Hari ini adalah hari yang panjang buatku. Sudah lebih 12 jam, dari pagi hingga malam aku berada di ruangan yang sama. Ternyata menjadi koordinator lapangan suatu acara diskusi sambil tetap memusatkan konsentrasi pada jalannya diskusi itu sendiri bukanlah perkara mudah. Berjalan kesana kemari mengakomodasi semua kebutuhan terpenuhi, menghubungi sejumlah orang memastikan semuanya aman terkendali, lalu kembali duduk dan segera mengejar ketertinggalan supaya paham dengan substansi diskusi.
Tata letak meja dan kursi di ruang rapat ini disusun dalam format U-shape. Khusus meja panitia, disediakan satu baris meja di belakang, dekat dengan coffee-break lounge. Aku datang paling pagi di antara yang lain, tepat saat pihak hotel sedang meletekkan gelas, botol air mineral kecil, dan seminar-kit di setiap meja. Segera setelah semuanya rapi disusun, aku langsung memilih tempat paling ujung di jajaran kursi panitia. Karena dengan begitu aku bisa leluasa mendorong dan menarik kursi setiap harus keluar mengurus sesuatu.
Kalau sudah sibuk mengurusi acara begini, biasanya perutku akan bertingkah; hilang selera makan. Dan biasanya lagi, di penghujung hari aku akan mengutuk perutku sendiri karena ia berteriak-teriak mengeluh kelaparan.
Aku menekan home button handphone untuk melihat pukul berapa sekarang. Ah, masih jam setengah 9, semoga prasmanan untuk makan malam tadi belum dibereskan, batinku. Di luar ruangan, ternyata ada beberapa peserta diskusi yang sedang menikmati makan. Mungkin mereka sedang bosan. Mungkin juga mereka masih lapar karena sudah “berpikir” seharian. Apapun itu, syukurlah. Aku senang karena tidak harus makan tergesa-gesa. Makan sendiri di saat-saat seperti ini pasti akan terlihat menyedihkan.
Setelah selesai makan, aku pergi ke toilet sebentar untuk mencuci tangan dan seterusnya; menatap cermin, mendekatkan wajah ke cermin, memeriksa sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi, tersenyum di depan cermin, menarik nafas, tersenyum lagi, kemudian selfie….enggaklah. (Tapi kalau beneran selfie gapapa juga kan, ga ada yang liat ini hehe)
Suhu pendingin ruangan di dalam terasa sangat kontras dibandingkan dengan di luar. Secara reflek aku merapatkan kancing blazer berwarna merah maroon yang sedang kukenakan. Dan tepat saat kakiku baru saja melangkah masuk, sepasang retinaku menangkap sosok pria berkacamata yang tatapannya fokus pada layar di depannya, sementara jarinya bermain-main pada papan ketik di atas meja. Aku tidak melihatnya sebelumnya. Rasanya dia bukan salah satu peserta diskusi, karena bila memang demikian, sudah barang tentu panitia yang lain akan mengantarkannya duduk di kursi yang ditandai dengan namanya. Otakku berputar sembari kakiku terus melangkah menghampirinya. Tidak. Aku tidak benar-benar menghampiri laki-laki itu. Satu-satunya alasan adalah karena kursi yang dia duduki saat ini adalah kursiku—atau, tadinya begitu. Setelah berdiri agak dekat dari tempatnya duduk, aku melihat ransel kecilku—yang saat kutinggalkan berada di atas kursi—kini sudah berpindah posisi; di bawah kaki lelaki itu.
Aku mendekati Tia yang berdiri di dekat coffee-break lounge yang berada di belakang meja panitia. “Tia, itu siapa?” tanyaku sambil mengarahkan telunjuk pada lelaki itu.
Sambil mengaduk gula pada teh hangatnya, Tia menoleh mengikuti arah telunjukku. “Oh, itu Kak Zidan.”
“Dia siapa?” aku masih bertanya dengan kata tanya yang sama, namun Tia pasti tau jawaban yang aku harapkan adalah informasi selain nama.
“Dia bagian dari project ini juga kok, bagian marketing. Soalnya kan nanti output dari diskusi ini pasti ada publikasi. Mungkin kenapa baru datang karena tadi sibuk di kantor, jadi baru bisa gabung diskusi malam ini.” Tia mengakhiri penjelasannya sembari mengambil snack yang akan mengisi piring kecilnya.
“Ohgitu.. Duh tadi tuh aku duduknya di situ.”
“Kamu duduk di ruang belakang aja, bareng aku sama Kak Ega. Banyak kursi kosong kok.” Tia menawarkan.
“Oke deh. Aku ambil tas dulu ya.” Karena tidak ada pilihan lain, aku menyutujui tawaran Tia.
Ruangan yang dimaksud Tia adalah ruang yang berjarak kira-kira tiga meter dari meja panitia. Letaknya agak di belakang, tempat panitia meletakkan barang-barang untuk keperluan diskusi; printer, map, pulpen, recorder, sign name acrylic, dll. Jadi dalam ruang diskusi yang besar itu, ada ruang kecil lagi di dalamnya, untuk tempat semacam dapur kotornya.
“Mas, permisi ya mau ngambil tas.” aku langsung berjongkok untuk meraih ranselku yang letaknya agak di dalam kolong meja.
“Oh iya, silakan.” lelaki itu masih serius dengan laptopnya. Ia menggeser kakinya sedikit, memberi ruang supaya tidak menghalangiku.
Tidak sampai lima detik, aku berdiri lagi. Lelaki itu kembali memasukkan kakinya ke kolong meja.
Hem.. dia satu almamater denganku rupanya, batinku ketika melihat apa yang sedang dia kerjakan di laptopnya; yang kalau tidak salah, mendesain poster, untuk kegiatan ikatan alumni kampusku.
Aku tidak lagi berusaha mengikuti diskusi yang semakin malam pembahasannya semakin alot. Selain karena dari posisi tempat dudukku yang sekarang susah mendengar jalannya diskusi, ada yang lebih menarik untuk didengarkan; kisahnya Tia. Tia bercerita bahwa sebelum hari ini ia baru saja menghabiskan waktu liburan di Jogjakarta. Tadinya ia ke sana untuk menghadiri acara pernikahan keluarga, namun ia sempatkan untuk berjalan-jalan walau sebentar.
“Tara, kamu pernah ke Jogja gak?”
Aku mencoba mengingat. “Pernah sekali, tapi udah lama banget. 2011 deh kalau ga salah.”
“Di Jogja tuh seru banget. Aku setuju sekaligus miris sama kata-katanya Sudjiwo Tejo. Beliau bilang, ‘Pergi ke Jogja adalah caraku menertawakan kesibukan orang-orang Jakarta’. Dan tebak, selama di sana aku nertawain diriku sendiri. Hahahaha” kami berdua tertawa. Selanjutnya Tia menceritakan bagaimana dalam keluarga neneknya, budaya khas Jogja masih sangat dipertahankan. Bagaimana ia, yang sangat cuek dengan penampilan, tiba-tiba terpaksa memakai kebaya Jogja dan jalanpun harus seanggun mungkin. Cerita kamipun berpindah-pindah dan terakhir Tia menyatakan pandangannya; bahwa pernikahan baginya adalah pilihan, bahwa ia sebagai perempuan independen tidak terlalu memerlukan afeksi dari laki-laki. Tapi ia senang mempunyai anak. Sehingga bisa jadi ia memilih untuk tidak menikah lalu mengadopsi anak. Oh, meskipun kami sedang bercerita, aku dan Tia sama-sama sedang multitasking, mengerjakan apa yang harus dikerjakan di laptop masing-masing. Tia menyelesaikan power point untuk kegiatan ikatan alumni kampusku (ohya, Tia bilang, ia dan lelaki tadi memang sama-sama dalam jajaran ikatan alumni kampus untuk periode 3 tahun ke depan), sementara aku sibuk membaca rancangan produk hukum yang sebelumnya dibuat oleh Kak Ega.
Sesekali pandanganku tertuju ke luar; ke arah kursiku yang kini ditempati oleh lelaki itu. Aku memperhatikan punggungnya. Ia duduk dengan tegap, memperbaiki letak kacamatanya, mengecek handphonenya.
Menit berikutnya setelah aku selesai dengan bahan bacaanku, kursiku sudah kosong. “Tia, aku balik lagi ya. Kayaknya yang tadi duduk di sana udah pergi.”
Begitulah. Akhirnya aku mendapatkan kembali singgasanaku. Ternyata benar, segala sesuatu baru terasa berharga setelah kita kehilangannya. Ya, walau sebenarnya saat diambil orang lain pun setelah mendapatkan kembali kursi ini aku merasa biasa saja, setidaknya aku berterima kasih dengan lelaki tadi. Aku tidak akan membahas sesuatu yang menarik tentang Jogja hingga feminisme kalau lelaki tadi memilih kursi lain untuk ditempati.