Kata yang tidak sempat terucap, kawan lama yang sudah hilang. Sebuah catatan di Tahun 2018.
(Enam hari menuju hari raya)
Kau tahu Marda, aku adalah penanti ulung. Melakukan kebiasaan yang sama sejak sebelas tahun yang lalu. Selepas ashar diakhir ramadhan aku menanti kau dari jendela rumah. Tidak berharap kau datang, hanya ingin memastikan kau sudah pulang.
Kau tau yang kusebut seseorang yang sembunyi? Ialah kau marda, kau tak terlihat namun kau selalu ada dalam palung hati terdalam. Aku selalu menyembunyikan nama kau disana.
Jika kau terbaca tulisan ini , maka sempurna sudah tulisan ini kutujukan untuk kau. Mulutku terlalu takut untuk menceritakannya, takut jika kau tahu, maka kau hilang, mendobrak hatiku lalu kau pergi dari sana. Kurasa tak ubahnya dengan tulisan ini, akan berakhir sama, kau juga akan menghilang.
Aku tahu resiko terburuk dari tulisan yang akan kuselesaikan ini, tapi aku sudah terlanjur kasihan pada diriku sendiri. Oleh sebabnya, mari kita selesaikan tulisan ini sampai dengan bahagian penutup.
Kau ingat marda, saat pertama kali kau menginjakkan kaki disekolah kita?
Kau anak yang terlalu bersemangat, tergopoh-gopoh lari menuju kelasmu yang baru, menyandang tas ransel kecil warna kuning.
Di tahun-tahun itu banyak orang baru muncul, anak-anak pindahan dari sekolah lain. Wajah-wajah yang lebih cantik, jepitan-jepitan rambut yang indah, anak-anak yang lebih pintar, lebih-lebih membuatku makin ciut dan memilih diam, namun sesekali melawan.
Lucu memang, ditahun-tahun itu aku sudah menjadi anak yang idealis sekali, padahal masih usia 10. Kau ingat, aku pernah beradu mulut dengan kepala sekolah sampai aku menagis karena mempertahankan prinsipku. Kalau di ingat-ingat aku tidak menyesal melakukannya, karena jika waktu itu aku tidak begitu maka tidak ada aku yang sekarang.
Puncaknya adalah diawal tahun 2007. Aku yang tiba-tiba dipanggil lagi ke ruangan kepala sekolah dan dijejali kata-kata yang tidak pantas untuk anak usia 11. Bukan hanya ibu kepala sekolah, tapi juga ada satu orang tua disana.
Beberapa minggu sebelum kejadian itu, aku ditelfon oleh nomor yang tidak kukenal. Aku baru memiliki handphone saat akhir kelas 6. Anak yang masih polos dan bodoh di ganggu oleh nomor tak dikenal dan itu tidak sekali namu sering kali. Aku ingat jelas, nomor yang masuk adalah nomor telfon rumah, sesekali bergantian dengan nomor handphone. Berniat jahil dan mengganggu, gayung bersambut aku yang polos dan bodohpun juga ikut jahil.
Akhirnya ada suara diujung telfon, suara anak yang lebih kecil dariku, dan aku mengenal suara anak lain yang bisik-bisik dibelakangnya.
Adalah kau marda, yang menjadi musabab aku tertunduk menangis diruang kepala sekolah pagi itu. Ibu kepala sekolah dan orang tua yang kutahu adalah nenek kau datang untuk menegur dan menuduhku sebagai anak nakal yang tidak tahu diri. Padahal aku hanya ikut jahil pada nomor handphone yang mengganggu dan menjahiliku.
Namun kini, jika dipikir-pikir ibu kepala sekolah dan nenek kau wajar marah besar, secara handphone yang kau gunakan adalah kepunyaan kakekmu. Dan diwaktu yang tidak tepat pula aku mengirim pesan jahil yang kukira itu tersampaikan padamu, ternyata dibaca oleh orang tua.
Aku tidak bisa membela diri, posisiku lemah. Dua lawan satu. Dan aku kalah. Memilih menangis dan meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan walau sebenarnya bukan aku yang memulainya.
Setelah kejadian itu aku memilih banyak diam, tidak memperdulikanmu yang terlihat pura-pura tidak tahu. Tapi marda, aku memaafkanmu dengan tulus atas apa yang telah kau lakukan padaku dulu.
Hari-hari berganti, ujian demi ujian dilalui. Tiba masa dimana jarak dalah obat terbaik agar aku tidak menanam benci dan menjadi lupa.
Dan karena itulah aku menunggu kau setiap tahun, hanya untuk memastikan bahwa kau tetap sama. Lelaki kecil yang kuingat dulu, yang dengan melihatnya saja membuat aku bahagia.
Kita tumbuh menjadi remaja, bertemu dengan banyak orang-orang baru, jatuh cinta dengan malu-malu, aku bertemu cinta pertama, lalu patah hati pertama kali, dicintai oleh orang yang pernah membenci, lalu pada akhirnya masih nama kau yang aku cari.
Aku berterima kasih kepada pak Mark Zuckerberg, karenanyalah aku dapat menemukanmu, lalu dapat memperhatikanmu kapanpun aku mau, tidak cuma satu tahun sekali.
Aku melalui banyak perasaan. Dari hanya ingin menyimpan namamu saja, lalu menjadi suka, ingin memiliki, kecewa, marah, lalu ingin berdamai dan kembali menyimpan perasaan itu yang tak bisa kunamai apa.
Awalnya aku sudah merencanakan tulisan ini rapi, ber-plot dengan pembagian tahun ke tahun, agar kau tahu bahwa aku mengingatmu sangat jelas, sangat rinci.
Beberapa jam yang lalu sambil melihat facebook dan menyingkap memori lama aku meyakinkan diri untuk segera menyelesaikan tulisan ini. Aku tidak perlu panjang lebar, terlalu banyak menulis hanya akan memperlihatkan betapa lemahnya perasaanku.
Kurasa, aku juga tak perlu menambah deretan cerita-cerita perasaanku sejak remaja hingga sebelum aku memutuskan menuliskan ini. Tapi yang jelas, selama itu kau selalu ada di bagian hatiku dan aku juga terlalu pandai untuk menyembunyikannya dari kau juga mereka.
Oleh karena itu, izinkanlah aku menyampaikan beberapa hal. Tujuanku menuliskan cerita ini adalah untuk jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa selama bertahun-tahun ada namamu dibagian hatiku yang kadang sembunyi-hilang dan begitu seterusnya.
Jika kau membaca tulisan ini, itu berarti sudah ku keluarkan namamu dari bagian tersembunyi hatiku dan aku sudah baik-baik saja atas semua keputusan itu, mengerti bahwa sedari awal aku sudah menempatkan namamu ditempat yang salah.
Aku akan belajar lebih banyak, berjalan mencari ilmu lebih jauh, menyibukkan diriku dengan ibadah, aku akan menjadi perempua yang tangguh, tidak kalah oleh lelah, dan tidak menangis karena gagal.
Saat aku berada di titik itu, aku berharap kau sudah berada di hati yang benar yang atas kehendakmu untuk berada disana.
Aku persilahkan kau menghilang,
Itu hakmu dan aku tidak akan melakukan kesalahan lagi.
Aku tidak akan menunggu siapapun di lebaran kali ini.