Saya tidak pernah menyangka, bahwa cobaan di pernikahan saya justru datang ketika kami dipercayai oleh Allah SWT untuk mendapatkan amanah-Nya.
Saya dan suami menjalani Long Distance Marriage. Kebetulan sementara saya tinggal dirumah Ibu saya. Sampai waktunya tiba saya akan ikut bersama suami merantau di Ibu Kota. Namun, saya tidak pernah tau kapan waktu itu akan datang, kami tidak pernah membicarakan hal tersebut dengan serius. Atau malah kami tidak sempat membicarakannya ketika kami bertemu?
Suami saya memang pribadi yang sangat cuek. Dari awal saya mengenalnya, saya sudah mengerti. Sebenarnya saya cukup memahami hal tersebut, kebetulan saya memang kurang sreg dengan karakter over caring apalagi menjurus ke posesif. Saya sendiri memang orang yang sangat cuek dan kurang sensitif terhadap lingkungan sekitar, uniknya saya memiliki hati yang sangat sensitif. Beliau family man, saya sangat beruntung dinikahinya. Seiring berjalannya waktu, saya paham bahwa beliau sangat menyayangi keluarganya. Maksud saya, bapak mama, mbak dan beberapa anggota keluarganya yang lain.
Sebenarnya, kalau boleh saya singgung sedikit tentang hal lampau... sebelum saya memutuskan menerima ajakan Beliau menikah, saya memang cari tau dari beberapa hal di sosial media beliau. Sedikit saya tau, bahwa beliau sangat menyayangi mamanya. Wah betapa beruntungnya saya karena saya juga akan dicintai oleh suami yang menaruh bakti pada Ibundanya.
Suami pulang dua minggu sekali atau kadang-kadang ketika sedang sibuk pulang atau keuangan kami mepet beliau pulang satu bulan sekali. Saya rasa suami saya cukup adil, suatu ketika kami berdua menginap bersama ibu saya, di kepulangan berikutnya kami menginap dirumah mertua saya.
Ketika dirumah Ibu saya, karena kebiasaan Ibu dan Embah Uti tidur sangat gasik, jam 20:00 sering sudah memposisikan diri di kamar masing-masing. Jarang sekali ada family talk antara suami dan mertuanya; Ibu kandung saya. Berbeda ketika kami dirumah mertua, karena memang keluarga mertua mempunyai jam tidur yang berbeda dengan keluarga saya. Suami sering sekali menghabiskan waktu diruang tengah, nonton tv, main hp dan ngobrol-ngobrol. Hampir ketika menginap saya pasti tidur duluan. Karena kebiasaan dirumah yang tidur lebih awal. Jam 21:00 saya sudah tidak tahan untuk tetap duduk diruang tengah sambil menonton tv. Awalnya saya kira ketika saya memutuskan untuk tidur, suami akan mengikuti saya dan kami akan menghabiskan waktu bersama dikamar untuk ngobrol tentang banyak hal. Namun ternyata suami menghabiskan waktu bersana keluarga lain (orang tua/yang lainnya) diruang tengah, terkadang sampai tengah malam atau paling awal jam 23.00 baru masuk kamar. Awalnya saya sangat sedih akan hal itu, lambat laun saya terbisa, pun saya menyadari mungkin suami saya kangen dengan bapak dan mamanya. Tidak apa-apa saya harus mengalah.
Lima bulan kami menikah, akhirnya kami dipercayai untuk segera menerima amanah untuk kami didik dan rawat dengan sepenuh hati. Betapa senangnya kami waktu itu. Saya ingat betul pertama kali saya mengabari suami tentang kehamilan saya. Waktu itu suami sedang siap-siap ke Cirebon, namun saya mendesak agar beliau melihat hasil tes pek yang saya kirim melalui whatsapp. Kebetulan tugas dinas beliau waktu itu berada di tengah laut; yang terkadang susah sekali untuk di hubungi.
Sebelumnya saya masih bisa menerima ketika suami lebih memilih quality time bersama keluarganya dari pada saya. Namun ternyata ketika saya hamil, suami pun masih melakukan hal itu. Saya kira ketika saya mengandung anaknya, dia akan menghabiskan waktu dengan saya dan anak kami. Saya kira kami akan melakukan pillow talks sambil mengelus elus perut saya, mendongengi anak kami bersama-sama seperti ketika saya tidur sendiri dikamar ketika suami diperantauan. Saya kira Beliau akan sering mengobrol dengan anak kami yang waktu itu ada di dalam perut. Sayangnya hal tersebut sangat jarang terjadi. Bahkan saya sering memaksa Beliau hanya untuk memegang perut saya. Saya kadang memaksa beliau untuk menyapa anaknya yang masih dikandungan. Saya kadang share artikel tentang bagaimana janin akan mengetahui suara ayahnya, dan bagaimana janin menyukai tone nada berat dari laki-laki. MashaAllah sakit sekali hati saya. Suami saya selalu lebih memilih menghabiskan waktunya dengan keluarga dia dari pada dengan saya yang waktu itu sedang mengandung anaknya. Kadang saya bisa sabar akan hal itu. Namun saya tidak jarang menangisi nya. Sangat sering saya keluar kamar di rumah mertua dengan keadaan mata yang lebam. Ketika hal itu terjadi, berarti saya tidak mampu menahan rasa sedih saya hingga keluar air mata. Terkadang saya berpikir bahwa sebenarnya suami saya tidak mencintai saya. Beliau menikahi saya karena memang target menikah beliau diusia beliau waktu itu. Pada bulan ke tujuh kehamilan saya, mertua saya pernah mengadukan saya pada Ibu kalau saya sering sekali menangis dirumah mertua. Mertua juga heran mengapa hal itu bisa terjadi, karena sebenarnya saya memahami bahwa mertua saya menerima saya sebagai menantunya. Namun, saya baru menyadari setelah anak saya lahir, bahwa mertua mengira saya tidak betah tinggal dirumahnya. Ya Allah satu miskomunikasi terjadi pada rumah tangga kami. Nyatanya saya sering menangis karena onsecurity dan kecemburuan saya pada keluarga mertua. Dimana saya bukanlah prioritas suami, bahkan ketika saya hamil, itulah mengapa runtuh pertahanan saya untuk tetap tegar tanpa tangisan.
9 bulan 2 minggu saya mengandung, saya kira saya dan anak kami bisa menjadi prioritas suami. Terlebih ketika suami menemani saya dalam persalinan. Dimana saya harus melahirkan bayi kami dengan berat 3,8 kilo; dirumah bidan desa dan tanpa intervensi medis. Persalinan yang sangat luar biasa, saya harus mengejan hingga 2 jam (batas maksimal mengejan pada persalinan anak pertama) dan dijahit luar dalam hingga 1 jam. Dan sempat pingsan karena mengalami pendarahan.
Pada hari pertama, saya kira saya akan tidur bersebelahan dengan anak dan suami saya; dengan Ibu ada di ruang depan yang stand by bila anak kami tbtb terbangun dan kami belum ada skill untuk menanganinya. Itu murni hanya angan-angan saya. Saya tidur bersama anak saya dan budhe suami, dengan suami tidur di depan ruang tv. Ibu saya? Yang menemani saya selama kehamilan, yang menemani saya kontrol di dokter dan bidan ketika suami tdk bisa ikut, yang menemani kegamangan saya ketika sudah lewat HPL (Hari Perkiraan Lahir), yang menemani segala macam ikhtiar yang saya lakukan agar bisa melalui persalinan normal dengan lancar. Ibu saya tidur di kamar lain. Saya yakin Ibu pun tidak menyangka, Ibu hanya diam. Saya yakin betul.
Hancur hati saya sehancur-hancurnya. Gagal sudah menikmati malam pertama bersama support system terbaik saya. Nyatanya justru kecewa yang menimpa. Terlebih tidak ada komunikasi dari suami akan menginapnya budhe kami. Ya Allah... Ya Rabb-ku.... mohon ampun karena ada rasa kecewa ditengah-tengah kebahagiaan tiada tara dari-Mu.
Di hari ketiga pasca persalinan, keluarga suami berkunjung kerumah. Menengok cucu baru mereka, alhamdulillah keluarga suami sangat baik pada saya dan anak kami. Namun, tak saya sangka, mertua saya mengajak saya untuk tinggal dirumahnya. Kebetulan rumah mertua ada diluar kota, jaraknya kurang lebih 2 jam. Saya masih bisa menolak dengan tersenyum-senyum. Saya kira hanya becanda saja.
Tapi kemudian suami saya pun ikut-ikutan mengajak saya untuk menginap diorang tuanya. Ya Allah kenapa beliau perlakukan saya seperti ini? Jahitan saya belum kering, hb saya belum kembali normal, seluruh badan terasa tidak enak, tega-teganya suami saya seperti itu. Rasa ingin mengeluarkan air mata, dan alhamdulillah saya bisa menahannya. Kemudian masih dihari yang sama, suami dan mertua kembali membujuk agar saya tinggal dirumah mertua. Rasa akan habis kesabaran, alhamdulillah masih bisa ditahan. Hanya menjawabi dengan ketus tanpa meluapkan emosi, tega-teganya (":
Mohon ampun hamba-Mu ya Rabb.... kenapa rasa kecewa selalu tbtb muncul disaat yang bahagia ini... mungkin saya harus lebih banyak belajar bersyukur.
Begitu kecewanya saya, tanpa saya sadari mempengaruhi produksi ASI saya. ASI yang hari sebelumnya ada, bahkan beberapa jam sebelumnya anak kami masih bisa menikmatinya tbtb mampet tidak bisa keluar sama sekali. Saya masih ingat betul malam itu. Malam dimana saya dipaksa belajar menyusui sambil berbaring, saya ingin memangku anak saya tidak boleh, malam-malam sebelumnya ketika ASI saya sedikit sekali yang keluar dan saya ingin agar anak saya tetap mencoba untuk menyusu pada saya namun malah digendong terus-terusan oleh budhe suami, saya frustasi.... kenapa ada pemisah antara saya dan anak saya. Benar saja emosi saya tidak bisa tertahankan, emosi luar biasa sampai saya membanting gedget saya. ASI tidak keluar anak menangis terus-terusan. Emosi saya tambah menjadi ketika anak saya disarankan mau dibelikan susu formula atau madu. Ya Allah mohon ampun karena saya benar-benar tidak tahan lagi. Emosi saya memuncak.... tidak akan saya biarkan hak asi esklusif anak saya terengut oleh orang lain.
Namun ada pemandangan yang menyejukan malam itu, ditengah anak dan saya yang sama-sama tantrum, saya melihat ketlatenan suami saya yang menyuapi anak kami ASIP (sebelumnya untuk memancing keluarnya ASI, saya rutin beberapa kali memompa payudara saya. Hanya sekitar 10ml waktu itu yg saya dapat). Alhamdulillah saya bersyukur...
3 minggu pasca persalinan...
Kembali terulang kejadian yang mengerikan. Waktu itu, saya suami dan anak sudah berani menginap dirumah mertua. Sakit sedikit sih, namun jahitan sudah mulai mengering, namun jauh di dalam lubuk hati saya yang terdalam agak ketar ketir dengan kondisi anak saya. Anak saya yang biasanya berada di daerah bersuhu rendah tbtb harus berada di daerah bersuhu tinggi, dari tempat dingin ketempat panas, melalui jalanan (meskipun dalam mobil, dengan kaca dibuka sedikit, siapa yg jamin debu kotor kuman dan sejenisnya tidak masuk?), anaku aydan yang waktu itu umur 3 minggu, kuat sekali kamu nak....
Drama muncul sebenarnya ketika kami akan pulang. Empat hari kami dirumah ibu mertua. Semuanya baik-baik saja, alhamdulillah anaku sehat-sehat saja. Walaupun tidak ada yg menanyakan kondisi saya waktu itu, alhamdulillah saya baik-baik saja. Padahal sebelumnya saat dirumah ibu saya, saya sempet nangis-nangis saat BAB sampai ibu saya marah-marah kenapa gamau diperiksakan.
Menuju kepulangan kami, ternyata harus diundur satu hari. Suami menjelaskan, namun ada sedikit drama sampai saya menangis. Saya ingat betul tatapan marah dan bentakan-bentakan dari suami saya. Tidak apa-apa, hanya diundur satu hari. Namun keanehan terjadi malam hari sebelum kepulangan kami, suami santai-santai saja, saya seharian dicuekin....seharian itu suami marah. Sampai popok anak kami habis, harus saya berjuang pontang panting mengeringkannya, sendirian. Hari berikutnya dari pagi masih tetap anteng, tidak ada gelagat packing. Lagi.... saya harus packing sendirian, seabrek keperluan bayi baru lahir, saya melakukannya seorang diri. Dari mulai mencuci, menjemur, menyetrika, menata semuanya sendirian. Padahal sebelumnya, membutuhkan 5 orang untuk packing keperluan anak kami waktu membawa dari rumah ibu saga kerumah mertua. Sabar, saya sedang diuji. Drama terbesar di hidup saya. Tidak bisa saya ceritakan secara detail. Intinya tangisan saya pecah, belum pernah saya menangis meraung-raung seperti itu seumur hidup saya. Belum pernah merasa terkhianati, tersudutkan, dan tersakiti seperti itu. Selama hidup saya.
Dan drama itu berlanjut sampai sekarang, ketika anaku berumur 46 hari. Sungguh luar biasa ujian rumah tangga. Datang ditengah-tengah kenikmatan yang tiada tara karena hadirnya buah hati. Saya hanya berdoa dan terus berusaha agar ASI saya tetap cukup untuk anak kami. Agar hak-hak dia terhadap ASInya bisa terpenuhi, sesuai dengan perintah dari Allah SWT.
Sejujurnya, yang saya butuhkan hanya support system yang kuat. Saya menyadari betul harus banyak belajar sebagai ibu baru, karena yang mengalami kelahiran bukan hanya anak kami, saya pun seperti dilahirkan kembali pasca melalui persalinan pertama kala itu. Saya butuh ditemani, dihibur dan selalu diberikan kata-kata penyejuk ditiap peluh letih yang saya alami dalam merawat anak pertama kami. Ketika semangat saya menciut ditengah-tengah perjuangan ini, yang saya inginkan hanya perhatian dan rasa kasih sayang dari support system yang saya punya. Saya ingin di dengar di tiap keluh kesah yang saya utarakan ketika lelah; karena sesungguhnya keluh kesah itu hal yang wajar ditengah perjuangan baru sebagai Ibu. Lelahmu untuk keberkahan dikemudian hari, lelahmu untuk masa depan buah hatimu...
Support system terkuat yang saya miliki adalah suami dan Ibu saya. Tolong mengertilah.....