Disclaimer: Tulisan ini tidak bertujuan untuk ajang promosi suatu produk. Selain itu, ada kemungkinan tulisan ini akan menyinggung anda. Jika tidak tidak siap untuk membaca keseluruhan dari tulisan ini, mohon tidak perlu membacanya sama sekali.
“Ada 4200 sistem kepercayaan di dunia. Apakah kita harus mempelajarinya satu-persatu, sehingga kita dapat mengonfirmasi dan memvalidasi satu agama sebagai suatu kebenaran?”, tulis seseorang di suatu situs pemberitaan maya.
“Bukankan kita punya insting untuk menentukan, mana jalan yang benar?”, lanjutnya.
Menarique. Sangat menarique.
Kalo saya gak salah nangkep, orang ini seakan bilang, “Dude, insting gue berkata kalo agama yang sekarang gue anut adalah yang paling benar.”
“Oh, ya? Insting gue malah mengatakan kalo gue ini separo serigala, separo hyena. Mungkin di kehidupan sebelumnya, gue adalah dewa orang viking.”
Oke. Contoh yang sangat buruk.
Membahas suatu permasalahan logika, bagi saya, akan sulit dilakukan kalo permasalahannya di ranah yang rumit. Sebagian orang bisa mengerti dengan cepat. Sebagian yang lain akan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sebagian yang lain mungkin malah berkata, “Fcuk dis lojik!”.
Saya termasuk golongan yang ketiga, sayangnya.
Karena otak saya sering gak nyampe dengan yang begituan, akhirnya ya saya pake alat. Analogi.
Taro lah gini. Misalnya ada seseorang, sebut saja Avi.
Si Avi ini belum pernah makan mie instan sama sekali. Apapun itu. Bahkan mi remez sekalipun.
Suatu hari, si Avi disodorin Indomie Goreng. Ternyata dia suka.
Saking sukanya, si Avi selalu makan Indomie Goreng di warung mie, Upnormal, ataupun di rumah sendiri.
Temennya sampe bingung. Nih anak kesurupan apa sampe segila itu sama Indomie Goreng.
“Indomie Goreng is da best! Bless da people who creates Indomie Goreng!”, kata Avi, mencoba jadi swag nigga di hadapan teman-temannya.
Tapi, nigga macam apa yang doyan banget Indomie Goreng?
“Oh. Kalo gue mah seneng Indomie rasa ayam spesial.”, kata temennya yang lain.
“Gue suka makannya Sarimi isi dua. Lebih banyak, lebih puas.”, yang lain pun ikut menimpali, mencoba mencampur adukkan iklan sarimi dengan iklan Leo kripik kentang aseli.
“Goblok lo semua! Indomie goreng jelas yang paling enak!”, si Avi mulai ketriggered. Mulai mengkafirkan menggoblok-gobloki pihak lain.
“Napa sih ni Avi? Lagi ‘sakit’ ni anak. Kebanyakan makan micin kali ya?”, kata temennya yang lain, sambil menyantap Bakmi Mewah dengan daging ayam aseli. “Ini baru bakmi!”, lanjutnya.
“Emang lo udah pernah nyobain mie lain? Gimana caranya lo bilang Indomie Goreng paling enak?”, orang lain pun ikut nimbrung. Kayaknya kesel mie Samyang direndahkan oleh hanya Indomie Goreng. Terlihat wajahnya yang kesal, bercampur dengan kepedesan. Matanya nanar menatap ke segala arah, mencari air mineral.
“Gini ya, pertama kali gue nyobain Indomie Goreng, gue tau, Indomie Goreng itu mie yang paling enak sejagad. Ga ada yang ngalahin. Kalo gak setuju, lo ngomong aja sama tangan gue.”, tereak Avi sambil mengacungkan kepalan tangan. Kayak ngajak tawuran.
Tawuran pun pecah di Indonesia warung Abnormal. Bogem berjatuhan. Mangkok-mangkok berseliweran. Sendok garpu tertohok di dinding. Warcry dikumandangkan. Waiter biasa aja. Meja patah. Manajernya ngamuk.
Diatas adalah contoh buruk dari orang yang tidak memahami toleransi profesi sebagai kritikus makanan.
Dikira jadi kritikus makanan itu gampang?
Setidaknya kritikus makanan yang ambil pendidikan spesialis mie instan udah pernah nyobain mie instan dari berbagai merek dan berbagai rasa, baru bisa menilai (lah, ini dokter atau kritikus?).
Toh, pada akhirnya, beliau tidak menjudge, mana merek mie yang paling enak. Bisa-bisa, leher patah kalo terlalu berpihak sama suatu merek.
Atau, lebih buruk lagi, bisa-bisa, kredibilitas dan objektivitasnya dipertanyakan. Malapetaka bagi profesi kritikus.
Kita, yang memang bukan kritikus makanan, apalagi yang gak ngambil pendidikan spesialis mie instan, rasanya gak pantas bilang, “Ini yang paling enak”.
Kita cuma pantas buat bilang, “Gue rasa, menurut gue, mie ini yang paling enak. Kalo yang lain sih gue gak tau. Balik lagi ke selera masing-masing orang lah”.
Selanjutnya, saya punya alasan buat ga terlalu percaya sama insting. Insting kurang kredibel. Menyerah kepada insting sama saja menyerah kepada probabilitas.
Hitler kalah Perang Dunia II karena terlalu mengandalkan insting, bukannya strategi dan perhitungan matang.