Akhir akhir ini sering diingatkan dengan kematian, satu bulan yang lalu sepupu yang masih 36/7 tahunan meninggal sesaat setelah sakit yang datang mendadak dan langsung parah. Ia meninggalkan istri dan 3 anaknya yang masih kecil kecil. Sangat maa sya'allah nya dia, membuat kami iri dengan amal sholihnya. Semoga husnul khatimah.
Satu minggu yang lalu dikagetkan dengan kematian ibu ibu yang saya isi kajiannya. Sebenarnya tidak perlu ada yang dikagetkan, karena sunnatullahnya siapapun yang hidup harus siap dengan akhir kehidupannya. Hanya memang kabarnya sangat mendadak. Sabtu kami masih bertemu, beliau buatkan kami gorengan, kami bertemu di jalan, dan di hari kematiannya beliau masih sempat bertakziah, lalu terkena serangan jantung mendadak di toko beras yang dengan itulah berakhir kehidupannya.
5 hari yang lalu paklik, adik mertua meninggal tanpa sakit dan belum diketahui sebabnya. Ia dan istrinya tinggal berdua, anak pertamanya kuliah di luar kota dan anak keduanya nyantri di pondok. Pagi harinya beliau masih antarkan istrinya kerja, lalu pulang dan tidak ada yang tau bagaimana maut menjemputnya. Ketika bulek pulang kerja jam 2, sudah didapati paklik berada di bawah meja makan, dalam keadaan sudah kaku dengan makanan yang masih di mulutnya. Entah karena serangan jantung, tersedak makanan, atau hal yang lain. WaLLahu a'lam
Begitu banyak peringatan bagi kita yang ibadah masih gini gini aja, daya juang untuk agama pun tak seberapa, apalagi dalam memerankan porsi sebagai istri, ibu, dan anak juga masih banyak mbleyotnya. Kufur secara tidak sadar lebih sering kita lakukan dibanding syukur, marah lebih mudah kita lampiaskan dibanding harus menahannya, grusa grusu lebih kita prioritaskan dibanding sabar menghadapi kehidupan. Ahh kafaa bilmauti wa'idho. Harusnya kita bersegera dalam kesholihan, tidak hanya terus diselimuti rasa takut akan sedikitnya amal dan hanya berakhir terjebak dalam ketakutan ketakutan saja.
Hingga di malam ini, suami yang juga merasakan bahwa kematian itu sangatlah dekat dengan berbagai peringatan di satu bulan ini, ia sampaikan berbagai kemungkinan bagaimana jika ia tiada. Reflek nangis dong,,, nangis bukan karena kematian yang bisa menjemput kapan saja, tapi lebih ke ya Allah hidup ini hanya sementara, bersama pasangan pun hanya sementara, mengapa tidak kunjung kita beranjak mensholihahkan diri sebagai istri yang walau perjalanan menujunya suangat suwusah luar biuasahh. Mengapa ego dalam hubungan ini terus kita paksakan, sehingga tunduk padanya banyak kita paido i (faham kan kalian yang beraksen jawa?), padahal suami kita tidak seburuk fir'aun, kok ya kita gak bisa se sholihah asiyah???? Astaghfirullah, dalam beberapa hal mungkin orang akan menganggap aku sebagai sosok yang baik, mereka tidak tau sisi lainku di saat suamiku hafal sisi lain dan kebringasanku yang hanya kulampiaskan di depannya. Astaghfirullah. Buru buru ku mintakan maaf atas segala salah khilafku yang tak terasa banyak sebab kesabarannya. Walau asline, salahku lebih turah turah.
Semoga kita dapat menjalani bahtera ini tidak sesementara di dunia, namun kekal abadi hingga jannahNya... Huhuhuhu, agak mewek















