Batasan Itu Bernama "Cukup"
Jika kamu mencari yang lebih cantik, maka kamu akan menemukannya. Begitu pula soal tampan, akan selalu ada yang lebih dari yang telah kau jumpa.
Jika kamu mencari yang lebih baik, kamu pun akan bertemu dengannya. Dunia yang dihuni oleh tujuh miliar jiwa akan membawamu bertemu dengan mereka.
Jika yang kau cari adalah yang lebih soleh atau sholehah, maka kau pun akan berjumpa. Semua hanya perihal waktu saja.
Jika yang menjadi tolok ukurmu adalah mereka yang lebih banyak harta, maka perjalanan singkat ini akan membawamu ke sana.
Selalu begitu.
Akan selalu ada yang lebih cantik, lebih tampan, lebih baik, lebih soleh, lebih sholehah, lebih kuat, lebih banyak harta dan sebagainya. Kita akan selalu bertemu dengan yang lebih. Tiada henti dan begitu seterusnya.
Hingga kita sadar bahwa batasan kita adalah rasa cukup. Hingga kita mengerti bahwa untuk mengendalikan semua keinginan-keinginan yang berlebihan itu, hanyalah dengan memenuhi ruang hati kita dengan perasaan yang bernama cukup.
Perasaan yang terbuat dari kesadaran diri. Sesuatu yang mengantarkan kita pada cara-cara untuk mengukur batasan yang kita punya. Agar kemudian kita tidak terlupa bahwa sudah terlalu banyak manusia yang menginginkan lebih. Namun mereka lupa tentang cara mengukur diri sendiri.
Bukankah perjalanan hidup ini akan lebih mendamaikan nurani? Saat kita merasa cukup pada semua hal yang telah kita miliki.
Sehingga kita pun tahu caranya menyederhanakan keinginan. Sehingga kita pun sadar bahwa keberkahan hidup adalah tentang rasa syukur atas semua hal yang telah diberikan Tuhan.
Dan untuk menggapai rasa syukur itu, tentu kita perlu menetapkan batasan yang diberi nama ...
CUKUP!
Source : @ulvafdillah
01:31 a.m || 08 November 2021












