Kipas angin yang kembali berputar
Pagi hari aku bangun dengan mata sembab, hasil menangis tadi malam. Bukan menangisi takdir, melainkan melepas rindu yang tak akan pernah tersampaikan.
Pagi ini alam seolah ikut merayakan pelepasan rinduku. Cuaca lebih dingin dari biasanya, pun suara kipas angin di kamarku turut lenyap. Ternyata ketika kipas angin menyerah pada kehidupan, kesunyian itu kian berlipat ganda. Rasanya seperti waktu terhenti berputar.
Gorden jendelaku membeku, begitu pun seluruh kain yang kugantungkan. Seolah semua kehilangan daya untuk bergerak, menegaskan bahwa semuanya telah mati atau lebih tepatnya, benda mati.
Kipas angin yang diam, hawa yang dingin, dan langit yang mendung. Hidangan Minggu pagi itu seperti berbisik kepadaku,
“Kau tidak sendiri, rasamu adalah rasaku juga.”
Namun bisikan itu justru menekan dadaku.
Aku tak ingin ditemani oleh kesedihan yang sama.
Aku tak mau dunia ikut muram hanya karena hatiku runtuh.
Aku ingin hidup tetap bergerak meski rinduku tak menemukan tuan pulang.
Kuambil tempat di ujung dipan, termenung memperhatikan setiap benda di ruangan yang kian membiru dan mendingin. Sementara di luar, gunung yang biasanya telah bermandikan cahaya kini tertutup kapas putih. Punggungnya yang gagah lenyap ditelan mendung. Sejauh mata memandang hanya hamparan sunyi yang enggan bernapas.
Pagi ini bukan sekadar dingin.
Ia seperti berhenti hidup.
Aku tak sanggup lagi berlama-lama di dalam kematian yang hening ini.
Dengan tangan sedikit gemetar, kunyalahkan kipas angin dan memutarnya hingga kecepatan paling tinggi. Suaranya meraung memecah sepi. Angin dingin menerjang tubuhku, namun justru membuatku merasa masih ada.
Aku menolak pagi yang mati.
Aku menolak tenggelam dalam diam.
Meski harus dibayar dengan menggigil, toh aku memiliki selimut tebal yang kubeli di musim panas kemarin.
Dan lewat pukul tujuh, mentari berhasil meluruhkan kabut putih.