Takjub
Dalam hidup, seringkali kita begitu mudah takjub.
Pada mereka yang berpasangan dengan rupa-jasad ciamik nan mempesona, padahal tumbuhnya sakinah, mawaddah, dan rahmah, mutlak dalam genggaman Allaah, yang bahkan mereka tak sanggup menukarnya dengan mahar termahal di dunia.
Pada mereka yang mampu membeli rumah semegah istana, padahal istirahat yang nyenyak dan kententeraman jiwa mutlak dalam genggaman Allaah, yang bahkan uang-uang mereka tak sanggup membayarnya.
Pada gelar-gelar setinggi langit, padahal kemuliaan, kebermanfaatan, dan keberkahan ilmu, mutlak dalam genggaman Allaah, yang bahkan ijazah-ijazah mereka tak mampu menebusnya.
Belum lagi tayangan-tayangan di televisi yang hampir kompak menampilkan bahwa hidup tidak mewah dan serba mentereng itu patut dikasihani. Padahal barangkali, mereka yang tinggal di kolong jembatan itu lebih nyenyak tidurnya. Barangkali mereka yang tinggal di rumah kardus itu lebih mudah bersyukur dan berbahagia. Barangkali mereka yang makan nasi aking dan ikan asin itu lebih khusyuk shalatnya. Atau barangkali mereka yang tak pernah bersinggungan dengan bangku sekolah itu lebih beradab dan luas kebermanfaatannya.
Karena manusia seringkali terjebak dalam ukuran-ukuran kebahagiaan dan kekerenan yang rumit serta memusingkan.
Maka jangan lupa memohon pada Allaah hati yang selalu merasa cukup dengan rezeki yang halal, sesederhana dan setidak keren apapun itu bentuknya. Agar kita tak mudah takjub dan tergiur pada yang megah-megah, padahal sebenarnya ia syubhat, apalagi haram. Sebab yang meragukan itu melalaikan, yang haram itu menyengsarakan.
Biarlah yang halal itu remeh di mata orang lain, asal kita berbahagia menikmatinya. Biarlah yang halal itu tak enak di lidah orang lain, asal menegakkan punggung kita untuk ibadah. Biarlah yang halal itu tak istimewa di mata orang lain, asal memilikinya menjadi penenteram jiwa. Biarlah yang halal itu membuat kita menjadi bukan siapa-siapa di mata manusia, asal kita selalu ingat siapa diri kita di hadapan-Nya. Biarlah yang halal itu kecil di mata orang lain, asal besar berkahnya di sisi Rabb kita.
Mudah-mudahan kita tak termasuk barisan manusia yang mudah takjub dengan perbendaharaan dunia yang menyilaukan mata itu.













