Good friends of mine. Instagram: voc @dvdrsd song: @donneywagna
sheepfilms

祝日 / Permanent Vacation

Origami Around

Janaina Medeiros
🪼

❣ Chile in a Photography ❣
RMH
Sweet Seals For You, Always
Monterey Bay Aquarium

Love Begins

Kaledo Art

PR's Tumblrdome
No title available
tumblr dot com
Lint Roller? I Barely Know Her
NASA

roma★
Alisa U Zemlji Chuda
will byers stan first human second
dirt enthusiast

seen from Canada
seen from India

seen from United States

seen from Brazil
seen from Canada
seen from Oman
seen from Bolivia
seen from United States
seen from India
seen from South Africa
seen from South Africa

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@ikanpais
Good friends of mine. Instagram: voc @dvdrsd song: @donneywagna
Found this in Youtube and it blows my mind.
I’m not coming from a rich family. We were just lived normally. We had what we needed. We used things that we really need though. Sometimes we bought goods that we doesn’t really need also. But when the time is come and after using the goods, they will be a remaining and useless anymore. And then, people, we’re doing things in vain for real. Watch this video and leave your brain and heart to think and feel.
SENYAWA ALAM
“Gemah Ripah Loh Jinawi”, Tenteram dan Makmur Serta Sangat Subur Tanahnya.
Melihat Indonesia dari kacamata anak muda yang tidak banyak melakukan perjalanan adalah pekerjaan yang sulit. Mengingat tanahnya yang luas, perairannya yang membentang, perlu banyak sekali usaha dan tenaga. Tapi ini soal mindset. Bukan cara berpikirnya yang salah, anak muda Indonesia hanya perlu untuk tidak memikirkannya. Anak muda tidak perlu tenggelam, hanyut, berlarut-larut dalam luka yang masih dirasakan Ibu Pertiwi hingga saat ini.
Kalimat pada paragraf pertama adalah ‘lagu lama’ yang selalu menjadi andalan untuk melebih-lebihkan tanah air ini. Mengapa “melebih-lebihkan”? Karena ia memang pantas. Ada banyak potensi, banyak kesempatan, Indonesia punya banyak celah untuk menjadi tenteram dan makmur yang sesungguhnya. Tanah air ini punya kans untuk menjadi besar. Berabad-abad dimatikan kepercayaan diri dan moralitas sepertinya telah memandam kreatifitas dan rasa memiliki putra-putrinya.
Memang tidak banyak anak muda yang terjun mendedikasikan dirinya dibidang agraris, perikanan dan hal-hal yang berhubungan dengan alam. Teknologi yang terlanjur canggih serta modernisasi yang mewabah menyedot animo mereka. Ini adalah drugs, narkoba yang sesungguhnya. Beruntungnya, perkembangan ilmu pengetahuan ini membawa banyak sekali manfaat, diluar kemampuannya yang bisa jadi malapetaka jika disalahgunakan.
Dua orang pemuda dalam video di bawah ini adalah sedikit contoh dari begitu banyak orang-orang yang bersinergi secara mandiri, mengkolaborasikan teknologi dengan budaya dan alam Indonesia. Mereka dengan karya-karyanya yang menggugah semangat telah banyak membangunkan kesadaran putra-putri tanah air dari hibernasi yang panjang. Merangsang hasrat yang sama agar dapat berlaku sama.
Heruwa (Shaggy Dog) dan Erix Soekamti (Endank Soekamti) adalah entertainer. Mereka pelaku seni, pelaku kreatif, musisi, pemerhati budaya dan pedidikan. Menyimak sepak terjang kreatifitas mereka seperti tidak pernah ada habisnya. Ada saja hal positif dan mandiri yang dapat dilakukan. Video berikut adalah sebuah proyek kreatif duo musisi berbeda band, Heru dan Erix. Mereka mengenalkan alam dan budaya Yogyakarta kemudian dikemas dengan manis dalam sebuah format video. Menariknya, audio yang diciptakan oleh Heru merupakan suara-suara yang direkam secara manual dan berasal dari bebunyian di lingkungan setempat. Rekaman suara berbagai benda itu lalu dimodifikasi dan dipercantik oleh videografi yang diambil langsung Erix Soekamti. Jadilah dia sebuah karya cipta, video berdurasi 3:35 menit dengan tajuk “Senyawa Alam”.
Ada banyak apresiasi anak negeri dalam mengenalkan budaya dan kekayaan yang dimililki Indonesia. Ada yang terekspos media, ada pula yang diam-diam membanggakan. Semuanya memberi percikan semangat. Mengajarkan generasi muda di setiap pelosok tanah air bahwa Indonesia masih tetap besar. Masih tetap menjadi tuan rumah yang ramah. Masih tetap negeri yang tenteram dan makmur dalam ke-bhinneka-annya. Tanahnya yang subur masih dapat memberi rasa kenyang dan kesehatan bagi putra-putrinya yang bersyukur. Bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa, berterima kasih atas berlimpahnya rezeki yang tidak pernah ada habisnya.
Jinak-Jinak Sesingaan
Aku curiga pada rasa bosan. Hari ini dia datang kemudian dia menghilang lalu dia datang kembali. Dia mengusik ketenangan hingga ke dalam-dalam relung tubuh, setiap rongga yang terbuka, ada bosan di dalamnya. Bagaimana mungkin hidup bisa jadi dinikmati jika seperti ini praktiknya? Harapan akan kondisi yang baik-baik saja demi hati dan jiwa yang sehat saat tua nanti harus digugah oleh hal yang kita sebut ‘kebosanan’.
Aku percaya setiap orang tidak ingin menjadi pesimis dalam hidup. Hanya saja, hidup yang random ini sering kali memaksa kita untuk merasa lemah pada kondisi tertentu. Benteng yang kuat, tameng dari baja, zirah terbaik di dunia, justru tidak berguna saat hati digerogoti perasaan tidak tenang. Membuat ksatria terbaik sekalipun terlihat seperti pengecut.
Aku ingin mengalah kadang-kadang lalu pergi diam-diam. Berjalan kembali ke setapak yang kemarin lalu kujajaki setiap hari. Menyusuri tebing-tebing curamnya sendirian, berhasil selamat tanpa campur tangan atau bantuan dari siapapun. Memetik kembang-kembang yang tumbuh disana lalu melemparinya kembali ke tanah. Aku yang akan selalu menanam kekembangan itu kembali. Hakku untuk kapanpun memetiknya. Menjadi berbeda jika orang luar yang tidak tahu apa-apa lalu seenaknya ikut memetik. Kemudian akan kukatakan padanya, “Aku yang menanamnya, aku yang harus memetiknya. Kau tau apa, orang asing? Datang lalu mengusik apa yang ada diduniaku. Apa kau siap bertanggungjawab atas tindakanmu?”.
Perasaan ingin mengalah itu pun seringkali kalah. Bayangkan anak kecil yang meronta menolak perintah tidur oleh ibunya. Kemudian ia menjadi jinak setelah dijanjikan mainan sebangunnya dari tidur siang nanti. Akupun demikian, amarahku mereda saat ‘obat penenang’ itu datang. Tak usah bermuluk-muluk, obat penenang itu bisa jadi hanya berupa suara. Suara-suara yang entah apa tapi dia berkhasiat menenangkan. Jika ini terjadi, ritme hidup akan kembali normal. Bahagia, tenang, damai, hati akan melunak jinak.
Pertanyaannya adalah, apa kau akan membiarkan suara itu datang padamu?
Alien of My Life
How can I leave a creature like you? You are a weirdo who filled my head Not my dad, my mom or my whole family You’re the only stranger that I want to taking over me How if stay for a little bit longer, maybe for the rest of life? I can make you another box Fill it with more flowers Leave my heart and soul inside So when I’m not around, I know you will be fine
Awal tahun yang baik adalah awal tahun yang tidak selalu begitu.
Aku percaya, saat kecil, seukuran Mainee Coon jantan dewasa, aku sedang lucu-lucunya. Begitupun kau. Begitupun Donal Trump. Begitupun Young Lex. Siapa kira saat dewasa mereka bisa jadi sangat menyebalkan. Seolah-olah mereka sengaja diprogram untuk membuat gaduh sebagian atau bahkan seluruh dunia.
Mai, bayi dalam gambar berumur sekitar 3 bulan. Dia sedang dalam pengawasan banyak orang. Menjadi pusat perhatian mungkin bukanlah keinginannya. Ayah Ibunya dengan tidak sengaja membentuk anak ini menjadi begitu dicintai. Tingkahnya yang menggemaskan dan pola yang random akan menggelitik bibir untuk selalu tersenyum. Mudah saja baginya membuat orang-orang bahagia. Kemudian terucap olehku, “Sungguh Mai, kau menyenangkan sekitarmu”. Lalu dia menghampiriku dengan langkah gontai, memeluk kaki kananku dan melumeri lutut penuh bulu dengan ilernya yang beracun. “Aaahh Maaaiii got, tidaaakkk!”.
Kemudian makhluk-makhluk ini akan membesar, semakin banyak yang dapat dihancurkannya. Semakin jauh tempat yang dapat dicapainya. Suara mereka akan membesar, akan lebih sering berteriak. Beruntungnya mereka tidak berkata kotor. Satu-satunya kata yang akan mengganggu banyak pria adalah, “NENEEENNN”. Pria-pria kurang ajar kemudian menatap si ibu tepat ditempat yang tak seharusnya mereka tatap.
Pria kurang ajar pun sempat menjadi bayi. Mereka juga mendapatkan kesempatan itu. Masalahnya adalah perkembangan usia pada bayi akan diikuti oleh kemampuannya melakukan sesuatu. Selain bertambahnya usia maka ada hal-hal lain yang ikut bertambah; MASALAH. Ya, mereka tumbuh dengan masalah-masalah.
Didikan yang tepat akan menggiring bayi-bayi lucu menuju ke kedewasaan yang benar. Begitu juga dengan ajaran yang keliru. Bayi akan tumbuh besar dengan sifat egois dan antipati dan tanpa empati. Pertumbuhan ini akan diikuti oleh banyak sekali pengaruh. Bahasa dan kelakuan adalah poin besar yang paling mudah untuk diikuti. Karena itulah orang dewasa wajib menjaga tutur dan tingkah lakunya di depan anak-anak. Mereka seperti beo, mudah sekali menirukan apapun. Hal-hal baik yang diperlihatkan pada mereka akan membentuk bayi-bayi mungil menjadi dewasa yang baik pula. Sebaliknya, hal-hal buruk bukanlah sesuatu yang sulit untuk sekedar ditiru dan mereka ikuti.
Pada akhirnya, didikan yang baik tidak serta merta membuat mereka menjadi baik. Didikan yang salah pun demikian, tidak selalu membuat mereka salah. Ayah dan ibu bertanggung jawab penuh pada lingkungan tempat sang anak tumbuh dan bermain. Agar nanti besar tidak seegois Donal Trump, agar tidak semenyebalkan Young Lex.
Maunya, semua yang terasa kemudian menjadi tulisan. Buat apa? Buat nyampah aja.
Jadi kupikir, mengiyakan ajakan beberapa teman untuk ngeband di panggung Gathering KOSMIK adalah ide bagus; tadinya, beberapa minggu yang lalu. Sampai tiba yang tidak kuinginkan. Penyakit.
Aku terserang flu. Flu yang membuat geger panggung malam itu. Flu yang karenanya aku malu. Flu yang bukan karenanya, teman-temanku pun terikut malu. Lebih-lebih karena permainan mereka yang tidak begitu apik.
Flu ini, dia yang menggerogoti saluran pernafasan, membuat lobang hidung menjadi tersumbat dan suara yang rusak karena terlalu sering batuk. Flu yang menghancurkan segala kepercayaan diri.
Akhirnya, ke haribaanlah rasa malu itu bermuara; pulang. Tanpa rasa bangga. Konsistensi bermusik yang terwujud dengan tidak baik. Semuanya karena; flu. Ah! Tidak! Datangnya penyakit adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Terima kasih Tuhan, aku sakit.
Dalam sebuah kesempatan saya duduk bersama seorang kakak yang kini tengah mengandung anak ke 2 nya. Ditengah percakapan yang random kami sampai pada topik yang menurutku penting, keselamatan dan keamanan anak. Di negeri sendiri ada banyak sekali kasus. Mulai dari penculikan hingga tindak asusila oleh orang dewasa terhadap anak. Puncaknya, pemerkosaan dan pembunuhan. Beliau berpendapat, orangtua bertanggungjawab penuh atas anak-anaknya. Membekali mereka dengan mental yang sama kuatnya dengan kecerdasan. Jika suatu saat orangtua tidak sempat mengawasi, anak-anak mampu melindungi diri mereka sendiri. Hari ini saya dengan bangga mengetahui si bungsu berhasil naik tingkat dalam ujian karate. Diumurnya yang masih sangat muda bisa saja dia belum merasakan manfaat dari kegiatan rutin yang dijalaninya itu. Tapi bapak dan ibu keukeuh dan sadar, kecerdasan saja tak mampu jadi perisai. Butuh fisik dan kemampuan proteksi diri yang kuat. Maka dari itu, sejak beberapa tahun yang lalu si bungsu telah mempelajari ilmu kanuragan asing ini. Tujuannya, agar dia siap melindungi dirinya sendiri untuk menghadapi masa depan yang mungkin saja lebih keras dibanding yang kita rasakan saat ini. Camat eah, bungsu. Tinjulah congkaknya dunia, adik kecilku. Doa kami dinadimu.
PLUVIOPHILE
Seorang pria, suami dari seorang wanita yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, memiliki rencana untuk membuka warung kopi. Tidak sendiri, dia dan 2 orang temannya sekongkol untuk turut meramaikan kehadiran warung kopi atau kedai kopi atau coffee shop yang sesungguhnya sudah amat banyak di negeri ini, di kota ini, Yogyakarta. Berbekal ilmu yang didapat dari kegiatan sharing dan googling, mereka akan memulai debutnya nanti di bulan Januari 2016.
Lantas apa peranku? Menjadi donatur atau mendesain interior warung? Tidak keduanya. Hanya doa dan support yang bisa kuberi. Modal tak ada, skill barista pun aku tak punya. Jadi karyawan? Aku pikir tidak. Dalam melayani custumer warung kopi, kamu dituntut untuk fokus dan cerdas. Pengetahuan tentang seluk beluk dunia kopi harus kamu kuasai. Tidak ada wajah gugup gagap gupita ketika pelanggan melayangkan pertanyaan semacam, “Mas, ini asal kopinya dari mana? Mas, kopi yang acidity-nya tinggi yang mana? Mas, mas, mas”. Ketimbang menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, akan sangat efisien, efektif dan menuntut kreatifitas tinggi jika pertanyaannya sedikit dimodifikasi. Jika sudah seperti ini, penanya akan mendapatkan jawaban yang brilian dan tidak biasa. Contoh, “Mas, apa yang membuat kopi begitu candu?”. Jawabannya bisa seperti ini, “Eeeh, sebenarnya itu bukan perbuatan kopi ya, mbak. Yang membuat kecanduan adalah partner Anda. Bersama siapa Anda menghabiskan waktu dan secangkir kopi. Apakah itu kekasih, selingkuhan, om/tante, teman-teman, atau keluarga tercinta? Bisa siapa saja. Orang-orang itulah yang bertanggung jawab atas rasa candu, keinginan untuk terus menyesap kopi. Tanpa kehadiran mereka, kopimu bak cerutu tanpa api. Seperti sedihku karena pergimu. Seperti, betapa aku menginginkan keindahan yang ada padamu namun sayang kamu kepunyaan yang lain. Hampa, zero, mbak. Aku tuh nothing tanpa kamu bersamaku. Nomer telfonnya berapa, mbak?”. Jawaban bodoh seperti itu justru lebih menantang. Adrenalinmu akan terpacu jauh. Sayangnya, kamu akan kesulitan menjadi ‘pujangga semalam’ jika tubuhmu dibalut seragam karyawan. Kamu dituntut waktu. Pelayananmu haruslah sempurna. Kamu wajib cekatan dan ramah. Tak ada waktu untuk mengumbar gombalan-gombalan cemen. Maka dari itulah kamu harus bebas! Kamu harus menjadi pelanggan itu sendiri.
Menjadi pelanggan pun ada resikonya. Uang bulanan kamu akan menipis drastis jika terlalu sering nongkrong di warung kopi. Meski mengenal si empunya warung, rasanya kurang etis jika hanya duduk-duduk saja apalagi berharap kopi gratis. Jadi bagaimana solusinya? Haruskah ngopi di rumah dahulu sebelum mengapel si warung kopi? Ya! Kenapa tidak jika kamu punya perlengkapan kopi manual pribadi. Harganya yang tidak murah secara tidak langsung meningkatkan kualitas ‘ngopi’ kamu. Foto, kemudian unggah. Bubuhi caption cerdas tentang kopi dan tidak lupa taggar #coffeeaddict #coffeelover #coffeetaik. Kemudian berdatanganlah ucapan salut. Lalu apa kabar aku dan kamu yang kismin ini? Tak punya cukup uang untuk membeli perlengkapan kopi. Well, sebenarnya kita bisa bunuh diri. Wtf. Dunia masih baik-baik saja dengan kamu nyaset (ngopi sachet). Tidak minum kopi pun tak masalah sebenarnya, bir bisa jadi pilihan. Semua itu ternyata tentang selera, gaya hidup, identitas pemuda jaman kekinian. Celakalah mereka yang terlalu banyak gaya mengharap pengakuan sekitar. Hidup ini memang terlalu banyak pengorbanan. Payah nian menjadi anak gaul Endonesa.
Melihat banyaknya efek dan resiko dari masterplan teman-temanku di atas, aku menawarkan diri memasang badan di garda depan dalam menciptakan identitas warung. Membuat logo sesuai arahan si calon owner. Gambar payung terbuka yang menghadap terbalik menampung 3 tetes air (dilambangkan dengan 3 biji kopi). Apa filosofinya? Payung identik sebagai pelindung manusia dari hujan agar tidak kebasahan. Kemudian mengapa ‘payung terbalik’? Mereka mengindentifikasi diri sebagai orang-orang yang mencintai hujan. Menyambut kedatangannya dengan riang gembira. Mendampinginya menutup tahun 2015. Mereka justru orang-orang yang rela berbasah-basahan menampung hujan demi memanjakan passion dan yang pasti, tetap cari untung. Ini bisnis, men.
3 biji kopi sebagai perlambang titik-titik hujan dan 3 orang penggagasnya. Menjadi biji kopi karena ini warung kopi. Lain hal jika yang disajikan adalah warung makan. 3 titik hujan bisa jadi 3 bonggol jengkol. Sedang untuk nama warung itu sendiri, mereka bertaruh pada PLUVIOPHILE. Berharap nama itu bisa membawa banyak keuntungan bagi warung dan orang-orang didalamnya.
Sebagai seorang pluviophile, merindukan dan mencintai hujan bukanlah keinginan yang muluk. Justru itu adalah kesederhanaan yang mewah. Tak perlu uang banyak. Tak perlu tenaga ekstra. Untuk dapat menjadi seorang pluviophile hanya dibutuhkan empati dan penantian yang tulus. Nyatanya, tinggal di Endonesa begitu menguntungkan, banyak daerah dituruni hujan. Tapi apakah keuntungan itu akan berbanding dengan impian 3 orang calon pemilik warung kopi? Apakah dengan rilisnya PLUVIOPHILE akan diikuti keuntungan-keuntungan lain? Akhirnya, pada totalitas dan ibadah lah semua itu kita gantungkan.
Diposisi Ke-3
Aku merasa...telah dengan hebat membuang kesempatan Ia bagai emas, selalu sukses jadi tabungan Tiada akan pernah habis sampai nanti kiamat Tiada akan pernah kehilangan penggemar Ia akan selalu didepan kita semua Selangkah dua langkah dari kita Maju terus setelah kita
Orang yang lebih tua peras keringat jual jasa Mulai terang hari di sebelah timur hingga nanti ke terang lagi Padahal cahaya berangsur hilang di ufuk barat, diganti gelap sebelum kembali terang Aku berkata, "Tiada kenalkah kau padanya, si 'letih' itu?" "Dia telah datang setelah kau banting tulang belulangmu disepanjang terang" "Kulihat tiada kau mengisi tenaga. Kau kira kau kuat?" "Perlihatkanlah isi dompetmu! Belanjakan mereka! Isi ulang tenagamu!" "Dipikir aku tak tahu bagaimana rasa keringat?" "Keringatmu pun sama halnya keringat Dian Sastro. Tak ada nikmat" "Lantas mengapa tersenyum setelah puas menenggaknya?" Orang yang lebih tua melanjutkan kegiatan mereka
Kala gelap datangpun tak ayal baginya untuk rehat barang sejam Ada sekelebat cahaya yang menuntut untuk semangat Menyusur lika-liku kota yang bersiap rehat lebih dulu Menyentil kehidupan agar keluarganya senantiasa disuntik sokongan Hari itu telah gelap namun tak sedikitpun iya percaya Tetap saja menantang badan yang tak lagi muda
Aku berharap usahaku sekeras lakonmu Sesabar sabarmu Semanis senyummu Setulus doamu Selembut sentuhmu Selezat masakanmu Secerdas otakmu Setinggi ibadahmu Sepemaaf dirimu Segala hal baik padamu aku inginkan ada padaku . . .
IBU
TERA ERRAU Oleh Pidi Baiq
Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan mendengarmu, dengan siapa kamu dapat bicara tentang hampir segalanya.
Dia, menjadi orang yang memahami dirimu ketika engkau butuh. Mendengar perasaanmu bahkan tanpa perlu kau ungkapkan melalui kata-kata.
Ketika dia membuat dirimu tenang, kau mengerti untuk apa bersamanya, bahwa bersama orang yang kau cintai, tak akan pernah peduli oleh apapun yang engkau takutkan.
Kemudian dengannya engkau tersenyum, engkau ketawa. Dan hal lainnya lagi yang lebih menyenangkan dari itu.
Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu, menjadi sumber kebahagiaan dari semua yang engkau miliki.
Orang khusus itu adalah dirinya, yang akan merisuakan dirimu di hari yang buruk, oleh hujan, dan penuh petir.
Ketika jauh, kau rindu, oleh pikiran bahwa engkau yakin sesuatu yang indah akan terjadi ketika bersamanya.
Dia datang, bukan melulu bicara soal cinta, tetapi untuk menghadirkan dirinya yang pandai membuat dirimu merasa istimewa.
Kamu hanya memiliki dirinya, yang memiliki tanggungjawab sebagai seorang kekasih, dan kau tahu yang melibatkan dirimu dialah ahlinya
Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu, bahkan jika dia cemburu, kau senyum, karena bukan api yang menghanguskan.
Tera Errau, Asmara itu menggelora, dan kamu ingin bersamanya, karena kamu tahu dengan siapa kamu tenang.
Tera Errau…….., Pikiran atas Kasih Sayang yang dia berikan kepadamu, menjadi dasar di atas semua sikap dan perilakunya kepadamu.
Kau senyum untuk apa yang dikatakannya: “Jika aku sudah Sayang, tak kan pernah berakhir, bahkan ketika kau ingin berhenti”
Katanya: “Aku mencintaimu, sebagai benar-benar mencintaimu, sesibuk apapun diriku, akan selalu berusaha meluangkan waktu untukmu”
Bahkan jika dia harus mengatakan: “Aku mencintai dirimu”, kamu merasa tidak perlu lagi untuk memeriksa kesungguhannya.
Adakalanya kamu marah, tetapi dia berkata: “Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana kamu kepadaku, terserah, itu urusanmu”
Tera Errau, Maka itulah yang akan kau rasakan bersama dengannya, jika benar dia ada. Mengatakannya dalam gelombang kekuasaan logika, dan Perasaan.
Pelajaran Hikmah dan Kasih Sayang datang darinya, dan engkau tidak usah mencarinya, karena dia selalu ada waktu untuk bersama dengan dirimu.
Kamu..hanya memiliki keyakinanmu sendiri, bahwa kamu mencintainya, dan itu serius.
Dia tersenyum, dan katanya: Berterimakasihlah kepadamu, yang sudah bisa membuat aku bahagia menyayangimu.
Tera Errau…. Tera Errau
Bandung, 11 November 2011
Berterimakasihlah padaku, kang Pidi. Setidaknya aku membawa serta orang-orang baru yang sudi menjadi pemuja selera berpikirmu.
Kutemukan Diriku Semunafik-Munafiknya Manusia
"Tolong Izinkan Saya Berzina dengan Anak Bapak" Artikel Yang Frontal Tapi Syarat Akan Makna
Kisah Atau Realita Yang Sering Terjadi sekitar kita
Suatu hari sepasang muda-mudi akan pergi untukberjalan-jalan. Setibanya pemuda di rumah orang tua sang gadis untuk menjemputnya. Gadis: Masuk dulu ya, bertemu sama ayah Pemuda : Boleh kah? Gadis: Masuk saja, saya bersiap-siap dulu. Masuklah sang pemuda melalui pintu utama. Pintu yang siap terbuka mengelu-elukan kedatangan si pemuda. Pemuda : Assalamualaikum. Ayah Gadis : waalaikumussalam! Mendengar lantangnya suara Ayah si gadis, si pemuda kaku membatu. Lantas si gadis menyadarkan pemuda dari lamunan itu. Entah apa yang dipikirkannya. Gadis : Mari, silahkan duduk Pemuda : eh.,iyaa Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, duduklah si Pemuda di kursi yang hampir menghadap Ayah si gadis. Hanya koran yang menjadi ‘sitroh’ antara mereka. Ayah Gadis : hendak jalan kemana hari ini? Pemuda : ke Kota saja Pak, dia mau mencari barang katanya. entah barang apa saya tidak tahu. Ayah Gadis : oh.. Pemuda : … Hampir 5 menit suasana senyap tanpa suara. Dan ibu si gadis keluar dari ruang belakang membawa air dan kue kering. Si Pemuda pun tersenyum manis. Ibu Gadis : Silahkan diminum dulu nak. Kamu sudah sarapan? Pemuda : eh, Sudah Bu. Terima kasih. Ibu Gadis : kamu ini malu-malu segala dengan kami. Pemuda : saya hanya segan Bu. Hehe Ayah Gadis : kapan kamu mau mengirim rombongan (lamaran)? Ibu Gadis : eh, ayah ini? Pemuda : hmm. Saya belum memiliki banyak uang Pak. Hehe Ayah Gadis : kamu bawa anak kami kesana-kemari. Apa orang kata nanti? Pemuda: (sebenarnya Malu dengan orang lain, serta malu dengan Allah). Setiap kami pergi kami selalu naik mobil Pak, tidak pernah berdekatan apalagi sampai bergandeng tangan. Oh iya, bisa saya tanya sedikit Pak? Ayah Gadis : tentu saja, silahkan! Pemuda : bapak dan ibu ingin saya menyediakan uang berapa untuk lamaran ini? Ibu Gadis : kalau bisa Rp.20.000.000,- Ayah Gadis : ehh, tapi kalau bisa lebih besar dari orang sebelah yang naksir juga sama gadis. Pemuda : Maaf, Berapa itu Bu? Ayah Gadis : Rp.40.000.000,- syukur-syukur bisa lebih Pemuda : (Ya Allah, whhooa.. Rp.40.000.000,- darimana saya dapat uang sebanyak itu, aduh) Besar sekali Pak, apakah tidak bisa lebih sedikit, kita buat acara sederhana saja. Cukup mengudang keluarga, saudara dan tetangga dekat? Ayah Gadis : itu nasib kamu nak, kamu yang akan menikahi anak kami. Lagipula dialah satu-satunya anak perempuan kami. Si Pemuda pun hampir hilang akal ketika disebutkan ‘harga’ si gadis itu. Dan si Pemuda mencoba kembali berdiskusi dengan orang tua gadis pujaan hatinya. Pemuda : Boleh saya bertanya lagi, apakah anak bapak pandai memasak? Ayah Gadis : hmm,.boro-boro. Bangun tidur saja jam 10 lebih, bukan bangun pagi lagi itu. Habis bangun terus langsung makan siang. Ibu Gadis : Apa sih ayahnya ini, anaknya mau dijadikan istri, dia malah cerita yang jelek-jelek. Ayah Gadis : Ibunya pun sama suka terlambat bangun juga. Ibu Gadis : ih ayah ini! Pemuda: (bengong) Ehh.. iya cukup pak, sekarang saya sudah tau. Kalau boleh bertanya lagi, bisa kah dia membaca Qur’an? Ibu Gadis: bisa sedikit-sedikit kok Pemuda : belajar dengan maknanya? Ibu Gadis : mungkin. Pemuda : hmm. Ibu Gadis : kenapa? Pemuda : Oh, tidak apa apa bu. Pertanyaan terakhir, apakah dia rajin sholat? Ayah Gadis : Apa maksud kamu tanya semua ini !? Dia kan dekat dengan kamu. Harusnya kamu juga tahu. Pemuda : Setiap sedang diluar dan saya ajak sholat, dia selalu bilang sedang datang bulan. Sedikit sedikit datang bulan. Saya jadi bingung, sebenarnya dia bisa sholat tidak. Ayah dan Ibunya begitu kaget. Dan pada wajahnya begitu kemerahan menahan amarah. Pemuda : Boleh saya sambung lagi. Dia tak bisa masak, tak bisa sholat, tak bisa mengaji, tak bisa menutup aurat dengan baik. Sebelum dia menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu. Lagipula tak pantas rasanya dia dihargai Rp.40.000.000,-. Kecuali dia hafidz Qur’an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurat, diri, dan batasan-batasan agamanya. Barulah dengan mahar Rp.100.000.000,pun saya usahakan untuk membayar. Tapi jika segala sesuatunya tidak harus dibayar mahal mengapa harus dipaksakan untuk dibayar mahal ? Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar. Mata ayah si gadis direnung tajam oleh mata ibu si gadis. Keduanya diam tanpa suara. Sekarang ketiganya menundukkan kepala. Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk dijadikan objek pemuas hati menunjukkan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan. Adat budaya mengalahkan masalah agama. Para orang tua membiarkan bahkan menginginkan anak perempuan dihias dan dibuat pertunjukkan di muka umum. Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami. Ayah Gadis : tapi kan, ayah hanya ingin anak ayah merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti tu kan hanya terjadi sekali seumur hidup. Pemuda : Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan? Ibu Gadis : tentulah kami berdua pun turut gembira. Pemuda : sungguh demikian ? boleh saya sambung lagi? bapak, ibu.. saya bukanlah siapa siapa. Sekarang dosa anak Bapak, Bapak juga yang tanggung. Esok lusa setelah akad nikah terus dosa dia saya yang tanggung. Belum lagi pasti bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah, anak Ibu dirias dengan riasan secantik-cantiknya dengan make up dan baju paling mahal, di hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula. Salain setiap mata yang memandang kami akan mendapat dosa. Apakah begitu penting hal tersebut jika dalam kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebih-lebihan. Ibu si gadis segera mengambil langkah mudah dengan menarik diri dari pembicaraan itu. Si ibu tahu, si pemuda berbicara menggunakan fakta islam. Dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pemuda itu. Ayah Gadis : Kamu mau berbicara mengajari masalah agama di depan kami? Pemuda : ehh. maaf pak. Bukan saya hendak berbicara / mengajari masalah agama. Tapi itulah hakikat. Terkadang kita terlalu memandang pada adat sampai lupa agama. Ayah Gadis : sudah lah. Kamu sediakan Rp.40.000.000,- kemudian kita bicarakan lebih lanjut. Kalau tidak ada, kamu tak bisa kimpoi dengan anak ku! Pemuda : Semakin lama lah hal itu. Mungkin di umur saya 30 atau lebih, saya baru bisa mengumpulkan uang tersebut dan bisa masuk meminang anak bapak. Baiklah, .kalau memang bapak berharap tetap demikian, maka ’izinkan saya berzina dengan anak bapak’? Ayah Gadis : hei! Kamu sudah berlebihan!, kamu jaga baik-baik omongan kamu itu. Pemuda : dengar dulu penjelasan saya pak. Apa bapak tahu alas an orang berzina dan banyak orang memiliki anak di luar nikah? Sebab salah satunya hal seperti ini lah pak. Selalu saja orang tua perempuan menempatkan puluhan juta rupiah untuk mahar, harus menunggu si pria mempunyai pekerjaan dengan gaji begitu tinggi, sampai pihak pria terpaksa menunda keinginan untuk menikah. Tetapi cinta dan nafsu kalau tidak diwadahi dengan baik, setan yang jadi pihak ketiga untuk menyesatkan manusia. Terlebih di zaman seperti ini yang cobaan dan kondisinya tidak seperti zaman bapak dan ibu dulu. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas memuaskan nafsu serakah dengan berzina. Pertama memang hal yang ringan-ringan dulu pak, pegang-pegangan tangan, saling memeluk, dan sebagainya. Tapi semakin lama akan menjadi hal berat. Yang berat-berat itu bapak sendiri pun bisa membayangkan. Ayah Gadis : lantas apa kaitan kamu dengan hendak berzina pula !? Pemuda : Begini logikanya. Sepertinya yang terjadi dengan anak-anak lainnya. Bapak tidak memberi izin kami menikah sekarang, biar ada berpuluh juta uang dulu baru bisa menikah. Kami hendak melepaskan nafsu bagaimana pak? setiap harinya kami mengenal lebih dekat dan semakin dewasa. Dia meminta saya menengoknya, semakin cinta saling melepas rasa rindu. Susah pak, itu Nafsu yang diberikan kepada manusia. Sebab itu saya dengan rendah hati meminta izin pada bapak untuk berzina dengan anak bapak. Terlepas apakah yang penting bapak tahu saya dan dia hendak berzina. Sebab rata-rata orang yang berzina itu orang tua tidak tau pak, tidak. Kelihatannya pemuda -pemudi zaman sekarang biasa-biasa saja padahal sebenarnya sudah pernah bahkan sering berzina. Ironisnya banyak orang menganggap hal itu tidak tabu lagi. Berzina bukan saja hal yang ehem-ehem saja. Ada zina-zina ringan, zina mata, zina lidah, zina telinga dll. Tapi sebab hal ringan itu lah yang akan menjadi berat. Ayah Gadis : hmm. Kamu ini begitu pelik dan memperumit saja. Beruntung kamu bukan orang lain. Kalau orang lain, sudah dari tadi saya angkat parang. Begini nak, Tapi kalau tidak ada uang, bagaimana kamu akan memberi dia makan?? Pemuda : hehe. Bapak. lupakah Bapak dengan apa yang telah Allah pesankan pada kita. “Dan menikahlah orang-orang bujang (pria dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang sholeh dari hamba-hamba kamu, pria dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka. sesungguhnya karunia Allah Maha luas (rahmat dan karunianya), lagi Maha Mengetahui.” (An Nur 32). Apakah kita tak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Bapak dan Ibu juga pernah lah menjadi muda. Masalah datangnya harta, selagi kita terus berusaha itu adalah Rahmat-Nya yang sudah ditakdirkan pada tiap-tiap hamba-Nya. Lagipula pak, kalau makan dan minum itu Insya Allah, saya sanggup untuk memberikannya. Tempat tinggal bisa kita bicarakan lagi. Kalau hal ini bisa menghalangi kami dari melakukan dosa dan sia-sia. Apakah tidak lebih baik disegerakan. Bapak pun tak mau hal-hal tak tidak diinginkan terjadi. Bapak si Gadis Diam tanpa kata, merenung kata – kata si pemuda, berusaha memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata si Pemuda. Dan ayah si gadis mendapat akal. Ayah Gadis : kamu tahu lah zaman sekarang ni. Kalau mengikuti cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan acara persandingan yang mewah, Bapak bisa terima. Tapi kamu apa bisa menerima apa yang akan orang-orang katakan. Orang akan mengatakan anak aku ‘kecelakaan’ dan terpaksa menikah dengan kamu. Mau ditaruh dimana muka ini. Pemuda : bagus juga pikiran bapak itu. Kalau ‘kecelakaan’ mana mau saya menikahi anak bapak. Karena akan selamanya menjadi haram, orang yang zina tidak akan pernah menjadi halal sekalipun dengan pernikahan. Kalau bapak memaksa ya sudah. Bisa ikut nikah masal kan bagus juga bisa berhemat tapi tetap ramai. Ayah Gadis : serius lah nak! Pemuda : begini pak, sekali lagi rasanya tidak perlu membayar puluhan juta dan mahar yang berlebihan sehingga memaksa diluar kemampuan. Tapi saya tak mengatakan tidak ada walimatul urus. Sedang walimatul urus itu tetap perlu dan disesuaikan dengan kemampuan. itu cara islam. Saya bukan hendak macam-macam dengan bapak. Syariat memang seperti itu. Maha baiknya Allah sebab masih menjaga kita selama ini, tapi hal sepele seperti ini pun kita masih memandang ringan dan kita tak percaya dengan apa yang telah Allah janjikan. Saya benar-benar minta maaf kalau ada kata-kata saya yang membuat bapak tidak senag terhadap saya. Tidak juga bermaksud tidak takdzim dengan bapak dan ibu. Segalanya kita serahkan pada Allah, kita hanya bisa merencanakan saja. Azan dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 rumah dengan rumah si gadis. Si pemuda memohon untuk ke surau dan mengajak bapak si untuk pergi bersama. Namun ajakan ditolak dengan lembut. Lantas sang pemuda memberi salam dan memohon untuk keluar. Di pinggir jendela tua si gadis melihat si pemuda mengeluarkan kopiah dari sakunya dan segera di pakainya. Lalu masuk mobil dan hilang dari penglihatan si gadis tadi. Sedang si gadis yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya meneteskan air mata mendengar curahan kata-kata si pemuda terhadap ayahnya. Kerudung lebar pemberian si pemuda sebagai hadiah padanya yang lalu digenggam erat. Ibu si gadis juga meneteskan air mata melihat pada perilaku anaknya. Segera ibu dan si gadis ke ruang tamu menghadap ayahnya. Ibu Gadis : Apa yang anak itu katakan benar. Kita ini tak pernah memperhatikan syariat-syariat ringan agama selama ini. Terlalu melihat dunia, adat dan apa kata orang. Padahal mereka tak pernah juga peduli pada kita. Ayah Gadis : hmm.. entahlah, ayah tak tahu. Begitu keras yang anak itu katakan tadi. Dia berpesan tadi, kamu suruh bersiap, lalu setelah dzuhur dia jemput kamu. Gadis : sudah tidak ada semangat untuk pergi ayah. Kemudian si gadis menggapai telepon genggamnya dan mengetik pesan. Si Pemuda yang selesai mengambil wudhu tersenyum saat membaca pesan yang baru saja diterima dari si gadis, “Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridho dan akan terus bersama mu, apapun yang ada pada dirimu dan yang kamu miliki, aku juga akan terus pada agama yang ada padamu. Siang ini ga ada mood untuk keluar, maaf. Minggu depan ayah menyuruh kirim rombongan (lamaran) untuk ke rumah.“ * Terkadang kisah seperti diatas masih saja sering terjadi. Wahai kalian pemuda dan pemudi yang dirahmati Allah, jika kalian merasa telah mampu dan yakin untuk menikah. maka segerakanlah. Sungguh- sungguh merugi orang yang menunda-nunda terhadap rahmatnya Allah.
Source: JuraganTips.com
ditemukan oleh saya di : facebook
Terima Kasih, Tuhan
Kupikir Allah adalah pribadi yang terlalu serius dalam segala hal. Dia kupandang sebagai dzat yang disetiap suasana selalu mengerutkan dahi. Berdialog dengan hamba-Nya dengan tatapan yang tajam. Malam ini, Ia perlihatkan cara-Nya yang lain.
Ketika jam tidurmu menjadi berantakan, tidak teratur, kau akan menemukan kesulitan meletakkannya kembali ke jalur yang benar. Sangat sulit dalam kasusku. Selama koneksi internet masih terlalu lancar untuk ku telusuri, selama itupula tidur malam hanya sebuah dongeng.
Terima kasih pada tiket pesawat yang mahal, henpon rusak, dan suasana lebaran hari pertama di rumah familiku yang baik hati. Tidak adanya gadget membuat aku tak punya pilihan lain. Tak ada mesin penghantar tidur. Hanya sebuah buku yang belum tamat. Dan itu berhasil menyumbangkan kantuk. Jadilah perjalanan tidur semakin lancar.
Kucurhatkan pada tuhan betapa inginku bersujud di-sepertiga malam hari ini. Niat yang luar biasa. Tak ada alarm, pun tak ada pesan yang kuserahkan pada seisi rumah untuk membangunkan. Hanya aku dan niat dan sepengetahuan tuhan saja. Menariknya disini. Cara-Nya membangunkan sungguhlah unik. Dalam diam Dia membaca keinginanku belajar lebih banyak tentang seluk beluk kopi. Karakteristik tanaman kopi, cara panen yang benar, proses sangrai yang baik, sampai pilihan penyeduhan yang butuh waktu lama untuk dapat dipelajari secara akademis dan praktikal. Tapi Ia pilihkan mimpi, yang kupikir dengan logikaku yang tolol dan sederhana, dapat menjadikan status seseorang menjadi keren. Selama ini jika bicara kopi, bila boleh berkhayal dan punya impian, pilihanku adalah punya kebun kopi, menjadi petani kopi, menyandang gelar barista atau mampu membangun coffee shop sendiri. Malam ini aku menjadi bakal Qgradder muda yang percaya diri. Setidaknya itu yang kutangkap dari mimpi. Qgradder sendiri adalah seorang profesional yang dengan sertifikat internasionalnya, mampu memecah kandungan rasa dalam secangkir kopi. Ia mengetahui karakteristik secangkir kopi hanya dengan membaui dan menyesapinya. Keren sekali, bukan? Bukan buat yang lain tapi ya buatku.
Kembali pada bahasan utama, cara apa yang dipilih-Nya untuk membangunkan tidurku? Ssru sekali, sedikit menjijikkan. Aku meludah dari lantai 2 sebuah bangunan seperti cafe. Normalnya seseorang meludah adalah menghadapkan wajahnya ke bumi agar ludah langsung jatuh ke tanah. Begitupun aku. Sayangnya ludah tidak mendarat ditempat perjanjian. Dia tumpah, luber, mengalir mulus dipipi sebelah kiri. Kutangkap dalam kesadaran dan menemukan ragaku terjaga. “Ah, cuma mimpi”.
Tersadar saat itu membuat aku panik sesaat. Kuatir membasahi bantal atau kasur saudaraku dengan ludah dari mimpi. Syukur, ternyata pipi kiri saja yang basah. Senandung takbir oleh anak-anak yang asalnya dari toa masjid mengiringiku berdiri menuju wudhu. Tapi ini masih jauh dari subuh, tiga jam sebelum waktunya. Sungguh, saat itu juga aku tersenyum terpingkal dan ingat pada Dia yang kupikir selalu terlalu serius. “Haaa. Kau lucu sekali, tuhan. Banyak cara membangunkanku tapi ini yang Kau pilih?”. Terima kasih, tuhan.
Kemudian kuteruskan perjalanan wudhu.
Masih Lumia
Kondisi lumia 520 hari ini:
- Sulit sekali membuat henpon menyala walau berkali-kali tombol power ditekan. Jika beruntung, henpon akan menyala dengan touchscreen yang tidak akan menerima perintah apapun.
- Saat henpon berhasil menyala dan touchscreen ternyata merespon beberapa perintah, ini hanya berlaku pada spot-spot tertentu. Sebagian besar area pada layar dapat menerjemahkan sapuan jari dengan baik. Menjadi bodoh saat jari menyentuh 3/4 layar terbawah. Error. Sebelah kiri yang kau sentuh maka area sebelah kanan yang akan merepon. Aku harus berbohong dan mengakali layar dengan menyentuh angka yang berbeda untuk mendapatkan angka yang kuinginkan agar berhasil unlock dan masuk ke menu.
- Beberapa jam sebelum beduk maghrib aku menyambangi counter henpon guna meminjam obeng bermata jeli mini. Kupikir dengan memasang baut-baut mini (sebelumnya baut sengaja dilepas) otomatis memberi tekanan pada mesin, lcd serta touchscreen dan akan membuat mereka merapatkan barisan. Sayangnya, memasang baut tidak menghasilkan apapun kecuali rasa tidak-enakan karena selalu datang dan pergi hanya untuk meminjam obeng.
- Sampai di kosan aku berniat melakukan pembunuhan kejam, hard reset atau factory reset. Kegiatan ini membuat henpon secara paksa kembali ke keadaan semula. Kelahiran sesuatu ditandai dengan kesucian dan orisinalitas. Konsekuensinya, segala kenangan masa lalu yang ada pada henpon akan hilang. Termasuk sidik jari sang mantan.
- Setiap langkah sudah diamalkan dengan kaffah. Bahkan keyakinan akan berhasilnya langkah ini sudah terngiang-ngiang dalam kepala.
- Dikatakan, dalam keadaan hard reset ini, henpon akan menghapus dan mengembalikan semua pengaturan ke posisi semula. Proses pengembalian ini dapat diketahui dengan mengamati logo spinning gear atau gambar gir yang berputar-putar ditempat. Dikatakan pula, pada keadaan normal, spinning gear akan berotasi dalam beberapa menit atau bahkan dalam hitungan jam. Jika berhasil, henpon akan restart dan masuk ke dalam system windows. Aku menjadi lemah tak berdaya. 5 jam kunanti ia berputar-putar tak kenal pusing sedang aku tidak mendapatkan apa-apa. Ada note kecil disetiap laman anjuran yang kutemui disitus tutorial. Selalu sediakan daya yang penuh atau minimal terisi 75% demi menghindari henpon mati saat benda bodoh berbentuk gir itu berputar tiada henti. Aku mengamini dan itu yang aku lakukan. Full charged. Tapi tetap saja, layar mendadak mati saat prosesnya tengah berlangsung.
Aku lesu dan tidak dapat berbuat apa-apa dengan henpon itu. Magelang tanpa smartphone. Aku akan mengandalkan henpon sepupuku. Berharap kamera henpon mereka cukup mumpuni menghasilkan gambar menyuapi diri sendiri menikmati lontong opor di-Hari Raya besok.
Selamat ber-hari raya. Mari tidak mengeluh untuk hal-hal yang tidak membuat kita mati atau turun wibawa. Hidup tanpa henpon adalah biasa. Ketidakmampuan update statuslah yang menyakitkan.
Minal Aidin Walfadzin. Semoga jadi hamba yang lebih baik lagi.