Semua Rasa Padamu adalah Renjana
Salah satu yang unik perihal cinta sejati adalah bahwa ia yang di masa lalunya senang bermain-main, pada akhirnya akan takluk juga, bila sudah bertemu satu cinta yang tepat untuknya.
Berwaktu-waktu lamanya, aku sempat mempertanyakan perihal cinta. Lagi-lagi aku merasa jatuh hati, lalu patah tidak lama setelahnya. Rasanya, ada harap yang tiba-tiba harus lebur, ketika hati begitu hancur. Berkali-kali, sampai rasanya aku enggan percaya lagi.
Tidak muluk untuk berkata bahwa meski aku enggan untuk percaya dan berharap lagi, setitik ruang dalam hati, masih menyebut perihal itu; cinta. Sekali saja dalam hidupku, entah kapan, aku ingin merasakan cinta yang benar. Yang membaikkanku, yang menenangkanku, yang mendamaikan resahku, yang mampu tidak pergi dan mau menjadi teman sejati, dan yang setia, meski segala hal mungkin tidak mudah.
Kupikir itu hampir tidak mungkin. Sampai aku bertemu kamu.
Aku tidak bisa mendeskripsikan semua rasa yang aku rasakan saat ini padamu. Sungguh. Mungkin ini terlalu dalam. Mungkin juga kau memang terlalu baik untuk kuanggap sebagai kebenaran yang terjadi pada hidupku. Kau tahu, rasanya ditunjukkan sebuah keajaiban setelah sebelumnya terpuruk, adalah hal yang luar biasa. Aku sendiri hampir tidak percaya.
Maka, terima kasih karena telah hadir dalam hidupku. Terima kasih karena telah bersedia menjadi penyemangat hidupku yang dulu seperti kehilangan maknanya. Terima kasih, telah bersedia tinggal, meski kau tahu aku pernah begitu terluka. Terima kasih, telah menjadi obat segala sakit di masa lalu.
Rasaku padamu tidak dapat kudeskripsikan lebih banyak lagi. Ia adalah renjana. Semoga kau selalu dapat selalu merasakan kehangatannya.
Tia Setiawati | Palembang, 15 Juni 2017