“hellroo” ???
Peter Solarz
Cosmic Funnies
Keni
NASA
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
todays bird
dirt enthusiast
ojovivo

JBB: An Artblog!
Alisa U Zemlji Chuda

No title available

JVL
Jules of Nature
Monterey Bay Aquarium
KIROKAZE

if i look back, i am lost

tannertan36
we're not kids anymore.
Sade Olutola
d e v o n

seen from Spain
seen from Brazil
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Chile

seen from South Korea

seen from Malaysia
seen from South Korea

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Spain
seen from Lithuania
seen from United States

seen from United States
@ice-bear-here
“hellroo” ???
cute 💘💘💘
The example how kinetic power works
minnie: my bangs were in the mv but they’re not here anymore! everyone: where did the bangs go????? shuhua: I ATE THEM miyeon: *nudges shuhua* shuhua: *growls at miyeon*
cr.
I can see why they are a CUBE artists
reporter heejin vs. the wind
Best journalism
Cheng Xiao Pink Background Wallpaper HQ
Mempertanyakan Esensi Berpuasa
Alhamdulillah, tahun ini kita masih mendapat kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan suci Ramadan. Dan bulan puasa tahun ini terasa sekali perbedaannya, khususnya untuk para pemerhati media sosial atau berita-berita lainnya. Bagaimana tidak? Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi selama bulan Ramadan ini.
Yang paling mencolok tentu adalah kasus Ibu Saeni. Ibu-ibu penjual warteg yang…
View On WordPress
Balon Polkadot Malam Itu
Cerpen: Balon Polkadot Malam Itu
Malam itu sepertinya tidak terlalu dingin, karena orang-orang disana tidak tampak seperti orang yang kedinginan. Raut kebahagiaan dan keceriaan menyebar di seluruh area festival. Anak-anak beserta bapak ibunya, sekumpulan remaja, pasangan muda mudi, semua membaur untuk memeriahkan acara malam itu. Sementara semua asyik bersenang-senang, aku masih harus mencari-cari sesuatu untuk kujadikan berita…
View On WordPress
Thought via Path
*ngeliatin timeline Path siapa aja yang check-in at JIExpo sambil geleng-geleng dan menghela napas* – Read on Path.
This scene is fucking awesome. This scene should get an Oscar.
MUST. WATCH. KINGSMAN.
natawilagaz:
3 Hari Tour di Dunia ‘Teater’ part Final : Meng-‘JKT’-kan JKT48
Kalau berbicara soal dunia ‘idoling’, di Indonesia sendiri sebenarnya sudah populer dari jaman AFI, terus dilanjut dengan Indonesian Idol, sempat nongol juga KDI, bahkan sampai yang baru-baru sekarang seperti X-Factor, The Voice, dan mungkin beberapa lainnya yang akan bermunculan.
Dan datanglah dari Jepang (dimana di negara mereka sendiri sudah mengakar konsep idol yang mereka ciptakan sendiri : wajah imut, menari dengan tarian yang lincah dan cukup menggoda, nyanyi juga dengan suara yang terdengar ‘imut’, didukung oleh mayoritas fans laki-laki yang juga otaku dan dilengkapi dengan lightstick dan chant masing-masing), langsung dari salah satu grup idol paling populer disana yaitu AKB48 yang membuat sister group pertama mereka untuk kawasan di luar Jepang. Dipilihlah Indonesia, dan dibentuklah JKT48.
1. The cost of being a fans
Bertemu dan bercengkrama secara langsung (walau cuma beberapa detik) dengan oshipilihan para fans adalah salah satu nilai plus yang seperti sudah sempat saya ceritakan di beberapa part sebelumnya.
Teater yang selalu setiap hari dibuka (kecuali kalau ada event-event tertentu, maka teater diliburkan), event-event khusus dari handshake festival, pemilihan senbatsu untuk menentukan siapa aja member JKT48 yang bakal di tiap single baru yang akan rilis dan jelas itu semua fans yang pilih dan jelas pula para fans harus bayar lagi. Juga ada istilah two shoot dimana para fans diperkenankan foto berdua dengan para oshi mereka dan ya say cheese, difoto bareng deh. Dan itu harus bawa kamera sendiri yang gak boleh kamera SLR bolehnya kamera handphone. Ya syukur kalau handphone udah Sony Xperia Z1 atau Nokia Lumia 1020, ya kalau masih VGA -.- . Dan itu ya sekali lagi harus bayar lagi.
Pernah saya ceritakan di part 1 bahwa bagi fans, itu semua gak masalah.
Tapi seberapa jauh mereka bakal ngeluarin uang hanya demi memenuhi rasa rindu mereka kepada oshi mereka?
1 Teater itu Rp. 100.000, mungkin dalam sebulan bisa sampai sekitar 10 kali, kalo niat, untuk menang undian dan datang nonton. Itu udah habis 1 juta.
Handshake bernilai Rp 40.000 untuk satu kali handshake selama 10 detik. Beberapa fans bahkan ada yang sampai beli 10 bahkan 20 tiket untuk handshake lebih dari 10 detik dan lebih dari 1 oshi, jadi bisa beberapa kali handshake dengan member yang berbeda. Ya estimasi habis Rp. 400.000 sampai Rp. 800.000.
Two shoot, itu ada yang bernilai Rp. 150.000 bahkan ada yang Rp 85.000 buat yang beli via pembelian photobook member. Bahkan karena gak puas, sampai beberapa fans yang lebih dari 1, bisa aja 2, untuk photo shoot dengan member mereka. Itu bisa habis hingga Rp. 300.000.
Belum lagi untuk pembelian merchandise ataupun photopack tiap kali habis teater ataupun ketika event di luar. Harga merchandise sendiri dimulai dari yang puluhan ribu hingga ratusan ribu. Belum lagi photopack. Sungguh bahwa photo pack ini fenomena paling pertama saya lihat mengenai bagaimana para fans begitu gila membeli photo pack ini sampai berkali-kali. Jadi photopack itu kaya satu bungkus yang begitu rapat ditutup dan di dalamnya ada 5 foto. Tapi sayangnya 5 foto ini random, jadi sangat ada peluang besar bahwa mereka gak akan dapat photopack yang terdapat foto oshi mereka. Salah satu teman saya sempat membeli sampai 5 photopack (5 x 50.000/photopack = Rp. 250.000!) karena gak ada foto oshinya dia di dalam photopack yang ia beli.
Oke kalau kita total
1 juta + 800 ribu + 300 ribu + 250 ribu = Rp. 2.350.000 !!!!
Itu buat kalo ada event di bulan itu dan kalau emang beneran niat. Dan iya kalau beneran niat apa iya rela uang segitu dibuang begitu aja, syukur kalau udah kerja, ya kalau masih minta proposal jajan sama orang tua. Saya kadang tidak mampu memasuki pikiran para fans.
Ya syukur juga kalau si fans ini masih jomblo, paling gak tanggungan hidup ya cuma urusan dia sendiri. Terkadang ada beberapa fans yang udah punya pacar. namun si pacar ngelarang kekasihnya untuk melepas rindu dengan oshinya, ya akhirnya dia cuma diam-diam ngoleksi merchandise dan video-video perform para member sambil berharap sang pacar gak mergokin dia. Tapi ada juga sepasang kekasih yang memang fans dengan JKT48, tapi ya peluang seperti itu muncul di dalam kehidupan percintaan para fans itu sangatlah minim.
2. The shyness and craziness of wota
Wotasudah menjadi istilah tersendiri untuk para fans idol grup 48 ini di Jepang, dan akhirnya istilah ini ikut dibawa sampai ke Indonesia. Bahwa sebenarnya wota itu sendiri adalah sebutan untuk para fans mereka, dalam artian di sini berarti fans JKT48.
Namun ada banyak beberapa keunikan dan juga, menurut saya, keanehan yang cenderung freak yang terjadi pada diri mereka.
1 hal yang sering saya temui, adalah para wota ini malu untuk menyebut diri mereka sendiri ini sebagai fans. Walaupun sekarang JKT48 sudah menyebar kemana-mana, saya sendiri memprediksi bahwa minimal pasti ada satu fans di dalam setiap instansi di Indonesia, khususnya Jakarta. Bahwa ya memang mereka gak bakal banyak ngomong ataupun malu-malu kalau dipancing soal JKT48. Tapi begitu rasa malu itu perlahan-lahan hilang, ya dimulailah perbincangan gila yang bakal bikin kepala (saya) geleng-geleng.
"Eh elu jangan ngeliatin dia mulu dong, calon istri gue tuh"
Sekedar ilustrasi, bahwa itulah salah satu ucapan fans yang pernah terlintas di telinga saya.
Sikap freak yang diatas itu hanya salah satunya, dan masih banyak banget, terutama yang menyinggung kehidupan privasi para member. Mereka ada yang menyebut namanya demachi, dari sekedar menunggu para oshi mereka keluar dan menyemangati mereka sampai benar-benar freak, yang biasanya kalau di kawasan teaternya sendiri itu mereka ngerubungin lift yang paling sering cuma buat nungguin para member keluar ataupun masuk ke dalam lift. Bahkan ada juga yang katanya disebut zombie. Kalau yang tadi cuma sekedar nungguin depan lift, yang ini justru sengaja sampai mengulik kehidupan pribadi mereka, dari sekedar dimana tinggal ataupun dimana sekolahnya sampai ngulik dimana mereka tinggal dan sebagainya. Ini udah masuk taraf stalker, dan mereka distalker sama freak macam itu yang bikin saya geleng-geleng lebih kenceng lagi.
Media sosial adalah salah satu media yang digunakan para member JKT48 dari sekedar promosi kegiatan mereka maupun share kehidupan mereka sehari-hari di luar kehidupan teater. Dan disinilah ‘teater of freak’ bermunculan lagi.
Twitter menjadi salah satu media yang digunakan mereka untuk bersosialisasi dengan para fans mereka. Katakanlah begini, ada salah satu member yang tweet “Haiiii” plus foto dengan pose, yang menurut saya kok ya kaya gitu-gitu mulu posenya, yang lumayan enak dipandang. Dan mulailah tweet-tweet balasan bermunculan.
"Haiiii jugaaaa"
"Haiii jugaaaa, jangan lupa mamam dulu yaaa"
"Hai jugaa, kamu cantik deh"
"Kemana aja kok baru nongol, kan kangen taukkkkk"
"Eh pacar gue lagi nyapa, haaiii balikk"
"Ngezombie ah"
Dan macem-macem lainnya, namun sangat disayangkan bahwa para member tidak boleh direct reply tweet para fans, jadi ya hanya seperti obrolan satu arah aja antara fans ke para member. Boleh kalian kalau mau iseng-iseng ngeliat twitter beberapa member JKT48, tapi saya sarankan siapkan mental dulu atau nanti bakal masuk ke dalam lubang yang sama.
Dan lama-lama leher saya jadi sakit saking kebanyakan geleng-geleng, mungkin saya kurang paham gimana rasanya jadi wota yang sejati.
Atau saya yang justru gak pernah bisa mengerti bagaimana industri dunia hiburan bekerja. Ah saya memang gak pernah siap untuk mengertinya.
3. The angels of happiness
Namun, diantara semua keanehan yang sudah terjadi, ada satu hal yang membuat saya terkagum dengan JKT48 itu sendiri adalah : mereka mampu menyebarkan energi positif kepada fans mereka.
Kunjungan teater pertama saya tidak saya gunakan 100% untuk menonton aksi para member JKT48, namun lebih saya fokuskan melihat para penonton yang melihat teater itu sendiri. Wajah-wajah musam dan capek itu mendadak berubah menjadi ceria dan cerah kembali. Apa yang terjadi di dalam pikiran mereka ketika menonton itu urusan mereka sendiri, namun apa yang sudah ditebar oleh para member yang perform di teater saat itu adalah sebuah usaha tersendiri yang mampu untuk mengubah mood banyak orang untuk kembali menjadi ceria.
Kalau teringat bahwa salah satu fans yang sudah bekerja pernah bilang “Senin sampai Jumat itu capek-capekan kerja, abis itu gue mau ke teater untuk refreshing. Loh iya dong, lo kerja capek-capek kan butuh refreshing juga, nah teater itu yang jadi refreshing gue.” Bahwa konsep itu sudah tertanam di kepalanya, maka itulah hal yang akhirnya memang benar menjadi cahaya hiburan untuk penatnya kehidupan nyata.
Bahwa selama memang para member JKT48 ini selalu bisa menebarkan energi positif kepada para fans mereka, itu adalah 1 hal yang sangat saya dukung. Tapi kalau lebih dari itu… (geleng-geleng)
.
.
Kreatifitas adalah 1 hal yang sering saya lihat sebagai apresiasi dan dukungan para fans kepada oshi mereka masing-masing. Contohnya adalah ketika ada salah satu member berulang tahun. Ada banyak cara oleh para fans untuk memberikan hadiah ulang tahun. Paling banyak adalah banner yang bergambar sang member yang sedang ultah. Tapi ada juga menonjolkan karya masing-masing. Mulai dari sekedar miniatur, karya lukisan, hingga menciptakan lagu khusus untuk sang member yang berulang tahun.
Oh wahai para generasi tua, saya ini tidak percaya bahwa pemuda-pemuda kita ini generasi yang sangat minim imajinasi dan karya. Kita ini jenius pak, kita ini kreatif pak. Hanya saja terkadang kita butuh para member JKT48 sebagai katalis untuk kreatifitas kami pak. Jadi mohon untuk stay positif terhadap karya kami untuk oshi pilihan kami :p
.
.
Terlebih lagi lagu yang mereka bawakan. Semua lagu yang mereka bawakan itu adalah lagu-lagu milik AKB48 sendiri, dimana lagunya ditranslate menjadi bahasa Indonesia semua. Namun yang ingin saya katakan adalah bahwa lagu-lagu mereka bertemakan hampir sangat sama dengan lagu-lagu yang biasa dibawakan untuk soundtrack anime : berisi pesan jangan menyerah, ayo semangat, kamu pasti bisa, berjuang untuk seseorang, dan sebagainya.
Kenapa tipikal lagu itu begitu sering muncul adalah karena menyinggung langsung kepada pemuda-pemuda Jepang saat ini. Dimana dulu Jepang adalah negara yang terkenal akan semangat samurai dan harakiri-nya, sekarang pemuda-pemuda mereka (beberapa diantaranya) kalau enggak otaku, pengangguran, hikikomori, ya wota. Untuk itulah, dimana letak lagu-lagu AKB ini ditujukan salah satunya adalah untuk mengundang para pemuda-pemuda itu untuk terus semangat dan mampu mengejar mimpi dan kehidupan mereka, dengan gadis-gadis lucu sebagai perantara pembawa pesannya. Sekaligus juga mengajarkan mereka, terutama yang jomblo, bagaimana bersosialisasi dengan gadis-gadis muda secara langsung (via handshake dan lainnya).
Walaupun saya berharap kehidupan seperti di atas itu jangan sampai terjadi di sini, tapi akan ada influence baru untuk industri musik ke depannya dimana sekarang industri musik kita yang dominan dengan lagu perselingkuhan maupun elegi patah hati. Lagu-lagu dari JKT48 seperti Dareka no Tameni ataupun Kimi ga Hoshi ni Naru Made, maupun lagu energik ceria seperti Bingo, Manatsu Sounds Good, maupun Ame no Dobutsuen kelak bisa menjadi contoh lagu untuk industri musik kita. Sudah saatnya kita semua lebih disuntikkan dengan lagu yang membawa energi positif daripada lagu melayu mendayu-dayu.
.
.
Serta, ada satu kejadian yang begitu membuat saya tergugah.
Saat handshake festival, tanpa sengaja saya melihat di depan saya ada seorang anak perempuan kecil yang baru saja selesai handshake dengan salah satu oshinya. Anak itu keluar dari bilik antrian dan berlari ke arah ibunya dengan wajah yang sangat gembira.
"Mamah, Mamah, tadi aku habis salaman sama Kak Haruka loh! Kak Haruka itu cantiiiiiiiiik banget, udah gitu baik banget lagi tadi. Aku pengen deh Mah kalau gede nanti jadi kaya Kak Haruka!"
Kejadian itu begitu menggugah hati saya. Jika memang benar kalau salah satu tujuan para idol ini adalah menginspirasi kehidupan seseorang dan menyebarkan kebahagiaan, maka hal itu baru saja terjadi di depan mata saya sendiri. Wajah polos yang begitu ceria dan gembira dari si anak ini begitu menyegarkan, seakan-akan ada mimpi yang sudah ditularkan kepadanya begitu ia selesai melakukan handshake di dalam bilik tadi. Mungkin obrolan yang mereka lakukan di dalam tidaklah terlalu penting, tetapi apa yang sudah ditularkan Haruka sebagai salah satu member kepada si anak inilah yang membuatnya menjadi begitu ceria ketika keluar. Bukan ceria karena berdelusi kegeeran, berkhayal yang aneh-aneh, ataupun imajinasi kosong belaka, namun ada mimpi yang ditularkan kepada si anak yang mungkin kelak akan menjadi sikap positif bagi si gadis kecil itu untuk kehidupannya menuju dewasa nanti. Mungkin suatu hari nanti saya yang harus mengucapkan terima kasih ke Haruka sendiri atas kejadian yang saya lihat itu.
4. The conclusion and future hopes
Bahwa dengan makin populernya JKT48 setelah hampir 3 tahun dimunculkan, sudah menjadi pop culture tersendiri di kalangan kita masyarakat Indonesia. Banyak dari kita tanpa sadar sudah masuk ke dalam lingkungan di dalamnya, baik itu karena menjadi fans ataupun tidak.
Banyak yang saya harapkan :
Saya berharap semoga nanti ada member yang berhijab, baik itu di luar panggung maupun ketika perform teater maupun event lainnya, bisa bergabung di dalamnya.
Saya berharap semoga tidak melulu yang berwajah oriental maupun yang kulitnya mengkilap yang selalu dijadikan member JKT48.
Dan saya berharap juga bahwa kelak nanti JKT48 tidak akan di-‘AKB’-kan terus, tapi juga bisa di-‘JKT’-kan sehingga ada karakter kita dari negara Indonesia sendiri yang bisa dimunculkan oleh mereka seiring momentum ketenaran grup idol ini. Perform dengan lagu original khusus untuk JKT48 sendiri tetap dengan lirik-lirik dan pembawaan yang positif, menonjolkan kebudayaan, lagu daerah lengkap dengan kostum daerahnya, dan turut mempopulerkan budaya Indonesia di tengah era banyak kaum kita yang begitu apatis terhadap budaya sendiri, tidak lagi dengan budaya Jepang yang semakin akut di lingkungan kita.
Seperti yang saya bilang tentang meng-JKT-kan JKT48, mumpung momentumnya sedang tinggi-tingginya.
Iklan layanan masyarakat ini dipersembahkan oleh.. saya sendiri..
REFLEKSI 18 BULAN DI FANDOM JKT48
Belakangan ini banyak yang mengatakan bahwa saya banyak berubah setelah kelulusan Stella. Mungkin hal itu ada benarnya juga. Kenapa? Karena kelulusan Stella memberikan kesempatan pada saya untuk duduk sejenak, berdiam dan merefleksikan kembali 18 bulan yang sudah saya lalui di fandom JKT48.
Dan ternyata banyak sekali kesalahan yang sudah saya lakukan.
Saat saya memasuki fandom JKT48 ini, saya menemukan banyak sekali kesenangan dan kebahagiaan, sehingga saya memutuskan untuk membuang banyak bagian hidup saya yang lama, yang waktu itu tidak saya anggap penting. Saya mengorbankan teman-teman lama saya, pekerjaan saya, keluarga saya dan bahkan kepercayaan saya pada Tuhan dan menukarnya dengan kebahagiaan yang nantinya pada akhir perjalanan ini akan saya temukan ternyata hanya sesaat saja.
Sejak ke Jakarta, saya merasa teman-teman dan keluarga saya tidak bisa lagi mengerti saya. Idoling dianggap sebagai hal yang aneh. Saya merasa tidak betah dan tidak nyaman lagi tinggal di Surabaya, sehingga saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan teman-teman lama saya dan sering kali bersikap cuek terhadap keluarga saya. Saya merasa lebih nyaman bergaul dengan teman-teman di fandom ini, yang lebih mengerti dan mengenal saya, dan saya merasa bahagia berada di tengah-tengah mereka.
Pekerjaan pun akhirnya menjadi korban. Saya tidak bisa lagi lepas dari handphone dan Twitter. Saya bahkan tidak bisa meletakkan handphone di meja barang 5 menit saja. Bahkan saat meeting dan berbicara dengan orang pun, saya selalu tergoda untuk membuka handphone dan mengecek Twitter. Jika ada yang menegur saya, paling saya hanya akan menutup layar handphone saya, tapi handphone itu tetap saya genggam. Jika saya meletakkan handphone di meja, pasti tidak sampai satu menit akan saya ambil dan genggam lagi, walaupun tidak saya unlock. Rasanya sudah seperti orang yang kecanduan, sangat tidak nyaman jika tidak ada handphone di tangan.
Mengenai Tuhan? Saya berpikir tidak lagi membutuhkan Tuhan. Karena saya sudah merasa bahagia. Untuk apa lagi terbelenggu dengan berbagai aturan yang rumit? Saya ingin bisa menjadi diri saya sendiri, mengekspresikan apa yang saya ingin katakan tanpa harus terbelenggu berbagai aturan. Sekarang kata-kata seperti “FAK”, “TAEEEEEEE”, “BANGKEEEE” dan “WUANJENGGG” pun akhirnya menjadi makanan sehari-hari saya. Saya merasa bahagia, karena saya merasa terbebas dan sekarang bisa melakukan apa pun yang saya ingin lakukan. Siapa yang butuh Tuhan kalau hidup sudah bahagia seperti ini?
Dan saya tidak pernah begitu salah.
Read More