“Hai”
“Ah hanya sapaan begitu saja sudah membuat hati ini terlewat bahagia.”
Jadi begini, tak tahu kisah ini bermula dari mana. Entah aku atau dia yang duluan menyapa.
Sekitar setahun yang lalu, aku menemukan sosok pria yang bisa membuat hatiku nyaman. Kami berkenalan di media sosial, sebut saja instagram.
Bermula dari sekedar sapaan biasa, singkat cerita lewat DM instagram kami bertukar Id line. Kemudian dia menyapa dengan kata “hai” lalu berlanjut dengan obrolan terkadang dia juga menyapa lewat video call yang untuk sekedar berhenti saja tak ku beri jeda begitupun dengan dia.
Sampai pada suatu hari kami memutuskan untuk pergi bertemu melewati satu hari untuk sekedar mengisi kekosongan hari (hati).
Saat itu dia ingin menonton film di bioskop entah alur cerita film itu bagaimana, dia yang membuat konsetrasiku buyar ambyar. Dengan rasa debaran di tariknya kepalaku disenderkan dibahunya dan di genggamnya tanganku seperti rasa tak ingin terlepas.
Sedikit tentang dia, dia tidak memiliki paras rupawan namun dia pria menawan yang membuat hati tak beraturan dan selalu bisa menyisipkan rasa nyaman.
Hari-hari berganti dan dia mulai tak terlihat lagi. Dia menghilang tak terhalang.
Aku buka instagram lalu ku tulis namanya di pencarian, DAN dia menghilang semua foto di hapus. Mulai muncul pertanyaan di benakku, apa yang terjadi dengannya ? Ingin ku sapa tapi apa daya ?
Ku lalui hari mulai dari awal lagi, tanpa dia tanpa rasa bahagia. Tak terasa 2 bulan terlewati dan kamu tahu dia muncul lagi namun tidak membawa hatiku lagi dia membuawa hati yang dulu pernah dia miliki.
Iya, dia datang kepadaku dengan bercerita bahwa dia telah kembali pada masa lalunya membawa hati dan luka lama yang akan di balut dengan rasa bahagia bersama wanita yang dia puja.
Aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana dengan aku ? Dengan hatiku ?
Tak berhenti ku berdoa meminta kepada yang maha kuasa untuk menyembuhkan hati yang terluka.
Rasa ingin menghapus instagram setelah melihat postingan gambar dan caption mereka. Aku ingin melarangnya namun siapalah aku ? Sebegitu banyak enigma yang tertanam dikepalaku. Iya, teka-teki tentang dia sampai memecahkan permasalahan diri sendiri saja lupa bagaimana polanya.
Menit-permenit rasanya lama sekali, setelah sekian puluh hari ku lalui, dia datang kembali (lagi) (untuk kesekian kali).
Dengan kata yang sama “hai” membuat hatiku yang tadinya seperti batu menjadi hancur bagai lumpur. Langsung ku jawab dengan kata “iya” saja. Padahal hati ingin berkata “kemana saja kamu” “bagaimana hatimu” “masih dengan pujaanmu” “baik-baik sajakah kamu”. Namun itu biarlah ku simpan dalam benakku sendiri.
Kembali terulang lagi seperti awal kami berkenalan, memberi sapaan tanpa jeda tapi masih memakai rasa.
Hingga detik ini pun sikap dia masih seperti ini, masih memberi apa itu makna bahagia sebenarnya.
Sejujurnya aku tak ingin menjadi tempatnya berlabuh hati hanya untuk dia sekedar menenangkan diri, yang ku ingini “aku adalah tempatnya dia kembali walau berkali-kali dia mencoba pergi”.
Tapi biarlah begini, tolong menetaplah di hati ini jangan kau mencoba pergi lagi tanpa kembali.