Banyak sekali yang bertanya kepada saya tentang kenapa sih yang saya unggah di akun instagram @ByBernardus kebanyakan piccolo, hot capp, atau latte yang selalu ada latte art-nya?
Paper Cup
Pintu Masuk RSJ
Jadi, dua tahun yang lalu di sebuah kedai kopi baru dari jakarta yang buka cabang di Yogyakarta tepatnya di daerah Tirtodipuran, saya menemukan cinta pertama saya. Secangkir kopi dengan gambar diatasnya membuat saya terkagum-kagum, apalagi saat mengetahui sang pembuat kopi hanya menggunakan milk jug untuk menggambar di atas kopi tersebut. Tak menunggu lama, saya langsung menyeruput kopi dan pada sesap pertama saya merasakan sebuah rasa yang tak pernah saya rasakan, tak seperti kopi saset yang saya seduh ketika begadang, sangat berbeda jauh akan tetapi saya tak bisa mendeskripsikan rasa tersebut.
Ketika barista yang berjaga melihat raut muka saya yang bingung karena merasa takjub saat mencicipi kopi yang mereka buat, mereka lalu menjelaskan tentang kopi yang sedang saya minum dan lagi-lagi kopi membuat saya kagum. Secangkir kopi yang kecil bisa memicu cerita yang panjang dan tak berhenti hingga jam tutup kedai kopi tersebut tiba.
Sesampainya dirumah rasa penasaran terhadap kopi bergambar yang saya minum muncul kembali. Tanpa berpikir panjang, saya langsung membuka laptop dan browsing tentang kopi, berusaha mencari tahu apa itu kopi, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara membuatnya. Pokoknya semua hal yang dijelaskan oleh barista tersebut langsung saya cari di laman pencarian online.
Rasa penasaran yang tinggi terhadap kopi membuat saya kembali ke kedai kopi tersebut keesokan harinya untuk melanjutkan pembicaraan yang belum selesai kemarin. Tanpa saya duga, barista yang berjaga pada saat itu mempersilahkan saya untuk membuat kopi saya sendiri dengan bantuan dan arahan mereka tentunya.
Dari membersihkan portafilter, menimbangnya, mengisinya dengan gilingan kopi, menekannya, menaruhnya kembali ke group head, memencet tombol untuk memulai ekstraksi kopi, menaruh gelas di atas timbangan untuk mengukur volume ekstraksi kopi, memperhatikan waktu, memencet tombol untuk menghentikan ekstraksi kopi, mengisi susu ke milk jug, memanaskan susu, dan pada akhirnya mulai menggambar di atas ekstraksi kopi. Sebuah proses yang sangat panjang untuk membuat secangkir kopi sempat membuat saya kebingungan akan tetapi saya cukup puas dengan pengalaman yang saya dapatkan pada saat itu. Sebuah titik besar ditengah cangkir merupakan latte art pertama yang saya buat, gak terlalu jelek lah buat percobaan pertama. Lalu tanpa berpikir panjang saya mengambil kamera untuk mengabadikan latte art pertama saya tersebut dan berniat untuk mengunggahnya ke instagram.
Selanjutnya obrolan yang tertunda kemarin kami lanjutkan sembari menghabiskan kopi buatan sendiri yang saya banggakan. Dalam obrolan yang lebih dalam mengenai kopi, barista tersebut menjelaskan tentang panjangnya proses pengerjaan dalam secangkir kopi yang kita minum, bukan hanya tentang proses yang ada di kedai, tetapi juga yang ada di kebun kopi, ya kalau orang jaman sekarang bilangnya proses dari hulu ke hilir. Selain itu dia juga menjelaskan bahwa setiap kedai kopi pasti memiliki identitas dan kopi masing-masing, dan orang yang menyeduhnya memiliki cara masing-masing dalam menyeduh kopi. Dari situ terbesit ide untuk berkeliling ke kedai kopi yang ada di Jogja, untuk mencicipi kopi di setiap kedai, bertemu para barista disana untuk bertukar cerita, dan mengabadikan momen tersebut lalu mengunggahnya ke sosial media.
Entah mengapa hal yang selalu menarik perhatian saya untuk datang ke sebuah kedai kopi adalah kopi bergambar walaupun beberapa kedai kopi dengan konsep manual brewing juga sering saya sambangi, akan tetapi hanya kopi dengan latte art yang membuat saya tak ragu untuk mengeluarkan kamera lalu mengabadikannya, dari awal persiapan, ekstraksi kopi, memanaskan susu, membuat latte art, hingga kopi tersebut habis juga masih saya foto.
Setelah lelah berkeliling dari satu kedai ke kedai lain, mencicipi semua kopi yang mereka buat, mengambil foto di setiap kedai kopi yang ada di jogja, dan sedikit banyak belajar tentang kopi dan latte art dari mereka, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebuah mesin kopi yang mampu untuk membuat latte art agar saya dapat berlatih dirumah untuk menciptakan cinta pertama saya setiap hari. Saya pun merenovasi salah satu kamar di rumah menjadi sebuah studio kecil agar cinta pertama saya tersebut merasa nyaman dan saya dapat lebih leluasa mengambil foto tanpa mengganggu orang lain disekitar saya.
Kesulitan dalam membuat sebuah latte art adalah faktor penting yang membuat saya selalu penasaran dan tak pernah berhenti belajar, bertanya, serta berlatih. Banyak variabel yang harus diperhatikan agar sebuah latte art dapat terbentuk dengan baik dan sempurna. Setiap progres yang saya alami dari gambar sayur lodeh, sayur katu, monstera, ayam, burung puyuh, telur, hingga bebek selalu saya abadikan dan saya unggah ke akun media sosial yang saya miliki, agar saya dapat melihat dan mengingat setiap perkembangan yang saya alami, dan pada akhirnya dapat menginspirasi orang-orang yang melihatnya.
Latte Art mulu deh! ga bisa foto yang lain ya? Banyak sekali yang bertanya kepada saya tentang kenapa sih yang saya unggah di akun instagram @ByBernardus…

















