La pharmacist litteraire, literary apothecary dalam bahasa Indonesia bermakna, “apoteker sastra”. Buku ini bercerita tentang Monsieur Perdu pemilik sebuah toko buku kecil di atas perahu kecil, di atas sungai di Vien di Paris, yang selalu mampu merekomendasikan buku yang tepat untuk dibaca oleh pengunjung yang datang padanya. Buku ini secara sederhana, mampu membawa saya mengiyakan bahwa ada banyak buku yang seringkali bisa menjadi obat bagi masalah-masalah kita. Ada banyak buku yang mengubah kita. “Buku akan sangat setia kepada pembacanya,”
Bersamaan dengan membaca ini, saya menjadi mengingat buku-buku apa saja yang telah mengubah saya salah satunya di tahun 2018 lalu. Ada banyak tapi pasti ada beberapa yang sangat berkesan. Saya bisa cerita banyak tentang buku apa saja yang mengubah saya, tapi saya akan membatasi beberapa buku yang membuat saya memaknai bahagia itu dibuat, tapi bagaimana sains ilmiahnya, lantas buku-buku inilah yang akhirnya membuat saya bisa duduk lebih tegap di semester yang berat tersebut.
“La pharmacist litteraire, literary apothecary”
Pada tahun 2018 akhir, saya ingat, saat itu bulan Agustus, Yogya sedang disengat musim panas, dengan tekad menyelesaikan 1 buku di semester itu saya bergegas keluar dari sarang emosi negatif. Saat itu saya sedang putus asa, tidak hanya itu, yang saya ingat ada rasa sakit, kecewa, sedih, tidak percaya diri dan banyak hal lainnya yang membuat saya terhuyung-huyung secara internal. Saya mahasiswa semester akhir jurusan psikologi, saya tahu saya sedang stress menengah (menurut Beck, seperti gangguan tidur, makan, dan emosi), dan anhedonia (hal-hal yang biasanya menyenangkan terasa tidak lagi menarik), tapi saya tahu, saya belum butuh pergi ke psikolog yang bisa dengan mudah diakses (mereka dosen-dosen saya sendiri). Selain itu, karena saya masih bisa rawat diri dan tidak lupa hari itu hari apa, artinya kesadaran saya masih ada dan bisa diandalkan. Saya sempat terbaring dan tidak bersemangat bangun, karena ada banyak hal yang sepertinya tidak lagi menarik saya lakukan.
Di tengah-tengah perasaan tidak berdaya itu, saya merasa sebagai saya anak psikologi tapi tidak bisa membantu diri saya sendiri, sayang sekali kemana ilmu saya. Dari sanalah saya mulai mencari jawaban dengan mereview kembali materi-materi saya sebelumnya. Mencari jawaban dari literature ilmiah yang sering saya lakukan sebelum pergi ke orang (jujur saya sejak di psikologi kurang menggemari self help populer dan lebih senang self help ilmiah, somehow its satisfying both emotionally and intellectually). Beberapa buku yang membuat saya memahami kembali apa dan merangkai puzzle-puzzle yang ada adalah buku-buku ini:
1) The happiness advantage: The seven principles of positive psychology that fuel success and performance at work. By Achor, S. (2011). Random House.
2) Train Your Brain to Get Happy: The Simple Program That Primes Your Grey Cells for Joy, Optimism, and Serenity. By Aubele, T., Wenck, S., & Reynolds, S. (2011). Simon and Schuster
3) Brain Rules for Ageing Well: 10 principles for staying vital, happy, and sharp. Scribed Publication. Medina, J. (2017).
Lantas, buku apa yang membersamai saat-saat paling pelik hidupmu?