Ruang Cerita #10
Kenapa, ya?
Kenapa saya harus jadi seorang introvert, ya? Saya suka mengobrol, jalan-jalan, dan bertemu dengan banyak orang. Balasan atas semua itu, saya butuh waktu semalaman untuk mengisi kembali energi selepas saya menghabiskannya seharian. Saya pikir, lebih baik menjadi seorang ekstrovert yang mampu menyerap energi dari interaksi yang mereka lakukan.
Berdiam diri di kamar, berkutat dengan buku, dan menjejali otak dengan tugas-tugas kuliah semengalir sungai rasanya menjemukan. Atau mungkin ini titik jemu saya?
Mau bagaimanapun ceritanya, pada akhirnya saya kembali ke ruang ini. Duduk kemudian menulis, menulis, dan menulis hingga saya lupa cara untuk menulis.
Kemudian beralih ke buku. Membaca satu dua buku untuk lalu dijadikan suatu pencapaian mingguan.
Dan tugas-tugas saya terbengkalai, saya tertinggal. Berlari pun rasanya takkan terkejar sebab jarak sudah terlampau jauh.
Selanjutnya, saya berusaha amat keras dan memaksakan diri untuk mengejar.
Hingga saya kembali sampai pada titik jemu dan membutuhkan perbincangan dengan seorang dua orang kawan.
Lalu saya kembali diharuskan untuk mengisi energi.
Siklus berputar terus hingga entah kapan saya bisa mengubahnya.
Lebih dari itu,
Semoga saya tetap menulis.









