingat soal Dito dan semakin merasa sedih akan hal itu. Ia merasa begitu kacau dan untuk saat ini, meninggalkan semuanya adalah yang terbaik. Untuk keselamatan Jo, atau lebih tepatnya keselamatan hatinya. Entah ke mana, entah bagaimana, ia tak tahu.
Jalan Pintas (bagian dua)
Beberapa notifikasi chat kemudian, Jo dan Gama setuju untuk bertemu di salah satu cafe. Waktu menunjukkan hampir pukul tiga ketika Jo sampai di cafe yang dituju. Langit masih dalam transisi antara terik siang matahari dan angin sepoi sore hari. Rupanya Gama sudah sampai lebih dulu dan duduk di ruang terbuka cafe.
“Gama?” Tanya Jo memastikan bahwa ia tidak salah orang.
“Benar. Kau pasti Jo,” jawab Gama mengulurkan tangan. Mereka bersalaman lalu duduk dan menuliskan pesanan masing-masing. Jo cukup heran dengan kesan pertama ini sebab apa yang ia lihat di layar tak jauh berbeda dengan yang ia lihat langsung.
“Aku memilih tempat duduk di luar sebab anginnya menyegarkan,” celetuk Gama.
“Aku setuju, pilihan yang tepat. Kau keberatan kalau aku merokok?” kata Jo. Biasanya Jo melakukan ini untuk mengetes Gama dan pria-pria yang ia temui pada kencan pertama.
“Sure,” jawab Gama begitu santai. Jo lalu menyalakan rokoknya dan menghisapnya.
“Jadi apa yang kau lakukan untuk hidup?” tanya Jo.
“Aku pelatih renang.”
“Kau terlalu muda untuk jadi seorang pelatih.”
Gama terkekeh, “kau benar. Dulu aku atlet renang. Karena kecelakaan hebat, kaki kiri, bahu kanan, 2 tulang rusuk patah. Setelah pengobatan panjang, aku berhenti menjadi atlet. Lalu ada tawaran untuk menjadi pelatih. Jadi...kenapa tidak?”
“Pelatih tim profesional atau kelas renang anak-anak?”
“Aku melatih anak-anak yang kelak jadi profesional,” jawab Gama begitu mantap. “Lalu? Bagaimana denganmu?”
“Fotografer. Utamanya untuk majalah alam liar. Namun kadang aku mengambil kerja serabutan juga saat senggang.”
Tak selang berapa lama, pesanan keduanya datang. Jo memesan Macchiato dan donat sedangkan Gama memesan Latte serta croissant.
“Jadi kau suka berpetualang?”
“Sebenarnya tidak terlalu. Aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Lagipula aku tidak bisa meninggalkan Cimo sendirian terlalu lama.”
“Kau juga punya kucing?” tanya Gama antusias.
“Bagaimana kau tahu?”
Jo benar-benar melupakan kesedihannya soal Dito saat ini. Ia menjadi antusias ketika ada yang orang yang sama-sama memelihara kucing. Untuk sesaat ia tertarik dengan perangai Gama yang begitu tenang dan ramah. Meski sebenarnya dugaan ini masih terlalu dini, mengingat ia mengenal Gama lewat aplikasi kencan.
“Cimo bukan nama yang umum untuk seekor anjing. Dan kurasa bukan nama yang umum untuk manusia juga. Apa jenisnya?”
“Russian blue. Kau?”
“Ashera. Namanya Xena.”
“Nama yang cantik. Aku belum pernah melihat jenis Ashera secara langsuhg. Bukankah mereka sangat besar?”
“Benar, Agak repot kalau mereka berlarian dan mulai menjatuhkan barang-barang.”
“Hahaha kau benar! Cimo sering memecahkan gelas kopiku. Karena itu aku menggantinya dengan plastik. Tapi itu tak menghentikannya dari memecahkan barang-barang,” ucap Jo sembari memakan donatnya.
“Kau mau menemui Xena? Kau bilang belum pernah melihat Ashera langsung kan? Kita bisa pergi ke rumahku usai mengahabiskan pesanan kita.”
“Apa ini tidak terlalu cepat? Kau bukan ingin memperkosaku kan?”
Gama tertawa mendengar jawaban konyol Jo, “untuk apa? Kalau aku ingin berhubungan seks aku tak perlu menemuimu di cafe ini. Lebih baik aku ke pub kan?” Gama lalu mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar, lalu memberikan ponselnya pada Jo. Di layar itu terlihat foto berlatar pohon natal dengan Gama tengah memeluk kucing berwarna cokelat dan totol hitam. Benar, itu Asher.
“Sekarang kau percaya?”
“Baiklah aku mempercayaimu.”
Usai menuntaskan pesanan masing-masing, keduanya lalu pergi menuju rumah Gama. Karena mereka membawa mobil sendiri, Jo mengikuti arah mobil Gama dari belakang. Hampir 20 menit berkendara, mereka sudah sampai di rumah kompleks perumahan.
Jalan Pintas (bagian satu)
Sudah satu jam Jo mengendarai mobilnya berkeliling kota, namun tak satu tempatpun yang membuatnya tertarik untuk singgah. Gerai hidangan laut yang biasa manggugah seleranya kini tak lagi menggodanya. Ia menghilangkan mall dalam daftar tujuannya sebab tempat itu terlalu bising untuknya yang masih belum sepenuhnya sadar dari mabuk. Ia juga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Pub, mengingat apa yang sudah ia perbuat semalam. Lagipula ini masih terlalu siang untuk mabuk, pikirnya. Jo lalu memutuskan untuk pergi lagi ke taman kota, untuk mendapat sedikit keheningan dan tentu saja, merokok.
Di taman, Jo hanya melihat sekeliling sembari sesekali meneguk soda dingin yang ia beli di minimarket terdekat dalam perjalanan kemari. Selama di taman, ia sudah menghisap 4 batang rokok dan dua kaleng soda. Dia sangat tidak bernafsu untuk melakukan apapun dan bertemu siapapun.
Tak lama ada notifikasi muncul di ponselnya. Rupanya dari Matchie, aplikasi kencan buta yang sudah lama tak ia sentuh. Aplikasi itu seolah mengingatkan agar Jo membukanya setelah lama sekali terabaikan. Semenjak memiliki rasa pada Dito, Jo menjadi sangat jarang mengeceknya lagi. Dibukanya akun usang itu dan tak lama matanya sibuk memperhatikan foto-foto yang terpampang di layar
Lihat orang-orang ini, batinnya, mereka begitu putus asa mendamba sebuah hubungan. Terasa begitu menyedihkan. Kali ini Jo merasa sangat iba dengan para pengguna aplikasi kencan buta ini, termasuk dirinya sendiri. Rasa iba itu perlahan menjadi kehampaan pikir. Jo bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia harus pergi dengan orang lain? Untuk menghilangkan perasaannya pada Dito. Ia kembali mengecek layar, secara acak ia menekan tanda hati pada salah satu foto. Tak lama ia mendapat balasan hati pula dari foto yang sama. Tertulis Gama di profilnya dengan foto dirinya sedang memegang piala, entah kejuaraan apa yang ia menangi.
“Ah, persetan. Aku sudah sejauh ini,” ucap Jo nekat melanjutkan kencan dadakannya. Ia tak tahu bagaimana Gama, seperti apa sifatnya. Apakah ia seperti yang tertera di foto profilnya? Apakah dia pintar? Apakah dia menarik? Jo tidak tahu. Jo tidak peduli. Satu hal yang pasti: Jo tidak ingin sendirian malam ini dan Dito bukan solusi terbaik untuk jadi pendampingnya kali ini. Ia ingin memecahkan belenggu kasihnya pada Dito, sesegera mungkin. Secepat mungkin agar belenggu itu tak membuat hatinya semakin memar.
Kalapuna
Alarm sudah berbunyi sejak tadi, namun Jo tak lekas beranjak dari kasurnya. Kepalanya terasa sangat berat. Ia merasa sangat mual. Ketika alarm berbunyi untuk kesekian kalinya, barulah Jo membuka mata dengan enggan. Ia matikan alarm itu dan ia cek layar ponselnya. Hari ini sudah berlalu selama 10,5 jam. Jo lalu mengecek notifikasi ponselnya
From : Dito
Sudah bangun? Kau baik-baik saja?
Mata dan kepalanya masih berat. Ia terlalu malas untuk memahami pesan yang ia baca. Ia taruh ponsel itu di samping kepalanya dan ia memejamkan mata lagi. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Masih dengan mata terpejam Jo meraba-raba letak ponselnya lalu mengangkat telfonnya.
"Sudah bangun?"
Masih separuh sadar, Jo tak menjawab suara di seberang.
"Kau kacau sekali semalam."
Kata kacau membuatnya sedikit bernyawa dan memutar kembali apa yang terjadi semalaman. Ah, dia ingat. Semalam dia mabuk berat. Jo ingat bahwa usai dari taman, ia tak lantas pulang, tapi pergi ke Pub di tengah kota. Tapi hanya sebatas itu ingatannya. Ia mengumpat dalam hati setiap kali mengingat kecerobohannya.
"Apa aku membuat masalah?"
"Tidak. Kau banyak melantur dan menangis. Tapi kau sempat mengajak bartender muda itu berkelahi. Kau berhutang padaku Jo, hahah."
"Ah shit. Sorry, Dit. Sorry for being a crap. Aku tidak menyangka dampaknya akan jadi seburuk itu."
"Hei. Itu bukan salahmu. Udah, sekarang mandi, makan dan nonton youtube. Sibukkan dirimu dengan hal-hal yang kau suka. Jangan lupa beri makan Cimo juga. Kalau udah siap, kita bertemu lagi," ujar Dito lalu menutup telfon.
Jo hanya menghela napas panjang. Masih mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan semalam. Kesedihan dan alkohol membuatnya lepas kendali. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa ia bisa jadi seperti ini? Kenapa ia harus jatuh cinta pada seseorang yang takkan pernah bisa ia miliki? Kenapa ia tak bisa membuat orang yang ia cintai agar mencintainya juga? Kenapa ia harus jatuh cinta pada seorang gay?
Semangatnya punah. Ia nyaris kehilangan akal. Dua tahun menahan diri dan kini perasaannya tak lagi dibendung. Ia mendamba sebuah hubungan. Hubungan yang biasa. Sepasang kekasih. Laki-laki dan perempuan. Dito dan Jo. Hah, takkan mungkin bisa, batin Jo. Kami takkan pernah bisa jadi sepasang, pikirnya. Dan tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Tak ada yang bisa ia salahkan, kecuali dirinya sendiri.
Ia menatap langit-langit kamarnya. Matanya menerawang jauh. Tubuhnya berada di kasur, namun pikirannya berada di tempat lain. Entah ke mana, atau mungkin ke mana saja. Kepalanya riuh sekali. Begitu melelahkan. Dan tak mau berhenti.
“Bodoh. Aku tak bisa begini terus. Aku bisa mati perlahan,” ucap Jo pada dirinya sendiri.
Ia lalu bangkit dari kasurnya dan pergi mandi. Ia berniat untuk bepergian. Entah ke mana atau berapa lama. Ia tak tahu, ia tak peduli. Ia hanya berusaha untuk mengalihkan kesedihannya. Ia tak ingin dibunuh perlahan oleh perasaannya sendiri.
Pengakuan (bagian dua)
"Aku tak tahu bagaimana melanjutkan ini."
"Aku tahu. Karna itu aku menahan diri selama ini."
"Lalu apa yang membuatmu ingin mengatakannya sekarang?"
Jo terdiam. Ia hisap rokok di tangan kirinya sekali lagi dan menghembuskannya ke langit.
"Aku hanya...tidak tahan. Aku tak sanggup menanggungnya sendiri," ucap Jo.
"Maafkan aku, Jo. Kau tahu aku takkan pernah bisa."
"Aku tahu. Mau bagaimana lagi? Tak ada yang bisa kita lakukan."
Keduanya terdiam lagi. Mereka terdiam cukup lama. Pikiran mereka sempat teralihkan oleh keluarga angsa yang tengah asik berenang di sungai. Lalu Jo tiba-tiba membuang rokoknya yang masih separuh dan menoleh pada Dito.
"Dit, can I get a hug?" Mata Jo berkaca-kaca.
"Kau tahu kan ini hanya akan membuatmu semakin buruk?"
"Fuck off these feelings. Please, Dit. I just need a hug," suara Jo bergetar. Ia tak lagi bisa membendung tangisnya.
Dito meletakkan kaleng birnya di tanah lalu menarik lengan Jo dan mendekap tubuhnya. Tak lama kemudian Jo menangis. Cukup keras. Dito bingung sekaligus sedih. Ia tak tahu bagaimana menenangkannya. Ia termakan dilema.
"Maafkan aku, Dit," ujar Jo masih terisak.
"Jangan katakan apapun. Menangislah semaumu dan setelahnya kita pulang," ucap Dito masih mendekap Jo.
Keduanya tetap di taman selama hampir satu jam. Usai hampir setengah jam menangis, Jo melepas dekapan Dito dan berbaring di rerumputan taman. Tak lama Dito mengikut di sebelahnya. Keduanya menatap langit yang perlahan berubah menjadi oranye yang lalu perlahan menjadi gelap. Hari itu, jadi hari terburuk, atau sekaligus jadi hari paling melegakan bagi mereka. Entah apa dan bagaimana nantinya. Mereka tak tahu, mereka tak peduli.
Pengakuan (bagian satu)
"Jadi?"
Dito bertanya sekali lagi, dan hanya hening yang ia dapat. Sudah hampir setengah jam tidak ada pembicaraan. Es batu dalam gelas sudah cair, membuat teh semakin tidak manis sebab terlalu banyak air.
Jovinka meneguk gelasnya, lalu menatap Dito lekat-lekat.
"Aku sungguh tidak tahu. Aku tidak bisa apa-apa."
"Tidak bisa soal apa? Kau tahu kita bisa membicarakan ini. Kau sahabatku, Jo."
Jo terhenti lagi. Ada sesuatu yang menahannya. Ia tahu ia tak bisa sembarangan mengatakan ini, bahkan kepada Dito sekalipun.
"Jo, kalau kau selalu diam tiap kali kita pergi dan kau tak pernah mau menjelaskannya, lebih baik kita tak usah pergi bersama untuk sementara waktu. Agar kau bisa memikirkan semuanya," Dito bersiap untuk membayar tagihan makanan ketika Jo menahan tangannya.
"Aku menyukaimu, Dit."
Kini keduanya hening. Dito heran setengah mati, Jo malu setengah mati. Jo hanya menunduk bingung sementara Dito masih memperhatikan Jo dengan penuh tanda tanya.
"Bagaimana mungkin? Kau tahu kan kalau aku.."
"Aku tahu,' potong Jo, 'itu sebabnya aku bilang aku tidak tahu harus apa."
Keduanya memutuskan untuk singgah dari rumah makan saat itu juga dan pindah ke taman kota dekat sungai. Rumah makan mulai terlalu bising, ditambah kenyataan baru bahwa Jo memiliki rasa pada Dito. Sesampainya di taman, mereka duduk bersebelahan. Diam untuk beberapa saat merasakan angin lembut sore hari.
Dito ragu untuk memulai percakapan lagi, rasanya terlalu canggung. Rasanya pengakuan tadi berlangsung begitu cepat, hingga ia sendiri masih tak percaya bahwa itu terjadi. Namun ia tak mau terus-terusan diam.
"Sejak kapan?" Ucap Dito sembari membukakan kaleng bir untuk Jo dan untuk dirinya sendiri.
"2 tahun yang lalu."
"Bahkan sebelum pengakuanku?"
"Iya."
Dito kehabisan kata. Ia masih tak percaya ini terjadi. Jo tak menatapnya sejak tadi, hanya membuang pandangan ke arah sungai sembari meneguk bir dingin di tangan kanannya.
"Boleh aku merokok?"
"Tentu," kata Dito. Jo lalu mengeluarkan bungkusan dari kantong kiri jaketnya dan mengeluarkan sebatang rokok yang lalu ia nyalakan dengan pemantik. Dito bukan seorang perokok, sehingga Jo akan selalu bertanya tiap kali ia ingin merokok di dekat Dito. Jika sedang malas dengan asapnya, Dito akan bilang pada Jo kalau ia tak mau dekat-dekat dengan rokok.
"Tak apa kalau kau bingung, kau tak perlu menanggapinya. Aku juga.....tersesat akhir-akhir ini," ujar Jo sembari mengepulkan asap dari rokok yang ia hisap.
"Aku tidak tahu bagaimana melanjutkan ini."
The Art of Pretending
Pada akhirnya, kita akan berpura-pura.
Kamu berpura-pura tidak mengenalku dan aku akan berpura-pura kalau kita tidak pernah saling jatuh cinta.
Semua hal tentangku akan kau lupakan seakan-akan kau tidak pernah tahu itu, seperti novel favoritku, ataupun tanggal lahirku.
Aku juga akan melakukan hal yang sama, berpura-pura tidak pernah tahu tentang keinginan terbesar dalam hidupmu ataupun rasa tidak sukamu terhadap kuning telur.
Kamu akan berpura-pura kalau apa yang dulu kita punya hanyalah ilusi.
Sedangkan aku akan berpura-pura kalau aku tidak merindukan ekspresi bodohmu itu.
Jika nanti kita berpapasan di jalan, aku akan berpura-pura sedang melihat ke arah lain dan kamu akan berpura-pura sedang sibuk dengan ponselmu.
Saat temanmu menanyakan kabarku, kamu akan berpura-pura kalau kamu tidak mendengar pertanyaan itu. Kamu akan berbohong kepada dirimu sendiri dengan meyakinkan hatimu bahwa aku bukanlah yang selama ini kamu cari.
Dan tentu saja, aku akan berpura-pura bahwa aku lebih baik tanpa adanya dirimu di hari-hariku, meskipun sebenarnya aku akan melakukan apa saja agar bisa mendapat tambahan satu hari berada di pelukanmu.
Seperti itulah kita akan berpura-pura,
berpura-pura sudah baik-baik saja, berpura-pura sudah move on.
Dua hati yang sebenarnya (masih) saling mencintai,
malah berpura-pura,
seakan kita tidak ditakdirkan untuk bersama.
A.W.
Jakarta, 14 Juni 2018.
I love going to cinema. Coming with excitement and going with mixed feelings. Could laugh at sad scene and being quiet at funny moment. It's like riding roller coaster without going anywhere.
It's not about who am I, but it is about how and when will you can bring me to your 'circle' of friendship....a better friendship
I just think about you...
10 Unnecessarily Elaborate Super Bowl Recipes
"Holy shit, whoever fashioned this arena out of all of their snacks wasted their time. Also those pigs-in-a-blanket that have been submerged in what appears to be guacamole are a waste because they’re going to be soggy."
Courtesy of our friends at Blisstree!
Dan aku meyakini, bila ada hujan badai yang begitu deras, akan ada pelangi yang begitu indah muncul setelahnya.
Begitu juga dengan hidupku, mungkin...memang kali ini aku tengah terpuruk, terperosok, terjatuh kedalam lubang kebingungan. Sedang seru-serunya bertarung melawan diri sendiri. Tapi ini merupakan proses menuju kedewasaan diri, yang walaupun sulit tapi harus tetap berlangsung.
Entah apa ini, aku tak tahu.
Tapi memang, menurutku...
Menjadi dewasa itu RUMIT.
Maukah kau mengajariku untuk jadi dewasa?
(by Bould’Oche)
nice pic #maybe