Kunikmati semangkuk sup buah di hadapanku. Manis. Seperti seseorang yang tengah menikmati porsinya sendiri di sebelahku. Kamu.
"Aditya, ingat tidak dulu aku selalu cemburu setiap melihat kamu dekat dengan perempuan lain sebelum kita jadian?", aku mulai membuka percakapan.
"Aku tidak pernah mempunyai perasaan sedalam ini sebelumnya."
Aku pandangi raut wajahnya yang aku tau dia pasti sedang mengingat-ingat runtut kedekatannya dengan perempuan sebelum aku.
"Pernah dekat, hanya sekedar dekat. Kamu tau aku tidak pernah mempunyai ikatan seperti ini kan?"
"Aku hanya ingin tau. Dengan siapa?", aku menatap dia dengan senyuman tipis.
"Lebih muda darimu, rata-rata.", jawabnya.
Pikiranku melayang, mengingat nama-nama perempuan yang pernah dekat dengannya yang aku tau dari berbagai sumber. Entah itu pembicaraan teman-teman terdekat ataupun stalking di media sosial.
"Aku sepertinya tau. Berapa orang?"
"Hanya sekedar dekat, Zenna. Hati perlu memilah sebelum memilih. Tapi bukan berarti memainkan.", jawabnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
"Sanji?", tanyaku dengan penuh keyakinan.
"Maya?", nada suaraku mulai getir. Yang aku tahu, Maya pernah mencintai Adit sebelum akhirnya aku yang memenangkan hatinya.
"Dia hanya meminta pendapat-pendapatku saja setiap ada masalah.", jawabnya tetap tenang.
"Lupakan, aku sudah lupa.", jawabnya sambil memandangiku dengan tatapan seolah jangan meneruskan pertanyaan lagi.
"Oke. Lalu, siapa perempuan yang mempunyai tanggal lahir sama denganmu dan memiliki kedekatan khusus, dulu?"
"Oh itu, aku tidak mengenalnya. Bertemu pun belum. Dewa yang mengenalkannya padaku, tidak ada kedekatan khusus."
"Dia menganggap aku menyukainya. Tapi setelah aku menjelaskan padanya bahwa aku tak mempunyai rasa, aku tak menghubungi dia lagi.", jawabnya lagi.
"Masih sering berbalas pesan singkat?"
"Zenna, perempuan yang sering berbalas pesan singkat dengan aku itu hanya kamu dan ibuku.", senyum bak malaikat darinya mengembang kembali.
Tuhan, haruskah aku secemburu ini?
"Terakhir, apa artinya harapan-harapan yang kamu lontarkan pada mereka?"
"Aku tidak pernah memberi harapan pada mereka, aku tidak pernah menganggap pernah ada hubungan khusus."
"Kalau mereka menganggap begitu?", aku tetap tak mau mengalah dalam perdebatan ini.
"Perempuan selalu peka ya, padahal semua lelaki tidak seperti itu. Percaya dirilah sesuai porsinya.", dia menjawab dengan sangat tenang dan senyuman licik di sudut bibir.
"Hih. Jahat sekali.", jawabku ketus.
"Sertidaknya tidak sejahat itu bila objeknya kamu." dia menatapku dengan tatapan meyakinkan. Tak ada senyum terlontar, hanya bening matanya yang memancarkan kejujuran.
Aku diam seketika. Seolah semesta membungkam mulutku untuk diam dan menghentikan kecurigaan yang tercipta beberapa menit lalu.
"Sekarang kan hatiku sudah terpaut di kamu.", lanjutnya lagi.
Senyumku mengembang dengan ringan, tak ada beban.
Kuaduk-aduk sup buah yang hanya tinggal kuah.