Harus kuat demi baby. YaAllah berikanlah hamba kekuatan untuk masa bodo terhadap ketidakjujuran dan ketidakterbukaan. ☺
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Love Begins

祝日 / Permanent Vacation
noise dept.
Lint Roller? I Barely Know Her
TVSTRANGERTHINGS
Cosmic Funnies

No title available

Discoholic 🪩
$LAYYYTER
Show & Tell

izzy's playlists!
we're not kids anymore.

No title available
Today's Document
Sweet Seals For You, Always
macklin celebrini has autism
Game of Thrones Daily
KIROKAZE
Keni
seen from United States
seen from Pakistan
seen from Spain
seen from Morocco
seen from Belgium
seen from India

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from Brazil

seen from Netherlands
seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Canada
@gemercikhujan
Harus kuat demi baby. YaAllah berikanlah hamba kekuatan untuk masa bodo terhadap ketidakjujuran dan ketidakterbukaan. ☺
How i miss my hometown. 💔 #sumedang #sumedangupdate #sumedangtandang #sumedanghits #sumedangbangkit
I know with you isnt forever. But my love for you is forever. You are my forever love, mom. Bener-bener gabisa bayangin nanti kalau udah ga ada mamah. 😢😢😢😢😢 Selamat Hari (-1) Ibu mom. Selalu diberkahi Allah, sehat iman dan ihsannya, lancar rezekinya, dipanjangkan umurnya. Makasih udah jadi malaikatnya aku selama 25 tahun ini. Ga bisa terbalas oleh apapun. I love you to the Pluto and Mars, Mama @rostika.rs . . . Dari anak bungsumu, yang merindu. :(
Our happy face ❤❤❤❤ #suamiistribahagia
Fitrah Seksualitas
By: Elly Risman Musa
Punya suami yang kasar? Kaku? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Kok sebegitunya?
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.
Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka
inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
Menunggu Dengan Baik
Di setiap sudut kota ini, ada jiwa-jiwa yang sedang menjalani masa menunggunya. Menunggu yang tidak hanya berdiam, tapi juga berupaya. Menunggu yang tidak hanya untuk ditemukan, tapi juga untuk kemudian menemukan.
Beberapa ada yang kehilangan semangatnya, kehilangan antusiasnya. Karena di benakknya sudah terbayang tentang duduk diam yang membosankan. Terpikir tentang habisnya waktu untuk hal yang sama sekali tidak ia sukai.
Di tempat lain, ada yang menanggapinya dengan baik-baik saja, sambil mempersiapkan apa-apa yang sekiranya ia butuhkan selama ia menunggu. Karena baginya, menunggu juga bukan hal yang ia sukai. Lalu ia mengisinya dengan bercerita, dengan bicara, mendengar, membaca, menulis, juga dengan belajar. Karena dia tidak ingin waktu menunggunya habis begitu saja, tanpa bermanfaat apa-apa.
Dan keduanya pun masih tergantung dengan seberapa besar kesabarannya. Yang tidak semangat dan merasa jenuh, bisa saja sanggup menunggu lebih lama. Daripada yang pada awalnya antusias, tapi kesabarannya habis ditengah-tengah. Pada akhirnya ia berhenti untuk menunggu, dan memulai lagi untuk menunggu hal yang baru. Entah kapan, untuk apa, dan siapa. Dan akan melelahkan jika ia menunggu sesuatu yang baru, tapi menggunakan kesabarannya yang lama.
Menunggu dengan kesabaran akan berbuah manis, dan mengisinya dengan hal-hal bermanfaat, akan terus menggerakkan kita ke arah yang lebih baik.
Kita memiliki pilihan, untuk menunggu dengan cara yang baik, atau kemudian berhenti ditengah-tengah. Sambil terus menjaga sabar, agar ada ruang untuk Tuhan menunjukkan peran. Tidak semua menunggu adalah perlombaan. Tapi bukankah akan ada kebaikan lain jika menunggu itu bisa kita menangkan? Selamat menunggu dengan cara yang baik. Sabar, sebentar lagi akan datang :)
Danny Dzul Fikri Surabaya, 13 November 2017
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
Sudah Oktober, kekhawatiran perempuan itu tumbuh semakin subur dikalangan perempuan. Seperti melihat bagaimana perempuan itu saling membandingkan satu sama lain, dalam berkeluarga, dalam kehamilan, dalam proses kelahiran, dalam mengasuh anak, dsb.
Saat sudah menikah, pahamilah segala sesuatunya dengan ilmu. Jangan mudah khawatir dengan “kata orang”. Perempuan harus bisa belajar abai terhadap kata dari orang lain, sebab setiap perempuan, setiap proses menuju pernikahan, setiap memulai berkeluarga, setiap kehamilan, setiap kelahiran, setiap mendidik anak, masing-masing diberikan anugerahnya. Di berikan tantangannya sendiri-sendiri :)
Terimakasih karena telah mendampingiku, mempercayaiku bahwa aku bisa membaik. :)
Don't worry be happy because Allah always by our side. ❤
Memulai, menjalani, dan mengakhiri sama-sama tidak ada yang mudah. Untuk itu, berdoalah lebih banyak untuk meminta kekuatan, kesabaran, dan segala hal yang berguna untuk menghadapinya. Sebab, perjalanan ke depan tidak pernah dijanjikan akan semakin mudah.
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
RTM : Untuk Terus Mencintainya, Kamu Harus Berjuang.
Catatan ini mungkin lebih khusus ke laki-laki. Sebab nanti, selepas menikah. Mungkin dalam pandangan matamu, istrimu tidak akan secantik-semanis-sebaik-dan sesempurna sewaktu kamu dulu memperjuangkannya. Saat ini, bisa jadi kamu bisa menyangkal. Tapi, nanti selepas menikah dan menjalaninya, kamu mungkin baru akan memahami maksudku ini.
Kamu harus berupaya untuk bisa terus mencintai istrimu. Perasaan itu tidak tumbuh seperti rerumputan yang terkena hujan. Perasaan itu adalah pohon besar dan kamu menanamnya sejak bibit. Kamu harus merawatnya, menyiraminya, melindunginya dari hama, menyiangi rerumputan disekitarnya, dan juga kamu harus selalu waspada agar ketika nanti ia sudah cukup besar, tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang dan menebangnya.
Perempuan yang barangkali adalah temanmu, rekan kerjamu, atau orang yang tiba-tiba kamu temui di jalan. Mereka mungkin tidak melakukan apapun, tapi matamu tidak. Matamu bisa membuat apa yang terlihat menjadi beribu kalilipat lebih baik, lebih cantik, dan segala kelebihan lainnya yang mungkin akan menyulut perasaan lainnya. Tantangan. Seperti kala dulu kamu memperjuangkan perempuan yang menjadi istrimu saat ini.
Untuk itu, ingat-ingatlah selalu kebaikan perempuan yang sedang di rumah menunggumu pulang. Siapa orang yang paling khawatir kala kamu sakit. Siapa orang yang bisa menerimamu apa adanya saat kamu bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa selain kenekatanmu menikahinya dulu. Siapa orang yang rela bersusah payah mengurus segala keperluanmu, juga keperluan anak-anakmu nanti. Ia bersedia bersusah payah mengandung anakmu sembilan bulan dalam kepayahan yang kamu tidak bisa merasakannya. Anak yang mungkin lebih kamu cintai nantinya daripada istrimu.
Sungguh, untuk terus mencintainya, kamu harus berjuang. Bualanmu tentang cinta saat ini, juga bualanmu tentang segala janji itu bisa aku katakan adalah omong kosong. Sebab nanti, jalan yang amat panjang dan mungkin akan membosankanmu telah menanti. Biar tak bosan, kamu perlu menghidupkan setiap ingatanmu mengapa dulu kamu mau memperjuangkannya, setiap rasa syukurmu, dan iman.
Sebab menikah dengan seseorang yang kamu cintai saat ini bukanlah hadiah, melainkan sebagai ujian baru. Ujian yang hanya bisa kamu jawab ketika kamu menjalaninya, bukan dengan lisan, melainkan perbuatan.
©kurniawangunadi | 10 September 2017
Mampus kau! dikoyak-koyak sepi!
Siapapun dia, sekuat apapun dia, sehebat apapun dia, tetap… dia butuh teman… butuh teman yang menyatakan bahwa, “Aku temanmu, mari kita pikul ini bersama…”, Ketahuilah, diamnya dia selalu memikirkan banyak hal, memikirkan segala kemungkinan yang tak dipikirkan oleh yang lain.
Maka, janganlah sekali-kali kau membiarkan ia sendirian, janganlah sekali-kali kau membuat ia seperti berdiri diruang gelap mencekat. Batinnya selalu menyiksa dirinya, batinnya selalu memberikan kata-kata yang menghancurkan, “Mampus kau! dikoyak-koyak sepi!”
Kau sudah terlalu lama berjuang dan bertahan sendirian. Maka saat ini, silakan menangis bila kau ingin. Silakan menjerit dan berteriak, bila kau pikir perlu. Lakukan apapun yang kau rasa mampu menolongmu.
Tia Setiawati (via karenapuisiituindah)
Mungkin nama tengahku Kesendirian, kesepian, butuh banyak orang dan perhatian, baru Maharani. :)
Tahapan Mendidik Anak yang Dianjurkan Rasulullah
Salah siapa jika Anak tumbuh nakal, mental buruk? semoga orang tua tidak salah mendidik anak, mulai dari rahim sampai usia 18 tahun.
Ada beberapa tahap mendidik anak pada masa tersebut seperti dianjurkan Rasulullah SAW.
Berikut ini, tahap mendidik tersebut, seperti dilansir Keluargacinta.com dari buku Athfalul Muslimin Kaifa Rabbahum Nabi al Amin karya Jamal Abdurrahman:
Tahap 1, Sebelum Anak Lahir Sampai Usia 3 Tahun.
Mendoakan calon bayi Mendoakan dan memberikan perhatian saat anak dalam kandungan Mendoakan saat bayi hendak lahir Menyambut bayi dengan azan Men-tahniq bayi Mengajarkan atau memperdengarkan zikir dan doa kepada bayi Mengeluarkan zakat (fitrah) sejak ia lahir Menyayanginya Memberinya nama yang baik pada usia 7 hari Melaksanakan aqiqah pada usia 7 hari Mencukur rambutnya dan bersedekah setara dengan berat rambut pada usia 7 hari Bercanda dengan bayi Menyebut anak dalam gelar orang tua Meng-khitan Menggendong bayi Menanamkan tauhid sejak dini Memperhatikan penampilan dan gaya rambutnya Mengajarkan cara berpakaian Selalu menghadirkan wajah ceria kepadanya Menciumnya dengan penuh kasih sayang Bercanda dan bermain dengan anak-anak Memberi hadiah Mengusap kepalanya sebagai bentuk kasih sayang Mengajarkan dan meneladankan kejujuran pada anak.
Tahap II: Usia 4-10 Tahun
Membiasakan panggilan kasih sayang dengan nada lembut Menemaninya bermain dan belajar Mengajaknya berjalan sambil belajar Memberikan kesempatan yang cukup untuk bermain Menghargai permainannya Menanamkan akhlak mulia Mendoakannya Mengajaknya berkomunikasi secara intensif dan minta pendapatnya Mengajarkan amanah dan menjaga rahasia Membiasakan makan bersama Mengajarkan adab makan Mengajarkan persaudaraan dan kerja sama Melerai ketika anak-anak bertengkar Melatih kecerdasannya dengan lomba dan cara lainnya Memberikan hadiah kepada anak yang berhasil melakukan sesuatu atau berprestasi Menjaga anak dengan zikir dan mengajarinya berzikir Mengajarkan azan dan shalat Mengajarkannya berani karena benar Jika anak mampu, boleh ditunjuk sebagai imam
Tahap III, Anak Usia 10-14 tahun
Membiasakan salam Memberikan makanan dan pakaian yang layak Membiasakan anak tidur cepat (tidak larut malam) Memisahkan tempat tidurnya dari orang tua dan saudara yang berbeda jenis kelamin Mengajari adab tidur Membiasakan anak menjaga pandangan Membiasakan anak menutup aurat Mengajarkan anak tidak menyerupai lawan jenis Menyayangi, bukan memanjakan Merawat dan mendoakan ‘ekstra’ saat anak sakit Meluruskan kesalahan anak dengan bijak Jika anak melanggar, berikan hukuman mendidik bukan menghukum fisik Mengajari anak dengan praktek dan keteladanan Mengajarkan pengobatan alami tingkat dasar Membangun komunikasi intensif dalam forum keluarga Mengajarkan dan membiasakan adab masuk rumah Mengajarkan adab bertamu Mengajarkan dan membiasakan adab masuk kamar orang tua Membiasakan anak menghadiri undangan dan bersilaturahim Mengajarkan anak berbuat baik kepada tetangga Menjaga anak dari pergaulan buruk Mengajarkan dan membiasakan adab berbicara Mengajarkan anak menghormati ulama Membiasakan anak mengasihi teman Mengajarkan anak hidup sederhana Mengajarkan anak berjuang dalam kehidupan, menghadapi ujian dan kesulitan
Tahap IV, Anak usia 15-18 tahun
Memotivasi anak memanfaatkan dan mengoptimalkan waktu pagi Memastikan anak mengisi waktu luang dengan hal-hal positif Menguatkan kecintaan kepada Rasulullah dan Al Qur’an Mengarahkan anak menjadi teladan dalam pergaulan Mengajarkan kemandirian dan menjauhi kemalasan Lebih memperhatikan kualitas pendidikan, ilmu dan Al Qur’an Mengajari anak bahasa asing Mengenali pola pikir anak Memberikan nasehat pada momen yang tepat Mengajaknya rekreasi bersama Mengajari anak memikul amanah dan tanggungjawab Memberinya tugas penting Memupuk militansi dan semangat berjuang Menumbuhkan semangat berkompetisi Menanamkan motivasi untuk berhaji Memahamkan dan memotivasi untuk menikah jika telah memiliki ba’ah
Selamat meneledani. (KeluargaCinta.com).
repost dari Tribunnews
Simpen dulu
Simpen
Empat hal sebelum tidur
Rasulullah berpesan kepada siti Aisyah ra.
“ Ya, Aisyah! Jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara yaitu :
1. Sebelum khatam al-Quran 2. Sebelum menjadikan para nabi bersyafaat untukmu di hari kiamat 3. Sebelum para muslimin meridhai engkau 4. Sebelum engkau melaksanakan haji dan umrah “
Bertanya siti Aisyah : “Ya Rasulullah ! bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika? “
Rasul tersenyum dan bersabda :
1. “Jika engkau akan tidur , membacalah surat al –Ikhlas tiga kali Seakan-akan engkau telah meng-khatamkan Al-Quran
” Bismillaahirrohmaan irrohiim, ‘Qulhuallaahu ahad’ Allaahushshamad’ lam yalid walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ ( 3x ) “
2. “Membacalah shalawat untukku dan untuk para nabi sebelum aku” maka kami semua akan memberimu syafaat di hari kiamat “
“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Allaahumma shallii ‘alaa Muhammad wa’alaa aalii Muhammad ( 3x ) “
3. “Beristighfarlah” untuk para mukminin maka mereka akan meridhai engkau
“ Astaghfirullaahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih ( 3x )
4. Dan perbanyaklah “bertasbih, bertahmid , bertahlil dan bertakbir” maka seakan-akan engkau telah melaksanakan ibadah haji dan umrah
“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Subhanallaahi Walhamdulillaahi walaailaaha illallaahu allaahu akbar ( 3x )
Sampaikanlah kepada orang lain, maka ini akan menjadi Shadaqah Jariah pada setiap orang yang anda kirimkan pesan ini, dan apabila kemudian dia mengamalkannya, maka kamu juga akan ikut mendapat pahalanya sampai hari kiamat…… SEMOGA BERMANFAAT..
Teruntuk Suamiku....
Suamiku....
Aku bukan Khadijah apalagi Aisyah.
Aku bukanlah wanita luar biasa.
Aku jauh dari kata sempurna.
Tapi sungguh, aku ingin menjadi istri solehah yang taat kepadamu, menjadi penyejuk hatimu, menjadi obat atas lelah dan gundahmu.
Suamiku...
Maaf atas segala khilafku selama ini.
Yang sampai saat ini aku masih belum bisa menjadi istri solehah, menjadi yang kau harapkan.
Aku yang masih suka membantah bahkan meninggikan nada suaraku saat berbicara denganmu.
Yang kadang-kadang ku bersuara tanpa berfikir semua perkataan ku menjadi salah.
Tolong maafkan aku....
Aku yang masih jauh dari melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri, namun engkau tetap sabar.
Suamiku....
Sungguh aku malu, Aku malu denganmu.
Maaf atas segala kekuranganku, segala egoku, segala tingkah dan ucapku yang membuatmu sakit hati.
Dan Suamiku....
Tak ada kebahagiaan bagiku selain menghabiskan semua waktu yang kujalani bersamamu.
Mohon terus bimbing aku menuju SurgaNya, ingatkan terus aku bila ku salah. Karena aku butuh itu, aku butuh kamu, suamiku...
I love you, Ali....