Setahun Sudah...
Setahun sudah kamu pergi, tapi aku masih ingat rasa es krim caramel yang kamu belikan untukku setelah aku sembuh dari sakit flu berhari-hari. Hari itu, kamu buru-buru menemuiku padahal kamu baru pulang dari luar kota. Kita pun bertemu di warung udon kesukaanmu.
Kamu mulai bercerita soal kerjaanmu kemarin, tentang makanan yang kamu cicipi di kota itu, dan rencana perjalanan berikutnya. Aku mendengarmu dengan seksama tapi sedikit sedih karena tau kamu akan pergi lagi beberapa hari ke depan.
'Janji, kok. Ntar di sana aku sempetin video call, sampe malam...sampe ketiduran kayak biasa.' Katamu sesaat setelah membaca raut wajah sedihku. Kamu selalu tau aku akan sedih tiap kamu sebut jadwal kerjaanmu di luar kota.
'Iya, gapapa, kamu cuma 3 hari kan di sana? Malam minggu pulang? Hmm... Kalo gitu, hari Minggu kita pergi ke resto sushi yang baru buka itu, yuk?' Cerocosku tiada henti. Kamu mengangguk tanda setuju, tersenyum lalu mengacak poniku. Namun, sebelum rambutku acak-acakan seluruhnya, aku menghadang tanganmu lalu kutautkan pada jari-jemariku.
Sebelum aku sadar, tanganmu adalah tangan yang sama yang digenggam oleh perempuan lain, selain aku.
Kamu berangkat 3 hari kemudian. Tapi, tidak ada satu janjimu yang kamu tepati. Aku hanya terpaku menanti kapan whatsapp-ku akan berdering. Tidak ada satu notifikasi sesamar apa pun itu. Hanya sunyi. Menunggu...ternyata bisa se-mematikan itu.
•
Setahun sudah kamu bilang kamu ketemu orang lain, tapi aku masih penasaran 'kenapa gitu?'. Berbulan-bulan, aku menyalahkan diriku dan menangisi hal yang tak mungkin kembali. Aku rindu mengantri membeli minuman boba di kedai tempat kita berkencan dulu. Aku rindu menatap wajahmu yang dulu selalu berjalan di sisiku. Aku rindu melakukan hal yang biasa kita lakukan.
Hingga suatu hari, aku sampai di bagian paling menyakitkan dari segalanya. Aku tau kamu mencintaiku, tapi itu tak berarti kamu tak akan mendua. Aku benci harus tau itu semua. Aku benci membayangkan kamu dengan orang lain. Aku benci karena aku cuma bisa menerima...
Setahun sudah kamu pergi, tapi beruntungnya aku sudah baik-baik saja. Aku mungkin tak menantimu lagi, namun kamu selalu bisa menemukanku di tempat biasa. Setelah satu patah hati maha dashyat ini, hidup membawaku berlayar ke arah lain, hingga aku tak tau lagi apa kabarmu sekarang.
Setahun sudah kamu pergi, dan aku baru bisa memesan kembali es krim caramel kesukaanku.
Tapi, untuk sesuatu yang manis, kenapa ya es krimnya masih saja terasa pahit sampai saat ini?

















