Kita tentu pernah merasakan kekecewaan dari seseorang atau sesuatu hal, merasakan kegagalan, atau mungkin merasakan realita yang keluar dari batas ekspektasi. Kemudian berujung pada rasa cemas, marah, dan frustrasi.
Aku pernah merasakan fase itu.
Aku pernah merasa kecewa dengan orang, bahkan kecewa dengan diriku sendiri, dan menganggap ini tidak adil, ini tidak seharusnya terjadi pada diriku.
Tidak ingin berlarut-larut dalam fase tersebut, aku memilih menghabiskan waktu sekalian healing ke toko buku (tempat favoritku untuk menenangkan diri) , dan menemukan buku berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Setelah membaca review buku tersebut, tanpa berpikir panjang aku langsung membelinya lalu membacanya berhari-hari.
Di buku Filosofi Teras ini kita diajarkan oleh prinsip Dikotomi Kendali. Apa itu? Dikotomi kendali ini adalah solusi ketika kita dihadapi dengan situasi-situasi di atas. Berawal dari kata dikotomi (pembagian atas dua hal yang saling bertentangan), dan kata kendali. Dikotomi kendali mengajarkan kita bahwa dalam kehidupan ada hal yang dapat kita kendalikan dan ada yang tidak dapat kita kendalikan.
Aku berikan contoh situasi yang biasa kita temukan di lingkungan sekitar
Dalam keseharian sebagai mahasiswa kita ingin mendapat nilai yang bagus, skripsi lancar jaya, dan pasti kita mikir kalau semua itu bisa kendalikan, tapi coba dipikir lagi, bahwa ada banyak faktor eksternal yang bisa memengaruhi nilai dan skripsi kita. Misal kita ditemukan dengan dosen yang pelit nilai, atau ternyata mendapatkan dosen pembimbing yang hobi mempersulit skripsi, atau tiba-tiba orang tua mengalami konsidi finansial yang tidak dapat lagi membiayai sehingga kita harus kerja paruh waktu dan tidak fokus untuk belajar. Apakah hal tersebut dapat kita kendalikan?
Atau misalnya kita melihat instastory teman pada cakep-cakep, memamerkan kerjaannya, atau liburannya, atau barang-barang mewahnya. Kemudian kita merasa iri, pengen juga tapi tidak kesampean. Dan berujung kepada kecewa sama diri sendiri kenapa tidak bisa seperti mereka yang ‘kelihatannya’ sangat bahagia.
Dalam kehidupan ada hal yang dapat kita kendalikan, seperti persepsi, perasaan, mood, pikiran, dan segala sesuatu dalam diri kita. Adapula hal yang tidak dapat kita kendalikan, seperti, opini orang lain, persepsi orang lain, mood orang lain, pikiran orang lain, reputasi, kekayaan, kesehatan, kondisi saat lahirnya kita di dunia (jenis kelamin, suku, etnis).
Kita tidak bisa mengendalikan apakah dosen yang kita dapat ini adalah dosen yang pelit nilai dan semaunya saja memberi nilai, atau sedang ga mood saat isi nilai, atau dosen pembimbing yang mempersulit skripsi kita. Sama halnya dengan instastory teman yang terlihat memamerkan kebahagiannya, ini termasuk kepada persepsi orang lain atau kegemaran orang lain.
Apa yang harus kita lakukan?
“Fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan”
Emosi hadir karena dipicu oleh diri kita sendiri. Bahwasanya, pikiran kita, perasaan kita sepenuhnya ada dalam kendali kita. Kita bisa saja bersikap biasa-biasa saja saat dapat nilai jelek atau lambat sidang skripsi, atau tidak insecure karena melihat kebahagiaan teman lewat instastorynya
Kita tidak seharusnya diperbudak dengan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.
Fokus dengan apa yang bisa kita kendalikan, fokus dengan apa yang kita punya, keahlian kita, pola emosi kita. Maka kita akan menjadi pribadi yang kuat.
Dikotomi kendali tidak mengajarkan kita untuk pasrah-pasrah aja dengan keadaan jadi membuat kita hilang motivasi dalam segala hal. Ga gitu konsepnya guys. Jadi begini, akan selalu ada kemerdekaan terhadap diri kita, persepsi dan pikiran kita. Kita tidak bisa memilih situasi kita, tetapi kita selalu bisa menentukan sikap kita atas situasi yang sedang dialami. Mau marah terus? Mau cemas terus? Mau insecure terus? Mau kecewa terus? Engga kan.
Setelah membaca buku ini rasanya lega banget, aku lebih bisa mengendalikan diri, fokus dengan hal yang digemari.