“Kak, kenapa sih kita harus beragama?”
Ramadan kali jelas berbeda dengan ramadan tahun lalu dan tahun lalunya lagi. Ramadan tahun ini jatuh pada bulan Mei, artinya hampir di semua kampus sedang melaksanakan ujian akhir semester. Ditengah kesibukan kuliah, ada tanggung jawab organisasi yang harus ditunaikan. Pada ramadan kali ini, saya mengikuti kepanitiaan ramadan di Masjid Salman ITB, divisi Ngabuburit. Acara ini berlangsung selama 10 hari awal ramadan bersamaan dengan berlangsungnya UAS di kampus saya. Beberapa tugas UAS, saya kerjakan di kost teman yang kebetulan dekat dengan Salman. UAS adalah tanggung jawab akademik, sedangkan organisasi adalah tanggung jawab mental. Beberapa hari awal ramadan saya tidak pulang ke kost. Tidak sahur dan buka puasa di kamar kost yang (menurut saya) nyaman. Saya selalu berbuka di Salman dengan panitia lainnya. Bersama nasi kotak dan juga ilmu yang sangat bermanfaat. Serta adik-adik peserta pekanan ramadan juga ayah-bunda yang menunggui anaknya selesai berkegiatan.
Pada hari kesekian, saat kami menyantap nasi kotak usai salat magrib seorang adik di sampingku tiba-tiba bertanya, “Kak, untuk apa sih kita beragama.” Pertanyaan itu sederhana, jujur, polos, apa adanya. Terlihat dari wajahnya yang tenang sambil melahap hidangannya. Walaupun saya menyukai anak-anak dan kegiatan saya selalu berhubungan dengan anak-anak, terkadang ada pertanyaan sederhana mereka yang membuat saya pusing karena saya harus menjawab sesederhana mereka mengucapkannya. Ketahuilah, menjawab pertanyaan mereka tidak bisa sesederhana copy paste tulisan motivator lalu melisankannya. Kita harus mencari kalimat sederhana agar mereka paham jawaban dari pertanyaannya. Pertayaan sederhana terkadang menjadi sangat sulit ketika anak-anak yang menanyakannya.
Saya memastikan pertanyaan itu memang dari adik ini.
A: “Apa? gimana? Gak kedengeran kakaknya.” Kataku saat itu.
B: “Kenapa sih kita harus beragama?” ulangnya saat itu sambil memakan ayam dan bersandar padaku.
Saat itu saya hanya bergumam memilih kalimat sederhana agar ia mudah memahami. Namun saya tidak menemukannya dan adik malah mengeryitkan dahinya. Baiklah saya mencoba kalimat lain dan temanku membantu menemukannya dengan analogi robot.
A: “Hmm, gini deh, kamu pernah beli mainan yang merakit robot?”
B: “Pernah” jawabnya mantap.
A: “Nah ada petunjuk untuk merakitnya gak?”
B: “Ada.”
A: “Nah itu lah kenapa kita harus beragama karena sebagai petunjuk untuk jadi manusia yang utuh. Seperti merakit robot itu.”
B: “Maksudnya kak?” (Nah lho, dia malah tambah bingung. Saya terus mencari kalimat yang pas. Beruntung temanku yang sedang asyik makan ikut menyimak pembicaraan kami dan ikut berpikir juga).
A: “Kalau di dalam dusnya gak ada petunjuk perakitan, kamu bisa ngerakitnya jdi robot?”
B: “Nggk Kak. Aku bingung.”
A: “Nah beragama itu seperti petunjuk dalam panduan merakit. Biar kamu gak bingung untuk menjadi manusia yang utuh. Biar kamu gak bingung untuk merakit sebuah robot.”
B: “Oooooh hehe. Aku ngerti, jadi beragama itu penting sebagai petunjuk kak?”
A: “Nah iyaaaa.”
Saya bernapas lega dan bisa melanjutkan makanku yang tadi sempat terasa tidak enak karena adik itu malah bingung dengan jawabanku. Anak-anak itu sederhana, orang dewasa lah yang menganggapnya rumit. Banyak pertanyaan sederhana dari anak-anak yang terabaikan oleh orang tua atau orang terdekatnya karena mereka menyerah menemukan kalimat sederhana untuk menjawabnya, karena mereka menganggap pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya tidak perlu ditanyakan. Tetapi bila dipahami dengan baik, mengapa anak-anak menanyakan hal-hal seperti tadi karena mereka memang membutuhkan itu. Bukan sekadar sekolah dan membaca buku, ujian lalu mendapat nilai. Bahkan orang tua zaman dulu jika kita menanyakan perihal ketuhanan, mereka akan menjawab dengan kata “pamali” dan semua akan selesai. Meninggalkan si anak yang takut bertanya lagi perihal ketuhanan dan si anak akan mempelajari agama sebagai keharusan tanpa mengetahui tujuan dan fungsinya untuk apa serta implikasinya harus seperti apa.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja, dari siapa saja tidak terbatas muda-tua. Saya salut dengan pemikiran kritis adik ini. Usianya sekitar kelas 3 SD. Waktu saya seumuran dengannya, jujur saya tidak berani menanyakan hal-hal seperti itu karena takut dianggap “nyeleneh”. Dari adik ini saya mendapat pelajaran berharga.
sumber foto 1: dokumen pribadi