Tadi malam aku bermimpi tentangmu. Kita tidak benar-benar mengenal satu sama lain, tapi kau hadir di mimpiku. Entah mengapa dan untuk apa pula.
Di mimpiku kau mengajakku pergi ke observatorium tempatmu bekerja. Tempat yang asing dan mengerikan, kataku sesampainya di sana. Sementara kau hanya tersenyum, berjalan bersisian denganku, mencoba menyamai langkahku yang pelan dan penuh rasa takut.
Di sana ada suatu ruang pemutar film, aku berlari ke arahnya sementara kau mengikuti dengan berjalan pelan, tanpa takut kehilanganku. Film yang aneh ditayangkan di sana, entah apa judulnya, pun tentang apa, aku lupa. Yang aku ingat, di sana ada api dan sepeda, juga seseorang yang menangis dan terluka. Hatiku hampir patah dan aku hampir menangis bersamanya. Lalu, seakan bisa membaca mataku, kau menggenggam tanganku.
“Aku tidak bisa melakukan ini. Aku harus segera pergi. Rumahku bukan di sini,” kataku tanpa mencoba melepaskan tanganku dari genggamanmu.
Kau tersenyum mengerti. “Malam ini saja, biarkan aku berpikir bahwa kita punya kesempatan. Malam ini saja, aku tak masalah jika kau menjadikan malam ini sebagai sebuah rahasia. Tapi tinggalah. Sebentar saja.”
Sebelum aku sempat menjawab, ruangan tiba-tiba lebur. Hanya ada kau dan aku di tengah latar hitam dan lampu sorot yang remang. Kupikir kau akan mengajakku berdansa, tapi musik tak kunjung dimulai. Kau melonjakkan tubuhmu sedikit, lalu melayang. Tanganmu membawaku bersamamu.
Malam itu kita terasa ringan. Tanpa berkata apa-apa kau mendekatkan tubuhmu dengan tubuhku. Keningmu terasa lembut ketika menyentuh pundakku. Kesedihan menyelimuti kita, lagi-lagi aku hampir pecah dalam tangisan.
“Ketika kau membuka matamu nanti, aku harap kau tidak melupakan malam ini,” katamu, senyummu pudar. Aku tahu ada kesedihan di sana.
Sebelum aku sempat memelukmu, kau sudah membawakanku tempat lain. Lagi-lagi sekitar kita hanya lebur saja, tergantikan dengan gambaran yang lain.
Tiba-tiba jingga. Kita duduk di hamparan pasir yang tidak usai, matahari di sebelah utara, bersinar teduh seakan kesepian. Kita tidak bicara, tapi tanganmu masih menggenggam tanganku; dan itu, kurasa, lebih mengungkapkan banyak hal daripada ucapan apapun.
“Suatu saat aku harus pergi juga,” kataku, memecah keheningan.
“Aku tahu. Semua akan pergi dan hilang pada akhirnya.” Tanganmu menunjuk ke arah matahari yang bergetar dan agak kabur. Semburat jingga memenuhi langit, aku hampir yakin kita sedang berada di gerbang neraka.
Tapi tidak, matahari hanya sedang pecah di utara.
“Yang ditinggalkan akan bersedih sebentar, lalu lupa,” tambahmu, sambil menoleh ke arahku dengan senyuman sedih yang sama.
Sebelum merelakanku, kau tersenyum. Dalam kilatan matamu, aku melihat kita yang menua berdua. Kurasa akhirnya itu hanya angan-angan.
“Ketika kau terbangun nanti, aku mohon maafkan aku karena mengganggu mimpimu. Aku mohon maafkan aku karena telah memintamu tinggal.”
Ketika akhirnya aku terbangun, tubuhku gemetar hebat. Mimpi ini seharusnya indah. Seharusnya aku tidak terbangun dengan perasaan rindu, maupun kehilangan. Tanganku masih terasa seperti menggenggam tanganmu. Sesuatu telah dirampas dariku, entah kebahagiaan atau sebatas sebuah senyum. Mungkin juga akal sehat.
I’m still praying for your happiness every time you cross my mind. Which is about four times a day. Some days ten times or more.
You cross my mind whenever I hear birds chirping. You told me about those birds once in your fabled language. The bird that waits. The bird that leaves. The bird that never stops talking about the other birds. And the bird that stays silent. You thought they are a lot like us. I’m the bird that waits and you’re the bird that always leaves.
You cross my mind every Sunday. The day where all fatigues meet to melt into a cup of tea or unsweetened coffee. I always use my best cup to celebrate Sundays, to celebrate us that already died a long time ago. You drink to forget, I drink to remember, to let the memories in. Most of the times they come in the form of smiles and happy tears. Some times it’s goosebumps and shivers. At the worst of it they come in the form of asthma attack.
You cross my mind every lazy Monday morning. When it’s my day off and I’m just lying in my bed, barely have the strength to lift my own body. We used to have a morning like that where we wished for the time to stop. We both had our own reasoning. Yours is because you’re tired of routines. And mine is because time ticking means it’s time for us to leave. I never wanted to leave. You could ask me to drop everything else to be with you and I’d willingly do so. But you never did. You were worried of my being more than I did.
You cross my mind whenever I see a particular tone of light. A pale orange, or yellow. It drives me crazy. Just thinking about it makes me want to gauge my eyes off. It means street light at that night. The light that came out of the stores that we passed by. I had never known that a brief walk could mess me up this bad.
You cross my mind most of the time. But I had already let go of you. I let go of a lot of things this past year. And I let go of you the most.
Pukul satu lewat satu menit dini hari. Aku mencoba menghubungimu. Kau mungkin membenciku, tapi aku sungguh merindukanmu. Aku menghabiskan waktu dua jam belakangan untuk menangis dan menimbang apakah aku harus menghubungimu. Aku memutuskan bahwa, iya, aku harus menghubungimu. Bukan untuk meminta maaf atau untuk meminta kesempatan kedua, hanya untuk mengatakan, "aku rindu." Aku bahkan tidak berharap kau akan membalas perkataanku. Aku hanya ingin kau tahu.
Pukul satu lewat satu menit dini hari, malam yang diam dan terlalu sepi. Aku benci kesunyian. Karenanya aku selalu memintamu untuk bercerita, bahkan tentang hal-hal yang tak masuk akal sekalipun. Aku benci dengung kesunyian, getar jam dinding yang terdengar getir. Kau bisa merasakan waktu benar-benar bergulir. Aku benci itu. Aku benci menyadari bahwa apapun yang kita punya, meski hanya sisa-sisanya, akhirnya akan hilang. Benar-benar hilang. Hapus. Terbawa angin dan arus kehidupan. Aku benci lupa dan dilupakan.
Jangan lupakan aku. Jangan lupakan semua mimpi-mimpi yang pernah kau bagikan kepadaku. Jangan, ya? Aku minta itu saja. Aku tidak memintamu untuk mengingatku setiap detik. Hanya, jika suatu saat tak sengaja kau mendengar lagu-lagu yang pernah kita bagi bersama, aku harap kau mengingatku. Bukan sebagai apa-apa, hanya sebagai yang pernah ada. Aku pun akan mengingatmu dengan cara seperti itu. Aku akan mengingatmu ketika aku membaca suatu saat nanti. Aku akan ingat janjimu yang akan selalu bercerita dan melengkapi kepalaku dengan apa-apa yang belum kuketahui, lalu aku akan menerka-nerka bagian mana dari buku itu yang kira-kira menarik bagimu. Aku akan membacanya seperti kau sedang bercerita padaku. Itu cukup. Lebih dari cukup.
Seperti cara kita yang saling mencintai dengan sederhana, aku harap kita juga saling mengingat satu sama lain dengan sederhana. Tanpa penyesalan, tanpa harapan, tanpa benci. Hanya ingat saja. Ingat bahwa kita pernah membuat satu sama lain tersenyum. Meski sementara. Meski untuk segera tergantikan dengan umpatan, nada-nada marah, ketiadaan kabar, dan perasaan yang perlahan pudar.
Jangan ingat mengapa kita saling membenci, jangan ingat mengapa kita bisa saling mencintai. Ingat saja rahasia-rahasiaku seperti aku mengingat mimpi-mimpimu. Ingatlah kita sebagai yang pernah saling berbagi hingga kosong sendiri.
Kau tidak menjawab teleponku, mungkin kau benar-benar muak. Aku mengerti. Tapi aku merindukanmu. Aku rindu mendengar kabarmu. Aku rindu mendengar cerita-ceritamu. Aku ingin mendengarkan semuanya sekali lagi. Semua cerita dan mimpi yang pernah kauutarakan. Aku merindukannya.
a/n: Ini first draft banget. Nggak suka ngedit. Bagian dari rangkaian cerita ini. Pikiranku berantakan, jadi nulisnya loncat-loncat. Lagu ini.
"Nona Fairground Attraction!" sapaku ketika melihatnya. Dia sedang berdiri menunggu kereta. Tas punggung kuning, sepatu keds putih, rok hitam dan kaus putih bertuliskan Fairground Attraction dengan karikatur keempat personilnya. Di kausnya itu, ada tanda tanganku dan beberapa teman. Nona itu salah satu penggemar kami (aku dan band-ku). Kami bertemu tadi di kafe tempatnya bekerja.
Gadis itu menoleh, tersenyum canggung, mungkin kaget. "Eh, Abang. Lho, naik KRL juga?"
"Iya, motor sedang rusak." jawabku. "Baru pulang?"
"Iya, baru selesai shift-nya. Abang sendiri kupikir sudah pulang dari tadi?"
"Biasa, minum-minum dulu tadi sambil ngobrol sama anak-anak."
Dia mengangguk mengerti. Dia baru hendak membuka mulutnya untuk bicara ketika kereta datang.
"Suka lagu apa saja?" tanyaku ketika kami duduk dalam kereta.
"Fairground?" tanyanya, memastikan. Aku menjawabnya dengan anggukan. "Hm… Perfect."
Aku memandangnya dengan pandangan terhina, dia tertawa. "Kamu fans sungguhan bukan, sih?"
"Hanya karena lagu kesukaanku adalah lagu mereka yang paling populer, bukan berarti aku fans karbitan, kan, bang? Lagunya memang bagus, kok. Dan meski sudah sekian lama, masih relevan dengan keadaan sekarang. Cinta yang serba terburu-buru."
"Iya, sih," gumamku.
"Tapi bercanda, sih. Aku suka lagu itu, hanya bukan favorit. Favoritku mungkin Moon On The Rain. Lagu mereka yang pertama kali kudengar. Nggak sengaja, sih, waktu itu. Tapi jatuh cinta."
"Tentang aku, ya? Lagu itu mengingatkanmu tentang aku, makanya suka?" tanyaku, mengingat-ingat lirik lagu tersebut.
Dia, yang belum kutahu namanya, tertawa terbahak-bahak. Matanya hilang dalam raut tawanya, kedua tangannya menutupi mulutnya yang penuh tawa, kepalanya nyaris terbentur jendela. Caranya tertawa membuatku ingin tertawa juga.
"Hey, apanya yang lucu?"
"Nggak. Lucu saja," katanya. "Lumayan mirip sih. Tapi bukan karena itu kok, bang." Masih ada sisa-sisa tawa dalam suaranya. "Aku suka lagu itu sebelum aku menyukai Abang. Justru, aku jadi suka sama Abang karena aku tahu Abang suka Fairground. Waktu itu aku pernah lihat abang menyanyikan salah satu lagunya. Find My Love, kalau nggak salah. Pikirku, menarik sekali. Aku jarang sekali, bahkan nyaris tidak pernah, menemukan orang yang tahu Fairground."
"Suka aku saja? Teman-temanku nggak?"
Raut mukanya berubah menjadi panik, pipinya agak memerah. Gadis ini penuh sekali ekspresi, membuatku geli. "Maksudku, kalian," koreksinya.
"Iya, aku percaya. Ngomong-ngomong, panggil Dion saja. Abang terdengar seperti preman. Seram."
"Wah, stereotipikal. Nggak menyangka. Tapi baiklah. Dion."
Aku berusaha menahan tawaku. Gadis ini menyebalkan, rasanya aku ingin sekali mencubit lengannya. Tapi tentu rasanya kurang menyenangkan, dicubit oleh orang asing, meski orang itu idolamu sekalipun. "Kamu tahu maksudku."
Gadis itu tersenyum. "Iya aku tahu. Aku Nadira."
"Namamu terlalu panjang. Kupanggil Nadir saja. Seperti teman Doyok."
"Itu Kadir…"
"Oh, sudah ganti?"
"Joke lawas!" protesnya, tapi toh tertawa juga.
"Eh, aku berhenti di dua stasiun setelah ini. Kamu kok nggak turun-turun?" tanyaku ketika kami berhenti di salah satu stasiun.
"Aku turun di stasiun setelah ini."
"Lapar?" tanyaku. Nadira melihat jam tangannya, menimbang-nimbang sebentar, lalu menggeleng, seakan dapat melihat isi perutnya dalam jam tangannya itu. "Aku masih ingin ngobrol, kalau boleh. Temani aku makan? Yang dekat rumahmu saja, sekalian kamu pulang."
"Boleh, tapi nanti kamu pulangnya gimana? Sudah malam."
"Aku, kan, laki-laki."
"Seksis juga. Wow."
"Nadir!" kali ini aku benar-benar mencubit lengannya, pelan saja. Aku tidak tahan.
Nadira membawaku ke sebuah kedai nasi goreng dekat tempat tinggalnya. Dia tidak tinggal bersama orang tuanya. Dia tinggal di sebuah indekos. Beberapa bulan sekali pulang, katanya, tergantung jadwal kerja. Sama sepertiku, dia perantau.
“Biasa, neng?” tanya bapak pemilik kedai nasi goreng. Tampaknya Nadira sudah sering makan di sini.
“Saya nggak, Pak. Teman saya saja ini,” jawabnya sambil mengarahkan ibu jarinya ke arahku.
“Nasi goreng ayam saja deh. Jangan terlalu pedas, ya, Pak,” pintaku. Bapak kaus hitam itu mengangguk sambil terus mencincang daun bawang.
Kami duduk di sudut, jauh dari kompor tempat bapak itu memasak. Nadira bilang dia tidak tahan bau tumisan sambalnya. “Bikin bersin-bersin,” katanya. “Dan kalau sudah bersin-bersin, aku nggak akan berhenti sampai setidaknya satu minggu,” tambahnya.
Kami berbincang-bincang panjang di sana (aku lebih banyak bertanya, Nadira lebih mengambil peran sebagai penjawab) sampai bapak pemilik kedai nasi goreng itu mulai membereskan kedainya, bersiap-siap untuk tutup.
“Kayaknya sudah harus pulang,” gumam Nadira.
“Iya. Kuantar sampai kos?”
Nadira kembali menilik jam tangannya. “Boleh, jalannya sepi, agak menyeramkan.”
“Banyak anak nakal?”
“Bukan. Hanya saja... tahu lah... hantu.”
Aku menyembunyikan tawaku ketika melihat ekspresinya dan bergegas membayar satu porsi nasi goreng dan dua gelas jeruk panas.
“Oh iya, kenapa kamu banyak menulis tentang kematian di lagu-lagumu?” tanya Nadira ketika kami berjalan menuju indekosnya.
Aku tersenyum. “Belum ada yang mempertanyakan hal itu. Kamu sungguh perhatian.” Ia membalas senyumku dengan canggung. “Karena kematian itu realita, Nadir. Menurutmu nggak begitu? Kematian bahkan lebih nyata daripada kehidupan. Semua yang hidup, pasti mati. Tapi semua yang mati belum tentu pernah benar-benar hidup.”
Nadira menggerenyitkan dahinya, mencoba mencerna. “Contohnya janin. Dia mati sebelum benar-benar hidup,” aku menjelaskan.
“Kamu pernah aborsi, ya?” tanya Nadira. Dia menahan napasnya menanti jawabanku.
“Tidak, karena aku laki-laki.” Aku tertawa. “Tapi mantan kekasihku pernah. Bahkan dia meninggal saat aborsi. Karena itu aku menulis banyak tentang kematian. Itu caraku mengingatnya, caraku mengingat kesalahanku. Kau tahu rasanya kehilangan dua orang sekaligus dengan cara seperti itu? Seperti kedua tanganku berlumuran darah setiap saat. Tak peduli berapa kali aku mencuci dan menyekanya, darah itu tidak akan hilang.”
“Aku menyesal bertanya,” gumam Nadira. “Maaf. Pasti rasanya berat menceritakan hal itu. Seperti terlempar ke masa lalu.”
“Nggak kok,” balasku enteng. “Aku memang hidup di masa lalu. Makanya tidak bisa benar-benar jatuh cinta. Cintaku hanya untuk dua orang itu. Oh, dan kedua orang tuaku. Dan mungkin Tuhan, kalau memang ada. Lagi pula aku justru lega bisa cerita. Tidak banyak yang tahu cerita itu. Kamu harus merasa spesial, Nadir!”
Nadira memaksakan senyum, masih merasa segan dengan ceritaku tadi. “Kenapa tidak banyak yang tahu?”
“Sederhana saja: tidak banyak yang bertanya. Terkadang kita hanya perlu mengajukan pertanyaan yang tepat, dan orang akan menceritakan seluruh kehidupannya. Beberapa orang lebih jujur dari pada yang kita kira; aku, contohnya. Jadi, terima kasih sudah bertanya, Nadir.”
Akhirnya Nadira bisa tersenyum dengan tulus. “Terima kasih sudah bercerita,” balasnya. “Jadi kamu benar-benar tidak pernah jatuh cinta?”
“Tidak, selama lima tahun belakangan ini. Selalu dihantui rasa bersalah.”
“Jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri,” Nadira mengingatkan. Aku hanya tersenyum.
Nadira tinggal di sebuah bangunan bergaya modern yang berlantai dua. Ketika sampai di depan gerbangnya, dia mengaduk isi tasnya untuk menemukan rangkaian kunci yang entah kunci apa saja.
“Apakah kamu membenciku karena aborsi itu?” tanyaku sebelum Nadira mengucapkan selamat tinggal.
Nadira tersenyum. “Kamu melakukan apa yang harus kamu lakukan. Setiap keputusan pasti punya pertimbangan yang mendasarinya. Apapun itu, itu yang menurutmu terbaik.”
“Tapi ternyata itu bukan keputusan yang terbaik. Aku kehilangan dua orang.”
“Perkara resiko dan konsekuensi, sih. Siapa yang dapat menjamin kalau tidak melakukan aborsi itu keputusan yang lebih baik? Anak-anak muda yang belum siap dan satu bocah yang terlantar karenanya? Setiap hal punya resiko dan konsekuensinya sendiri. Hidup di masa lalu dan meratapinya nggak bisa merubah apapun. Kita, selama masih hidup, hanya bisa melepaskan apa yang sudah. Salah satu cara melepaskan ya dengan memaafkan, termasuk memaafkan diri sendiri. Susah, tapi hidup kapan pernah mudah, sih?”
“Ngomongmu banyak juga.”
Nadira terkekeh. “Aku teler karena mengantuk dan kelelahan, jadi melantur.”
“Aku suka Nadir yang teler. Kapan-kapan kita harus minum-minum sampai mabuk.”
Gadis itu hanya tersenyum, terlihat begitu lelah dan mengantuk. “Pulanglah. Hati-hati.”
“Iya, terima kasih dan maaf sudah membuatmu terjaga sampai selarut ini. Obrolan yang menyenangkan, Nadir.”
“Sama-sama. Aku pun senang, Abang Idola.”
“Selamat istirahat.”
“Selamat istirahat.”
Aku menunggu Nadira masuk dan mengunci gerbangnya baru melangkah pulang, mencari ojeg, taksi, atau apapun saja karena kereta sudah berhenti beroperasi pukul sekian ini. Aku mengenakan tudung kepala jaketku ketika gerimis mulai turun dengan amat ringan, memutar lagu Fairground Attraction favorit orang asing yang baru kukenal tadi, mendengarkannya lewat headset.
Dia, lelakimu itu, egois dan keras kepala. Dia akan terus mendesakmu untuk makan meski kau bilang kau sudah kenyang. Dia tahu kau berbohong. Dia akan berkeras memberikan jaketnya untukmu meski kau bilang kau tidak merasa kedinginan. Dia tidak akan rela kau sakit. Dia akan bertandang ke rumahmu meski dia sedang tidak enak badan, karena dia tidak ingin kau merasa kesepian. Meski kau sudah bilang kau tidak kesepian. Dia egois dan keras kepala ketika mencintaimu.
Meski begitu, ingatkan dia untuk makan karena dia pun sering kali lupa. Dia lupa bahwa lambungnya lemah. Ingatkan dia untuk meminum obat maag ketika penyakitnya kambuh, seduhkan secangkir teh hangat untuknya, belai kepalanya dengan lembut. Ingatkan dia untuk tidak meminum terlalu banyak kopi. Ingatkan dia untuk memakai jaket karena dia rentan sekali masuk angin. Ingatkan dia untuk tidak tidur terlalu larut. Jadilah pengingat. Dia sering kali terlalu sibuk mencintaimu sampai lupa untuk mencintai dirinya sendiri.
Setelah harinya yang panjang dan melelahkan, dia akan menanyakan bagaimana harimu berjalan. Jawablah dengan jujur dan senang hati. Dalam suaramu, dia menemukan ketenangan. Berceritalah sementara dia memejamkan mata, terus bercerita sampai dia terlelap, biarkan dia tertidur dengan suaramu sebagai penutup harinya.
Dengarkan juga ceritanya, tanya bagaimana harinya. Biarkan dia membuatmu tertawa dengan gaya berceritanya yang berlebihan. Di hari Minggu, duduklah dengannya di beranda. Biarkan sepasang kaki kalian bersinggungan sementara kalian bertukar senyum dan tawa. Dengarkan dia bercerita tentang rencana-rencananya. Dia akan merencanakan banyak hal denganmu. Perjalanan ke sini dan sana, masa depan yang begini dan begitu. Amini, amini semua.
Dia lelaki yang tangguh dan angkuh, kau harus tahu itu. Dia tidak menangis kecuali menyangkut apapun yang tentang ibunya. Bahkan ketika kau mengancam untuk pergi sekalipun, dia akan menatapmu dengan tenang, kemudian tegas berkata, "Silakan saja." Jadi, jangan sekali-sekali mengancam ingin pergi jika yang sebenarnya kau inginkan adalah tinggal lebih lama. Dia akan menerima kepergianmu dengan tubuh tegap dan hati yang lapang, karena, sungguh, dia lelaki yang tangguh dan angkuh.
Sesekali lepaskanlah egomu, susurkan tanganmu di tengkuknya yang kaku. Sentuh dia dengan lembut. Dia sekeras batu, tapi di tangan yang tepat dia akan jadi selembut kepakan sayap kupu-kupu. Bersabarlah. Kumohon, bersabarlah, dia lelaki yang sulit. Dia hanya butuh waktu dan rasa percayamu. Kumohon, bersabarlah.
Cintai dia lebih dari aku mencintainya. Hanya dengan itu aku bisa dengan tenang melepaskannya. Sekarang aku hanya bisa mencintainya lewat doa-doa baik, deretan semoga tentang kalian. Aku harap dia menemukan sebentuk kebahagiaan yang tidak dia temukan bersamaku. Aku harap kau adalah jawaban atas segala doa-doanya.
Aku menulis ini tengah malam sekali. Ketika semua manusia tertidur dan tak ada satu burung pun yang terjaga. Malam begitu sunyi, aku hanya dapat mendengar napasku sendiri. Perlahan dan tertahan. Seakan setiap embusannya dapat membeberkan setiap rahasia dan masa lalu yang kusimpan saja sendiri selama ini. Aku begitu takut ketahuan. Aku seakan telah mencuri lembaran kehidupan yang bukan milikku, dan takut sekali Semesta akan mengetahui dan menghukumku nanti.
Bodoh. Tentu saja Semesta tahu. Semesta tahu semuanya, termasuk jumlah rambutku dan berapa detik lagi aku akan hidup. Bahkan rahasia-rahasiaku yang aku sendiripun tak tahu, Semesta mengetahuinya. Semesta sungguh tak bisa dikelabui. Dimana pun aku bersembunyi, tangannya selalu tertuding. Bagai tatapan Mona Lisa yang mengikuti. Kiri, kanan, atas, bawah. Ke mana pun. Aku takut. Tapi merasa aman juga. Setidaknya aku tidak sendiri.
Aku menulis cerita ini untukmu. Aku punya rahasia yang akhir-akhir ini sering meronta, kuku-kukunya yang berapi mencakar-cakar kerongkonganku setiap kali. Mengancam akan menghambur segera. Tapi aku tidak boleh membiarkannya. Mereka terlalu rahasia. Rahasia yang kelam, yang ingin aku lupa.
Tapi aku harus tahu kau bisa aku percaya. Bisakah? Apakah kau bisa aku percaya? Rahasia yang akan kubeberkan ini mungkin akan menghancurkan. Aku takut, takut sekali. Namun aku lebih takut mati di tangan rahasia-rahasiaku sendiri.
Oh, kawan, kau harus mengerti. Aku pun tidak tahu setan apa yang merasuki hingga membawaku ke rahasia ini. Rahasia yang kelam, rahasia yang ingin kulupa. Tapi tidak bisa, kau tahu? Kita bisa melakukan sesuatu, tapi tak bisa menghapus perbuatan itu. Tak bisa benar-benar menghapus kenyataan bahwa kita sudah melakukan hal itu. Kau menangkap maksudku? Kuharap iya. Kurahap kau paham. Karena seperti itulah rahasiaku.
Malam itu aku hanya seorang gadis biasa. Aku menjalani hidupku yang biasa. Aku menjadi diriku yang biasa. Namaku Elisa. Elisa yang biasa. Namaku pun berima dengan kata itu. Elisa yang biasa. Hidupku biasa saja.
Tapi pukul 11 Malam itu, aku ingat betul, seorang mengetuk pintuku. Aku gemetar. Malam di kotaku sangat sepi. Semua lentera di rumah, kecuali yang di kamarku, sudah padam. Aku sendiri entah mengapa masih terjaga selarut itu.
Ketukan pintunya yang awalnya lemah, aku biarkan saja. Kuanggap angin lalu. Namun perlahan ketukan itu berubah menjadi dentuman. Sungguh. Sungguh hebat. Aku heran mengapa tak satu orang pun terbangun. Dentuman di pintu terus mengeras dan memaksa, membuatku semakin takut dibuatnya. Tapi aku sadar ketakutanku tidak akan membuatnya berhenti, pun aku yakin dentuman itu tak akan membangunkan siapapun selain bulu kudukku sendiri.
Maka aku bangkit dari dipan. Berbekal lentera kamarku aku melangkah ke pintu depan. Pintu depanku masih digedor-gedor dengan brutal, tapi di sela-selanya aku mendengar keheningan total. Aku tidak membuka sedikit tirai untuk menilik siapa yang menggedor-gedor itu. Tanganku gemetar, masih memegang lentera, tapi aku tak gentar. Kukerahkan seluruh keberanianku untuk bertanya, "Siapa di sana?"
Kupikir suara yang datang bersama dengan dentuman di pintu itu adalah suara yang berat dan mengerikan, seperti monster-monster atau makhluk malam yang sering meneror warga kota kami. Tapi tidak. Suaranya lembut dan ringkih. Suara seorang pria yang lembut dan ringkih. Familiar, batinku. Aku pernah mendengarnya di suatu mimpi, barang kali, atau di kehidupan yang lain.
"Ini aku," suara itu berkata. Suaranya lembut dan ringkih. Tapi tidak seperti orang sakit. Ringkih saja. Seperti gemeretak ranting kering. Seperti gemericik air. Aku mengenal suara itu, tapi tak tahu siapa 'aku' yang dia maksudkan.
"Aku tidak tahu siapa 'aku' yang kaumaksud."
"Kau tahu aku. Bukakanlah pintu."
Suaranya yang seperti gemeretak ranting entah mengapa mendorongku untuk mengabulkan pintanya. Tanpa berpikir panjang maupun kembali bertanya, meski belum merasa jelas benar, aku membukakan pintu untuknya.
Di luar, dunia tampak hampa. Kosong dan kelam. Gelap yang menakutkan. Waktu itu pukul sebelas malam. Dunia benar-benar berhenti, dan tampak sama pulasnya dengan warga kotaku. Laki-laki yang suaranya lembut dan ringkih itu datang dengan tidak membawa lentera. Tidak membawa apa-apa selain dirinya saja. Saat itu baru terpikir olehku, mungkin saja dia jelmaan makhluk malam. Banyak warga yang mendesas-desuskan hal itu. Seketika kueratkan cengkraman pada lenteraku, kuterangi wajahnya.
Tapi laki-laki itu tidak terlihat menyeramkan. Dia tersenyum, senyum yang tulus, nyaris nyengir. Aku heran, tapi bodohnya mempersilakan dia masuk.
Dia bilang aku mengenalnya, tapi tidak. Mungkin saja lupa. Tapi seingatku aku tak pernah melihat wajahnya. Mungkin saja pernah, namun entah dimana. Matanya ramah dan sendu, mengisahkan kasih dan kehidupan, dua hal yang jika dilihat sebenarnya tak sejalan. Tapi di matanya semua benar. Benar dan tepat. Bahkan bayanganku pun terlihat tepat. Aku tidak melihat cerminan Elisa yang biasa. Malam itu untuk pertama kalinya aku menjadi Elisa yang luar biasa.
Wajah laki-laki itu bercahaya, tapi mungkin itu efek lentera. Ketika aku terlalu lama memandanginya, dia memegang tanganku dan menyingkirkan lentera dari hadapan wajahnya. "Kau mengenalku."
"Aku tahu aku mengenalmu. Segala tentangmu," sahutku, entah mengapa luar biasa lirih. Aku tidak hendak berkata begitu. Kata-kata itu keluar sendiri dari mulutku.
Laki-laki itu tersenyum. Lucunya, senyumnya lebih kuat dari suaranya yang ringkih. Senyumnya terlihat gembira, seperti tawa yang tertahan karena terlalu gembira. Wajahnya seperti malaikat. Kawan, aku ingin menciumnya saat itu juga. Tapi tidak. Aku diam.
Tangannya terasa dingin ketika dia merengkuh wajahku. "Elisaku, Elisa," gumamnya, seperti bertemu cintanya yang lama. Suaranya sarat rasa bahagia, tapi juga terdengar sedih. Di matanya berpendar sosok Elisa yang luar biasa. Mungkin itu yang dilihatnya.
Aku hendak mengatakan namanya. Aku tahu namanya, namun namanya tertahan di ujung lidahku. Tak pernah bisa kuucapkan, bahkan sampai saat ini. Namanya masih tertahan di ujung lidahku. Aku tidak bisa melafalkannya, tidak bisa menyanyikannya. Seakan namanya adalah rahasia, bahkan bagiku. Tapi aku tahu. Aku sangat tahu nama laki-laki itu. Aku hanya tidak tahu cara membeberkannya. Atau tidak mau? Tidak diperbolehkan? Sungguh konsep sebuah rahasia ini membebaniku.
Malam itu kami bercerita panjang lebar. Anehnya kami tak bersuara. Katanya, kami adalah rahasia, tak seorangpun boleh mendengar apa saja. Meski aku merasa aneh dengan pernyataannya, karena kenyataannya tak seorang pun terlonjak dan terbangun mendengar gedoran tangannya di pintu depanku. Mengapa suara selirih bisikan dapat terdengar oleh siapa pun?
Tapi aku diam. Aku banyak diam. Ternyata sebagian diriku masih Elisa yang biasa.
Kami bercerita panjang lebar malam itu, sampai akhirnya tangan laki-laki itu menyentuh leherku, membimbing wajahku ke wajahnya. Menghujaniku ciuman. Aku adalah tanah tandus dan dia adalah hujan. Dia hal yang di luar aku yang membuatku menjadi Elisa yang luar biasa. Selalu, dan selalu begitu.
"Elisa," dia mendesahkan namaku tepat ditelingaku. "Elisaku," desahnya sekali lagi.
Tangannya membimbing tubuhku untuk berbaring di dipan. Tangannya menyentuh sudut-sudut tubuhku yang tak seharusnya tersentuh. Dia merasukiku. Aku ingin menyanyikan namanya, tapi tidak bisa. Selalu tertahan di ujung lidahku. Aku frustasi, kucengkram rambutnya kuat-kuat, namun dia tak merasa kesakitan, tak meringis sedikitpun. Dia meredam desahan lelahku dengan bibirnya.
Malam itu kami bercinta tanpa suara sampai sebelum fajar merekah. Hanya gesekan dan bisikan, seperti alunan biola yang lirih. Api lenteraku bergeletar menyaksikan sebuah kobaran cinta yang luar biasa merah. Laki-laki itu mengakui bahwa dia mencintaiku, dan dengan bibir yang sama dia kembali menghujaniku ciuman.
Dia pergi lewat jendela, pagi-pagi sekali, sebelum Semesta tersadar bahwa ia kecolongan satu malam, sebelum fajar merekah, sebelum ternak-ternak terbangun. Sebelum dia pergi, aku menangkupkan wajahnya dengan kedua tanganku, gantian menghujaninya ciuman.
"Apa kau akan kembali?" tanyaku, aku menangkap kesedihan dalam suaraku sendiri. Entah mengapa ini rasanya seperti kali terakhir.
Laki-laki itu mengecup keningku dengan lembut. Suaranya yang seperti gemertak ranting menenangkanku. "Tentu, Elisaku," janjinya. "Tunggu aku. Aku akan kembali. Selalu. Bukankah aku selalu begitu?"
Aku tidak ingat kapan yang dia maksud itu, tapi aku mengangguk, mengiyakan. Dia membuatku amat bodoh. Mungkin memang benar dia adalah jelmaan makhluk malam.
Dia datang tanpa apa-apa, dia pun pergi tanpa apa-apa, justru meninggalkan benih-benih kenangan yang panas, dan rahasia yang jahat dan selalu meronta-ronta. Punggungnya tertelan kegelapan seberapapun aku berusaha meneranginya. Dia hilang, dia pergi, kami berakhir. Malam yang panjang tapi singkat. Entah. Laki-laki itu membuat segalanya tak masuk akal, tapi masuk akal juga.
Aku memandangi hilangnya sampai fajar merekah. Dunia seperti baru. Seperti malam tadi tak terjadi. Tapi aku tahu segalanya benar terjadi. Cerita-cerita panjang kami, ciuman-ciuman kami yang panas dan berapi, rahasia-rahasia yang tertinggal. Aku tahu. Aroma laki-laki itu masih tertinggal di rambut dan tubuhku. Dia meninggalkan jejak di mana-mana.
Aku bisa menceritakan semuanya dengan detil, tapi tak kuasa menggumamkan namanya. Namanya adalah sebuah rahasia yang berat. Itu saja. Sebuah rahasia yang berat.
Setelah menyaksikan fajar yang pecah, aku tertidur, memeluk tubuhku yang masih menyaru aroma laki-laki itu. Aku membayangkan memeluknya sekali lagi. Ah, Sayang, aku ingin menggumamkan namamu. Sekali. Sekali saja, agar lega. Aku sesak. Sesak sekali.
Namanya adalah sebuah rahasia yang berat. Itu saja.
Hai Ruly.
Surat ini adalah surat balasan untuk suratmu untukku di tanggal 31 Januari 2016 lalu.
Kabarku baik. Sedikit flu, tapi lebih dari itu, semua sama saja. Tidak banyak yang berubah. Bahkan cenderung tidak ada, karena aku tidak merasakannya.
Di suratmu kamu memberiku lima tantangan. Dari lima itu, yang aku selesaikan hanya dua. Maaf. Haha.
1. Aku berhasil menyelesaikan 30 Hari Menulis Surat Cinta. Aku mengirimkan surat setiap harinya. Suatu pencapaian yang penting bagimu, kan? Suatu pembuktian bahwa ternyata kamu bisa berkomitmen pada satu hal. I think it's save to say that your commitment issue is decreasing as you grow older, Rul. Semua surat bertema juga aku tulis. Yang untuk Superstar, aku menulis untuk Neil deGrasse Tyson, seperti rencanamu.
2. Aku masih minum teh hijau, tapi tidak setiap hari. Karena, jujur saja, malas. Maaf. I'll try better at handling my laziness.
3. Olah raga pun tidak aku lakukan setiap hari. Susah mengatur waktunya. Satu bulan ke belakang ini aku sering pergi bersama temanku saat sore sampai malam hari, dan paginya aku susah bangun. Jadi… yah. Tapi aku akan mengatur jadwalku lagi untuk bisa rajin berolah raga. Mungkin salah satu caranya adalah dengan bangun super pagi, ya?
4. Aku masih suka stalking, tapi berkurang, kok. Rasa peduliku urusan orang sudah berkurang. Aku sadar hidupku sendiri masih butuh perhatianku, aku tidak boleh buang-buang waktu memperhatikan hidup orang lain. Semoga akan tiba suatu saat dimana aku benar-benar tidak peduli dengan kehidupan orang lain, jika itu tidak bersangktuan dengan kehidupanku.
5. Aku tidak malas mengerjakan skripsi, kok.
Laporanku selesai. Tidak banyak yang kucapai dalam 30 hari ini, ternyata. Tapi tetap, aku bangga diriku sendiri telah konsisten dalam mengikuti 30 Hari Menulis Surat Cinta, dan akan merindukannya. Semoga tahun depan event ini kembali diadakan. Aku penasaran apa yang akan sudah kamu capai di tahun depan. Ceritakan padaku, ya.
Halo kak Lio. Maaf baru kali ini menyapa kak Lio lewat surat. I'm saving the best for the last, I guess. Hehe. Lewat surat ini aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Kakak karena telah menjadi tukang posku selama sebulan ini. Ini tahun keduaku mengikuti 30 Hari Menulis Surat Cinta, dan kali pertama lengkap mengikutinya sampai akhir. Terima kasih selalu setia mengantarkan surat-suratku selama ini. Di tengah kesibukan Kak Lio Kakak masih menyempatkan untuk mengantarkan surat-surat, aku sangat menghargai hal itu. Semoga semua jerih payah dan kebaikan kak Lio tidak sia-sia, semuanya kembali ke kak Lio dalam bentuk kemudahan dan rezeki. Amin. Sekali lagi terima kasih, ya, Kak. Aku akan rindu menantikan notifikasi dari Kak Lio. Peluk cium, Ruly
Ini bulan penuh cinta, kata mereka. Aku seharusnya menulis banyak tentang cinta. Dan sudah, pikirku. Selama 27 hari aku telah menulis banyak tentang cinta. Meski sebagian besar hanya bagian sedih-sedihnya saja. Tidak benar-benar yang tentang perasaan berbunga-bunga seperti cinta pada umumnya.
Kurasa aku tidak bisa menuliskan tentang itu. Aku bukan orang yang romantis. Aku seorang masokis. Aku tidak bisa menuliskan padamu bagaimana aku menggilai matamu. Bagaimana tawamu selalu menjelma suara zombi dalam mimpi burukku. Aneh. Aku tidak bisa. Yang aku bisa adalah menuliskan bagaimana hatiku patah ketika aku pergi, dan bagaimana rindu seakan mengiris-iris jemari.
Aku tidak bisa menyusun kata yang indah untuk mengambil hatimu. Aku hanya bisa jujur. Aku tidak suka wajahmu yang terlalu sering serius, kerutan di dahimu yang menandakan kecemasan yang tak kunjung berlalu. Tapi toh aku tetap menyukaimu.
Aku tidak suka caramu berbicara yang kadang terasa asing dan bukan dirimu, atau bukan dirimu yang aku tahu, setidaknya. Caramu berbicara terkadang membuatku merasa aku telah jatuh cinta pada orang yang salah. Terkadang membuatku bertanya apakah aku benar-benar sedang jatuh cinta padamu. Karena sungguh terkadang caramu berbicara membuatku benci! Tapi toh ketika kau tersenyum aku sadar aku memang jatuh cinta padamu.
Ini kah yang mereka sebut dengan surat cinta? Entah. Sekali lagi, aku bukan orang yang romantis. Aku minta maaf. Tapi tolong, jangan ragu ketika aku mengatakan bahwa aku menyukai segala hal tentangmu, bahkan hal-hal yang sebenarnya tak kusukai sekalipun. Aku tidak sedang bohong.
Jika aku dapat mengulang kembali saat kita bertemu terakhir kali, aku rasa aku tidak akan mengubah banyak hal.
Aku akan tetap menghabiskan pagi itu di kamarmu, berpelukan denganmu sampai waktu serasa berhenti dan kita muak akan keberadaan masing-masing. Aku akan membalas ciuman-ciumanmu, dan bukannya diam seperti terakhir kali. Aku akan mengatakan betapa senangnya aku menghabiskan waktu denganmu.
Jika aku memiliki satu kelemahan maka kelemahanku adalah diam, tak pernah tahu saat yang tepat untuk bicara. Mungkin pagi itu kau butuh aku untuk bicara, untuk menahan langkahmu. Untuk mempertanyakan kita. Tapi aku diam. Suaraku seringkali merusak banyak hal. Aku tidak ingin merusak pagi itu, yang kurasa sakral.
Jika aku dapat mengulang kembali saat kita bertemu terakhir kali, aku tidak akan mengubah banyak hal. Aku hanya tidak akan memejam. Karena aku takut kau akan hilang. Seperti saat terakhir kali. Aku akan menutup semua jendela dan pintu agar waktu tak mampu merenggut kita.
Jika aku dapat mengulang kembali saat kita bertemu terakhir kali, aku tidak akan mengubah banyak hal. Aku hanya akan memintamu untuk tetap tinggal. Itu saja.
Aku kira semua yang tentang kita sudah selesai. Semua tawa sudah kulupa, dan semua luka sudah usai. Tapi nyatanya pagi tadi burung-burung berkicau tentangmu. Mereka bercerita bagaimana pagi ini wajahmu terlihat murung. Hatiku kembali patah. Aku sangat ingin memelukmu. Tapi aku ingat tanganku begitu kecil dan rapuh. Kau hanya akan melukaiku.
Jadi pagi ini aku terbangun, langsung menangis sementara burung-burung tak berhenti berkicau tentangmu. Matahari yang kemarin beristirahat, pagi ini terbangun, ikut menjadi saksi kepedihanku. Teriknya seakan membakar lukaku.
Setelah burung-burung berlalu, aku tetap terpekur di hadapan jendela. Membayangkanmu yang terluka. Aku ingin sekali meneleponmu, mengatakan kalimat-kalimat pelipur. Tapi toh percuma. Kau tidak membutuhkannya. Tidak dariku. Mungkin dari dia yang melukaimu, atau wanita lain yang lebih bisa membuatmu melupakan dirinya. Bukan aku. Tidak pernah aku, kan?
Membuatku bertanya-tanya apa kita sungguh tidak ada artinya. Mungkin iya, mungkin saja. Kau selalu seperti itu, membuatku merasa tidak berharga. Dan aku sudah berjanji kepada diriku sendiri aku tidak akan membiarkan siapapun membuatku merasa tak berharga. Karenanya aku pergi. Aku pergi karena…
Karena… entah… Aku pikir kau akan menahanku? Oh, betapa lucu. Aku hanya kelebatan dalam hidupmu. Itu saja.
Tapi mungkin itu saja pun cukup. Aku tidak minta banyak. Tidak pernah, kan?
Whaaaaaa aku juga suka banget HIMYM :(((( *high five!*
(via idontmakeart)
Kan? Hahaha barusan lgsg ada yg dm ngobrol panjang leber soal HIMYM..wkwkw
Which is best episode for you? Jangan bilang ending, kalo kamu bilang suka endingnya…pembicaraan kita sampe sini aja…😤
(via synestesya)
Aku suka yang pas Robin nyari kalungnya dan Ted bantu dia terus hujan itu. Lupa episode berapa, tapi kalau nggak salah sih season 8. Foreshadowing at its best.
Aku termasuk yang nggak masalah sama endingnya sih. Walaupun klise, tapi everything makes sense and everything falls perfectly, menurutku. It was bound to happen. Writernya udah foreshadowing dari episode pertama sih, tapi banyak yang menafikkan itu for the so called “perfect ending” versi mereka. Kinda like our universe, maybe it has been foreshadowing things the whole time but we choose to ignore it. The show makes me think so much of how the universe works. The universe has a good sense of humor, kind of an asshole, too, sometimes.
But seriously aku merinding kalo inget-inget episode pertama dan episode terakhir. Brilian.
(via idontmakeart)
Iyaa inget itu..meaningful at it best..:’)
Did you remember time traveller episode? Thats my personal fave…
Iya emang,.its sweet ending though, bout foreshadowing bener banget sumpah..tapi kaya gimanaa gt rasanyaa…tbh aku liat mother pas awal ku bilang aneh aja,.cocokan robin, but the script man know how to make me love her minutes by minutes.. :’) but at the end dia cuma jadi pion buat balik ke grand objective..:’( and barney and robin? Seriously, just end that way?
“Its all about robin”….bittersweet sumpah..:’)
Kayanya aku mau nonton lagi deh dr awal..:’)
Ah iya itu juga bagus. Tapi emang season 8 itu season terbaik himym sih menurutku.
Awalnya aku juga ga suka sama si mother :')) too good to be true. Terlalu mirip banget Ted jadi kesannya maksa.
Dan masalah robin barney.... god, it broke my heart 😂 ga rela juga sebenernya robin sama barney pisah hhhh~ perfect banget mereka.
Serial itu emang layak banget ditonton ulang berkali-kali. Aku aja kalo lagi gegalauan masalah hidup langsung nonton itu lagi. Langsung ngerasa tenang. Udah kayak pedoman hidup :))
Oiya, please, anyone kalo kalian masih diantara umur 20 sampe awal 30..berarti kalian masih sempet, kalian harus nonton serial How I Met Your Mother,
Kenapa? Meskipun komedi, banyak pelajaran hidup of being 20 and something disana, gimana kita ngehadapi awal dekade kegemilangan hidup kita.
How i met your mother, ngajarin aku banyak hal tentang hidup, kapan2 aku tulis deh apa aja.
(via synestesya)
Whaaaaaa aku juga suka banget HIMYM :(((( *high five!*
Lately I’ve been missing everything. I miss my dad, I miss you. It’s like I’m living but not quite. Because I’m always missing something. You know?
It’s like missing a lung, a finger, an eye. Always incomplete. I want them back, my parts. And some of them do. But a lot of things disappear, too. Like I forgot where I put them. I swear I still had them the last time. But last I checked… nothing.
It’s scary how clumsy I am. Always missing and losing things. But it’s not that I didn’t try. I try to keep things in place. But it’s like they have their own feet and hands, or wings even. They took off by their own will.
Like you. Very much like you.
You see I’m kinda drunk, I don’t know whether this is because I miss you too much or because I didn’t get enough sleep.
Semenjak kecil aku membenci namaku. Ruly. Nama yang aneh. Nama yang menurut orang lebih pantas untuk nama seorang lelaki. Menurutku pun. Hingga akhirnya aku mulai bertingkah seperti bocah laki-laki; berlari-lari, bermain bola, berkelahi, memanjat pohon. Meski aku juga seringkali bermain boneka dan pura-pura menjadi ibu rumah tangga.
Aku seringkali mempertanyakan kepada Papa mengapa aku dinamai demikian? Mengapa namaku tidak cantik, seperti Wulan, Cahaya, atau Melati, atau apalah, apa saja selain Ruly. Lalu suatu kali papa berkata, sebenarnya dulu ia ingin menamaiku Alexandra.
Aku jadi bukan hanya membenci namaku, tapi mulai membenci eksistensiku. Alexandra nama yang bagus. Nama yang cantik. Aku mulai berpikir apa jadinya jika dulu Papa sungguh menamaiku Alexandra. Mungkin aku akan jadi lebih pintar dan manis, menjadi lebih seperti anak perempuan lainnya.
Bertahun-tahun aku membayangkan apa jadinya diriku jika aku menjadi kamu, Alexandra. Tak pernah berhenti berpikir bahwa mungkin dunia ini adalah tempatmu. Karena terkadang aku merasa asing sendiri. Mungkin di dunia lain kau sungguh nyata, dan kau berharap namamu Ruly (karena entah kenapa nama itu terdengar keren bagimu). Mungkin kau berpikiran yang sama denganku: aku tidak seharusnya ada di sini.
Tapi toh dari beberapa kemungkinan yang konyol, hal inilah yang nyata. Aku ada di sini, meski merasa tidak tepat. Dan kau ada di sana. Kita tidak boleh manja, bagaimanapun kita harus menjalaninya. Mungkin ada dunia di mana kita adalah diri kita masing-masing dan merasa tepat di sana, tidak bertanya-tanya mengapa kita bukan orang lain saja.
Mungkin. Ah, kata itu. Betapa segala tentang semesta adalah sederetan mungkin yang tak habis-habis.
Hai. Sudah berapa tahun, ya, sejak ucapan selamat ulang tahun darimu? Lama. Tiga? Entah. Lupa. Yang aku ingat, aku berjanji tidak akan menangis lagi selama 30 tahun. Tapi ternyata beberapa hari saja aku sudah ingkar janji. Aku ini Ratu Menangis. Jago sekali. Maaf aku ingkar janji. Sulit sekali menahan air mata. Aku selalu mencoba menahannya tapi susah. Selalu keluar dan akhirnya mukaku berantakan. Mungkin janjiku waktu itu terlalu muluk-muluk.
Karenanya, sekarang aku menulis ini untuk memperbaharui janjiku. Aku pasti masih akan sering menangis. Aku teramat sensitif, Dan. Kamu harus tahu itu.
Tapi aku berjanji aku tidak akan bersedih lama-lama. Aku tidak akan berpegangan pada kesedihanku. Dan bukan hanya selama 30 tahun saja, tapi untuk selamanya. Sampai mati aku akan mengalir. Seperti air. Tidak akan berpegangan pada apa-apa selain, mungkin, pada pendirian dan kata-kataku sendiri.
Mungkin hal ini tidak penting bagimu, Dan. Kau bahkan mungkin sudah lupa. Tapi ini penting untukku. Aku orang yang selalu berusaha menepati janji. Sekecil apa pun. Dan ini adalah pembuktian pada diriku sendiri. Terima kasih, Danny, atas ucapan selamat ulang tahunnya kala itu. Sungguh berarti. Bahkan sampai sekarang. Semoga sukses!
Tuhan yang Maha lucu, ini aku, anak-Mu. Anak-Mu yang kerap kali bingung dengan jalan-jalan yang Kau siapkan untukku. Jalan-jalan itu begitu rumit dan membingungkan, terkadang juga sulit dilalui. Tapi jalan-jalan itu juga membuatku tertawa, akhirnya. Membuatku sadar bahwa Kau, yah, selucu itu. Semua yang baik dan buruk, tak lebih dari sekadar pembentuk. Seperti yang mereka katakan di lagu-lagu tentang-Mu, aku ini bejana yang Kau tempa, Kau persiapkan untuk kebesaran-kebesaran-Mu. Mereka ada benarnya. Semoga.
Tuhan yang Maha lucu, semoga Kau tidak marah ketika aku melucu tentang eksistensi-Mu, selalu mempertanyakannya, selalu mempertanyakan kebenaran eksistensi penggemar-penggemar-Mu juga. Jangan marah, ya, Bapa, aku tahu Kau lebih besar dan mulia daripada Manusia. Maaf jika aku terlalu banyak bertanya, banyak hal membuatku penasaran. Kau, salah satunya.
Tapi toh aku tetap berakhir dengan rasa takjub betapa akalku tak sampai untuk menggambarkan dan menjelaskan diri-Mu. Akalku tak pernah sampai untuk mengerti mengapa aku di sini saat ini, Kau tahu? Rasanya banyak hal rumit yang terjadi hingga aku bisa sampai di sini saat ini, hidupku seperti rangkaian hal-hal tak masuk akal, yang anehnya, ternyata masuk akal. Aku hanya perlu berpandangan lebih luas. Maka, yah, apapun yang terjadi padaku saat ini, aku berterima kasih. Aku tahu itu yang terbaik untukku.
Meski harus kuakui, seringkali aku takut, bahwa Kau tak lebih dari sebuah kekosongan, dan aku berharap pada suatu kehampaan. Tapi aku selalu berusaha untuk kembali percaya. Kalaupun ternyata Kau tak ada, aku tidak akan menyesal. Aku memang manusia lemah, yang butuh sosok seperti-Mu tempat aku menambatkan harap akan indahnya masa depan.
Terima kasih sudah jadi sumber tenangku selama ini, Tuhan. Tempat aku menangis dan mempertanyakan seluruh raguku. Terima kasih. Aku manusia yang sungguh bingung. Kehidupan ini begitu membingungkan dan rumit. Tapi kembali aku ingat, Kau Tuhan yang Maha lucu. Jadi kujalani saja semua sambil tertawa banyak-banyak. Karena Kau sungguh Tuhan yang Maha lucu.