Sosial Media can be your Potion or Poison
Sosial media makin ke sini makin berasa ga sehat. Ga sehat untuk jiwa dan mental yg normal, tapi sempurna untuk yg suka dengan pertikaian, baku hantam dan drama. Memang ada sih akun2 yg menyebarkan energi positive tapi jumlahnya ga sebanding dengan yg negatif.
Gue bicara tentang di Indonesia. Di Twt misalnya, hashtag yg bahkan berbau porno aja masih bisa masuk trending lho. Lalu budaya cancel alias cacian makian juga masih sering banget, belom lagi drama2 seleb ga penting, dan dua tadi itu hampir selalu ada di tiap minggunya dan selalu antara di IG atau Twitter. Pasti.
Budaya cancel. Jujur menurut gue ini bisa jadi sebuah tindakan yg tepat jika diarahkan ke pihak yg tepat. Hanya saja kayaknya org indonesia terlalu terobsesi dengan ini sampe2 dilakuin ke semua org yg mereka ga suka, atau atleast menurut mereka salah tanpa mereka tahu keseluruhan ceritanya. Kalo salah org jatohnya malah bisa jadi perundungan. Contohnya gausah yg susah deh liat aja kelakuan netizen ke mbak reemar dan mbak han sohee yg ga ada dasarnya itu... Paham ga sih seberapa seremnya bahwa mereka segampang itu ngehujat org yg mereka bahkan ga kenal dengan alasan yg bahkan cuma delusi. Jatohnya kekanak2an, bahkan malu2in.
Trending Drama ga penting. Asli ini gue juga ga paham deh kenapa org2 kita Give a sh*t tentang urusan pribadi artis. Maksud gue kayak ya dia artis tapi kalo urusan pribadi ya gausah diangkat ke publik dong. Contoh paling jelas ya masalah keluarga KD, trus urusan jual beli mobil artis. Pertama, mereka (artis) yg bikin drama ini terutama yg inisiatif ngepost di sosmednya mereka sendiri emg menurut gue br*ngsek sih, kayak itu masalah gausah lu rekam pake kamera juga bisa diselesaiin secara kekeluargaan, tapi yg paling2 ya penontonnya kok ya mau2an nontonin dan ngomongin hal itu gitu lho, kayak apakah kalian ga punya kegiatan yg lebih berfaedah daripada ngomentarin hidup org lain.
Poser. Nah ini macem2 jenisnya tergantung platformnya, tapi semua tujuannya sama yaitu terlihat baik di mata sosyeti &/ cuan. Kalo di twitter biasanya berupa sjw2 norak. Paham lah ya sjw kerjaannya ngapain. Kalo di IG biasanya ya selebgram yg kerjaannya flexing, ya flexing harta, flexing berbuat baik, flexing penampilan tapi pasang caption bijak2 gitu, gitu dah modelannya. Kalo di YT, ya biasanya channel prank norak yg ga ada bagus2nya, atau channel yg ada video klarifikasi atas video dia yg lain yg dihujat karena perbuatannya sendiri yg jelas2 direkam sendiri, diedit sendiri, tapi bilangnya ga sengaja atau khilaf. Kenapa itu semua poser? Karena apa yg mereka tunjukin adalah hanya yg appeal di mata masyarakat dengan tujuan meningkatkan reputasi.
Lalu gimana biar ga stress dan tetep sehat menghadapi itu semua?
Gausah dihadepin, yg kayak gitu gausah digubris sama sekali, mengomentari hal2 di atas sama dengan menaikkan traffic mereka sama dengan mereka makin terkenal
Jangan berekspektasi bisa sebebas2nya dengan akun yg ga digembok. Tidak memproteksi akun medsos kita berarti SEMUA orang bisa lihat, maka harus dipikirkan matang2 apa yg mau dipost agar ga berbalik ke kita di masa yg akan datang
Mengeluarkan pendapat di medsos sangat diperbolehkan tapi jangan merasa tersinggung dengan perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat wajar banget, semua org ga berasal dari kehidupan yg sama, learn how to agree to disagree.
Fokus aja ke hal yg positif atau yg membuat kita senang. Membagikan awareness tentang suatu isu juga bisa aja membuat kita senang, tapi tetep inget poin no. 3 tadi.
Jujurlah dengan diri sendiri atas apa yg kita post, karena kalau di internet aja kita bisa berani jujur, maka di kehidupan nyata berbuat jujur akan lebih mudah karena setidaknya kita bisa jujur ke diri sendiri = menerima diri sendiri
Ketika sosial media menjadi dunia alternatif kita karena rasa tidak puas terhadap realita yg dihadapi, then social media would be your poison. Tapi ketika sosmed jadi tempat berbagi hal baik, menyambung silaturahim atau sekedar mencari hiburan, then social media would become your potion.
Ew, i don't know why but menyambung silaturahim sounds like a boomer. I cringed a bit for that words.
It's great to comeback here again and writing my own fidgetiness (?), (maksudnya keresahan gitu dah)












